Pentingnya pengetahuan mengelola keuangan

Masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 19 tahun untuk menyelesaikan pendidikan formal dari pendidikan anak usia dini hingga bangku kuliah. Jika ditanyakan ke orangtua atau diri sendiri, apa sebenarnya tujuan akhir 19 tahun masa pendidikan yang telah ditempuh tersebut? Mayoritas akan menjawab demi mendapatkan pekerjaan sehingga dapat menghasilkan uang.

Hal ini membawa kita ke pertanyaan selanjutnya, berapa banyak porsi yang kita dapatkan selama pendidikan formal tersebut yang mengajarkan cara mengatur keuangan yang benar? Riset menunjukkan hampir tidak ada.

Kita tidak diajarkan bagaimana cara mengelola, hanya cara menghasilkan. Ini yang menjadi salah satu alasan seseorang yang berpenghasilan besar bisa terjerumus pada hutang tidak produktif sehingga akhirnya bangkrut. Tidak ada pendidikan yang menopangnya!

Kita tidak diajarkan bagaimana cara mengelola, hanya cara menghasilkan.

Agus Chang, B.Sc, MPM

Mantan gubernur bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve Alan Greenspan mengungkapkan bahwa problem utama pada generasi dan ekonomi sekarang ini adalah tidak adanya literasi keuangan.

Robert T. Kiyosaki menyuarakan kekhawatiran yang sama di mana, “Sekolah telah melupakan pendidikan keuangan dan fokus pada kualifikasi akademis, padahal keduanya sama pentingnya.”

Mengelola keuangan seharusnya menjadi pengetahuan dasar, sama halnya dengan membaca dan berhitung. Mengetahui cara mengelola keuangan membuat Anda memiliki pengetahuan tentang pola pikir yang tepat, target dan tujuan keuangan, dan langkah-langkah konkrit mengenai apa yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut.

Sebagai bagian dari rangkaian program rutin pelatihan bisnis dan manajemen bersertifikat, Archipelago Strategic & Partners Indonesia (ASPI) bersama Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM mengajak masyarakat Indonesia untuk mulai mencari tahu cara mengelola keuangan yang benar, karena ini adalah fondasi penting yang harus dipahami demi membangun kesejahteraan dan kebebasan finansial.

Pendaftaran batch 2 seminar Financial Strategy tahun 2020 oleh Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM telah dibuka dengan mengakses link berikut:

 

Cara berinvestasi terbaik di tahun baru

Kita mengawali tahun 2020 dengan meningkatkan kesadaran bahwa investasi merupakan sesuatu yang wajib. Di artikel Relevansi menabung di Era 4.0 telah dikupas bagaimana pergeseran dari budaya menabung secara konvensional harus bergeser – jika tidak sudah bergeser – ke berinvestasi.

Pertanyaan yang muncul akibat pergeseran ini, apakah berarti mempraktikkan menabung secara konvensional (disingkat sebagai menabung) dengan menabung jaman now (diartikan sebagai berinvestasi) ini dapat dilakukan secara instan?

Jawabannya dimulai dari mengidentifikasi perbedaan fundamental antara menabung dan berinvestasi, yaitu risiko.

Menabung dapat disebut berisiko rendah, meski bukan berarti tidak ada. Apa risiko menabung?

Produktivitas

Proteksi

Risiko menabung terdiri dari 2P yaitu produktivitas & proteksi. Paparan risiko produktivitas pertama datang dari inflasi, di mana rata-rata inflasi per tahun lebih besar dari bunga bank per tahun.

Lalu ada faktor biaya di mana untuk mengimbangi biaya administrasi bulanan kita harus memiliki sejumlah dana yang menghasilkan bunga demi setidaknya menutup biaya tersebut, ironis mengingat pendekatannya jadi bertolak belakang dengan poin inflasi.

Kemudian ada faktor pajak di mana sebagai perbandingan untuk obligasi hanya dikenakan pajak 15% sedangkan tabungan 20% untuk setiap keuntungan yang diperoleh.

Baca juga: Relevansi menabung di Era 4.0

Yang kedua, proteksi. Penempatan Rp 2 miliar ke atas tidak sepenuhnya lagi dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) apabila bank di mana uang tersebut ditempatkan bermasalah. Ini adalah risiko yang sebenarnya kecil namun perlu diketahui.

Lalu bagaimana dengan menabung zaman now atau disingkat berinvestasi? Risiko dari instrumen investasi yang digunakan akan mengecil seiring bertambahnya pengetahuan kita terhadap instrumen tersebut. Hal inilah yang membawa kita ke poin mengenai investasi awal yang harus kita jalankan, yaitu pengetahuan.

Mengutip Warren Buffett, “Risiko datang dari ketidaktahuan kita tentang apa yang kita lakukan”. Jadi, suka maupun tidak suka, pergeseran ini menuntut kita untuk belajar. Karena keefektifan menabung, bahkan penempatan deposito sebagai instrumen investasi sudah lama menjadi hal yang usang.

Banyak yang menggeluti berbagai instrumen investasi seperti obligasi, saham, reksa dana sampai ke properti, terjebak dan mengalami kerugian akibat kurangnya pengetahuan terhadap instrumen-instrumen tersebut.

Jadi, investasi pertama yang terbaik yang kita bisa lakukan adalah pengetahuan akan investasi itu sendiri. Pelajari melalui buku, seminar, lakukan penelitian kecil, maka kita siap memulai untuk investasi yang sebenarnya.

Investasi pertama yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah pengetahuan.

Agus Chang, B.Sc, MPM

Seorang Warren Buffett pun memulai berinvestasi dalam pengetahuan sebelum benar-benar mendedikasikan dirinya di dunia investasi sampai akhirnya menjadi figur investor yang kita kenal sekarang. Beliau sebelumnya berguru pada Benjamin Graham yang dikenal sebagai pelopor dari value investing.

Pengetahuan adalah kunci berinvestasi. Memang betul, dengan memiliki pengetahuan tidak serta merta kita dapat menekan risiko sampai nol persen. Namun niscaya pengetahuan memperbesar keberhasilan kita dalam berinvestasi.