What 19 November has to say to the world

Peace rally in Jakarta, 19 November 2016, calls for national unity.
Peace parade in Jakarta, 19 November 2016, calling for national unity.

News about Jakarta governor Basuki Tjahaya Purnama being named suspect by police over blasphemy allegation in a politically-ridden circumstances has garnered international media attention recently.

The double minority status of his Christian religion and Chinese ethnicity in a majority Muslim population plays well with the foreign sentiment towards the country with the biggest Muslim population in the world, questioning the spirit of equality and harmony in diversity it brags so much about.

Especially the west, where the current mayor of London is a directly elected British Muslim politican, Sadiq Khan, who took up the office since last May for the next four years.

As there is hardly a debate about the governor’s performance index in the past two years, national media are caught up in the raucous rants of Muslim hard-liners, inciting hate speech and religious-style repression, to be responded with little action by the embattled governments.

As a result, the hard-liners plans to stage continuous rallies similar to the 4 November anti-governor protest that saw Jakarta downtown surrounded by a massive number of angry followers, demanding the arrest of Basuki. Some even went to far as to make death threats to him whom they believed has insulted Koran.

It is this primitive anger that fills the local news content. Unfortunately the media, increasingly divisive day by day for each of their political interest, feeds on this kind of primitive fear.

Little is exposed that there lies a more relevant threat to national unity. The 4/11 protest, which eventually went violent, with police truck set on fire, a convenient store pillaged, and the contained riot in North Jakarta, heightened the social tension in the face of municipal election next February.

The situation exacerbates as there occurred low-explosives bombing in Samarinda and Singkawang, Kalimantan province in the week that follows.

Basuki, who topped the poll before he uttered a verse in Koran during his work visit in front of the community in Kepulauan Seribu, runs for Jakarta governor as a suspect.

Now that the hard-liners want him arrested for violating the 1965-stipulated law and/or the infamous 156a KUHP criminal code concerning blasphemy, which many rendered biased and prone to misjudgment, or killed out of radical interpretation of Islamic holy book, the two other competing pair of rivals will get the edge.

Some who had fallen victim to the law, and in most cases brought to trial because of mass pressure, were literature figure HB Jassin, sentenced 1 year in 1968, chief editor Arswendo Atmowiloto, sentenced 5 years circa 1990, not to mention the accusations incriminating the chief editors of Rakyat Merdeka and Jakarta Post in 2006 and 2014, respectively.

Indonesians are now in the state of hate-mongering. The tourism slogan of harmony in diversity, and the image of Indonesian hospitality are fading in the brink of municipal election in 2017, to be held nationwide in 7 provinces, 76 districts, and 18 cities on 15 February, participated by 153 pairs of candidates. Never a municipal election in Indonesia caused so much uproar, all because of one person of religious and ethnic minority.

But the dynamics does not only lead to negative trends.

A giant stage erected at the center of the mass rally that calls for national unity.
A giant stage erected at the center of the mass rally that calls for national unity.

Occured after 4/11, a spontaneous movement led to a mass-gathering event on 19 November to stage a public outcry over the fear of a nation divided.

As election nears in, large number of people took to the streets in the capital to amplify the importance of national cohesion despite political upheaval that exploits race and religion. These people reiterated the principle term Bhinneka Tunggal Ika or unity in diversity, which is stated in the constitution since the founding of the republic over 70 years ago.

Many saw it as a direct and organized response to 4/11 rally, although it was more of a parade than a protest. Various group of ethnicity in Indonesia showcased their cultural identity in the form of dances, music, and dresses. All was there donning red and white shirts, the two colors of the flag, sweating under the afternoon sun, to promote tolerance.

The running event the next day was held, not so much by coincidence, in the same spirit. Another large number of sports enthusiasts took part in the 10K Tolerun down the main streets of the city center, sending a message about the importance of tolerance and unity during one of the critical episodes of Indonesian democracy since reformation era.

When hope that pertains to a value of a republic seems lost to radical influence, those on 19 November shared to the world that Indonesia has yet to be a ideologically-hostile country.

However, it was again very unfortunate to notice that the media reacted by comparing the number of participants seen in the parade and the religious groups protest that preceded it, rather than focusing on the substance. Not all was lost.

A lit up candle in the dark sheds the brightest.

This slideshow requires JavaScript.

Perang Dunia I dan penutupan kawasan prostitusi New Orleans

Live jazz band at New Orleans museum of art. Photography by Bart Everson.
Live jazz band at New Orleans museum of art. Photography by Bart Everson.

Satu jenis musik vernakular yang berakar dari Eropa dan dipadukan dengan Afrika dikenal publik Amerika Serikat pada tahun 1868 menggunakan gitar, trombon, piano, terompet, dan saksofon. Perpaduan aliran musik blues, ragtime dan musik Eropa, terutama musik band, merupakan bentuk awal musik jazz yang berkembang lintas jaman hingga ke bentuknya yang terdapat sekitar tahun 1915-1917.

Para musisi jazz New Orleans tampil di bar, tempat perjudian, dan prostitusi yang di masa itu tumbuh subur. Tidak mengherankan bila penontonnya tidak terlalu memperhatikan permainan mereka. Tidak ada yang menilai cara bermusik mereka di saat para tamu lebih terpikat dengan dorongan hedonisme.

Akibatnya kawasan lampu merah bernama Storyville ini menciptakan sebuah ekosistem unik yang menyuburkan kreativitas pemusik di mana mereka memiliki kebebasan lebih untuk tampil secara eksperimental, banyak di antaranya yang menampilkan karya kontemporer, tidak pernah ada di mana pun sebelumnya.

Pada tahun 1917, meski mendapat tentangan dari pemerintah kota setempat untuk menutup Storyville yang sebenarnya sudah diperuntukkan guna mengendalikan dampak buruk prostitusi dan alkohol di New Orleans, atas permintaan militer AS pemerintah pusat menutup kawasan tersebut.

Selain berjarak cukup dekat dengan sebuah pangkalan militer di kota itu, penyebab utama penutupan adalah fokus Amerika Serikat yang sedang bersiap memasuki Perang Dunia I dengan tujuan mobilisasi ke Perancis. Menurut petinggi militer, selain membekali dan melindungi para pasukannya dengan seragam tempur yang memadai, negara bertanggung jawab pula melindungi mereka dengan jubah moral dan intelektualitas.

Jazz New Orleans

Pada masa itu, kaum kulit hitam di New Orleans memainkan musik yang memiliki corak khas sehingga disebut jazz New Orleans. Iramanya sempat dikaitkan dengan makna negatif. Selain dari kata jazz yang mengarah pada makna seksual, para musisi memainkan jazz di tengah kalangan buruh dan pekerja harian di tempat prostitusi yang sedang booming di sana.

Reputasi ini membuat orang Indonesia awam masa kini yang beranggapan bahwa jazz musik kelas atas hanya pantas didengar di bar, hotel, panggung berAC sungguh terlihat ironis dalam ketidaktahuannya.

New Orleans juga sempat disebut sebagai rumah bagi para penikmat jazz di Amerika. Popularitas ini turut disumbangkan oleh faktor terciptanya lingkungan yang kondusif untuk interaksi antar etnis, yaitu mulai datangnya pemusik kulit putih ke Storyville yang awalnya didominasi oleh pemusik kulit hitam. Penonton mereka pun makin kerap berbaur di lingkungan tersebut.

Louis Armstrong, Sidney Bechet dan Jelly Roll Morton adalah sebagian dari musisi jazz yang lahir di New Orleans. Louis Armstrong pindah ke Chicago setelah penutupan daerah prostitusi di New Orleans. Ia adalah satu dari gerombolan musisi yang menelusuri Sungai Mississippi ke arah utara hingga Detroit. Di tahun 1920-an jazz telah berkembang pesat di New York, Chicago dan Memphis.

Kini sangat langka ditemukan bentuk rumah bordil di kawasan prostitusi bersejarah Storyville. Namun New Orleans Jazz Festival sudah menjadi agenda rutin positif yang mampu mengundang musisi terkenal dari seluruh penjuru negeri.

Basin St. Down the Line New Orleans. George Francois Mugnier. 1909. Public domain via Wikimedia Commons.
Basin St. Down the Line New Orleans. George Francois Mugnier. 1909. Public domain via Wikimedia Commons.

Jazz di alam Indonesia

dscn3441

Jazz gunung adalah pagelaran musik tahunan yang diadakan tanpa putus sejak 2009 di kawasan wisata Bromo atau Taman Nasional Tengger Semeru, Jawa Timur. Musisi yang pernah tampil di antaranya adalah Djaduk Ferianto, yang pada awalnya juga adalah penggagas konsep acara ini. Ia hampir selalu tampil setiap tahunnya bersama sekian musisi seperti Kua Etnika, Trie Utami dan Idang Rasjidi. Selain itu ada pula Syaharani, Balawan, Dewa Budjana, Tohpati Ethnomission, Kulkul, Benny Likumahuwa beserta anaknya Barry Likumahuwa, vokalis Iga Mawarni, hingga musisi di ranah indie dan pop seperti Banda Neira atau Yovie Widianto, dan Rieke Roslan.

Gunung Bromo yang merupakan tanah vulkanik yang terkenal dengan keindahannya memberikan pengalaman yang berbeda. Penikmat jazz tidak hanya mendapatkan pengalaman auditif namun juga visual yang diberikan oleh keindahan alam Gunung Bromo. Jazz Gunung yang diadakan selama 2 hari merupakan bentuk apresiasi yang diberikan kepada para penikmat jazz.

Jazz Atas Awan merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan dalam Dieng Culture Festival di kawasan Gunung Dieng, Jawa Tengah. Jika Jazz Gunung hanya menampilkan satu pagelaran konser, Dieng Culture Festival memadukan kebudayaan tradisional dengan sisi modern, yaitu jazz.

Jika selama ini jazz hanya diasosiasikan ke penikmat musik kalangan tertentu, Jazz Atas Awan menawarkan pagelaran yang lebih terkesan merakyat. Berlatar belakang artefak Candi Arjuna, Jazz Atas Awan tidak memberikan sebuah panggung megah yang memisahkan pemusik dan penonton. Konsep ini ditawarkan agar jazz dapat dinikmati semua orang.

Kedua pagelaran tersebut menawarkan keindahan alam terbuka, kebudayaan, peninggalan sejarah dan musik jazz dalam satu kemasan. Sama-sama diadakan di ketinggian 2000 meter di atas laut, siapkan pakaian musim dingin karena suhu yang tak biasanya rendah di alam terbuka.

Acara-acara serupa turut bermunculan, seperti Ngayogjazz di Yogyakarta, Prambanan Jazz, Banyuwangi Jazz Festival, Maratua Jazz yang juga mempopulerkan pariwisata Kepulauan Derawan, Mahakam Fiesta Jazz Samarinda, Jazz Pinggir Kali Purbalingga, dan Ijen Summer Jazz yang berlatar belakang pegunungan Merapi. Kedua terakhir digelar untuk pertama kalinya tahun ini. Ubud Village Jazz Festival yang berlangsung selama dua hari setiap tahun sejak 2012, diikuti oleh sejumlah grup internasional, dan di antara musisi lokal terdapat Salamander Big Band dan Sandy Winarta.

Freedoms Jazz Award 2016

dsc_3220
Tesla Manaf plays his psychedelic piece in Freedoms Jazz Award 2016.
The consistency of a few people in the industry has led them to hosting a music award for the young and talented musicians whom they are so dedicated to find in this country. These people are some of the first who spotted Joey Alexander. And after hosting Freedoms Jazz Festival last year, iCanStudioLive reintroduced similar concept in August 2016, but by adding a score in holding Freedoms Jazz Award 2016 as the closing remark.

Continue reading Freedoms Jazz Award 2016

Telaah kebakaran pencakar langit

Tak banyak yang bisa diperbuat untuk memadamkan api di ketinggian gedung baru Neo SOHO hingga puncaknya di lantai 42, yang berlangsung selama tiga jam sejak pukul 21:00, Rabu, 9 November 2016.

img_20161109_215921
Pengunjung Taman Tribeca, mal Central Park, menyaksikan kebakaran di gedung Neo SOHO, Grogol.

Di antara kerumunan yang menengadah tertegun menyaksikan dan memotret kebakaran lantai demi lantai apartemen yang belum berpenghuni tersebut, sebagian terduduk santai bersama teman dan keluarga di Taman Tribeca, Mal Central Park, sebagian melakukan swafoto, sebagian berseliweran sambil menenteng kopi, kantong belanja, mendorong kereta bayi.

Bahkan banyak yang dalam ketenangan mereka melanjutkan malam keakraban di tempat kumpul-kumpul sekitar hingga larut.

Musik live saling bersahutan antara satu band dan lainnya di masing-masing bar, hanya mau berhenti ketika tengah malam saat di mana api telah lama padam dan iringan mobil pemadam kebakaran membunyikan sirene meninggalkan lokasi.

Dinas kebakaran gabungan di Jakarta telah mengerahkan selusin pemadam kebakaran sambil menutup akses ke Podomoro City demi menjaga keselamatan publik. Akibatnya arus keluar kendaraan dialihkan memutari mal lewat jalan sempit yang terhubung dengan jalan arteri Grogol.

Namun arus kendaraan tidak bergerak, mengakibatkan sebagian pemilik kendaraan yang baru saja meninggalkan mal memutuskan kembali ke area parkir.

Sementara nyala api menyajikan tontonan bagi semua yang terjebak di Central Park, para petugas keamanan sigap menutup akses ke Neo SOHO melalui jembatan penghubung yang sedang populer untuk swafoto belakangan ini. Penghuni apartemen sekitar tumpah ruah di jalanan.

Salah satu penghuni bahkan sempat merasakan hawa panas dari kebakaran yang terjadi tepat di seberangnya, sebelum mendapat instruksi meninggalkan apartemennya. Garis pengaman untuk mensterilkan area kerja petugas pemadam sempat tidak dapat menahan jumlah manusia yang bahkan sebagian di antaranya masih mengenakan pakaian tidur.

Dalam kecemasan semuanya berbaur dalam kerumunan, menengadah menyaksikan dan memotret api yang merambat naik hingga lantai tertinggi, diwarnai pemandangan material fasad gedung yang mengelupas dan jatuh terus-menerus.

Sebagian berseliweran dengan menggendong binatang peliharaan, sebagian duduk di depan minimarket yang semakin ramai, sebagian lainnya masuk tayangan televisi saat  diwawancara wartawan.

Meski upaya pemadaman tak berhenti, namun semprotan air tak mampu mencapai ketinggian di atas 20 lantai. Asa dan keberanian para pemadam harus berhenti di batas ketinggian tangga otomatis.

Jauh di atas sana, api merambat semakin tinggi, dan sesaat setelah terlihat sudah padam, panas yang belum pupus membuat api kembali menyala, dan padam lagi. Kondisi ini berlangsung selama kurang dari 3 jam sebelum jalan kembali dibuka dan warga diizinkan untuk pulang, melewati sisi samping gedung modern yang sudah gosong tersebut. Penghuni apartemen di seberangnya juga sudah tak tampak di jalanan.

Dalam beberapa dekake terakhir, perkembangan kota begitu cepat, dan  laju vertikal fisik kota semakin jauh meninggalkan kemampuan penanggulangan kebakaran pencakar langit. Potensi kebakaran, terutama pada tahap pembangunan, diperparah oleh sarana pemadam yang belum memadai.

Pemerintah kota Dubai, Uni Emirat Arab, bahkan menetapkan respon penanggulangan kebakaran lewat udara, melengkapi para petugas pemadam dengan jetpack agar mereka bisa terbang sambil memadamkan api.

Dubai memiliki gedung tertinggi di dunia saat ini, Burj Khalifa, setinggi 828 meter, dan kabarnya sudah memulai pembangunan The Tower, pencakar langit baru tahun 2020 dengan ketinggian melampauai Burj Khalifa. Kota tetangga sewilayah, Jeddah, Arab Saudi, juga sudah memulai pembangunan Kingdom Tower, pencakar langit dengan ketinggian melampaui 1 kilometer.

Tidak ada kata berhenti untuk membuat struktur tertinggi di muka bumi walaupun pandangan tentang keselamatan selalu memperingatkan bahwa fatalitas akan terjadi cepat atau lambat jika hasrat proyek mercusuar seperti ini tak terkendali.

Pakar penanggulangan kebakaran bahkan mengatakan bahwa hutan pencakar langit di Dubai rawan kebakaran. Mayoritas pencakar langit mengandung material mudah terbakar, seperti polyurethane dan aluminium composite, dua material yang terlalu banyak digunakan saat booming proyek gedung tinggi di sana, dan kemudian dilarang penggunaannya sejak 2013.

Sudah terjadi 3 kebakaran pencakar langit di Dubai sejak 2012. Kasus terakhir menghanguskan nyaris seluruh lantai Address Hotel, gedung 63 lantai, dalam hitungan menit.

Sebenarnya aspek keselamatan sudah diperhatikan sejak dua dekade silam di Jakarta. Wisma 46 di pusat finansial Jakarta yang memiliki 50 lantai, misalnya, pernah dikritik karena desain mengerucut di puncaknya yang meniadakan sarana evakuasi helipad akan menyulitkan upaya penyelamatan orang-orang yang terjebak di beberapa lantai teratas jika terjadi kebakaran.

Namun dilihat dari persepsi publik, arsitektur inilah yang membuat Jakarta memiliki sebuah ikon modern sejak 1996, dan pada saat itu sempat menjadi gedung tertinggi di belahan bumi selatan (southern hemisphere).

Ini adalah proyek mercusuar Indonesia yang terakhir sebelum krisis ekonomi melanda. Beberapa tahun belakangan, roda pembangunan vertikal kembali bergulir dengan lingkup dan pencapaian teknik yang lebih hebat.

Di Jakarta terdapat 3 kebakaran gedung tinggi dalam setahun terakhir, semuanya terjadi saat tahap pembangunan. Swiss-Belhotel di Kelapa Gading, Casa Domaine di Tanah Abang, dan terakhir gedung apartemen dan kantor Neo SOHO di Grogol.

Penyebab kebakaran diduga berasal dari faktor kelalaian, seperti arus pendek, percikan api pengelasan, bahkan rokok. Pesatnya pembangunan gedung tinggi di Jakarta sudah berada dalam tahap perlombaan mana yang tertinggi. Harga tanah dan permintaan menjadi salah satu faktor alami seperti lumrahnya semua kota berkembang.

Di sisi lain, aspek keselamatan menjadi tinjauan utama hanya ketika kecelakaan telah terjadi. Ada yang berpolemik bahwa tiada yang bisa menghilangkan setiap risiko. Risiko senantiasa mengikuti pergerakan progresif manusia.

Museum Nasional to hold the first graffity exhibition

dsc_3818

In a similar fashion as when photography was acknowledged for the first time as a medium worthy of an art-status exhibition in Museum of Modern Art (MoMA), New York, in 1967 featuring the work of Lee Friedlander, Diane Arbus, and Garry Winogrand, graffiti in Indonesia jubilantly marked its own recognition with a joint exhibition Off the Wall by a dozen graffiti artists in Museum Nasional, November 2016.

But there is no denial about the role of commercial interest in the first ever graffitti exhibition held in a museum in Indonesia. It mainly involves Institut Français d’Indonésie (IFI), domestic commercial gallery d’Gallerie, and the international hotel management Tauzia, on the promotion of its budget hotel brand Yello Hotels opening in Hayam Wuruk, Jakarta.

It started in a meeting of IFI and Yello Hotels. Both has worked together on activities such as film screenings, and further committed to more cooperation in the future. The next idea was street art activity, of which they brought on a successful meeting with Esti Nurjadin, owner of D’Gallerie.

But there is a sense of oxymoron that underlies the intiative. Graffiti is spontaneous, anonoymous, and by nature marginalized. Some argued that it is a form of expression by the deprived social class. One wonders whether hosting such a genre would present a genuine piece of work.

During a press conference in IFI, joined also by Director of Institut Français d’Indonésie Marc Piton and President Director of Tauzia Marc Steinmeyer, Esti replied that in nature, art should be free. But even street art has been commercialized, and by literally taking it off the streets. Some instances are Louis Vuitton and Hermes who has worked on marketing activities using street art. She is convinced on the equal status of low art and high art are the same, referring to the previous phenomenon in London by Banksy.

“So on the streets, street art is still what it is. It will be cleaned off the wall, and repainted over, like mural,” she went on saying, justifying their action of providing the graffiti artists the conveniences they do not normally expect to have. Even some law enforcers in the more educated society consider the artwork vandalism. But still, putting it into perspective, the cat and mouse game is what signifies the art.

Although held shortly throughout the first week of November, the pioneers who have given the opportunity to five Indonesian artists and five French counterparts pride themselves in Off the Wall, as Mr. Piton underlined, that bringing art to the people makes culture accessible to everyone and eventually helps develop creative economy.

Mr. Steinmeyer believed that being creative is not a hobby, but a way of life. As they must have planned to expand the business by opening more hotels in Indonesia following Surabaya and Jakarta, hope arises that this artsy marketing campaign is not short-lived.

Five participating artists from Indonesia are Farhan Siki, whose mural help shaped the 798 art district in Beijing; the globe-trotting Soni Irawan, who earned fame having awarded in 2001 Phillip Morris Asean Art Award; Stereoflow; Tutugraff, and Darbotz from Jakarta, popular for his squid character he has developed since 2004. Google Chrome and Nike are among companies who has used his artworks.

The French artists are Colorz, who has marked various places in Paris since 1987; Kongo, the nickname self-taught artist Cyril Phan uses since he moved to Brazzaville, the place that has forged his identity; Mist, a Parisian who working in his studio in Montpellier, Fenx; and Tilt, who has left marks in more than forty countries. who all come from Paris, Montpellier and Toulouse. They performed live paintings in several places around the city, some provided with white medium which is to be placed in Museum Nasional, some on the walls of IFI.

This slideshow requires JavaScript.

Jailolo in Eko’s bold conception

web-banner-sipfest-on-think-archipelagoSIPFest 2016 is the fifth performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in Kompleks Komunitas Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 1 October 2016 onwards until early November. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2016 banner found in think archipelago website.


Eko Supriyanto
Indonesia’s top choreographer Eko Supriyanto showcases his latest work Balabala, the second part of his Jailolo trilogy in SIPFest 2016, Jakarta. He considers local tradition as relevant and priceless in his contemporary dance.

Better to let go of the excessive reminiscence of his touring with a famous American pop star, or more prominently, a stint at a production of Disney’s musical that involved names such as Elton John, Hans Zimmer, and Tim Rice, all happened over 15 years ago.

Eko Supriyanto is at the top list of homegrown contemporary dance choreographers. So much he loves the diversity of tradition that make up what is now Indonesia that he draws the inspiration from ethnic groups traditional value and social setting, then reconceptualizes them in his work, such as clearly demonstrated in the Balabala.

The sequel of the so-called Jailolo trilogy is a testament to an extensive work of a former dancer who studied in ISI Surakarta in 1990, beginning with Cry Jailolo in 2014.

Eko continues to involve indigenous teenagers of Jailolo, North Maluku, whom he picked based on instincts, and later trained to perform a modern reinterpretation of local ritual, or, by today’s common definition, dance.

But the all-female dancers distinguishes Balabala from its prequel, where the local young boys took the spotlight, and enjoyed their fame in the world tour, a case that seemed to inspire their female peers to take part in this project.

Gender equality

Cry Jailolo and Balabala delved into social and environmental issues in the dancers native place. But as the former rises environmental concerns, the latter sheds light on gender equality.

And breaking the then impermeable norm was not without rejection. Eko admitted to take a careful approach for he did not want to be seen as a typically “Javanese invader” to the local community, for he aimed to deconstruct several dances into a brand new fusion entity.

He succeeded in bringing seasoned instructors of Cakalele, a native war dance that Balabala draws an inspiration from, and of which involves male only, to prepare the five girls undertaking the unprecedented challenge.

As if they were on the defensive by wielding shield in the face of their opponents, they exuded man-like vigor, the eyes of agression and caution at the same time, that fearless charm.

The world’s premiere, which served also as the summit program in SIPFest 2016, was just the beginning of the world tour spanning across countries in Asia, Australia, and Europe.

Maluku all-female dancers perform in Balabala by Eko Supriyanto at SIPFest 2016, Jakarta
All-female dancers from Jailolo, Maluku, perform in Balabala by Eko Supriyanto at SIPFest 2016, Jakarta. Molding these dancers-by-coincidence was more about soco-cultural approach and less about technical challenges, said Eko.

Cultural diversity

Talking about Indonesian contemporary dance in comparison with other countries, Eko proudly said that it mainly differs in the wealth of material derived from his home country’s diverse culture.

Such a conviction that makes him aware that tradition is not obsolete. On the contrary, “There is no gap between modern and traditional dance,” he said, confident in his way of working on new things with much likely a lot of reference to deep-rooted cultural values.

According to him, old tradition is very relevant in new exploration, as long as there is a willingness to make a revisit, and interpret it. “Contemporary is not a form, but a conception,” he said.

Quo vadis tari kontemporer?

web-banner-sipfest-on-think-archipelagoSIPFest 2016 is the fifth performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in Kompleks Komunitas Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 1 October 2016 onwards until early November. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2016 banner found in think archipelago website.


Ingun Bjørnsgaard Prosjekt menampilkan Praeambulum di SIPFest 2016, Komunitas Salihara
Ingun Bjørnsgaard Prosjekt menampilkan Praeambulum di Salihara International Performing Arts Festival 2016, Komunitas Salihara, Jakarta.

Judul tinjauan seni yang klise, namun rangkaian pertunjukan seni di SIPFest 2016 mengundang pertanyaan dan pernyataan yang sama menyangkut komentar khalayak tentang perkembangan seni tari yang dikurasi oleh Komunitas Salihara tersebut.

Menarik untuk disimak kembali anggapan bahwa seni kontemporer, khususnya tari, tidak pernah beranjak dari unsur tradisional.

Meski perkembangan tari makin beragam dengan isi konten sosial dan politik melalui rekaan eksploitasi tubuh yang lebih demokratis, ditandai oleh munculnya banyak kelompok baru, namun dinamikanya, ditelaah dari aspek sejarah, misalnya, tidak berasal dari pertentangan dengan tesis pendahulunya.

Dinamika sosial dan politik

Setidaknya sulit ditemukan sebuah antitesis dari inisiatif pemberontakan seorang artis, kecuali dalam kasus Konstruktivisme yang mempengaruhi seni pertunjukan di era transisi Soviet Rusia, itu pun ditunggangi kepentingan politis.

Memang ada pemberontakan kolektif terhadap balet di awal abad ke 20 di Amerika Serikat oleh kelas menengah. Namun itu juga karena aspek sosio-ekonomi, bukan kesadaran individual untuk melawan budayanya sendiri (counter-culture).

Kelas menengah sedang bangkit pada saat itu ditilik dari sudut pendapatan, dan juga peningkatan pengeluaran. Dari perbaikan ekonomi timbul kebebasan menentukan selera baru, apa pun itu asal bukan perwakilan dari dominasi usang yang membatasi gerak seperi halnya balet klasik.

Mungkin ini data empiris terakhir terkait dinamika tari dalam sejarah modern. Terdapat kompromi identitas budaya hanya agar sebuah pertunjukan dapat diterima kelompok tertentu, dengan dalih penciptaan sintesis dari unsur tradisi lama dan embrio kreativitas baru.

Kompromi yang dijalankan demi mengukuhkan ikatan dengan penonton dalam sebuah pertunjukan langsung diakui oleh Ingun Bjørnsgaard saat ditanya tentang penggunaan karya klasik Johann Sebastian Bach dalam Praeambulum yang ia pentaskan bersama Ingun Bjørnsgaard Prosjekt.

Diakuinya bahwa musik klasik sudah dikenal penonton di Indonesia. Ini adalah generalisasi pascakolonial yang tidak bisa disalahkan. Namun ia menampik komentar bahwa karyanya merupakan bagian dari neoclassicism yang sedang populer di tanah asalnya beberapa tahun belakangan.

Motif-motif neoklasik telah memberikan wajah-wajah familiar dengan konteks baru. Patung-patung Yunani yang mendapat semprotan grafiti, modifikasi model melalui perangkat lunak, atau bahkan sekadar sentuhan collage, tren ini melanda pameran patung hingga, katakanlah, sampul CD grup musik elektronik Whomadewho dari Denmark. Tidak ada yang benar-benar baru saat ini.

 

Koreografer kelompok yang bermarkas di Oslo ini tidak serta-merta latah. “Kombinasi antara musik baroque dan musik kontemporer bukan berarti neoklasik,” katanya sambil menggeleng. Itu upaya untuk melakukan kontak dengan penonton global, tambahnya.

Pengaruh klasik dalam gerakan modern

Tampaknya produk kuno itulah yang menjadi katalis. Terlepas dari pengaruh klasik, para penari bebas berinisiatif mengendalikan tempo tanpa terlalu memperdulikan iringan musik itu sendiri. Meski masih sangat kuat akan unsur koreografi, Praeambulum yang tahun lalu ditampilkan di New York dan di awal November ini di Havana, menyuguhkan ekspektasi yang sangat bervariasi.

Meski tidak terlalu bebas, setiap penari di banyak kesempatan mampu memberikan materi untuk membangun struktur mereka masing-masing.

Berawal dari upaya kompromi inilah yang membuat unsur tradisional masih dipakai dalam seni tari saat ini. Bagaimana pun juga, ada kebebasan yang tak terdapat di seni tari, yang sebaliknya diumbar oleh seni lukis, misalnya.

Ada sebuah bentuk interaksi fisik yang perlu segera dibangun di tempat itu juga. Ada semacam tekanan rule of engagement agar penonton lebih proaktif.

Di sisi lain, peradaban yang dibangun oleh interaksi fisik lintas benua, dan dalam dua dekade terakhir secara global berubah wujud menjadi abstrak dari perangkat digital yang kemudian memunculkan konsep zero distance, telah menciptakan siklus membentuk, melebur, dan membentuk lagi. Yang direka ulang adalah gambaran-gambaran familiar dari masa lalu, yang dilebur adalah kebudayaan antarbenua, disaksikan oleh penonton di ujung lain dunia. Dari Eropa hingga Asia Tenggara, ada kesamaan.

 

Mega Mendung. Fitri Setyaningsih
Mega Mendung oleh Fitri Dance Work, SIPFest 2016, Jakarta. Photograph by Witjak Widhi Cahya, courtesy of Komunitas Salihara

Penampilan Fitri Dance Work bertajuk Mega Mendung di SIPFest 2016, contohnya, tak perlu diragukan lagi jika dilihat lagi konsistensi pemakaian pola rutinitas ke dalam gerakan artistik. Dalam karya yang akan tampil di Korea Selatan pada 2017 ini, koreografer Fitri Setyaningsih memiliki kecenderungan berkutat pada stereotip alam negaranya yang akan ia bawa ke depan penonton di ujung lain dunia.

Hamparan pasir yang beterbangan disapu kaki-kaki telanjang, dan struktur tak berdinding yang menghadirkan banyak bukaan. Nuansa pesisir hadir. Dari sana para penarinya kental membawakan pengaruh sosio-kultural.

Unsur tradisional dalam bentuk modern

Tampaknya Fitri Setyaningsih kerap mencari bentuk kontemporer yang berasal dari unsur-unsur tradisional, seperti di Mega Mendung dengan busana pedesaan yang dikenakan para penarinya, properti panggung seperti kantong isi beras yang dituang di atas tangan-tangan yang menadah, hingga sampai ke tangan para penonton yang kebagian sedikit, dan tabuhan instrumen musik tradisional.

Jika demikian, tidak salah untuk berasumsi bahwa tarian kontemporer Bu Fitri sulit terlepas dari pengaruh budaya tradisional.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah seberapa relevankah unsur tradisional dalam perkembangan seni tari di Indonesia?

Apakah melulu berangkat dari, misalnya, identitas lokal si koreografernya, romantisisme akan kekayaan budayanya, atau apakah di masa depan nanti akan tiba saat di mana seni tari Indonesia akan tercerabut dari akarnya (grassroot) dan mencari bentuk kontemporer seutuhnya dan baru?

Eko Supriyanto akan menyajikan pertunjukan tari yang paling diantisipasi di SIPFest 2016, menjadi penutup dengan Balabala. Berangkat sebagai penari dan sudah berkeliling dunia membangun karir dan reputasi, kini ia memimpin Ekosdance Company menampilkan untuk pertama kalinya sebuah karya interpretasi baru dari tarian tradisional dari timur Cakalele yang rupanya dibawakan oleh para penari perempuan asal Maluku, bukan pria pada lumrahnya.