Menyapa perut bumi di Gua Buniayu

dsc_1243TEKS DAN FOTO  I  YOSEA RIYADI PERMANA

Artikel ini muncul pertama kali di yoseapermana.wordpress.com.

“Kenali lah bumi sebelum kita dikebumikan”. Kalimat tersebut saya kutip dari seorang guide yang mengantarkan kami ke perut bumi yang sudah menganga di sebelah barat pulau Jawa. Gua Buniayu terletak di desa Nyalindung Kab. Sukabumi.


dsc_1214

Setelah kurang lebih menempuh perjalanan selama 1,5 jam dari pusat Kota Sukabumi, melewati jalanan yang berkelok-kelok dan berlubang disana-sini akhirnya saya dan teman-teman saya sampai dikawasan wisata Gua Buniayu Nyalindung, Kabupaten Sukabumi-Jawa Barat. Untung saja landscape selama perjalanan sangat indah untuk dinikmati, ini juga yang membuat kami tidak banyak mengeluhkan kondisi jalanan yang rusak sepanjang perjalanan. Megahnya Gunung Gede dan Pangrango bisa kita lihat selama paruh perjalanan pertama dengan sangat jelas, sedangkan pada paruh kedua perjalanan dihiasi dengan perkebunan teh, terasering pesawahan padi dan hutan pinus yang sangat nikmat untuk dipandang.

Akhirnya kami melihat papan penunjuk lokasi Gua Buniayu, kami mengikuti arahan penunjuk tersebut. Setelah melewati pos tiket yang sudah rusak dan tidak digunakan lagi oleh petugas pengurus lokasi wisata ini, jalanan menuju lokasi Gua terbuat dari susunan batu yang sudah bergelombang tak beraturan,baru 5 menit jalan kami akhirnya berhenti dan memarkirkan mobil yang kami gunakan dihalaman rumah warga sekitar. Maklum kami menggunakan city car kelokasi ini yang mengakibatkan terjadinya benturan disana-sini pada bagian bawah mobilyang sungguh membuat ‘ngilu’ kami semua.

Menuju Gua BuniayuPertempuran dengan jalanan batu yang tak beraturan membuat ban mobil yang kami tumpangi harus menyerah. Ban kami kempes. Kami pun mendongkrak mobil tersebut dengan tujuan agar ban yang kempes itu tidak mengeluarkan anginnya lagi. Ini membuat kami harus berjalan kaki ke lokasi gua. Untuk memastikan apakah dari tempat kami menitipkan mobil menuju gua bisa ditempuh dengan jalan kaki saya pun bertanya kepada ibu-ibu yang kebetulan rumahnya kami titipi mobil. Ternyata menurut penjelasan beliau, lokasi gua sudah dekat, kurang lebih 10 menit.

Berdasarkan dari pengalaman sebelum-sebelumnya yang sudah saya alami, saya menarik sebuah kesimpulan bahwa, jangan pernah menanyakan angka jarak kepada warga sekiar, tanyakan saja waktu yang harus ditempuh berapa lama. Pernah sebelumnya kala saya melaukan perjalanan di Dieng, saya harus jalan kaki selama kurang lebih 8 jam akibat diberitahu oleh warga sekitar bahwa jarak jalan dari desa sembungan ke wonosobo melalui jalan pintas hanya sekitar 5 Km yang kemudian jarak tersebut selalu berubah-ubah ketika saya tanyakan kepada warga lain yang saya temui sepanjag perjalanan tersebut. 10 menit berjalan ternyata tepat penjelasan ibu tersebut. Kami sengaja mengukurnya alih-alih bisa protes kepada beliau apabila waktu tempuh kami sanagt jauh dari yang dia katakana kepada kami. Kami sampai di lokasi wisata gua buniayu.

Setelah melakukan persiapan diri dengan perlengkapan helm, sepatu boot dan warepack untuk meyusuri gua, kami ditemani guide jalan menuruni tangga untuk menuju ke mulut gua. Menurut penjelasan dari guide kami, disini terdapat 84 gua yang bisa disusuri. Namun untuk saat ini hanya 3 gua saja yang dibuka untuk wisata umum yakni gua vertikal, gua umum dan gua landak. Gua vertikal merupakan gua dengan jarak 2,5 Km (4 jam) dimana untuk memasuki gua ini kita harus menuruni mulut gua yang terbuka secara vertikal dengan ketinggian 12 meter, gua umum adalah gua yang sudah direvitalisasi oleh pihak pemerintah dan pengelola kawasan lokasi ini, dimana akses untuk masuk dan keluar gua ini sangatlah mudah, karena sudah dibuat jalan dan tangga sepanjang jalur ini (200 meter). Sedangkan Gua landak adalah gua dengan jarak tempuh 500 meter, dikatakan juga gua menengah apabila dibandingkan dengan ketiga gua yang ada disini, dikatakan menengah karena kita masih perlu jongkok, merayap dan memanjat untuk melewati jalur yang ada di dalam gua ini. Walaupun begitu, ketiga gua ini memiliki karateristik dan jarak tempuh yang berbeda. Namun semuanya memiliki kesamaan pada ornament yang ada pada dinding gua yaitu bisa ditemukannya bekas-bekas tempelan kerang maupun fosil ikan, ini disebabkan karena gua ini terbentuk oleh air laut yang berarti membuktikan sejarah pula bahwa dahulu pulau jawa berada di bawah laut.

Sempat bertanya kepada pihak pegelola, mengapa hanya 3 gua saja yang dibuka untuk umum. Mereka menjelaskan apabila gua sudah dibuka untuk wisata, gua tersebut sudah pasti rusak, termasuk stalaktit dan stalakmit yang ada juga akan ikut mati karena daya dukung hidupnya kalau sudah dimasuki oleh manusia adalah 0%. Selain itu pengelola juga menjelaskan kepeduliannya kepada generasi yang akan datang, pihak mereka ingin generasi-generasi selanjutnya masih bisa merasakan gua-gua yang ada disini dalam kondisi yang masih baik, mereka tidak ingin bahwa susur gua hanya akan menjadi sekedar ‘mitos’ pada tahun-tahun yan mendatang.

Kondisi langit yang mulai mendung dan rentang waktu yang sangat sempit membuat kami memutuskan untuk menyusuri Gua Landak saja. Selain itu semua, ini merupakan pengalaman pertama bagi kami juga dalam hal menyusuri gua. Sejujurnya kami sangat ingin memasuki gua vertikal, namun guide yang mendampingi mengatakan bahwa beliau pernah terjeak didalam gua tersebut selama 8 jam akibat hujan yang deras, dimana hal ini mengakibatkan jalan semakin berlumpur da sulit untuk dilewati.

Seperti yang telah disebutkan tadi bahwa jalur di gua landak membutuhkan sedikit perjuangan didalamnya. Ternyata benar kami semua harus berjongkok, merayap, dan juga memanjat. Banyaknya stalakmit yang masih aktif disini membuat kami mendapat bonus perjalanan, tetesan airnya yang jatuh kepermukaan tanah membuat tanah tersebut menjadi sangat lunak dan tak kadang membuatnya menjadi lumpur sehingga sulit bagi kami untuk menjejakan kai begitu saja. Kami harus memilih-milih tanah mana yang agak keras untuk kami pijak, walau tak kadang pula kami harus jatuh dan terperosok ke dalam lumpur tersebut.

Ketika didalam gua kami mencoba mematikan alat penerangan yang kami bawa. Menurut sang guide, konon kegelapan didalam gua memiliki tingkat kegelapan 4x kali lebih gelap daripada di permukaan bumi. Karena itulah kegelapan di dalam gua manapun kerap disebut juga dengan kata “kegelapan abadi”, dimana kita tak bisa melihat apa-apa dalam kondisi seperti ini. Setitik cahaya pun tak bisa.

“Berbahagia kita yang masih bisa merasakan indahnya pantulan cahaya”

Benar saja, kami semua benar-benar tak bisa melihat apapun, bahkan bayangan samar pun enggan keluar untuk menunjukan diri. Kondisi ini membuat saya berpikir, beginilah rasanya menjadi penyandang tuna netra, sekuat apapun saya berusaha untuk membesarkan lubang pupil saya untuk menangkap cahaya, hasilnya nihil. Yang ada hanyalah otot-otot mata yang menjadi lelah.

Tiba-tiba di dalam kegalapan ini kami semua tertohok dengan sebuah kalimat yan diucapkan oleh guide kami. Entah apa yang menyebabkan dia tiba-tiba berkata “Kenali lah bumi sebelum kita dikebumikan”. Otak kami semua langsung berkelana kemana-mana mendengar kalimat ini, kebanyakan dari kami membayangkan rasanya dikubur dalam gelap, membayangkan kematian. Tapi mungkin saja sang guide berkata demikian hanya untuk mengajak kami semua untuk lebih mau menjelajahi, mengenal dan mencintai apa yang ada bumi ini, tak hanya yang ada dipermukaan saja seperti hutan gunung dan laut melainkan gua juga.

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s