Joged Idul Fitri dan kebebasan beragama di Taiwan

Selvi Agnesia, born in Bandung, 30th of November, 1986, took Master Degree in Anthropology, University of Indonesia. She lives in Jakarta, working as art manager of production in Studiohanafi, besides cultural and art critic. Between 2009 – 2016 she worked as cultural and art journalist, while taking part in performing arts management of several Indonesian theater groups and art institutions, such as in Festival Tokyo 2012, 2013, and Imagine Festival Basel-Switzerland, activist of New Zealand Cultures in 2015. She is currently taking trans/voice project Indonesia-Taiwan residence program.


Pukul 05.00 pagi, Rabu, 5 Juni 2019, alunan suara takbir dan tahmid meraung di halaman Taman Taipei Travel Plaza- Taipei Main Station. Umat muslim laki-laki dengan sarung dan kopiah, serta perempuan berhijab datang berbondong-bondong. Kebanyakan dari mereka berstatus pekerja migran Indonesia (PMI).

Tercatat sebanyak lebih dari 50.000 umat muslim datang dari berbagai penjuru Taiwan dengan kereta, bus, dan sebagian lainnya terlihat kompak menggowes sepeda bersama-sama dengan wajah yang sumringah. Ada juga yang datang sambil mendorong kursi roda para ama dan akong, menempatkan pemberi kerjanya tersebut disampingnya, sebab pelaksanaan Idul Fitri 1440 H tahun ini bertepatan dengan hari kerja.

Dua lansia menunggu pekerja migran menjalankan ibadah di hari raya Idul Fitri, 2019, Taiwan. Photo by Sima Wu Ting Kuan, courtesy of think archipelago.

Sebenarnya, sebagian pekerja dapat melampirkan surat izin kepada atasan yang dikeluarkan oleh pihak Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI), namun sebagian PMI sulit untuk melepaskan tanggung jawab pekerjaanya, terutama jika merawat lansia.

Menjelang pukul 06.30 pagi suara takbir bercampur aduk dengan suara obrolan berbahasa Indonesia, Jawa, Sunda dan himbauan petugas dari mikrofon yang sibuk mengatur para umat, “Tolong segera dirapikan barisannya, yang belum dapat tempat jangan khawatir, shalat idul fitri masih ada gelombang selanjutnya.”

Sebagian lainnya terlihat sibuk beraktivitas dengan ponsel masing-masing untuk bervideo call dengan keluarga, berswafoto dan siaran langsung di media sosial. Suara keriuhan itu akhirnya senyap seketika ketika imam mengumandangkan, “Allahhu akbar.” Di antara megahnya gedung-gedung, di bawah langsung atap langit, mereka khusyuk bersujud pada pencipta.

Usai shalat, mereka saling bersalaman. Terlihat haru yang tak dapat disembunyikan. Setidaknya, meskipun mereka jauh dari orang tua, suami, istri dan anak, terdapat rasa syukur dapat merayakan idul fitri bersama-sama teman keluarga setanah air. Pelaksanaan shalat idul fitri di Taipei Main Station terbagi dalam tiga gelombang sejak pukul 06.30 hingga 09.00 waktu setempat. Setiap gelombang dipandu bilal, imam salat, dan khatib yang keseluruhannya berkewarganegaraan Indonesia.

Tradisi perayaan Idul Fitri di kalangan pekerja migran

Dari Plaza Taipei Main Station, saya berkunjung ke kota Keelung, 30 menit dari Taipei dengan menggunakan bus. Keelung merupakan salah satu kota pelabuhan sejarah terpenting di Taiwan. Di depan pelabuhan sudah berdiri panggung megah dan deretan bazaar kuliner. Dari pagi hingga menjelang sore, panggung diisi oleh hiburan musik dangdut, pop dan tarian-tarian daerah.

Mayoritas pekerja migran Indonesia di Keelung bekerja sebagai anak buah kapal dan pekerja domestik yang mengurus lansia dan keluarga. Di tengah kegembiraan bernyanyi dan berjoged, seorang pekerja mengungkapkan, bahwa ini merupakan hiburan yang ampuh untuk pelipur sepi dari rasa rindu pada keluarga.

Ada tradisi yang berbeda antara lebaran di Indonesia dan di kalangan PMI di Taiwan. Usai shalat idul fitri, tak ada saling kunjung antar keluarga dekat. Yang terlihat justru perayaan bersama teman-teman seperantauan dan halal bihalal dengan hiburan musik dan tarian.

Seluruh pengisi acara yang berasal dari PMI heboh bernyanyi dan berjoged bersama, menyajikan sebuah pemandangan yang langka untuk ditemukan di tanah air, berbeda dengan penampakan mereka yang kerap berkaraoke bersama di warung Indonesia atau tempat karaoke khusus sambil membawakan lagu dangdut ala pantura, Banyuwangi dan musik dangdut yang sedang populer.  

Hal lain yang berbeda dari lebaran di tanah air adalah langkanya ketupat di Taiwan, sebab daun kelapa untuk bahan ketupat memang jarang dijual. Sebagai pengganti digunakan lontong dengan daun pisang atau plastik, sedangkan yang terlihat di tenda-tenda bazaar makanan di antaranya bakso, siomay, opor dan berbagai minuman dingin yang dijual oleh PMI.

Kebebasan beragama di Taiwan

Muslim women in hijab perform Idul Fitri mass prayer in Taiwan, 5 June 2019. Photo by Sima Wu Ting Kuan, courtesy of think archipelago.

Shalat Idul Fitri di Taipei terselenggara berkat kerja sama berbagai pihak. Misalnya di Taipei Main Station, Administratur Taipei memberikan fasilitas tempat, sedangkan Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) mendukung pendanaan penyelenggaraannya dengan melibatkan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Taiwan, Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah, sejumlah organisasi kemasyarakatan lainnya, BUMN Indonesia dan perusahaan swasta di Taiwan. Wali Kota Taipei Ke Wen Zhe turut hadir dalam kegiatan tersebut dan memberikan sambutan bersama KDEI di Taipei, Didi Sumedi, menyampaikan ucapan selamat hari raya Idul Fitri kepada para umat.

Umat muslim di Taiwan berjumlah kurang dari 1% dari populasi, namun Taiwan yang berlandaskan demokrasi terlihat nyata turut melindungi kebebasan beragama. Hal tersebut tampak dari pelaksanaan shalat Idul Fitri yang tersebar di berbagai kota di Taiwan, beberapa di antaranya Taoyuan, Nankan, Penghu, Taitung, Changhua, Kaohsiung, Hualien, Keelung, Dolio, Donggang, Taichung, dan Yilan.

Tersebarnya ruang ibadah di sederet kota tersebut memberikan kesempatan bagi lebih dari 200.000 pekerja migran Indonesia dan berbagai masyarakat muslim dari negara lainnya untuk menjalankan kebebasan beragama selain menjadi ruang interaksi sosial. Ekspresi kebebasan spiritual lewat seni terasa lebih dekat saat Idul Fitri di Taiwan.

Begitulah cara mereka merayakan di negeri formosa yang katanya sesyahdu musik dangdut.

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s