MENAPAKI JEJAK PURBAKALA BANDUNG

TEKS DAN FOTO  I  YOSEA RIYADI PERMANA

Artikel ini muncul pertama kali di yoseapermana.wordpress.com

Yosea Riyadi Permana menyajkan lanskap lokasi wisata Pasir Pawon atau lebih dikenal dengan Stone Garden dan Gua Pawon.


Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan dan penggunaan media sosial saat ini sangat mempengaruhi aspek apapun. Setelah beberapa waktu lalu Tebing Keraton menjadi trend di media sosial, kini giliran Pasir Pawon (sekarang lebih dikenal sebagai Stone Garden atauTaman Batu) yang menjadi primadona. Kebiasaan user media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan Path yang mengupload mengenai foto-foto dan informasi mengenai lokasi ini membuat banyak orang berbondong-bondong ke Stone Garden, entah itu untuk mencari tahu mengenai sejarah maupun hanya sekedar berfoto saja. Media sosial juga yang membantu saya untuk bisa hadir ke tempat ini.

Tujuh bulan sudah sejak Agustus 2014 Stone Garden di serbu oleh para wisatawan. Sebelumnya lokasi ini hanyalah sebuah dataran tinggi gunung karst yang berada diantara formasi gunung-gunung karst lainnya di daerah Citatah, Padalarang. Susunan batu yang membentuk formasi unik di Stone Garden lah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang kemari. Menurut warga sekitar, beberapa bulan sebelum lokasi ini menjadi primadona hampir tak ada orang yang datang ke Stone Garden, hanya beberapa arkeolog yang sudah sejak tahun 1999 lah yang datang untuk meneliti lokasi ini. Di lokasi ini juga terdapat situs lain, Gua Pawon. Gua yang menjadi situs arkeologi pra-sejarah ini berada tepat dibawah Stone Garden.

Perjalanan menggendarai motor yang cukup melelahkan untuk bisa sampai ke lokasi ini! Butuh waktu dua jam bagi saya untuk bisa sampai dilokasi ini dari Kota Bandung. Jalan yang macet, berlubang, berkelok-kelok dan berdebu tebal akibat polusi dari pabrik kapur menjadi bumbu dari perjalanan saya. Setelah menghadapi perjalanan yang cukup menyebalkan dan dengan wajah dihiasi debu, sampai lah saya di lokasi parkir Stone Garden. Waktu itu saya tiba pukul 11.00 WIB, dimana matahari sedang bersiap-siap untuk membakar ubun-ubun kepala yang ada dibawahnya. Cukup konyol rasanya apabila memutuskan unuk langsung jalan menuju lokasi yang sedang menjadi trend, khususnya bagi para netizen Bandung saat ini . Saya memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil mengisi perut dan melepas dahaga di salah satu warung yang ada di lokasi parkir. Sempat berbincang-bincang juga dengan pemilik warung yang saya kunjungi, konon warung-warung yang ada di lokasi ini baru berumur dua bulan, setelah melihat peluang dari banyaknya wisatawan yang wara-wiri ke lokasi ini.

Gua Pawon

Setelah beristirahat kurang lebih satu jam akhirnya saya memutuskan untuk jalan mengunjungi situs-situs wisata di lokasi ini. Lokasi pertama yang akan saya kujungi adalah Gua Pawon. Lokasinya tepat dibawah Stone Garden, secara jarak lokasi ini cukup dekat dari parkiran di Stone Garden. Sebelumnya pemilik warung menyarankan kepada saya untuk menuju ke lokasi gua dengan motor saja melalui jalur kendaran, karena jalur jalan kaki yang dibuat warga sekitar dari parkiran Stone Garden ke lokasi gua Pawon cukup curam untuk dituruni dan cukup menyiksa untuk didaki. Dengan penuh rasa ego dan berbekal mental pendaki gunung, saya memutuskan untuk berjalan kaki menelusuri jalan setapak tersebut untuk menuju ke Gua Pawon. Sebelum berjalan, dengan tampang pura-pura bodoh dan rasa bersalah saya mengisi penuh botol air minum saya dengan teh hangat yang diberikan secara cuma-cuma oleh pemilik warung yang sebenarnya menjual air mineral kemasan di warungnya. Perjalanan turun tidak ada masalah.

Menelusuri Gua Pawon

Berdasarkan bahasa lokal, Pawon memiliki arti sebagai dapur. Nama yang diberi oleh warga setempat ini berasal-usul dari lubang besar yang terdapat di bagian atap gua. Bentuk ini di klaim memiliki kemiripan dengan lubang perapian didapur atau lebih mirip lagi dengan tungku masak tradisional yang terbuat dari susunan batu.

“Bagi pecinta fotografi, disini kita bisa menangkap ROL (Ray of Light) yang masuk ke dalam gua dari lubang tersebut”

Setelah menuruni jalan setapak kurang dari 10 menit, saya tidak langsung menuju ke dalam gua. Teriknya matahari membuat saya memilih untuk berteduh di balai yang sudah dibangun oleh pemda setempat. Di balai ini sangat sejuk, surga rasanya bisa berteduh disini, ditemani angin yang sepoi-sepoi setelah sebelumnya di sengat oleh matahari tepat di ubun-ubun kepala. Di balai ini kita disuguhkan dengan maket dari lokasi Gua Pawon. Tambahan, bagi kalian “fakir colokan” yang tak bisa bisa hidup tanpa gadget maupun panik apabila baterai gadget kalian sudah lowbat, kalian bisamen-charge disini.

Setelah dimanjakan oleh angin sejuk, akhirnya saya melangkah menuju Gua Pawon, kira-kira 30 meter dari balai tadi. Di sini kalian bisa melihat banyak kera liar yang sudah jinak. Menurut petugas penjaga gua yang kami temui, konon kera-kera tesebut sudah ada sejak dahulu kala, tapi saya lebih percaya itu adalah hasil pengembangbiakan warga setempat agar bisa lebih menarik minat masyarakat untuk berkunjung kesini karena apabila melihat lokasi sangat tidak memungkinkan bahwa kera memilih lokasi ini sebagai habitatnya. Sampai di mulut gua saya disambut dengan suara bising dan bau pesing kotoran kelalawar yang sudah mengambil alih gua ini menjadi tempat tinggalnya. Kondisi ini membuat saya tidak langsung ‘nyelonong’ masuk kedalam gua, saya memutuskan untuk berfoto-foto dulu dimulut gua sekaligus beradaptasi dengan kondisi ini. Kecanggihan indra yang kita miliki adalah bisa beradaptasi secara cepat dengan kondisi lingkungan kita, saya menunggu sampai hidung saya terbiasa dulu dengan bebauan ini sampai akhirnya bisa menghiraukan bebauan ini dan kemudian bisa masuk ke dalam gua tanpa tersiksa bebauan.

Bagi yang pertama kali melakukan susur gua, pemandangan di dalam sini cukup mengagumkan. Selain bisa melihat dinding-dinding gua yang ditumbuhi lumut dan jamur, kita juga bisa menememukan stalaktit-stalaktit yang terbentuk secara alamiah didalam gua ini. Cahaya yang masuk dari lubang diatas gua juga berkontribusi sangat banyak untuk memanjakan mata kita dengan keindahan. Menurut penjelasan petugas penjaga gua, gua ini terdiri dari beberapa kamar. Di salah satu kamar yang ada di gua Pawon, penah diketemukan 5 individu fosil manusia, satu diantaranya masih utuh, 4 lainnya hanya bagian tengkorak dan rahang manusia. Tepatnya pada tahun 2003. Saat ini fosil-fosil tersebut sudah dipindahkan ke museum arkeologi Bandung untuk diteliti lebih lanjut, namun jangan khawatir kita masih bisa melihat replika dari fosil tersebut di gua ini tepat pada lokasi dimana fosil tersebut ditemukan.

Berdasarkan informasi-informasi yang saya dapatkan, gua ini merupakan rumah dari manusia yang hidup pada zaman pra sejarah. Sejak penelitian yang telah dilakukan oleh para arkeolog dari tahun 1999, telah ditemukan berbagai tanda-tanda kehidupan di Gua ini. Diantaranya adalah fosil manusia, temuan-temuan artefak dari batuan dan tulang sebagai alat berburu sebagai ciri pada zaman mesolithik dan juga perkakas-perkakas batu dan tembikar sebagai ciri dari zaman neolithik atau masa bercocok tanam. Dari temuan ini dipercaya bahwa ada keberlanjutan budaya prasejarah di dalam gua Pawon.

Stone Garden

Keluarnya dari gua, Saya dan teman saya ditanyai oleh penjaga gua yang tadi memberikan penjelasan kepada kami. “Tadi dari atas (parkiran Stone Garden) yah kang?Mau ke atas lagi kang?”tanyanya. “Iya kang mau ke atas lagi, tadi parkir motor di atas soalnya” jawabku. Lalu dia menawarkan jasanya mengendarai ojeg kepada kami berdua untuk menuju ke parkiran Stone Garden. Namun sigap kami menolak dengan sopan dan langsung bergegas menuju jalan setapak tempat kami turun tadi.

Waktu menunjukan pukul 13.00 kala itu, matahari masih garang bertengger di atas ubun-ubun saya. Dengan mental pendaki tanpa ragu saya mendaki jalan setapak yang terdiri dari tanah dan batuan itu. Setelah jalan beberapa menit Saya tertawa sendiri melihat kondisi saya dan teman saya, kami kelelahan, lutut kami bergetar. Ini pertama kali saya dan teman saya melontarkan kata lelah dan ingin istirahat didalam sebuah pendakian. Tanjakan tanpa bonus (istilah pendaki pada kondisi jalan yang menanjak terus-menerus tanpa ada jalan yang landai) yang kami jajal ini membuat kami akhirnya berhenti dan beristirahat ditengah perjalanan. Predikat pendaki gunung yang tangguh luntur seketika dari benak kami. Lama tak mendaki gunung membuat kami menjadi lemah dan membuat kami menyesal tidak mengendarai motor saja untuk ke kedua lokasi ini, atau minimal menerima tawaran ojeg tadi.

Setelah 20 menit mendaki Akhirnya kami tiba di parkiran dengan baju basah kuyup tiada sisa. Kami langsung merebahkan badan di kursi bambu warung terdekat. Kami tertawa geli menertawakan kondisi kami saat ini yang begitu lemah ditaklukan oleh tanjakan. Stok teh hangat yang sebelumnya saya jadikan bekal gratis dari warung tadi sudah ludes, dan karena warung yang sekarang saya singgahi tidak memiliki servis teh hangat gratis seperti yang sebelumnya, akhirnya saya membeli air mineral dan langsung menengguknya habis sambil melihat-lihat hasil foto pada saat gua tadi di kamera saya . Sungguh surga bisa meneguk air segar ini.

Tempat Trendy : Stone Garden

Puas beristirahat dan mengisi energi kembali saya melanjutkan perjalanan menuju Stone Garden yang sedang sangat trendy ini. Jalan menuju Stone Garden cukup landai dari sini, kira-kira 200 meter kita sudah berada di Stone Garden atau Taman Batu atau juga Pasir Pawon. Sebelumnya menuju lokasi terdapat loket karcis yang dikelola oleh warga setempat di jalan menuju taman batu ini. Per orangnya dikenai biaya Rp. 3000. Di klaim oleh mereka bahwa dana tersebut akan digunakan untuk operasi kebersihan dan perawatan taman batu, semoga saja ini benar bukan hanya sekedar alibi semata untuk meraup uang dari para wisatawan yang datang kesini. Melihat lokasi wisata memang cukup bersih dan semoga akan selalu bersih dari sampah-sampah yang dihasilkan oleh para wisatawan.

Betul saja tempat ini memang sangat jadi primadona wisatawan. sebelumnya pada saat di gua pawon nan indah, hanya terdapat lima orang saja sudah termasuk saya dan teman saya seorang. Namun disini berbeda, di stone garden bahkan pada hari biasa pun banyak sekali wisatawan yang berkunjung di sini. Saya malas menghitung jumlahanya namun saya perkirakan ada sekitar 50-70 orang di atas sini yang rela berpanas-panasan di bawah sinar matahari hanya untuk berfoto ria.

Formasi batuan yang ada di taman batu ini sangat unik dan beragam dari aspek bentuk dan ukuran, sebagian besar batu di taman ini adalah batuan gamping. Menurut informasi yang saya dapat di internet berdasarkan dari penelitian dan analisa para akeolog batuan disini memiliki bentuk demikian dari proses karstifiakasi.

Karstifikasi adalah proses pelarutan kalsium karbonat pada batuan gamping yang bersentuhan dengan air hujan dengan kadar CO2 tinggi yang membuat batu terkikis, di tambah lagi dengan erosi pada permukaan tanah. Inilah proses yang kurang lebih membentuk formasi batuan yang ada di stone garden yang berbentuk seperti menara-menara vertikal bebatuan. Disini juga bisa ditemukan batuan sisa-sisa terumbu karang yang berumur 25-30 juta tahun yang sudah menjadi fosil kerap dsebut juga formasi raja mandala. Dipercaya bahwa batuan ini adalah salah satu bukti sejarah bahwa dahulu pulau jawa berada di bawah laut

Pengalaman wisata ini cukup menakjubkan bagi saya pribadi. Selain hanya hunting foto dan menikmati pemandangan yang ditawarkan, saya menjadi tahu dan menjadi ingin tahu lebih banyak mengenai Bandung pada saat purbakala. Disini saya bisa melihat bukti-bukti kehidupan prasejarah yang terjadi di Bandung yang konon katanya adalah merupakan danau purba pada era pra sejarah.

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s