TELAAH KEBAKARAN PENCAKAR LANGIT

Tak banyak yang bisa diperbuat untuk memadamkan api di ketinggian gedung baru Neo SOHO hingga puncaknya di lantai 42, yang berlangsung selama tiga jam sejak pukul 21:00, Rabu, 9 November 2016.

img_20161109_215921

Pengunjung Taman Tribeca, mal Central Park, menyaksikan kebakaran di gedung Neo SOHO, Grogol.

Di antara kerumunan yang menengadah tertegun menyaksikan dan memotret kebakaran lantai demi lantai apartemen yang belum berpenghuni tersebut, sebagian terduduk santai bersama teman dan keluarga di Taman Tribeca, Mal Central Park, sebagian melakukan swafoto, sebagian berseliweran sambil menenteng kopi, kantong belanja, mendorong kereta bayi.

Bahkan banyak yang dalam ketenangan mereka melanjutkan malam keakraban di tempat kumpul-kumpul sekitar hingga larut.

Musik live saling bersahutan antara satu band dan lainnya di masing-masing bar, hanya mau berhenti ketika tengah malam saat di mana api telah lama padam dan iringan mobil pemadam kebakaran membunyikan sirene meninggalkan lokasi.

Dinas kebakaran gabungan di Jakarta telah mengerahkan selusin pemadam kebakaran sambil menutup akses ke Podomoro City demi menjaga keselamatan publik. Akibatnya arus keluar kendaraan dialihkan memutari mal lewat jalan sempit yang terhubung dengan jalan arteri Grogol.

Namun arus kendaraan tidak bergerak, mengakibatkan sebagian pemilik kendaraan yang baru saja meninggalkan mal memutuskan kembali ke area parkir.

Sementara nyala api menyajikan tontonan bagi semua yang terjebak di Central Park, para petugas keamanan sigap menutup akses ke Neo SOHO melalui jembatan penghubung yang sedang populer untuk swafoto belakangan ini. Penghuni apartemen sekitar tumpah ruah di jalanan.

Salah satu penghuni bahkan sempat merasakan hawa panas dari kebakaran yang terjadi tepat di seberangnya, sebelum mendapat instruksi meninggalkan apartemennya. Garis pengaman untuk mensterilkan area kerja petugas pemadam sempat tidak dapat menahan jumlah manusia yang bahkan sebagian di antaranya masih mengenakan pakaian tidur.

Dalam kecemasan semuanya berbaur dalam kerumunan, menengadah menyaksikan dan memotret api yang merambat naik hingga lantai tertinggi, diwarnai pemandangan material fasad gedung yang mengelupas dan jatuh terus-menerus.

Sebagian berseliweran dengan menggendong binatang peliharaan, sebagian duduk di depan minimarket yang semakin ramai, sebagian lainnya masuk tayangan televisi saat  diwawancara wartawan.

Meski upaya pemadaman tak berhenti, namun semprotan air tak mampu mencapai ketinggian di atas 20 lantai. Asa dan keberanian para pemadam harus berhenti di batas ketinggian tangga otomatis.

Jauh di atas sana, api merambat semakin tinggi, dan sesaat setelah terlihat sudah padam, panas yang belum pupus membuat api kembali menyala, dan padam lagi. Kondisi ini berlangsung selama kurang dari 3 jam sebelum jalan kembali dibuka dan warga diizinkan untuk pulang, melewati sisi samping gedung modern yang sudah gosong tersebut. Penghuni apartemen di seberangnya juga sudah tak tampak di jalanan.

Dalam beberapa dekake terakhir, perkembangan kota begitu cepat, dan  laju vertikal fisik kota semakin jauh meninggalkan kemampuan penanggulangan kebakaran pencakar langit. Potensi kebakaran, terutama pada tahap pembangunan, diperparah oleh sarana pemadam yang belum memadai.

Pemerintah kota Dubai, Uni Emirat Arab, bahkan menetapkan respon penanggulangan kebakaran lewat udara, melengkapi para petugas pemadam dengan jetpack agar mereka bisa terbang sambil memadamkan api.

Dubai memiliki gedung tertinggi di dunia saat ini, Burj Khalifa, setinggi 828 meter, dan kabarnya sudah memulai pembangunan The Tower, pencakar langit baru tahun 2020 dengan ketinggian melampauai Burj Khalifa. Kota tetangga sewilayah, Jeddah, Arab Saudi, juga sudah memulai pembangunan Kingdom Tower, pencakar langit dengan ketinggian melampaui 1 kilometer.

Tidak ada kata berhenti untuk membuat struktur tertinggi di muka bumi walaupun pandangan tentang keselamatan selalu memperingatkan bahwa fatalitas akan terjadi cepat atau lambat jika hasrat proyek mercusuar seperti ini tak terkendali.

Pakar penanggulangan kebakaran bahkan mengatakan bahwa hutan pencakar langit di Dubai rawan kebakaran. Mayoritas pencakar langit mengandung material mudah terbakar, seperti polyurethane dan aluminium composite, dua material yang terlalu banyak digunakan saat booming proyek gedung tinggi di sana, dan kemudian dilarang penggunaannya sejak 2013.

Sudah terjadi 3 kebakaran pencakar langit di Dubai sejak 2012. Kasus terakhir menghanguskan nyaris seluruh lantai Address Hotel, gedung 63 lantai, dalam hitungan menit.

Sebenarnya aspek keselamatan sudah diperhatikan sejak dua dekade silam di Jakarta. Wisma 46 di pusat finansial Jakarta yang memiliki 50 lantai, misalnya, pernah dikritik karena desain mengerucut di puncaknya yang meniadakan sarana evakuasi helipad akan menyulitkan upaya penyelamatan orang-orang yang terjebak di beberapa lantai teratas jika terjadi kebakaran.

Namun dilihat dari persepsi publik, arsitektur inilah yang membuat Jakarta memiliki sebuah ikon modern sejak 1996, dan pada saat itu sempat menjadi gedung tertinggi di belahan bumi selatan (southern hemisphere).

Ini adalah proyek mercusuar Indonesia yang terakhir sebelum krisis ekonomi melanda. Beberapa tahun belakangan, roda pembangunan vertikal kembali bergulir dengan lingkup dan pencapaian teknik yang lebih hebat.

Di Jakarta terdapat 3 kebakaran gedung tinggi dalam setahun terakhir, semuanya terjadi saat tahap pembangunan. Swiss-Belhotel di Kelapa Gading, Casa Domaine di Tanah Abang, dan terakhir gedung apartemen dan kantor Neo SOHO di Grogol.

Penyebab kebakaran diduga berasal dari faktor kelalaian, seperti arus pendek, percikan api pengelasan, bahkan rokok. Pesatnya pembangunan gedung tinggi di Jakarta sudah berada dalam tahap perlombaan mana yang tertinggi. Harga tanah dan permintaan menjadi salah satu faktor alami seperti lumrahnya semua kota berkembang.

Di sisi lain, aspek keselamatan menjadi tinjauan utama hanya ketika kecelakaan telah terjadi. Ada yang berpolemik bahwa tiada yang bisa menghilangkan setiap risiko. Risiko senantiasa mengikuti pergerakan progresif manusia.

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s