Eksistensi Singo Barong di Taiwan

Selvi Agnesia, born in Bandung, 30th of November, 1986, took Master Degree in Anthropology, University of Indonesia. She lives in Jakarta, working as art manager of production in Studiohanafi, besides cultural and art critic. Between 2009 – 2016 she worked as cultural and art journalist, while taking part in performing arts management of several Indonesian theater groups and art institutions, such as in Festival Tokyo 2012, 2013, and Imagine Festival Basel-Switzerland, activist of New Zealand Cultures in 2015. She is currently taking trans/voice project Indonesia-Taiwan residence program.


Photo by Sima Ting Kuan Wu, courtesy of think archipelago

Ruang Hall Gungguan Elementary School, Pingtung County padat oleh ratusan pekerja migran Indonesia dari berbagai pelosok Taiwan. Selain orkes dangdut Om Ramesta yang cukup popular di kalangan PMI, kehadiran Paguyuban Singo Barong Taiwan menjadi bintang utama dalam rangkaian acara silaturahmi organisasi Densus 87 Pingtung dan Putra Katong pada 21 Juli 2019 silam.

“Kami membawa satu rombongan lebih 30 orang,” ungkap Heri Budi Santoso, Ketua Paguyuban Singo Barong Taiwan, saat ditemui sebelum pementasan penutup Singo Barong di Pingtung, Taiwan Selatan. Tidak sia-sia, besarnya pengabdian sebuah loyalitas pada seni tradisional Reog Ponorogo yang dibawa oleh teman-teman Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang merangkap sebagai seniman tersebut mendapatkan apresiasi besar di negeri Formosa.

Menjelang penutupan acara silaturahmi tersebut, pertunjukan Reog Ponorogo yang dinanti beraksi. Dimulai dari para penari jatilan yang bergerak gemulai mengikuti alunan musik dan nyanyian yang dibawakan para pengrawit. Gemulai gerak tarian yang dibawakan Lorena, Puput, Dinda, Anis dan lain-lain lambat tapi pasti semakin menarik para penonton bergeser ke depan hingga akhirnya terlihat beberapa pemuda menemani mereka menari, lembar demi lembar 100 dolar Taiwan diberikan sebagai saweran.

Tidak lama kemudian, giliran Tari Patih yang dibawakan dua orang penari laki-laki yang berperan sebagai panglima Singo Barong. Keduanya bergantian menari diselingi atraksi akrobat dan gerak gesture yang menghibur. Seusai tari jatilan dan tari patih, akhirnya dua sosok Singa berkepala burung merak yang ditunggu mulai beraksi.

Kedua sosok singa berkepala burung merak berdiri saling berhadapan, mereka mulai dengan mengibaskan kepalanya, kemudian satu sama lain bergerak bergantian. Alunan musik kendang, terompet, gong dan angklung membuat ritme gerak kedua Singo Barong semakin kencang.

Photo by Sima Ting Kuan Wu, courtesy of think archipelago

Penonton dibuat terpukau sekaligus khawatir. Terutama penonton paling depan yang khawatir terkena kibasan. Ratusan layar handphone terlihat merekam aksi mereka. Tetapi amukan Singo Barong yang ditunggu ini tidak berlangsung lama. Sebab, tentu saja bukan perkara mudah bagi Rudi dan Hendrik, dua pemain di balik sosok Singo barong untuk membawa beban lebih dari 50 kilogram. Permainan mereka secara fisik mengandalkan kekuatan leher dan gigi.

Banyak pula yang mengira bahwa atraksi Reog Ponorogo melibatkan hal-hal mistis. Namun pada realitanya, para pemain Singo Barong berlatih hingga mampu mengendalikan dan memainkan Singo Barong dengan seimbang.

“Yang penting ada kesungguhan dan giginya gak ompong. Kalau giginya sudah ompong yah gak bisa soalnya memainkan harus digigit. Walaupun orangnya kecil, kalau mau belajar sungguh-sunggu dan tahu tekniknya pasti bisa,” ungkap Heri diselingi canda.

Demi Warisan Budaya

Satu bulan sebelum Singo Barong Taiwan pentas di Pingtung, pada akhir Juni 2019, para personil berlatih di Toko Indo Cen Cen daerah Zhongli, Taiwan dalam rangka silaturahmi Singo Barong yang akan berlangsung di Taman Zhongli.

Di lantai paling atas Toko Indo Cen Cen, sembari menunggu hujan reda, para personil terlihat duduk melingkar dan asik berbincang dalam bahasa Jawa. Sedangkan yang lain, Lorena dan Dinda, dua penari jatilan sedang asik berdandan dan bersiap memakai kostum.

“Kami sudah lama menyewa tempat ini buat kumpul dan simpan kostum, tapi kalau untuk latihan biasanya di taman saat minggu ketiga di setiap bulannya” ungkap Heri.

Photo by Sima Ting Kuan Wu, courtesy of think archipelago

Dua topeng kepala Singo Barong berhias bulu merak terlihat gagah menghiasi dinding ruangan tersebut. Tidak mudah membawa kedua topeng ke Taiwan. Topeng pertama didatangkan pada tahun 2014 ketika tahun pertama Paguyuban Singo berdiri. Tope kedua menyusul didatangkan pada tahun 2018. Dibutuhkan biaya hingga 1 juta dolar Taiwan atau sekitar Rp 500 juta untuk mendatangkan topeng tersebut. Heri dengan tegas mengungkapkan, biaya tersebut murni berasal dari bantuan teman-teman Pekerja Migran Indonesia.

Saya sempat berpikir. tentu saja tujuan teman-teman PMI ke Taiwan tentu saja untuk bekerja dan mencari uang, namun mengapa mereka tetap loyal dalam memberikan bantuan bagi eksistensi paguyuban Singo Barong.

Memasuki generasi ketiga dan tahun kelima berdirinya Singo Barong Taiwan, paguyuban ini telah pentas keliling di beberapa kota seperti Hsinchu dan berkali-kali di Taipei. Kehadiran mereka selalu dinanti teman-teman PMI dan animo masyarakat berupa undangan pemerintah Taiwan juga cukup besar.

Namun, hingga saat ini, kendala yang dialami kelompok berada pada soal dana dan regenerasi pemain. “Yang nonton kita banyak. Yang main susah.”

Kesibukan bekerja para PMI yang sebagian besar bekerja di lingkup domestik cukup menjadi kendala untuk mengumpulkan orang untuk ikut serta bermain. Tidak hanya mengandalkan talenta-talenta orang Ponorogo asli, mereka turut membuka siapapun orang awam yang bersungguh-sungguh untuk berlatih. Selesai masa kontrak di Taiwan, para anggota dan regenerasi juga tentunya akan berganti, maka pembinaan dalam kelompok tetap harus terus dijalankan.

Situasi tersebut sangat berbeda dengan keberlangsungan Reog Ponorogo di tempat kelahirannya Ponorogo, Jawa Timur. Setiap tahunnya, terutama bertepatan 1 Muharam, seni pertunjukan yang berlangsung dari cerita rakyat ini dihelat secara nasional dalam Festival Reog Ponorogo dari berbagai kelompok se-Indonesia. Reog Ponorogo pun sudah masuk sebagai kurikulum pelajaran kesenian dan diberlakukan di setiap desa. Peran pemerintah begitu aktif, berbeda dengan kondisi yang dialami Singo Barong Taiwan.

“Bagaimanapun yang terpenting ini adalah warisan budaya” tegas Heri. Ia dan komunitasnya berharap semoga Reog Ponorogo dapat dikenal oleh marayarakat Taiwan, selain mempertahankan keberlangsungan seni pertunjukan Reog Ponorogo ke depannya agar masyarakat tetap bisa mengetahui bahwa ada Singo Barong di Taiwan.

Singo Barong menjadi sebuah organisasi yang menjadi wadah berkumpul semua Pekerja Migran Indonesia tanpa memandang ras, suku dan agama.

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s