Review film: the Invitation

IMG_20170316_130104

Paranoia yang disebabkan oleh trauma masa lalu membuat orang sekitar meragukan kondisi mental mereka yang mengalaminya. Rasionalitas dianggap sebagai tolok ukur kondisi psikologi yang normal. Di sisi lain intuisi yang sebagian dipengaruhi oleh perasaan diragukan.

Intuisi tokoh utama dalam thriller the Invitation merupakan hal yang menyebabkan kekacauan batin, dan kecurigaan teman-temannya karena ia terlihat gelisah terhadap semua hal, meskipun ketakutan yang berlebihan mungkin satu-satunya penyelamat dalam akumulasi plot yang berbahaya ini. Sebagian besar porsi dalam film ini berkutat pada tokoh sentral ini yang masih mengobati luka kehilangan anak.

Trauma kedua orang tua atas kematian anak tunggal yang disebabkan oleh kelalaian dalam hitungan detik di sebuah pesta rumah masih sulit terobati beberapa tahun lalu.

Mereka masih berupaya menerima kepedihan dari rasa bersalah itu. Mantan ayah telah menjalani hidup baru bersama seorang kekasih, dan terungkap kemudian di saat mereka memenuhi sebuah undangan ke sebuah rumah di lokasi kalangan atas di perbukitan Hollywood, Los Angeles, bahwa mantan istrinya yang tinggal di rumah mewah tersebut mengatasi kehilangan anaknya dengan berserah pada sebuah ajaran kepercayaan di Meksiko.

Sepulang dari sana, ia juga telah memiliki pasangan hidup baru yang keduanya menyebarkan kisah tentang perjalanan mereka mengatasi kesedihan di dunia ini, dan tampaknya kini berakhir bahagia, meski dengan bantuan obat penenang di laci kamar. Motif sebenarnya dari undangan reuni makan malam ini makin disadari oleh para undangan, mungkin promosi untuk mencari anggota baru.

Film ini mengisahkan perlombaan untuk berusaha menutupi trauma pribadi, ketabahan untuk melanjutkan hidup yang seringkali tragis ini, dan menunjukkannya kepada orang lain dengan lantang dan riang bahwa diri ini menang dan menginspirasi.

Dan lucunya film ini mendiskreditkan kelas sosial atas yang hidup eksklusif, dan demikian besar jarak dengan kelas sosial lainnya hingga persepsi dari kejauhan yang ditujukan kepada mereka adalah kehidupan yang serba ada, walau hanya penghuninya yang tahu tingkat kebahagiaan masing-masing di balik pagar rumah yang tinggi.

Mendapatkan ketenaran setelah terpilih menjadi salah satu film yang diputar di festival film tahunan British Film Institute di London, dan konferensi tahunan 2015 SXSW (South By Southwest) yang diselenggarakan selama 30 tahun oleh perusahaan swasta di Austin, Texas.

Namun menyematkan South By Southwest dalam poster film sebagai salah satu pemberi penghargaan tidak begitu berarti karena bukan kebetulan distributor eksklusif film ini, Drafthouse, adalah sebuah jaringan sinema yang juga berasal dari Austin.

Penghargaan yang pantas berasal dari Sitges. The Invitation memenangkan penghargaan best picture di festival film fantasi dan horor asal Spanyol tersebut.

Meski demikian, sanjungan direktur festival Sitges Angel Sala bahwa produksi film indie di Amerika Serikat berkembang pesat agak menyesatkan, terutama mengingat bahwa film ini tidak memperkenalkan talenta baru, tetapi malah terlihat mainstream dengan dipakainya Michiel Huisman dari serial HBO Game of Thrones dan Logan Marshall-Green dari film layar lebar Prometheus sebagai dua nama-nama yang ditaruh di baris depan agar lebih menjual.

Di samping itu sutradara Karyn Kusama asal Amerika Serikat juga sedang terlibat bersama Fox dalam pembuatan film horor Breed.

Debut Karyn Kiyoko Kusama sebagai penulis sekaligus sutradara bersama aktris debutan Michelle Rodriguez dalam film Girlfight di tahun 2000 memang menuai pujian karena ia sempat kesulitan mendanai film senilai USD1 juta, dan akhirnya mendapat dukungan secara terbatas, salah satunya dari Independent Film Channel.

Namun reputasinya sebagai sutradara film indie patut direvisi karena dalam perjalanannya ia semakin lekat dengan ranah mainstream di dua film berikutnya 5 tahun kemudian, Aeon Flux, dan Jennifer’s Body, bekerja sama dengan barisan pemain Hollywood seperti Charlize Theron, Adam Brody, dan Megan Fox.

Bagaimana pun juga, masih ada yang menyebut the Invitation sebagai sebuah subgenre yang layaknya berada di lingkup independen.

Perkembangan cerita berdurasi 100 menit perlahan mencekam, namun arahnya dapat diprediksi dari dialog di beberapa adegan yang membuka isu sekte sesat. Entah sudah berapa kali tuduhan “cult!” masuk dalam skrip.

Konflik terjadi di perempat akhir film, dan twist yang dinanti di adegan akhir film terasa klise, karena hanya mengeksploitasi tren twist ending film-film blockbusters yang menunjukkan histeria massal seperti layaknya film-film bergenre epidemi zombie dan kiamat.

Meski tidak ada efek yang mengejutkan, film ini meninggalkan efek mencekam di benak setelah usai menonton, bahkan paranoia menerima undangan dari teman yang sudha lama tidak bertemu, setelah membayangkan begitu dekatnya ancaman isu ini dengan kenyataan.

Beberapa pemainnya pun tidak yakin apakah film ini thriller atau drama. Film ini mencerminkan sisi kejiwaan terdalam dari kasus-kasus nyata tentang bunuh diri massal oleh sekte-sekte kepercayaan sesat, seperti yang terjadi di Uganda, Bangladesh, dan di negara mereka sendiri, yaitu kasus Heaven’s Gate di California di tahun 90an.

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s