Memaksimalkan kebutuhan dan keinginan

Salah satu fondasi dalam kecerdasan keuangan adalah kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan dalam tingkat ekstrim akan membahayakan keberlangsungan hidup. Sedangkan keinginan, ekstrimnya, jika tidak terpenuhi pun tidak membahayakan.

Pertanyaan selanjutnya, kapan kita memenuhi keinginan kita? Apakah kita hanya boleh memenuhi apa yang kita butuhkan? Tentunya tidak sedemikian dilematis juga. Seperti yang telah dibahas di artikel 3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan , pemenuhan keinginan dapat dilakukan apabila target kita terpenuhi.

Baca juga: 3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan

Ketika hal ini konsisten dilakukan, yang terjadi adalah pertama, kita akan lebih menghargai keinginan kita, dan kedua, kita mengasosiasikan pencapaian sebagai sesuatu yang menyenangkan karena kita dapat memenuhi keinginan kita.

Jadikan keinginan sebagai alat mencapai target yang kita tetapkan, baik itu target besar dalam hidup atau spesifik mengenai target keuangan. Praktikkan target-target yang lebih mudah dengan keinginan yang kecil seperti dapat meminum soda setelah mencatat pengeluaran rutin, hingga yang lebih besar seperti dapat berkeliling dunia setelah berhasil mengumpulkan 5 milyar rupiah, misalnya.

Jadikan pemenuhan keinginan sebuah konsistensi untuk memenuhi target-target yang sudah dicanangkan. Dari sini kita akan dapat mengaitkan secara faktual dan efektif peningkatan kualitas hidup karena tercapainya target-target tersebut.

Teknik marketing sekarang sudah pandai bermain di area tipis antara kebutuhan dan keinginan serta memperhitungkan aspek psikologis.

Contohnya, penawaran diskon 20% untuk pembelanjaan minimal Rp 500.000. Banyak yang berpikir, “Wow tanggung, mumpung diskon, coba pilih barang lain yang saya inginkan.“ Padahal yang konsumen tersebut butuhkan hanya barang seharga Rp 300.000. Pada akhirnya konsumen membelanjakan lebih dari Rp 500.000 ketika seharusnya hanya perlu mengeluarkan Rp 300.000.

Kesadaran akan keinginan dan kebutuhan penting agar pembaca dapat menggunakan dorongan keinginan untuk memaksimalkan peningkatan potensi diri dan target yang ditetapkan. 

Pelatihan manajemen risiko bersama Prashetya Quality

Bekerja sama dengan perusahaan jasa keselamatan dan kesehatan kerja (PJK3) PT Pusat Sertifikasi Prasetya, lead auditor ASPI Purnadi Phan, B.Ed, CSE, berbagi ilmu manajemen risiko dalam kaitannya dengan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3).

Topik di atas menjadi bagian dari rangkaian pelatihan Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Umum sertifikasi Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia yang diselenggarakan di peusat pelatihan Prashetya Quality, Jakarta, 11 Maret 2020.

Topik:

  1. Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012, mencakup pemahaman dasar, elemen SMK3, tahapan penerapan, hingga pemetaan kriteria audit secara umum.
  2. Manajemen risiko, mencakup konsep, identifikasi dan pengendalian risiko, studi kasus kecelakaan kerja dan diskusi terkait aspek pasca insiden atau lesson learned.