QUO VADIS TARI KONTEMPORER?

web-banner-sipfest-on-think-archipelagoSIPFest 2016 is the fifth performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in Kompleks Komunitas Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 1 October 2016 onwards until early November. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2016 banner found in think archipelago website.


Ingun Bjørnsgaard Prosjekt menampilkan Praeambulum di SIPFest 2016, Komunitas Salihara

Ingun Bjørnsgaard Prosjekt menampilkan Praeambulum di Salihara International Performing Arts Festival 2016, Komunitas Salihara, Jakarta.

Judul tinjauan seni yang klise, namun rangkaian pertunjukan seni di SIPFest 2016 mengundang pertanyaan dan pernyataan yang sama menyangkut komentar khalayak tentang perkembangan seni tari yang dikurasi oleh Komunitas Salihara tersebut.

Menarik untuk disimak kembali anggapan bahwa seni kontemporer, khususnya tari, tidak pernah beranjak dari unsur tradisional.

Meski perkembangan tari makin beragam dengan isi konten sosial dan politik melalui rekaan eksploitasi tubuh yang lebih demokratis, ditandai oleh munculnya banyak kelompok baru, namun dinamikanya, ditelaah dari aspek sejarah, misalnya, tidak berasal dari pertentangan dengan tesis pendahulunya.

Setidaknya sulit ditemukan sebuah antitesis dari inisiatif pemberontakan seorang artis, kecuali dalam kasus Konstruktivisme yang mempengaruhi seni pertunjukan di era transisi Soviet Rusia, itu pun ditunggangi kepentingan politis.

Memang ada pemberontakan kolektif terhadap balet di awal abad ke 20 di Amerika Serikat oleh kelas menengah. Namun itu juga karena aspek sosio-ekonomi, bukan kesadaran individual untuk melawan budayanya sendiri (counter-culture).

Kelas menengah sedang bangkit pada saat itu ditilik dari sudut pendapatan, dan juga peningkatan pengeluaran. Dari perbaikan ekonomi timbul kebebasan menentukan selera baru, apa pun itu asal bukan perwakilan dari dominasi usang yang membatasi gerak seperi halnya balet klasik.

Mungkin ini data empiris terakhir terkait dinamika tari dalam sejarah modern. Terdapat kompromi identitas budaya hanya agar sebuah pertunjukan dapat diterima kelompok tertentu, dengan dalih penciptaan sintesis dari unsur tradisi lama dan embrio kreativitas baru.

Kompromi yang dijalankan demi mengukuhkan ikatan dengan penonton dalam sebuah pertunjukan langsung diakui oleh Ingun Bjørnsgaard saat ditanya tentang penggunaan karya klasik Johann Sebastian Bach dalam Praeambulum yang ia pentaskan bersama Ingun Bjørnsgaard Prosjekt.

Diakuinya bahwa musik klasik sudah dikenal penonton di Indonesia. Ini adalah generalisasi pascakolonial yang tidak bisa disalahkan. Namun ia menampik komentar bahwa karyanya merupakan bagian dari neoclassicism yang sedang populer di tanah asalnya beberapa tahun belakangan.

Motif-motif neoklasik telah memberikan wajah-wajah familiar dengan konteks baru. Patung-patung Yunani yang mendapat semprotan grafiti, modifikasi model melalui perangkat lunak, atau bahkan sekadar sentuhan collage, tren ini melanda pameran patung hingga, katakanlah, sampul CD grup musik elektronik Whomadewho dari Denmark. Tidak ada yang benar-benar baru saat ini.

 Koreografer kelompok yang bermarkas di Oslo ini tidak serta-merta latah. “Kombinasi antara musik baroque dan musik kontemporer bukan berarti neoklasik,” katanya sambil menggeleng. Itu upaya untuk melakukan kontak dengan penonton global, tambahnya.

Tampaknya produk kuno itulah yang menjadi katalis. Terlepas dari pengaruh klasik, para penari bebas berinisiatif mengendalikan tempo tanpa terlalu memperdulikan iringan musik itu sendiri. Meski masih sangat kuat akan unsur koreografi, Praeambulum yang tahun lalu ditampilkan di New York dan di awal November ini di Havana, menyuguhkan ekspektasi yang sangat bervariasi.

Meski tidak terlalu bebas, setiap penari di banyak kesempatan mampu memberikan materi untuk membangun struktur mereka masing-masing.

Berawal dari upaya kompromi inilah yang membuat unsur tradisional masih dipakai dalam seni tari saat ini. Bagaimana pun juga, ada kebebasan yang tak terdapat di seni tari, yang sebaliknya diumbar oleh seni lukis, misalnya.

Ada sebuah bentuk interaksi fisik yang perlu segera dibangun di tempat itu juga. Ada semacam tekanan rule of engagement agar penonton lebih proaktif.

Di sisi lain, peradaban yang dibangun oleh interaksi fisik lintas benua, dan dalam dua dekade terakhir secara global berubah wujud menjadi abstrak dari perangkat digital yang kemudian memunculkan konsep zero distance, telah menciptakan siklus membentuk, melebur, dan membentuk lagi. Yang direka ulang adalah gambaran-gambaran familiar dari masa lalu, yang dilebur adalah kebudayaan antarbenua, disaksikan oleh penonton di ujung lain dunia. Dari Eropa hingga Asia Tenggara, ada kesamaan.

Penampilan Fitri Dance Work bertajuk Mega Mendung di SIPFest 2016, contohnya, tak perlu diragukan lagi jika dilihat lagi konsistensi pemakaian pola rutinitas ke dalam gerakan artistik. Dalam karya yang akan tampil di Korea Selatan pada 2017 ini, koreografer Fitri Setyaningsih memiliki kecenderungan berkutat pada stereotip alam negaranya yang akan ia bawa ke depan penonton di ujung lain dunia.

Hamparan pasir yang beterbangan disapu kaki-kaki telanjang, dan struktur tak berdinding yang menghadirkan banyak bukaan. Nuansa pesisir hadir. Dari sana para penarinya kental membawakan pengaruh sosio-kultural.

Photography by Witjak Widhi Cahya, courtesy of Komunitas Salihara

Mega Mendung oleh Fitri Dance Work, SIPFest 2016, Jakarta. Photography by Witjak Widhi Cahya, courtesy of Komunitas Salihara

Tampaknya Fitri Setyaningsih kerap mencari bentuk kontemporer yang berasal dari unsur-unsur tradisional, seperti di Mega Mendung dengan busana pedesaan yang dikenakan para penarinya, properti panggung seperti kantong isi beras yang dituang di atas tangan-tangan yang menadah, hingga sampai ke tangan para penonton yang kebagian sedikit, dan tabuhan instrumen musik tradisional.

Jika demikian, tidak salah untuk berasumsi bahwa tarian kontemporer Bu Fitri sulit terlepas dari pengaruh budaya tradisional.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah seberapa relevankah unsur tradisional dalam perkembangan seni tari di Indonesia?

Apakah melulu berangkat dari, misalnya, identitas lokal si koreografernya, romantisisme akan kekayaan budayanya, atau apakah di masa depan nanti akan tiba saat di mana seni tari Indonesia akan tercerabut dari akarnya (grassroot) dan mencari bentuk kontemporer seutuhnya dan baru?

Eko Supriyanto akan menyajikan pertunjukan tari yang paling diantisipasi di SIPFest 2016, menjadi penutup dengan Balabala. Berangkat sebagai penari dan sudah berkeliling dunia membangun karir dan reputasi, kini ia memimpin Ekosdance Company menampilkan untuk pertama kalinya sebuah karya interpretasi baru dari tarian tradisional dari timur Cakalele yang rupanya dibawakan oleh para penari perempuan asal Maluku, bukan pria pada lumrahnya.