3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan

Pada 2019 Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa berdasarkan data 2017, rasio tabungan terhadap produk domestik bruto (PDB) masyarakat Indonesia sebesar 30,9% berada jauh lebih rendah dari Singapura dan China yang telah mencapai 49% , bahkan Filipina di 44%.

Kala itu, di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sardjito, mendampingi Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, berkata bahwa orang Indonesia rata-rata tidak senang menabung.

“Saya nggak bilang yang terparah, tapi memang kebiasaan kita itu consume. Nabung semua juga nggak bagus, tapi rasio saving to GDP seharusnya bagus,” kata Sardjito.

Mengutip CNBC, survei pada tahun 2019 di Amerika Serikat menunjukkan setiap rumah tangga rata-rata memiliki tabungan sebesar 8.863 dolar AS. Kelompok pasangan menikah usia di bawah 34 memiliki tabungan rata-rata 4.700 dolar AS. Kelompok lajang di rentang usia yang sama semakin memprihatinkan dengan tabungan rata-rata 2.700 dolar AS.

Survei terpisah di tahun yang sama oleh bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve mengungkapkan bahwa 4 dari 10 responden mengaku kesulitan jika harus mengalami pengeluaran tak terduga senilai 400 dolar AS, misalnya untuk perbaikan kendaraan dan peralatan elektronik rumah tangga.

Dalam merencanakan keuangan pribadi, menyisihkan uang kerap dipandang sebagai keharusan yang sifatnya menuntut, membosankan, dan melelahkan. Seseorang yang harus menyisihkan uang untuk membayar tagihan kartu kredit di bulan depan, misalnya, atau lainnya karena boros di bulan lalu, kemudian berbalik ke penghematan lagi dalam menyisihkan uang. Dari ilustrasi ini sulit terlihat persepsi yang menyenangkan di balik menyisihkan uang.

Menyisihkan uang untuk tujuan menabung/investasi butuh disiplin. Banyak orang yang mendengar kata disiplin sudah merasa malas dan menarik diri. Sebab disiplin juga erat dengan hal yang tidak menyenangkan untuk dilakukan. Asosiasi antara disiplin dan hal yang tidak menyenangkan inilah yang perlu diubah.

Kiat pertama, hubungkan suatu keharusan positif dengan impian dan harapan yang menyenangkan. Bayangkan perlunya menyisihkan uang untuk berlibur dengan keluarga, membeli mobil impian, atau memiliki rumah. Harapan memberikan semangat dalam menjalankan disiplin untuk menyisihkan uang. Dengan kata lain, kebiasaan baru terbentuk jika kebiasaan tersebut menghasilkan perasaan semangat dan menyenangkan untuk dilakukan kembali.

Kedua adalah melakukan penghargaan terhadap diri Anda, kapan pun Anda berhasil mencapai target di bulan ini. Sebagai ilustrasi, seseorang memiliki target menyisihkan satu juta rupiah untuk diinvestasikan pada bulan ini, dan pada akhir periode ternyata ia berhasil menyisihkan satu juta lima ratus ribu rupiah. Selisih uang tersebut dapat ia gunakan untuk melakukan atau membeli hal yang diinginkan.

Ketiga, hindari merencanakan banyak kebiasaan sekaligus karena akan semakin mengecilkan probabilitas keberhasilannya. Fokuskan untuk membangun satu kebiasaan positif baru. Begitu berhasil akan lebih mudah mempertahankannya, sembari merencanakan kebiasaan positif yang baru.

Konsistensi melatih disiplin pada akhirnya akan membuat kita mengasosiasikan kedisiplinan dengan sesuatu yang menyenangkan.

Disiplin adalah kunci kesuksesan, termasuk kesuksesan finansial. Hal ini bahkan ditekankan dengan sangat dramatis oleh filsuf Yunani Socrates, “Kehidupan tanpa kedisiplinan adalah kehidupan yang tidak waras!”

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s