Kesempatan di balik pandemi

Sejarah mencatat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, terjadi satu peristiwa luar biasa yang berakibat pada perekonomian suatu kawasan bahkan global setiap 5 tahun. Kilas balik peristiwa mulai dari krisis moneter di Asia (khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara) di tahun 1997 – 1998, pandemi SARS tahun 2003, subprime mortgage yang bermula di Amerika Serikat tahun 2007 dan berimbas secara tidak langsung pada krisis keuangan Eropa, wabah MERS di Timur Tengah pada 2012 dan sempat dilaporkan juga terjadi di Korea, hingga pandemi COVID-19 yang melanda saat ini.

Menurut Dana Moneter Internastional (IMF), melalui pernyataan Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional Lesetja Kganyago dan direktur Kristalina Georgieva, ekonomi dan keuangan global mengalami krisis karena pandemi ini.

Menggunakan analogi 2 sisi mata uang, di satu sisi pandemi COVID-19 memperlihatkan sebuah krisis dalam skala global, namun di sisi lain sarat peluang yang bisa diraih melalui pengendalian diri dan pembelajaran dari situasi yang dihadapi.

Artikel ini menyajikan 3 kesempatan yang dapat dimanfaatkan dari situasi pandemi COVID-19 untuk menghasilkan sesuatu yang positif dan produktif.

Melakukan kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan berdampak besar pada risiko tertular atau tetap sehat. Masyarakat semakin sadar akan pentingnya nutrisi yang sehat dan tentang apa yang mereka makan, karena berdasarkan sejumlah penelitian wabah ini ditengarai bermula dari hewan liar yang dikonsumsi oleh manusia tanpa melewati proses memasak dengan tingkat kematangan yang aman dan higienis.

Di tengah situasi ini fokuskan daya pada apa yang bisa dilakukan. Saat bereaksi terhadap sebuah kesulitan, hal pertama yang naluriah dilakukan adalah waspada. Namun tidak berakhir di situ, setelah tahap kewaspadaan kita perlu menjalankan tindakan pencegahan yang solid, dan selanjutnya melihat peluang apa yang ada di luar sana. Salah satunya ada di bursa saham.

Sir John Templeton berujar, “Masa di mana pesimisme berada pada titik tertinggi adalah waktu terbaik untuk membeli.”

Hal ini penting untuk diketahui terutama oleh investor individual karena aksi jual masif ketika terjadi kejadian luar biasa seperti sekarang atau diistilahkan cut loss. Istilah yang kerap menyesatkan ini sebenarnya adalah pelaku pasar modal yang sudah membeli dalam jumlah besar menjual kepemilikan saham mereka dengan harga lebih rendah ketika harga masih tinggi sehingga seakan menciptakan kepanikan pasar. Efek berantai yang terjadi adalah aksi jual yang juga dilakukan oleh investor-investor retail yang terbawa suasana tanpa sepenuhnya memahami situasi yang sebenarnya.

Lalu apa sebenarnya situasi yang mendasari terjadinya aksi jual?

Pertama, para investor besar di pasar modal yang memahami siklus pasar akan menjual sahamnya untuk profit taking karena ‘waktu panen’ telah tiba. Market akan dilanda aksi jual. Keuntungan akan berlipat karena mereka mencairkan dana yang mana banyak di antaranya bahkan tetap lebih tinggi ketika pasar jatuh karena mereka sudah menabung sejak lama, maupun menggunakan prinsip cost averaging.

Kedua, setelah market konsisten turun dan terlihat tanda-tanda akan naik atau stabil, dimulailah aksi beli karena pasar sedang dalam keadaan diskon. Faktor psikologis dan pemahaman terhadap kategori profil risiko membantu mengendalikan diri ketika melihat kejatuhan pasar seperti ini.

Krisis terkini berdampak pada semua jenis pekerjaan, tanpa mempedulikan apakah Anda seorang karyawan, pengusaha, pedagang maupun pengelola bisnis online. Timbul desakan untuk mengeluarkan kas lebih untuk membeli perlengkapan perlindungan guna menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh.

Karena lonjakan pengeluaran bulanan selama beberapa waktu ke depan, baik itu untuk mencukupi gizi makanan, mengonsumsi vitamin tambahan secara rutin, sampai melengkapi diri dengan alat sanitasi yang harganya melonjak seperti masker dan cairan disinsfektan, evaluasi keuangan bisa menjadi langkah awal untuk memaksimalkan uang yang dimiliki sekarang dan menginvestasikannya untuk menciptakan sumber cash flow baru yang dapat membantu memperkuat arus pendapatan kita di samping pendapatan yang kita miliki sekarang.

Seperti yang sebelumnya dibahas pada artikel Relevansi menabung di era 4.0, pembaca disarankan untuk senantiasa memberdayakan uang yang sudah disisihkan agar memberikan return seefektif mungkin dengan memanfaatkan instrumen yang dapat memberikan penghasilan cukup stabil dan aman di atas angka inflasi, seperti deposito sampai ke instrumen pinjaman pada platform peer to peer lending sebagai peminjam. 

 

 

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s