PT Denson Prima Utama ISO 9001 and 45001 awareness training

Archipelago Strategic & Partners Indonesia (ASPI) launched a series of foundation level certified training courses for an electrical and automation provider PT Denson Prima Utama, comprising:

  1. ISO 9001:2015 quality management system
  2. ISO 45001:2018 occupational health and safety management system

The in-house training, as a part of both management systems development, was held at the head office, Surabaya, on two separate occasions, two days each, from October to November 2019.

Common money mindset part 2

Topik ini meninjau ulang pola pikir dasar dari manusia mengenai keuangan yang selama ini populer dianut, sehingga diyakini benar.

Apa/siapa yang bisa membuat saya dapat uang cepat dan mudah?

Poin cepat dan mudah sudah dijelaskan sebelumnya pada poin nomor 5 di artikel bagian pertama di mana segala hal yang konsisten membutuhkan proses. Kini banyak dijumpai analisis instrumen investasi disertai otomatisasi untuk melakukan transaksi, misalnya saham.

Tidak ada yang salah dari pemanfaatan teknologi dan otomatisasi untuk efisiensi. Namun hilangnya nilai edukasi dapat mengarah ke pembentukan mindset yang keliru. Spesifiknya bisa mengarahkan kepada pemikiran bahwa investasi adalah tanggung jawab orang lain atau tool yang ditawarkan. Perlu digarisbawahi bahwa keuangan Anda adalah tanggung jawab Anda. 

Pastikan dalam berinvestasi apa pun, Anda mengetahui cara kerja dan risiko instrumen yang Anda danai, di samping itu sadar bahwa Anda yang membuat keputusan investasi. Sehingga ketika profit Anda tidak hanya senang, namun yang terpenting Anda memberikan penghargaan ke diri sendiri. Hal yang sama berlaku ketika Anda menderita kerugian, Anda tidak menyalahkan orang atau tool, melainkan Anda memperoleh pelajaran berharga dan tumbuh dari sana.

Baca juga: Common money mindset part 1

Yang terpenting dalam investasi adalah tahu caranya

Penggunaan metodologi dan pilihan instrumen memegang faktor penting, namun ada aspek lain yang banyak dilupakan yaitu pengelolahan risiko dan faktor psikologis. Tidak ada metodologi atau tool yang menjamin investasi selalu menguntungkan. Saran maupun terms and condition sebuah tool pasti di dalamnya mencakup disclaimer. Hal ini tidak lepas karena ada faktor yang sulit untuk dijadikan tolok ukur, yaitu faktor psikologis.

Meminimalisir kerugian karena faktor psikologis dapat dilakukan dengan melakukan pengelolaan risiko, yang sederhananya dan secara umum tanpa melihat apa instrumen investasinya berupa diversifikasi dan melakukan riset pasar untuk menentukan target beli/jual dan/atau berapa lama.

Dia kaya karena hoki

Bila kita beranggapan memiliki banyak uang adalah karena faktor keberuntungan, bahkan diperkuat lagi bahwa kita bukan orang yang beruntung, maka selamanya kita tidak akan bisa meraihnya. Referensi hoki adalah hal yang tidak pasti dan terjadi tanpa sebab jelas. Mempercayai hal seperti ini mematikan upaya untuk bertumbuh dan sebenarnya hanya sebagai pembenaran seseorang untuk berhenti berusaha.

Lalu bagaimana dengan orang yang menang lotre? Faktanya orang yang memenangkan lotre lebih banyak yang kembali ke keadaan semula atau bahkan lebih parah dari sebelum memenangkan lotre. Hidup tidak dirancang untuk memberikan apa yang kita perlukan atau inginkan, melainkan apa yang pantas kita dapatkan.

Saya ingin kaya agar tak perlu bekerja lagi

Tidak ada yang salah dengan mindset di atas, yang mana umum diutarakan sebagai alasan ingin menjadi orang kaya. Pandangan ini membawa tingkat keberhasilan kita mencapai kekayaan menjadi nol persen.

Mengapa? Selain kaitannya dengan kepantasan, dilihat dari prosesnya, mindset tersebut menyiratkan kemalasan. Pada era di mana perubahan cepat terjadi dan ketatnya kompetisi seperti sekarang, kita dituntut secara konsisten bekerja menempa diri dan tidak berpuas diri. Jika pada hasil di awal (menjadi kaya) dengan tujuannya (tidak bekerja lagi) sudah tidak merefleksikan semangat yang harus dimiliki untuk mencapai hasil yang diinginkan, maka hampir mustahil untuk bisa mencapainya. Kecuali mungkin dengan menang lotre…

Saya ingin punya lebih banyak uang  

Jika seseorang menjawab demikian ketika ditanya “Apa yang Anda inginkan?” mungkin orang yang bijak atau yang cakap berkata-kata akan merespon, “Oke, ini uang 100 rupiah, apa yang Anda inginkan sudah terpenuhi, silahkan pergi.”

Kejelasan mengandung kekuatan. Penentuan tujuan sejelas mungkin dibutuhkan untuk mencapai hasil yang maksimal. Dalam tujuan finansial, kejelasan dapat berupa nominal uang yang ingin Anda peroleh, dan yang tidak kalah penting, target kapan Anda dapat mencapainya. Evaluasi dan bandingkan dengan keadaan saat ini, seringkali akan terlihat mustahil. Namun di situlah Anda sadar bahwa Anda harus mengembangkan diri dan memantaskan diri.

CSMS workshop at PP University

Being a speaker at a contractor safety management system workshop in PP University, Bogor, 6-8 November 2019, ASPI lead auditor Purnadi Phan, B.Ed, CSE, presented his insight on the occupational health and safety management system to the stakeholders across the country.

CSMS has been one of the most talked about topics since Pertamina mandated it to be included in their subcontractor selection process, and other major public owned enterprises seemed to follow suit.

Subscribe to ASPI business management publication to get you updated with the initiatives to make a safe place at work, and how ASPI can help organizations meet local safety regulations.

Common money mindset part 1

Topik ini meninjau ulang pola pikir dasar dari manusia mengenai keuangan yang selama ini populer dianut, sehingga diyakini benar.

Semakin besar penghasilan, semakin besar uang yang dapat saya tabung/investasikan

Ada 2 poin yang perlu ditekankan dalam mindset ini. Pertama, menabung atau bahkan berinvestasi adalah mengenai disiplin dan komitmen, bukan perkara jumlah. Perlu dipahami bahwa menabung dapat dilakukan bahkan dengan hanya menyisihkan Rp 100 setiap hari dan untuk melakukan investasi pun di instrumen keuangan sudah dapat dimulai di nominal yang cukup terjangkau yaitu Rp 100.000.

Kuncinya adalah membangun mentalitas mengelola uang sejak dini, bukan besarnya jumlah uang. Formula umum berlaku yaitu rutinitas membangun kebiasaan dan akhirnya kebiasaan akan membangun karakter kita sebagai individu.

Kedua, yang menjamin besar uang yang dialokasikan untuk menabung adalah gaya hidup, bukan besarnya uang yang Anda terima. Banyak di antara kita ketika mendapatkan kenaikan penghasilan, yang pertama ditonjolkan adalah gaya hidup, sehingga akhirnya uang yang dapat disisihkan sebelum dan setelah pendapatan kita naik, sama, atau malah berkurang. Betul atau betul?

Apa pun yang saya miliki adalah aset saya

Masyarakat umum meyakini aset sebagai apa pun yang sudah kita miliki setelah kita mengeluarkan uang untuk mendapatkannya. Rumah adalah salah satu contoh yang diyakini oleh mayoritas sebagai aset. Mungkinkah rumah bisa menjadi beban? Jawabannya adalah tergantung. Bisa jadi rumah menjadi aset dan bisa juga masuk kategori beban.

Untuk menjelaskan secara sederhana apa asset dan apa liability, saya ingin mengutip definisinya sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Robert Kiyosaki.

Asset adalah apa pun yang menambah uang ke kantong Anda dan liability adalah apa pun yang membuat Anda mengeluarkan uang lebih banyak dari kantong Anda. Perjelas klasifikasi keduanya jika Anda juga sependapat dengan hal ini, dan mulailah fokus mengumpulkan aset yang sebenarnya.

Bersenang-senang dahulu selagi muda

Secara statistik, tingkat kesejahteraan masyarakat makin meningkat dari tahun ke tahun. Tingkat usia produktif masyarakat juga mencapai puncaknya dalam rentang tahun 2020 – 2030 atau yang kerap disebut bonus demografis.

Promosi terarah, kebiasaan konsumsi dan kemudahan akses berhasil dibangun oleh market place maupun fintech sekarang ini untuk mendukung terjadinya trading secara masif dan konsisten.

Dalam perencanaan keuangan, salah satu yang terpenting adalah melakukan selebrasi. Hal ini penting karena disiplin membutuhkan penghargaan agar dapat konsisten. Salah satu disiplin yang harus dilakukan adalah membangun aset.

Ungkapan yang tepat untuk membuka pikiran kita lebih jauh adalah semakin muda kita berhasil mengumpulkan aset, semakin panjang periode kita menikmati hasil dari aset kita. Apabila kita gagal ketika masih muda, kesempatan dan waktu masih panjang untuk kita memulai kembali.

Spend dahulu, tabung sisanya

Salah satu trik sederhana untuk menunjukkan relevansi dari komitmen dalam melakukan menabung adalah tabung dulu lalu belanjakan sisanya. Untuk itu, pertama-tama perlu dilakukan pencatatan pengeluaran selama sebulan. Dari sana kita bisa mengetahui pos-pos pengeluaran mana yang dapat ditekan dan mulai membuat target menabung/investasi.

Dengan terlihat kaya, saya bisa memperoleh pengakuan

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan untuk diakui oleh orang lain. Setiap dari kita memiliki hasrat untuk diakui. Kaitannya dengan mindset keuangan adalah kebutuhan pengakuan dapat diwujudkan antara lain dengan publikasi melalui media sosial. Untuk itu dibutuhkan ‘modal’. Tren ini disambut positif dan didukung oleh platform teknologi, berupa like dan ungkapan kekaguman.

Apakah artinya manusia tidak boleh mempublikasi kesuksesan mereka? Sangat boleh. Publikasi bisa bermakna positif jika memberikan inspirasi. Mindset yang perlu untuk dibentuk adalah pihak yang melihat publikasi tersebut. Dengan mengetahui bahwa ada proses untuk mendapatkan hasil dan personifikasi dengan hanya mencontoh hasil saja tidak memberi efek pengakuan yang konsisten namun malah akan membebani kondisi keuangan.

Spekulasi dari balik tembok: 3000 jam jalan kaki setelah karya

Heru Joni Putra is the curator of Galerikertas Studiohanafi. He is an alumnus of Cultural Studies Universitas Indonesia and the author of Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa (2017). Alihan is an art program held in Galerikertas Studiohanafi featuring a solo exhibition by Indonesian artist Hanura Hosea in conjunction with a series of related events. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 2 until 17 November 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

“Berpikir secara seni adalah tindakan politik.”

Hanura Hosea

Apa yang disebut sebagai tindakan politik adalah sebuah jalan penuh simpang. Salah satu, pada tataran paling sederhana, tindakan politis bisa berkembang dari keyakinan bahwa realitas adalah sesuatu yang tidak apa adanya, realitas tidaklah persis sebagaimana kita menginderainya.

Apa yang terlihat oleh mata bukanlah realitas yang sudah selesai. Begitu juga yang terdengar oleh telinga, terhidu oleh hidung, tercecap oleh lidah, teraba oleh kulit, terasa oleh hati, dan seterusnya. Indera kita memang menjadi instrumen paling lumrah untuk mengidentifikasi realitas tetapi indera-indera itu tidak dapat berfungsi sebagai alat untuk “memastikan” realitas secara keseluruhan. Indera kita barangkali hanya bisa mencapai bagian-bagian dari realitas.

Dengan begitu, kesadaran bahwa realitas yang kita indrai bukanlah realitas yang selesai, apa adanya, emang begitu dari sononya dst adalah sebuah kesadaran yang politis dalam memahami realitas. Dalam hal inilah, sebagaimana diucapkan juga oleh Hanura Hosea, berpikir secara seni adalah tindakan politik.

Sebab, berpikir seni adalah sebuah tindakan yang tidak melihat realitas secara lumrah belaka. Karya seni tidak sebatas pengeras suara dari fenomena kasat mata saja. Seni bahkan mempunyai beban yang lebih dari itu, yaitu menunjukkan realitas yang tak sepenuhnya terjangkau oleh indra manusia.

Gambar yang ditampilkan di samping ini merupakan salah satu karya Hanura Hosea yang dipamerkan dalam pameran Alihan di Galerikertas. Figur-figur yang ditampilkan di dalamnya, secara umum, dapat dengan mudah kita kenali dengan baik, sekalipun pada beberapa bagian kita menemukan berbagai pemiuhan bentuk—sehingga menunjukkan karakteristik sureal. Kita tahu, dalam gambar itu ada tiga figur manusia. Lalu ada satu figur surealis yang bersamaan dengan salah satu figur manusia.

Dari segi ruang, ketiga figur tersebut berada di tiga ruang yang berbeda. Tapi, dari segi waktu, menjadi rujukan dasar untuk menunjukkan apakah mereka di waktu yang sama atau tidak. Tapi, kita masih bisa mencari penanda waktu yang terselubung melalui jenis aktivitas yang dilakukan ketiga figur manusia itu: tidur, berenang, dan aktivitas perapian.

Sederhananya, tiga penanda waktu tersebut bisa kita bawa ke pengertian waktu keseharian, rutinitas, dan berkala. Namun begitu, sebagai konsekuensi dari peleburan ruang, gambar tersebut juga menyiratkan peleburan waktu.

Dengan demikian, bicara soal waktu, kita tak bisa lagi sepenuhnya bicara perihal waktu yang sudah tertata secara sosio-kultural. Gambar tersebut cenderung menyiratkan waktu sebagai sesuatu yang berlapis, berhimpitan, tidak kronologis, dan seterusnya.

Dengan demikian, gambar tersebut bukanlah proyeksi dari realitas yang bisa diidentifikasi dengan panca indera. Proyeksi yang dimunculkan gambar tersebut tidaklah suatu komposisi keseharian realitas kita sekalipun elemen-elemen gambarnya sangat akrab dengan kita. Meskipun demikian, itu bukan berarti bahwa gambar tersebut tidak ada hubungannya dengan realitas itu sendiri. Dengan cara serupa itu, gambar tersebut menunjukkan kepada kita suatu realitas yang lain, tapi sama “nyata”-nya dengan apa yang bisa kita inderai.

Apa benar ada realitas lain selain realitas yang dapat kita inderai? Di manakah realitas lain itu terjadi? Apakah kita berada di luar realitas lain itu atau justru tidak sadar ada di dalamnya?

Ada banyak jawaban yang bisa muncul, tapi kita tentu tidak akan lebih jauh menjawab pertanyaan tersebut. Yang jelas, pertanyaan serupa itu adalah pertanyaan yang sangat mungkin muncul melalui karya seni. Dan karena dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan serupa itulah kemudian karya seni tanpa dapat dihindari senantiasa menjadi “politis”.

Menjadi “politis” tentu tidak sama artinya dengan menjadi bagian “politik praktis”. Kita sering terjebak, ketika menyebut “politis” maka yang terbayangkan adalah politik pemerintahan yang kotor dan seterusnya. Menunjukkan apa yang tak tertunjukkan adalah salah satu dari apa yang disebut sebagai “menjadi politis”.

Bagi sebagian orang, gambar Hanura Hosea tersebut bisa saja menunjukkan realitas psikologis manusia di kondisi tertentu. Katakanlah seseorang yang merasakan hidup tak lagi punya jeda, bahkan apa yang semestinya terjadi secara berurutan justru berarsiran.

Dalam hidupnya, apa yang sedang dibayangkannya lebih nyata daripada apa yang sedang dilakukannya di saat yang sama. Ketika ia secara fisik sangat jelas melakukan aktivitas A, tapi yang sedang ada dalam pikiran dan perasaannya sedang melalukan B, C, dan seterusnya.

Mengapa realitas yang seperti itu bisa disebut politis? Karena banyak yang memandang bahwa realitas sebenarnya hanyalah realitas yang dapat diinderai.

Orang-orang hanya percaya pada apa yang bisa dilihatnya saja, segala yang bisa didengarnya saja, semua yang bisa dicecapnya saja dan seterusnya. Sehingga risikonya, sebagaimana contoh yang kita buat tadi, mereka lupa bahwa realitas juga bekerja di dalam wilayah psikologi. Padahal, realitas psikologi sama “nyata”-nya dengan realitas indrawi.

Karya seni tertentu, terutama non-realis, seringkali membuat kita menggerakkan kaki untuk bergelimang dengan realitas yang lain tersebut. Dengan begitu, tentu tidak salah lagi, bila kemudian ada yang berkata, “Betapa arogannya orang-orang yang hanya percaya pada apa yang bisa dilihatnya saja, pada apa yang hanya bisa didengarnya saja, pada apa yang bisa disentuhnya saja, dan seterusnya…”

Dari penjabaran di atas, kita sebenarnya belum bicara banyak. Kita baru mencoba melakukan pemaknaan kembali atas trinitas manusia, ruang, dan waktu pada tataran paling sederhana.

Selain soal itu, dari karya-karya Hanura Hosea, kita juga melihat suatu kecenderungan untuk memilih warna hitam-putih, sekalipun itu bukan hal aneh dalam drawing. Namun, sebagaimana di realitas itu sendiri, di dalam seni pun tidak ada yang “kebetulan” begitu saja, selalu ada sebab, bahkan selalu ada “yang politis” di balik setiap kejadian, baik disadari ataupun tidak (political unconsciousness).

Pembukaan pameran tunggal Hanura Hosea, Alihan, Galerikertas Studiohanafi, 2 November 2019

“Hitam-putih adalah pilihan selera.”

Hanura Hosea

Dan untuk suatu selera warna pun selalu terkandung “yang politis”. Sebagai contoh, kita bisa memulainya dengan pertanyaan seperti ini: sejak kapan warna pink menjadi warna perempuan? Mengapa orang akan tertawa ketika laki-laki menggunakan kaos pink? Kita tidak bisa melepaskan pertanyaan tersebut dari persoalan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan yang selalu ditekankan sebagai kelembutan, ketenangan, kesabaran, dan seterusnya tentu akan mudah dikaitkan dengan pemaknaan kita terhadap warna pink. Begitu juga sebaliknya, laki-laki yang selalu ditekankan sebagai keperkasaan, kekuasaan, kekuatan, dan seterusnya, dikesankan tampak mencolok atau tidak cocok dengan makna dari warna pink.

Kultur warna kita, dengan demikian, mengandung bias gender yang sangat kentara. Dalam contoh di atas, warna pink telah melegitimasi karakter standar untuk perempuan sekaligus melanggengkan karakter standar untuk laki-laki.

Dalam konteks kultur warna dan politik dibaliknya, para perupa seringkali, sengaja atau tidak, menghancurkan kebekuan-kebekuan warna seperti itu. Di tangan para perupa, setiap warna seringkali mendapatkan makna baru. Seringkali, warna yang sebelumnya kentara oleh bias gender, bias etnis, bias ideologi, dan seterusnya kemudian menjadi terbatas dari beban-beban serupa itu.

Dalam kasus gambar Hanura Hosea, warna hitam-putih bisa menjadi salah satu cara paling menarik untuk meminimalisasi muslihat warna, bias dalam warna. Warna semerbak, pada sisi lainnya, mempunyai watak untuk memanipulasi. Dalam contoh lainnya, pewarnaan di dalam desain komunikasi visual adalah salah satu strategi “manipulasi” seperti strategi menarik perhatian, dan seterusnya.

Dalam konteks ini, warna hitam-putih bisa digunakan untuk memberi penekanan pada gambar itu sendiri, sehingga kita tidak larut pada permainan atau komposisi warna dan warni. Dengan meminimalisir bias-bias warna lain, warna hitam-putih pun terus mengarahkan fokus kita bahkan sampai pada komponen gambar itu sendiri: kapasitas garis.

Mengapa Hanura Hosea membuat trinitas manusia-ruang-waktu dalam formasi tidak teratur dan kemudian memilih menggunakan warna hitam-putih—sebagaimana contoh gambar di atas tadi? Kalau tadi kita menyebut “realitas psikologis”, maka bagaimana perbedaannya bila realitas itu digambar dengan warna-warni dan hanya dengan hitam-putih saja? Bagaimana dinamika pemaknaan yang bisa kita temukan berdasarkan hubungan-hubungan antar indikator bentuk dan isi tersebut?

Itulah pertanyaan berikut yang dapat kita eksplorasi. Bagaimanapun juga, sekeping karya seni tak akan pernah habis kita bahas. Tulisan ini hanya sebuah pembuka kata untuk karya-karya Hanura lainnya. Selebihnya, para pengunjung pameranlah yang akan berkontemplasi sendiri dalam merespons karya Hanura Hosea.

Pertanyaan-pertanyaan terakhir tadi sengaja saya tinggalkan tanpa tawaran jawaban. Semoga dapat menjadi pantikan untuk melihat karya-karya Hanura lebih dalam dan dengan sudut pandang lainnya. Apa spekulasimu?

Alihan dalam kertas dan gambar

Alihan is an art program held in Studio Hanafi featuring a solo exhibition by Indonesian artist Hanura Hosea in conjunction with a series of related events. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 2 until 17 November 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

Galerikertas studiohanafi menghadirkan pameran tunggal Hanura Hosea berjuluk “Alihan”. Pameran yang akan berlangsung sepanjang 2 November-2 Desember 2019 ini merupakan pameran tunggal penutup untuk program galerikertas studiohanafi di tahun 2019.

Hanura Hosea merupakan perupa kelahiran Wates, Jawa Tengah, 1966. Setelah aktif berkarya di Yogyakarta dan berpameran di dalam dan luar negeri, ia saat ini menetap di Jerman.

Pada pameran “Alihan”, Hanura akan membawa gambar-gambar kertas sejumlah 245 buah. Kertas-kertas yang bercakap melalui garis dan kertas tersebut menghasilkan bidang gambar yang terbagi dalam tiga ruang: Museum, pabrik dan ruang pamer (Galeri).


Kertas-kertas bersaksi, “gambar-gambar telah tumbuh di bidangku”, ungkap Hanura. Lebih lanjut, ia menjelaskan dalam catatan pamerannya, “Gambar adalah alihan yang menawarkan jeda. Ia lengkap tapi bergembira dibubuhi dimensi.

Gambar adalah dilempari batu dan ludah. Gambar adalah penjaja pundi-pundi. Gambar adalah berkulit tipis. Gambar adalah tegangan. Gambar adalah ….”

Pembukaan pameran “Alihan” akan berlangsung pada Sabtu, 2 November 2019, pukul 19.00 WIB-selesai. Pameran akan dibuka oleh Hanafi selaku penggagas galerikertas studiohanafi dan Ugeng T. Moetidjo, perupa dan penulis.

Selain itu, pameran turut diramaikan oleh penampilan musik dari Deugalih, musisi multi-instrumen dan multi-genre yang telah melahirkan empat album indie. Saat ini menetap di Yogyakarta.

Menurut Ugeng, karya Hanura Hosea, tetap dengan watak gambar tuturnya, atau gambar dalam watak bertuturnya. Namun yang terang, padanya, bidang gambar merupakan ruang untuk pengisahan moral sosial—kali ini, dengan menjaga jarak dari politik, untuk jadi lebih domestik.

“Karyanya pada masa ini berumpun dengan pola representasi bertutur politik yang begitu menggejala pada segolongan perupa menjelang dan pasca lindapnya kekuatan otoritarian Orde Baru, seakan merayakan datangnya kebebasan kreatifitas” tutur Ugeng.

Berbicara tentang teknik penciptaan, Heru Joni Putra, kurator in house Galerikertas menitikberatkan cara berpikir Hanura pada karya-karyanya. Sebagaimana diucapkan juga oleh Hanura Hosea, berpikir secara seni adalah tindakan politik.

Sebab, berpikir seni adalah sebuah tindakan yang tidak melihat realitas secara lumrah belaka. Karya seni tidak sebatas pengeras suara dari fenomena kasat mata saja.

Seni bahkan mempunyai beban yang lebih dari itu, yaitu menunjukkan realitas yang tak sepenuhnya terjangkau oleh indra manusia.

“Kita baru mencoba melakukan pemaknaan kembali atas trinitas manusia, ruang, dan waktu pada tataran paling sederhana. Selain soal itu, dari karya-karya Hanura Hosea, kita juga melihat suatu kecenderungan untuk memilih warna hitam-putih, sekalipun itu bukan hal aneh dalam drawing.

Namun, sebagaimana di realitas itu sendiri, di dalam seni pun tidak ada yang “kebetulan” begitu saja, selalu ada sebab, bahkan selalu ada “yang politis” di balik setiap kejadian, baik disadari ataupun tidak (political unconsciousness)” tutur Heru.

Sepanjang pameran, Hanura bersama galerikertas Studiohanafi melangsungkan dua agenda pameran lainnya yang berlangsung sepanjang November 2019 di antaranya: Diskusi dan Presentasi Karya Perupa Muda bersama Hanura Hosea pada Minggu, 3 November 2019 dan Workshop Kertas Perupa Muda bersama Hanura Hosea pada 12-17 November 2019.

Mengenal peraturan perlindungan pekerja di tempat kerja

Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, program jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua, dan jaminan pensiun BPJS Ketenagakerjaan memastikan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi seluruh pekerja di Indonesia.

Peraturan lainnya meliputi UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, dan UU No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan serta mencermati hasil investigasi beberapa peristiwa kecelakaan kerja fatal yang terjadi, di antaranya kebakaran pabrik petasan di Tangerang pada 26 Oktober 2017 dan kebakaran pabrik korek api di Binjai, Sumatra Utara, 21 Juni 2019, diketahui bahwa kecelakaan kerja terjadi karena tidak dipatuhinya Undang-Undang tersebut dan sederet peraturan pelaksanaannya, menyebabkan gagalnya upaya pencegahan kecelakaan kerja.

Di samping itu, tidak semua pekerja yang menjadi korban terlindungi program BPJS Ketenagakerjaan. Akibatnya, hak-hak normatif sebagian pekerja tidak tersalurkan.

Menurut Direktur Pengawasan Norma Kerja dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan Bernawan Sinaga, sesuai Pasal 17 Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 2015, pemberi kerja yang belum mengikutsertakan pekerjanya dalam program BPJS Ketenagakerjaan wajib membayar hak pekerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku jika terjadi kecelakaan yang menimpa dirinya.

Kompensasi mencakup antara lain santunan meninggal yang dibayarkan sekaligus sebesar 48 kali upah, biaya perawatan atau pengobatan tanpa batasan sesuai indikasi medis, beasiswa bagi anak pekerja, serta jaminan hari tua dan pensiun.

Pemberi kerja perlu melaporkan upah sesuai upah yang sebenarnya diterima pekerja, serta tidak menunggak pembayaran iuran BPJS Ketenagakerjaan.    

Pelanggaran terhadap peraturan K3 dan jaminan sosial ketenagakerjaan dapat dikenakan sanksi hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan atau denda setinggi-tingginya Rp 100.000 sesuai UU No. 1 tahun 1970 yang kemudian berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung No. 2 tahun 2012 dan yurisprudensi Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dikonversi menjadi Rp 100 juta.

Ketidakpatuhan terhadap pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan dan laporan upah yang akurat dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis, denda, dan penghentian pelayanan publik tertentu sesuai PP No. 86 tahun 2013, bahkan pidana penjara paling lama 8 tahun atau denda paling banyak Rp 1 milyar sesuai pasal 55 UU No. 24 tahun 2011 tentang BPJS.

Archipelago Strategic & Partners Indonesia adalah konsultan bisnis dan manajemen yang meliputi pengembangan dan audit sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Informasi mengenai penerapan K3 dapat melalui dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan setempat. Sedangkan informasi pendaftaran kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dapat menghubungi kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan terdekat atau dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan setempat.