Perkembangan budaya keselamatan publik

Artikel ini merupakan bagian kedua (2/3) dari makalah berjudul Dampak Kepemimpinan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Organisasi Terhadap Budaya Keselamatan Masyarakat, Business and Management Publication, Archipelago Strategic and Partners Indonesia, Jakarta, April 2019. Hak cipta dilindungi Undang-Undang.


Budaya Keselamatan Masyarakat

Dalam kumpulan jurnal ilmiah Occupational Safety and Health, Public Health in the 21st Century, 2014,  Kavouras dan Chalbot berargumen bahwa cakupan tujuan dari penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak hanya terbatas pada perlindungan kepada keselamatan dan kesehatan seorang pekerja saat bekerja di tempat kerja, namun juga individu yang berhubungan dengan pekerja tersebut, seperti keluarga, kolega, dan komunitas seperti pelanggan, pemasok, dan semua yang menjadi subyek pengaruh karakteristik K3 di tempat kerjanya.

Arief Zulkarnain dalam bukunya Safety Behavior, 2018, berargumen kita perlu membuat safety sebagai norma, karena dengan demikian masyarakat memiliki keyakinan dan disiplin untuk mencapai tujuan yang sama. Layanan jasa yang menurutnya kerap berkaitan dengan nilai safety antara lain transportasi, perbaikan kendaraan, hotel.

Ia menambahkan, ada tiga alasan yang mendasari kecenderungan perilaku (human tendency) terhadap isu keselamatan dapat berubah:

  1. Dampak: individu cenderung mengabaikan norma keselamatan jika dampaknya tidak secara langsung dirasakan.
  2. Lingkungan: jika individu mengabaikan aturan dalam sistem berarti telah melanggar norma komunitasnya. Sebaliknya, individu cenderung taat pada suatu lingkungan yang tersistem.
  3. Waktu: desakan waktu semakin mempengaruhi individu untuk mengabaikan keselamatan. Contoh: pelanggaran rambu lalu lintas karena mengejar waktu. 

Dalam teori behavior based safety (BBS), perilaku selamat dapat terbentuk melalui penanaman framing mengenai nilai keselamatan dan aktivitas sehari-hari. Framing perilaku selamat yang dimaksud adalah:

  1. Nilai dan kebutuhan (value and need) saat ini yang mengarah kepada nurani individu untuk beraktivitas secara aman yang dilandasi oleh nilai yang sudah pernah diterima sehingga diyakini sebagai sebuah kebutuhan untuk menjamin keselamatan diri.
  2. Nilai dan kebutuhan di masa depan, yaitu rasa cinta individu untuk tetap berarti bagi orang-orang terdekat yang dikasihi, sehingga mendorongnya untuk tetap berhati-hati dalam beraktivitas

Tanggung jawab individu untuk berperilaku mengutamakan keselamatan agar tidak membahayakan dirinya maupun lingkungan sekitar otomatis menciptakan kondisi aman. Zulkarnain menyimpulkan bahwa struktur pembentukan budaya safety berawal dari perilaku aman individual, kemudian group safe behavior, dan public safe behavior.

Konteks Budaya Organisasi Modern

Dalam buku Organizational Behavior oleh Robert Kreitner dan Angelo Kinicki, 2014, budaya organisasi (organizational culture) adalah perangkat asumsi yang dibagi secara implisit begitu saja serta dipegang oleh satu kelompok yang menetukan bagaimana hal itu dirasakan, dipikirkan, dan bereaksi terhadap lingkungan yang beragam.

Terdapat tiga unsur penting pada budaya organisasi:

  1. Budaya yang diberikan kepada para pegawai baru melalui proses sosialisasi.
  2. Budaya organisasi mempengaruhi perilaku pekerja saat bekerja.
  3. Budaya organisasi yang beroperasi pada level umum (lingkungan sekitar) yang berbeda melalui sosialisasi dan mentoring.

Menurut Kreitner dan Kinicki, tiga unsur budaya organisasi di atas diciptakan oleh empat karakteristik kunci:

  1. Nilai-nilai pendiri
  2. Lingkungan industri dan bisnis
  3. Kebudayaan nasional
  4. Visi dan sikap pemimpin senior

Southwest Airlines, salah satu maskapai terbesar d Amerika Serikat, berada dalam 5 besar perusahaan di Amerika Serikat untuk kategori Best Companies to Work For versi majalah Fortune dari 1997 hingga 2000, dan perusahaan paling diidamkan ke-12 di AS tahun 2008 karena kebudayaan yang kuat dan berbeda.

Empat fungsi budaya organisasi di Southwest antara lain:

  1. Memberikan para anggota sebuah identitas organisasi. CEO Southwest Airlines mengakui bahwa orang-orang kami merupakan kekuatan terbesar satu-satunya milik kami dan keuntungan bersaing jangka panjang kami yang paling penting.
  2. Memfasilitasi komitmen bersama terhadap misi: dedikasi terhadap kualitas tertinggi layanan pelanggan.
  3. Mempromosikan stabilitas sistem sosial melalui lingkungan kerja yang positif dan sejahtera.
  4. Membentuk perilaku dengan membantu para anggota memahami lingkungan sekitar mereka.
Penumpang domestik menunggu keberangkatan di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali. Membudayakan perilaku tertib dan selamat di masyarakat di fasilitas umum berguna bagi terjaganya keselamatan bersama.

Contoh studi kasus di Indonesia, pada tahun 2012 angkutan lebaran mencatat angka kecelakaan terbesar dari pemudik sepeda motor akibat kondisi mudik yang semrawut, seperti yang tercatat di dalam buku Transportasi Pro Rakyat, Edie Haryoto, 2013.

Ditambah lagi data dari Kementerian Perhubungan di masa itu menunjukkan bahwa peningkatan 7,6% kapasitas pesawat tidak dapat mengejar peningkatan permintaan dari jumlah pemudik sebesar 10%.

2,4% penumpang yang tidak tertampung oleh kapasitas angkutan udara kemungkinan besar akan menggunakan bus atau kendaraan pribadi, bukan kereta api, karena kapasitas kereta api sangat tidak mencukupi, terutama setelah kebijakan mengangkut sesuai jumlah tempat duduk. Kebijakan ini disertai dengan kemudahan memesan tiket, serta penggunaan boarding pass, membuat pelayanan menjadi lebih baik, nyaman, dan tertib.

Tapi di sisi lain hal ini menambah kepadatan jalan raya serta risiko kecelakaan, mengingat sebagian besar pengguna jalan raya adalah pemudik sepeda motor yang rentan mengalami kecelakaan.

Pemudik kereta api yang tidak mendapatkan tiket tidak akan membatalkan rencana mudik setahun sekali. Walaupun pemerintah menghimbau untuk tidak menggunakan sepeda motor, merencanakan angkutan lebaran yang bertumpu pada jalan raya otomatis menggiring pemudik untuk menggunakan sepeda motor.

Kondisi ini diperburuk oleh tiadanya penambahan panjang jalan sebab Kementerian Pekerjaan Rakyat hanya menyiapkan beberapa jalur alternatif dan beberapa perbaikan jalan.

Masyarakat menggunakan layanan kereta api komuter di Stasiun Bogor. Kesadaran untuk menjaga keselamatan diri masing-masing akan menciptakan keselamatan bersama.

Selain upaya meningkatkan kesadaran berperilaku selamat di masyarakat, secara holistik diperlukan penambahan kapasitas transportasi publik disertai pembatasan penjualan motor, serta insentif pemudik yang mudik setelah lebaran dengan menetapkan tarif murah.

Dengan kebijakan-kebijakan tersebut tampak bahwa budaya K3 di perusahaan angkutan massal darat dan udara seperti PT Kereta Api Indonesia dan PT Angkasa Pura II telah secara langsung berdampak pada keselamatan masyarakat.

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s