PT Sinar Mas Elektrindo ISO 9001, HR management foundation level training

Archipelago Strategic & Partners Indonesia (ASPI) successfully held the ISO 9001:2015 foundation level quality management system certified training course at the home electronic manufacturing plant of PT Sinar Mas Elektrindo, on 5 and 12 July 2019.

Located at the warehouse and industrial zone of Dadap, Tangerang, the in-house training was led by ASPI lead auditor Purnadi Phan, B.Ed, CSE, and joined by both the management teams at the plant and the management representatives from head office.

The presence of top management throughout the meeting was an exemplary feat of leadership.

As a company that received the quality management awareness training for the first time, the head of departments had to come with a strategy to identify the similarity between the standard clauses and the applied work instructions.

Through the combination of material presentation and workshops, ASPI team confirmed the level of conformity between the currently adopted working process and the number of related clauses in order to finally prepare for the ISO 9001:2015 external audit.

In addition, another ASPI-certified training took place in the head office to increase the level of competency in human resources management. ASPI senior HR consultant Sally Condro, B.Psy, led the program which was run in 2 August 2019.

ASPI HR management training, SME, August 2019
ASPI Human resources management foundation level training certification, PT Sinar Mas Elektrindo, 2 August 2019.

(a)part penutup 7 tarian kontemporer Helatari 2019

Helatari Salihara 2019 adalah agenda tari Komunitas Salihara yang diselenggarakan rutin di Teater Salihara, Jakarta. think archipelago adalah mitra media di pagelaran bergengsi ini yang berlangsung mulai dari 15 Juni hingga 6 Juli. Untuk informasi jadwal pertunjukan, silakan klik banner Helatari Salihara 2019 yang terdapat di website think archipelago.

Komunitas Salihara, pusat kesenian multidisiplin swasta pertama di Indonesia yang didirikan sastrawan dan mantan pemimpin redaksi Majalah Tempo Goenawan Mohamad, untuk ketiga kalinya sejak 2015 menghelat Helatari Salihara untuk pecinta tarian kontemporer tanah air dan internasional.

Rangkaian 7 tarian unik dalam program rutin Komunitas Salihara kali ini menyajikan wacana segar kepada publik untuk memaknai substansi teater yang dipentaskan melalui estetika gerakan para penari maupun suguhan tata panggung yang bernuansa kehidupan sehari-hari.

Dengan mematok harga tiket masuk Rp 65.000 untuk umum dan Rp 35.000 untuk pelajar, para penikmat tari gaya baru akan terpuaskan dengan pilihan pertunjukan berbobot yang telah dikurasi secara seksama.

(a)part

Keunikan tarian penutup Helateater Salihara 2019 ini terdapat pada upayanya menceritakan kehidupan masyarakat urban yang tinggal di apartemen dan rumah susun. Karya ini melibatkan delapan penari dan menggabungkan bentuk tari dan teater tubuh.

(a)part juga dipadukan dengan seni instalasi abstrak yang terbuat dari pipa PVC yang dibagi menjadi sembilan bagian, sebagai metafora kamar-kamar yang ada di dalam gedung apartemen dan rumah susun. Karya ini dikemas dengan pemetaan multimedia, efek lampu ultraviolet dan cat fosfor untuk lukisan badan (body painting).

Pementasan (a)part di Helatari Salihara 2019: Panggung Tari Baru. Photo by Witjak Widhi Cahya, courtesy of Komunitas Salihara.

The Seen and Unseen

Tarian ini terinspirasi dari film karya Kamila Andini berjudul sama menyabet predikat film terbaik pada Berlin Film Festival (Berlinale) 2018.

Pertunjukan ini menggabungkan seni tari, musik langsung, skor elektronik dan menciptakan perpaduan gerakan tari tradisional Bali dengan pendekatan kontemporer ke arah teater.

The Seen and Unseen berangkat dari filosofi masyarakat Bali “Sekala Niskala” yang berarti keseimbangan antara realita dan spiritual. Karya ini melibatkan Ida Ayu Wayan Arya Satyani sebagai koreografer dan sejumlah seniman dari Indonesia, Jepang dan Australia.

Sedangkan ada 3 tiga koreografer yang tampil pada Helatari 2019 adalah koreografer/kelompok tari terpilih undangan terbuka yang di adakan pada 2018 dengan nama diantaranya Anis Harliani Kencana Eka Putri, Ayu Permata Sari dan Eyi Lesar. Mereka inilah menciptakan tari Holy Body , X dan Ad Interim atau disebut dengan “Panggung Tari Baru”.

Holy Body

Menurut hasil dari pengamatan koreografer, ada ukuran-ukuran ideal yang harus dimiliki oleh penari perempuan untuk bisa menerima pesanan tari (komersial). Holy Body menawarkan konsep tari dokumenter yang berangkat dari riset tersebut dan mempertanyakan adakah tubuh yang ideal dalam estetika tari?

Anis Harliani adalah koreografer yang pernah berkolaborasi untuk pertunjukan Us/Not Us (2018) produksi Bandung Performing Arts Forum di Asian Dramaturg Network.  Beliau pernah mengikuti program Koreografer Muda Potensial di Indonesia Dance Festival 2018.

X

Karya ini adalah pengembangan motif “samber melayang”, salah satu motif dalam tari Sigeh Penguten (Siger Penguntin), sebuah tarian kreasi dari Lampung. Tarian ini mulanya adalah tari persembahan atau penyambutan untuk orang-orang terhormat, tetapi kali ini akan dilakukan tanpa musik, menggunakan kostum keseharian yang sederhana.

Ayu Permata Sari pernah berkolaborasi dengan koreografer luar negeri seperti Eisa Jocson (Filipina), Bethani (Amerika Serikat), Edgar Freire (Ekuador) dan Anne Maria (Jerman). Ia memperoleh penghargaan penghargaan “Jasa Bakti” di Festival Teknologi dan Seni ASIA di Johor Malaysia 2018.

Ad Interim

Ad Interim mengangkat tema perbedaan dan sifat bertolak belakang di masyarakat yang seharusnya dapat menjalin harmoni dan keseimbangan hidup. Seorang penari tunggal akan berkolaborasi dengan musisi yang menggunakan teknologi sensor gerak.

Ekspresi yang dihasilkan merupakan perpaduan antara gerak, musik dan tata cahaya. Eyi Lesar pernah beroleh Hibah Seni Inovatif dari Yayasan Kelola untuk karya Who Are You di tahun 2018. Ia pernah mengikuti showcase tari di SIPFest 2018.

Three Airs & The Two Doors

Pementasan Three Airs karya Park Na Hoon. Photo courtesy of think archipelago.

Park Na Hoon akan membawakan dua karya pentingnya. Three Airs membangun cerita tentang kehidupan manusia melalui tiga orang penari yang berlaku sebagai “organisme” udara. The Two Doors mengungkapkan makna dan rahasia penari melalui pernyataan-pernyataan saling bertentangan yang dilontarkan si penari.

Na Hoon Park adalah koreografer yang pernah terpilih sebagai seniman baru berbakat dari Dewan Kesenian Korea Selatan pada 2003. Karya Three Airs memperoleh penghargaan dalam 3rd Performing Arts Market (PAMS) di Seoul, Korea Selatan.

Ia telah tampil di sejumlah negara, mengikuti program kerja sama budaya serta pernah menjadi seniman mukiman antara lain di Jerman, Italia, dan Amerika Serikat.

Program seniman mukiman

Komunitas Salihara menyelenggarakan program seniman mukiman (artist-in-residence) untuk seniman dalam maupun luar negeri secara berkala. Kali ini bekerja sama dengan STRUT Dance Australia, Komunitas Salihara menerima Natalie Allen dan Samuel Harnett-Welk, dua koreografer dari Australia selama Helatari Salihara 2019.

Karya yang mereka bawakan dalam showcase Helatari Salihara 2019 adalah karya hasil selama menjalani program seniman mukiman.

Park Na Hoon staged award-winning Three Airs at Helatari Salihara 2019

Helatari Salihara 2019 is Komunitas Salihara’s regular dance event held in Teater Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 15 June until 6 July. To see more of their schedule, please click the Helatari Salihara 2019 banner found in think archipelago website.

4 years after he was titled the 2003 best newcomer artist by Arts Council Korea (ARCO), Park Na Hoon won the 3rd Performing Arts Market (PAMS) in Seoul with choreography work Three Airs.

It had been staged in 2015 San Fransisco International Art Festival and 2017 EiMa Festival, Spain.

His latest tour to Indonesia as an artistic director cum choreographer is to stage Three Airs and the Two Doors with fellow dancers Park Sang Jun, Moon Hyung Soo, and Kim Kyu Won in Helatari Salihara 2019.

The Two Doors had been staged in Acker Stadt Palast, Berlin, 2015, and Projekktheater, Dresden, 2016.

Park took part in a number of artist-in-residence program, such as the Korean-Finnish cultural exchange program in Helsinki, 2012, and the similar program in Denmark, German, Italy, and the United States.

Recently he was involved in Ari Project: Performing Arts Korean Contemporary Dance Performance, and the ever expanding Asian performance tours.

In Komunitas Salihara, Jakarta, Park Na Hoon showcased two of his important works. Three Airs is a narrative surrounding the lives of three people who represent organism in the air, whereas the Two Doors tells about how the choreographer discloses his secrets by repeatedly making contradictory self-inquiries.

According to the choreographer, the unrealistic movements of the organism feels more tangible. He perceives eccentric, foolish, and fictitious things that may seem unreal, yet heart-moving.

Moreover, the yes-no questions that remained unanswered were ultimately shared to the audience for the sake of sharing the particular frustration of oneself. Park views answers to these questions could might have revealed the conflicting truth about human existentialism against the world.