Langkah adaptasi hadapi krisis

Artikel ini dibuat atas keprihatinan terhadap komunitas kita yang terpukul sejak pandemi melanda, dengan harapan dapat membantu rekan-rekan bangkit dan menjadi lebih tangguh. Setiap krisis yang datang tidak akan menetap, tetapi akan berlalu.

Tidak ada yang pasti di dunia kecuali perubahan. Dan di tengah perubahan yang tak terelakkan, kita harus beradaptasi, atau gamblangnya terpaksa beradaptasi. Satu teori mengenai keberlangsungan hidup mengatakan bahwa bukan yang terkuat, melainkan yang paling dapat beradaptasi, yang akan bertahan.

Belajar beradaptasi, itu yang harus difokuskan ketika krisis datang. Hanya dengan tindakan dan evaluasi, krisis dapat teratasi. Krisis memukul banyak industri dan bisnis, namun ada pembelajaran besar yang terkandung di dalamnya.

COVID-19 menjadi biang pandemi pertama dalam 102 tahun sejak 1918 di mana saat itu dunia lumpuh karena wabah flu spanyol selama 3 tahun. Artinya ini bukan krisis yang selama ini sering diramalkan terkait resesi atau karena terjadinya perang antar negara.

Apa pun itu, yang ingin digarisbawahi, krisis tidak dapat diketahui kapan akan terjadi dan bisa menimpa siapa saja. Yang dapat dilakukan adalah bagaimana kita beradaptasi dengan keadaan.

Fujifilm dan Kodak menjadi salah satu contoh klasik bagaimana perubahan harus segera direspon dengan beradaptasi. Begitu berjayanya Kodak pada masa lampau sehingga orang-orang sempat menggunakan sinonim kamera saku analog dengan sebutan kodak. Kebiasaan ini bertahan sampai akhirnya pasar digital kamera menemukan momentum.

Sebuah ironi bagi Kodak mengingat paten komponen digital kamera pertama di tahun 1971 didaftarkan oleh Louis A. Lopes Jr dan Owen F. Thomas, pekerja peneliti dan pengembangan (R&D) di Kodak yaitu David Lewis mengembangkan kamera CCD pertama di tahun 1974, dan dikembangkan lebih lanjut oleh Steven Sasson, juga bekerja di Kodak, sehingga menciptakan prototype awal kamera digital.

Sayangnya petinggi Kodak melihat hal ini bukan sebagai peluang menjadi pionir, namun ancaman kemapanan bisnis mereka. Kamera digital mulai dikenal oleh masyarakat umum di pertengahan 90an sampai mencapai momentum popularitas pada 2003. Setahun kemudian, Kodak mengumumkan tidak lagi menjual roll film dan akhirnya menyatakan bangkrut di tahun 2012.

Di sisi lain, Fujifilm menyikapi perubahan dengan cara yang berbeda. Tahun 2000, Shigataka Komori ditunjuk untuk menjadi CEO dan reformasi di tubuh Fujifilm pun terjadi terutama di bidang R&D, di mana Komori memerintahkan untuk mengeluarkan daftar teknologi yang dikembangkan secara internal oleh Fujifilm yang dapat digunakan untuk kebutuhan di masa mendatang.

Kantor pusat Fujifilm, Tokyo

Kebijakan yang diambil setelah melihat perubahan di pasar industri fotografi, dan peluang melakukan diversifikasi ke pasar lain seperti panel LCD, farmasi, bahkan kosmetik, telah menyelamatkan Fujifilm dari nasib serupa yang dialami Kodak.

Sebagai perbandingan, pada awal milenium di tahun 2000, penjualan Kodak sebesar 14 miliar dolar AS menurun 48% menjadi 7,2 miliar dolar AS di tahun 2010. Sementara Fujifilm pada tahun 2000 membukukan penjualan 1,4 triliun yen, dilanjutkan kenaikan 57% menjadi 2,2 triliun yen di tahun 2010.

Berangkat dari inspirasi di atas, ditambah ketidakpastian kapan perekonomian bisa kembali menggeliat, berikut tips beradaptasi yang diilustrasikan dalam studi kasus.

Pip adalah seorang karyawan suatu perusahaan yang terimbas oleh krisis akibat COVID-19 sehingga terpaksa dirumahkan. Penghasilan Pip dalam sebulan 4,500,000 rupiah. Pip tidak mengetahui secara pasti dalam siklus 1 bulan, berapa uang yang dia berhasil sisihkan baik itu untuk dikumpulkan sebagai modal katering rumahan yang ia rencanakan, maupun yang mau diinvestasikan. Yang dia tahu, dia merasa sudah menabung dengan penghasilan bulanannya tersebut.

Pip juga merasa nyaman karena dapat manfaat asuransi dari perusahannya, sehingga imbas dari pemutusan hubungan kerja ini adalah hilangnya penghasilan bulanan dan manfaat asuransi yang sebelumnya diberikan di perusahaan, serta harus bertahan dengan tabungan.

Berdasarkan studi kasus ini, langkah awal yang perlu dilakukan Pip adalah introspeksi positif. Pip perlu mengesampingkan faktor luar penyebab terjadinya kesulitan yang seringkali berada di luar kontrol dirinya. Contohnya, mengumpat perusahaan tempatnya bekerja tidak berperikemanusiaan, bahkan berencana menuntut.

Meski faktor luar berkontribusi langsung terhadap krisis, menyalahkan faktor luar cenderung membuat diri beralasan untuk tidak memperbaiki keadaan. 

Sebaliknya, Pip perlu fokus pada langkah perbaikan diri. Faktor internal yang mencakup koreksi diri dimulai dengan beberapa pertanyaan instrospektif, seperti, “Apa langkah selanjutnya yang harus saya ambil untuk mengatasi hal ini?”  Selanjutnya, apabila krisis sudah mulai terkontrol, “Apa yang seharusnya saya lakukan agar dapat mengatasi krisis serupa di masa depan?”

Pertanyaan negatif seperti, “Mengapa hal ini harus terjadi pada saya?” atau “Mengapa tidak ada yang menolong saya pada masa sulit ini?” membuat kita mencari alasan dan terus meratapi nasib.

Sebaliknya, pertanyaan yang positif akan membangun momentum yang dibutuhkan untuk bangkit.

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan Pip adalah identifikasi menyeluruh. Berdasarkan pertanyaan introspektif tersebut Pip mulai dapat mengidentifikasi kesalahan sehingga bisa segera melakukan langkah perbaikan.

Pertanyaan tentang langkah selanjutnya yang diambil untuk mengatasi hal ini dapat dijawab dengan sejumlah rencana, mulai dari mencari pekerjaan lain, atau melihat hal ini sebagai kesempatan untuk memulai bisnis katering yang sudah direncanakan dengan protokol higienis atau sistem manajemen keamanan pangan, serta jasa pengantaran yang kian populer digunakan kini, atau bisa juga memperoleh pemasukan dengan menjadi bagian dari garda depan melawan COVID-19.

Ketika keadaan berangsur membaik, pertanyaan selanjutnya seperti apa yang seharusnya dilakukan agar dapat mengatasi krisis serupa di masa depan, mungkin dapat dijawab dengan pengaturan keuangan yang lebih disiplin seperti rutin mencatat pengeluaran sehingga dapat mengetahui kondisi keuangan, melakukan investasi untuk menambah nilai lebih terhadap uang yang dimiliki, mencadangkan dana untuk menghadapi situasi darurat setelah kehilangan pekerjaan, mempertimbangkan memiliki asuransi pribadi sesuai kemampuan.

Langkah ketiga adalah aksi. Setelah melakukan introspeksi terarah dan identifikasi menyeluruh, maka aksi sekecil apa pun menjadi berarti. Aksi akan menghasilkan hasil, hasil yang didapatkan bisa berupa keberhasilan atau kegagalan. Pada fase inilah determinasi penting untuk dipahami. Hasil yang berhasil tentu akan baik dan memberikan kepercayaan diri untuk melanjutkan atau memulai hal lain yang selanjutnya direncanakan, lain halnya jika hasil yang didapatkan berupa kegagalan, untuk itu determinasi sangat diperlukan untuk mencapai hasil yang diharapkan meski sebelumnya menemui kegagalan. Dengan determinasi, kita akan memahami bahwa kegagalan adalah pembelajaran dan menanyakan kembali langkah lain apa yang bisa dilakukan selain yang sudah dicoba sebelumnya.

Meski berurutan, 2 langkah sebelumnya sia-sia apabila tidak ada tindakan nyata sampai hasil yang diharapkan tercapai untuk menyelesaikan proses adaptasi. Tanpa aksi dan kebulatan tekad untuk mencapai yang diinginkan, walaupun kita sudah menjalani dengan baik introspeksi dan identifikasi, Pip akan kembali ke titik nadir semula.

Salah satu tips untuk semakin memperbesar probabilitas melakukan aksi adalah dengan mendokumentasikan kapan dan di mana rencana yang sudah kita tetapkan sebelumnya.

Latih diri kita dengan tiga langkah adaptasi di atas agar selalu bisa mengatasi perubahan yang merupakan hal yang pasti terjadi dalam hidup. 

Tes Marshmallow tolok ukur potensi sukses

Foto: Antoine Doyen

Artikel ini merangkum bagaimana sebuah percobaan sederhana bisa menggambarkan perilaku keuangan seseorang berdasarkan teori yang pertama kali digagas oleh Walter Mischel saat ia menjadi dosen psikologi sosial dan teori kepribadian di Universitas Stanford pada tahun 1972.

Tujuan dari tes ini tidak hanya untuk mengukur keberhasilan seseorang dalam hal pencapaian dari aspek finansial, namun juga tingkat pencapaian perasaan bahagia serta ukuran kebahagiaan lainnya seperti keberhasilan dalam berkarir secara profesional, keberhasilan untuk berperilaku baik dan tidak mudah terjerumus dalam pola hidup menyimpang, serta kesuksesan dalam hidup.

Michio Kaku, fisikawan yang pernah dinobatkan sebagai 100 orang terpintar di New York oleh New York Magazine mendukung keakuratan tes ini dalam menilai tingkat keberhasilan dan pencapaian seseorang yang dapat melalui tes ini dengan baik.

Dalam suatu wawancara, Michio mengatakan, “Ketika Anda melihat anak-anak dan apa yang membuat mereka sukses, Anda akan menyadari bahwa hampir semua teori adalah keliru, seperti memiliki IQ yang tinggi, namun banyak yang memiliki IQ tinggi menjadi kaum marjinal di masyarakat. Marshmallow test adalah tes psikologi yang dapat berkorelasi terhadap kesuksesan dalam hidup.”

Eksperimen Marshmallow dimulai dengan memperhatikan perilaku puluhan anak berusia 4 sampai 6 tahun ketika diberikan penawaran kudapan yang mereka sukai, misalnya permen, biskuit, atau marshmallow.

Mereka diberi 2 pilihan: Pertama, mereka dapat makan kudapan yang mereka sukai tersebut sekarang namun hanya mendapat 1 buah saja. Kedua, mereka dapat makan kudapan tersebut nanti, 15 menit dari sekarang, dan akan mendapatkan 2 kali lebih banyak daripada yang mereka dapatkan sekarang.

Tentu dari opsi yang ditawarkan ini, sebagian berupaya menunggu untuk mendapatkan lebih, dan sebagian lainnya langsung memakannya.

Penelitian dilanjutkan 30 tahun mendatang, ketika anak-anak tersebut sudah dewasa. Mereka diundang kembali untuk diwawancarai mengenai bagaimana kehidupan mereka.

Hasilnya, mereka yang ketika kecil menunggu untuk mendapatkan lebih banyak cenderung memiliki kehidupan yang lebih bahagia, lebih sukses, dan secara finansial lebih mapan dibandingkan dengan mereka yang dulu memilih langsung memakan kudapan yang ada di hadapan.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian aspek dari perilaku tersebut mencerminkan karakter seseorang. Namun kabar baiknya, perilaku dapat dilatih dan dipraktikkan dalam kehidupan meski kita sudah tumbuh dewasa.

Berbeda dengan hewan, manusia mengerti konsep waktu. Seseorang bisa memahami bahwa jika dia tahu dengan menunda kesenangan sekarang dia bisa mencapai hal yang lebih baik di masa datang, maka akan muncul pertimbangan yang berujung pada keputusan untuk menjalani hal yang perlu dilakukan dahulu agar mendapatkan hasil lebih baik.

Almarhum Ciputra dalam beberapa kesempatan menceritakan bagaimana dia sudah harus membanting tulang dan harus membiasakan diri menunda keinginannya sementara teman seusianya dapat bermain dan bersekolah sewajarnya.

Salah satu penyebabnya adalah kehilangan ayahnya ketika dia masih berusia 12 tahun. Ciputra menceritakan perubahan dirinya dari manja menjadi kuat, dari yang semula tidak pernah berkotor-kotoran di kebun, hingga terpaksa harus memeras keringat setiap hari mengolah tanah agar sekeluarga dapat makan, dan belajar berburu binatang di hutan. Hal tersebut yang akhirnya menempa beliau menjadi taipan properti dan filantropis yang kita kenal sekarang.

Terkait keuangan, khususnya dalam berinvestasi, yang mana bertujuan mengalokasikan sejumlah uang untuk memperoleh penghasilan atau keuntungan, pada praktiknya kita mengendalikan dorongan menggunakan uang yang dimiliki sekarang untuk hasil yang lebih baik di masa mendatang.

Menyisihkan uang pun demikian. Kita memiliki tujuan di depan yang lebih besar dari yang bisa dicapai sekarang.

Berdonasi merupakan sesuatu yang sangat relevan dalam membantu masyarakat dan tim medis khususnya yang bisa dilakukan di masa sulit ini.

Seorang donatur tergerak atas kerelaan mendahulukan masyarakat yang lebih membutuhkan, dan menunda kebutuhan pribadinya.

Agar konsisten mempraktikkan hal ini dengan maksimal, penting sebelumnya untuk menetapkan apa tujuan hidup di masa depan, dan seberapa besar kita bersedia menunda hal lain yang menyenangkan sekarang demi tujuan yang lebih besar di depan?

Kesempatan di balik pandemi

Sejarah mencatat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, terjadi satu peristiwa luar biasa yang berakibat pada perekonomian suatu kawasan bahkan global setiap 5 tahun. Kilas balik peristiwa mulai dari krisis moneter di Asia (khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara) di tahun 1997 – 1998, pandemi SARS tahun 2003, subprime mortgage yang bermula di Amerika Serikat tahun 2007 dan berimbas secara tidak langsung pada krisis keuangan Eropa, wabah MERS di Timur Tengah pada 2012 dan sempat dilaporkan juga terjadi di Korea, hingga pandemi COVID-19 yang melanda saat ini.

Menurut Dana Moneter Internastional (IMF), melalui pernyataan Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional Lesetja Kganyago dan direktur Kristalina Georgieva, ekonomi dan keuangan global mengalami krisis karena pandemi ini.

Menggunakan analogi 2 sisi mata uang, di satu sisi pandemi COVID-19 memperlihatkan sebuah krisis dalam skala global, namun di sisi lain sarat peluang yang bisa diraih melalui pengendalian diri dan pembelajaran dari situasi yang dihadapi.

Artikel ini menyajikan 3 kesempatan yang dapat dimanfaatkan dari situasi pandemi COVID-19 untuk menghasilkan sesuatu yang positif dan produktif.

Melakukan kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan berdampak besar pada risiko tertular atau tetap sehat. Masyarakat semakin sadar akan pentingnya nutrisi yang sehat dan tentang apa yang mereka makan, karena berdasarkan sejumlah penelitian wabah ini ditengarai bermula dari hewan liar yang dikonsumsi oleh manusia tanpa melewati proses memasak dengan tingkat kematangan yang aman dan higienis.

Di tengah situasi ini fokuskan daya pada apa yang bisa dilakukan. Saat bereaksi terhadap sebuah kesulitan, hal pertama yang naluriah dilakukan adalah waspada. Namun tidak berakhir di situ, setelah tahap kewaspadaan kita perlu menjalankan tindakan pencegahan yang solid, dan selanjutnya melihat peluang apa yang ada di luar sana. Salah satunya ada di bursa saham.

Sir John Templeton berujar, “Masa di mana pesimisme berada pada titik tertinggi adalah waktu terbaik untuk membeli.”

Hal ini penting untuk diketahui terutama oleh investor individual karena aksi jual masif ketika terjadi kejadian luar biasa seperti sekarang atau diistilahkan cut loss. Istilah yang kerap menyesatkan ini sebenarnya adalah pelaku pasar modal yang sudah membeli dalam jumlah besar menjual kepemilikan saham mereka dengan harga lebih rendah ketika harga masih tinggi sehingga seakan menciptakan kepanikan pasar. Efek berantai yang terjadi adalah aksi jual yang juga dilakukan oleh investor-investor retail yang terbawa suasana tanpa sepenuhnya memahami situasi yang sebenarnya.

Lalu apa sebenarnya situasi yang mendasari terjadinya aksi jual?

Pertama, para investor besar di pasar modal yang memahami siklus pasar akan menjual sahamnya untuk profit taking karena ‘waktu panen’ telah tiba. Market akan dilanda aksi jual. Keuntungan akan berlipat karena mereka mencairkan dana yang mana banyak di antaranya bahkan tetap lebih tinggi ketika pasar jatuh karena mereka sudah menabung sejak lama, maupun menggunakan prinsip cost averaging.

Kedua, setelah market konsisten turun dan terlihat tanda-tanda akan naik atau stabil, dimulailah aksi beli karena pasar sedang dalam keadaan diskon. Faktor psikologis dan pemahaman terhadap kategori profil risiko membantu mengendalikan diri ketika melihat kejatuhan pasar seperti ini.

Krisis terkini berdampak pada semua jenis pekerjaan, tanpa mempedulikan apakah Anda seorang karyawan, pengusaha, pedagang maupun pengelola bisnis online. Timbul desakan untuk mengeluarkan kas lebih untuk membeli perlengkapan perlindungan guna menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh.

Karena lonjakan pengeluaran bulanan selama beberapa waktu ke depan, baik itu untuk mencukupi gizi makanan, mengonsumsi vitamin tambahan secara rutin, sampai melengkapi diri dengan alat sanitasi yang harganya melonjak seperti masker dan cairan disinsfektan, evaluasi keuangan bisa menjadi langkah awal untuk memaksimalkan uang yang dimiliki sekarang dan menginvestasikannya untuk menciptakan sumber cash flow baru yang dapat membantu memperkuat arus pendapatan kita di samping pendapatan yang kita miliki sekarang.

Seperti yang sebelumnya dibahas pada artikel Relevansi menabung di era 4.0, pembaca disarankan untuk senantiasa memberdayakan uang yang sudah disisihkan agar memberikan return seefektif mungkin dengan memanfaatkan instrumen yang dapat memberikan penghasilan cukup stabil dan aman di atas angka inflasi, seperti deposito sampai ke instrumen pinjaman pada platform peer to peer lending sebagai peminjam.