Cara berinvestasi terbaik di tahun baru

Kita mengawali tahun 2020 dengan meningkatkan kesadaran bahwa investasi merupakan sesuatu yang wajib. Di artikel Relevansi menabung di Era 4.0 telah dikupas bagaimana pergeseran dari budaya menabung secara konvensional harus bergeser – jika tidak sudah bergeser – ke berinvestasi.

Pertanyaan yang muncul akibat pergeseran ini, apakah berarti mempraktikkan menabung secara konvensional (disingkat sebagai menabung) dengan menabung jaman now (diartikan sebagai berinvestasi) ini dapat dilakukan secara instan?

Jawabannya dimulai dari mengidentifikasi perbedaan fundamental antara menabung dan berinvestasi, yaitu risiko.

Menabung dapat disebut berisiko rendah, meski bukan berarti tidak ada. Apa risiko menabung?

Produktivitas

Proteksi

Risiko menabung terdiri dari 2P yaitu produktivitas & proteksi. Paparan risiko produktivitas pertama datang dari inflasi, di mana rata-rata inflasi per tahun lebih besar dari bunga bank per tahun.

Lalu ada faktor biaya di mana untuk mengimbangi biaya administrasi bulanan kita harus memiliki sejumlah dana yang menghasilkan bunga demi setidaknya menutup biaya tersebut, ironis mengingat pendekatannya jadi bertolak belakang dengan poin inflasi.

Kemudian ada faktor pajak di mana sebagai perbandingan untuk obligasi hanya dikenakan pajak 15% sedangkan tabungan 20% untuk setiap keuntungan yang diperoleh.

Baca juga: Relevansi menabung di Era 4.0

Yang kedua, proteksi. Penempatan Rp 2 miliar ke atas tidak sepenuhnya lagi dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) apabila bank di mana uang tersebut ditempatkan bermasalah. Ini adalah risiko yang sebenarnya kecil namun perlu diketahui.

Lalu bagaimana dengan menabung zaman now atau disingkat berinvestasi? Risiko dari instrumen investasi yang digunakan akan mengecil seiring bertambahnya pengetahuan kita terhadap instrumen tersebut. Hal inilah yang membawa kita ke poin mengenai investasi awal yang harus kita jalankan, yaitu pengetahuan.

Mengutip Warren Buffett, “Risiko datang dari ketidaktahuan kita tentang apa yang kita lakukan”. Jadi, suka maupun tidak suka, pergeseran ini menuntut kita untuk belajar. Karena keefektifan menabung, bahkan penempatan deposito sebagai instrumen investasi sudah lama menjadi hal yang usang.

Banyak yang menggeluti berbagai instrumen investasi seperti obligasi, saham, reksa dana sampai ke properti, terjebak dan mengalami kerugian akibat kurangnya pengetahuan terhadap instrumen-instrumen tersebut.

Jadi, investasi pertama yang terbaik yang kita bisa lakukan adalah pengetahuan akan investasi itu sendiri. Pelajari melalui buku, seminar, lakukan penelitian kecil, maka kita siap memulai untuk investasi yang sebenarnya.

Investasi pertama yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah pengetahuan.

Agus Chang, B.Sc, MPM

Seorang Warren Buffett pun memulai berinvestasi dalam pengetahuan sebelum benar-benar mendedikasikan dirinya di dunia investasi sampai akhirnya menjadi figur investor yang kita kenal sekarang. Beliau sebelumnya berguru pada Benjamin Graham yang dikenal sebagai pelopor dari value investing.

Pengetahuan adalah kunci berinvestasi. Memang betul, dengan memiliki pengetahuan tidak serta merta kita dapat menekan risiko sampai nol persen. Namun niscaya pengetahuan memperbesar keberhasilan kita dalam berinvestasi.

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s