Langkah bangun fondasi keuangan dari George S. Clason

Salah satu buku terkenal yang membahas mengenai keuangan ini membangun fondasi perilaku mengatur keuangan yang baik dan benar bagi mereka yang bahkan belum tahu dari mana harus memulai. Meski pertama kali diterbitkan pada 1926, pemikirannya masih relevan dengan situasi sekarang.

ASPI financial advisor Agus Chang, B.Sc, MPM, merangkum intisari buku pilihan think archipelago minggu ini The Richest Man in Babylon karya George S. Clason ke dalam lima poin pembelajaran.

Poin pertama, setiap menerima pendapatan, sisihkan sebagian di depan untuk diri sendiri sebelum menyalurkannya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dengan membayar kepada orang lain atas jasa atau barang yang kita terima.

Filosofi di balik ini adalah dengan menyisihkan uang untuk diri sendiri bukan berarti kita menggunakannya untuk keinginan sendiri, namun untuk mempertebal kantong kita, serta bagian dari penghargaan (gratification) atas jerih payah sendiri.

Baca juga: Memaksimalkan kebutuhan dan keinginan

Porsi pendapatan yang dianjurkan untuk disisihkan adalah 10 persen. Hal ini juga dapat dimaknai sebagai cara menyisihkan uang yang baik, yaitu dengan menyisihkan dulu, kemudian disisakan untuk pengeluaran, dibandingkan dengan cara yang umum di mana kita menentukan target terlebih dahulu namun baru menabung sisanya di akhir periode setelah membayar kebutuhan dan keinginan. 

Poin kedua adalah kontrol pengeluaran. Buku ini menekankan perbedaan antara pengeluaran atas kebutuhan dengan keinginan. Keinginan cenderung melebihi besarnya pendapatan. Pencatatan pengeluaran dibutuhkan untuk dapat mencapai target penyisihan minimal 10% dan mengidentifikasi pengeluaran apa yang mengakibatkan terjadinya kebocoran anggaran dan mengevaluasi pengeluaran apa yang dapat dihentikan guna mencapai target penyisihan minimal.

Poin ketiga adalah pergunakan dengan bijak uang yang disisihkan untuk investasi. Investasi bijak yang dimaksud di sini menekankan pada pengetahuan awal pra-investasi yang tepat pada bidang atau instrumen yang hendak digeluti. Banyak yang mengabaikan pengetahuan investasi terjerumus akibat mengira bahwa yang dilakukan adalah investasi meski sebenarnya adalah spekulasi.

George mengangkat isu tentang menitipkan sejumlah nilai investasi pada orang lain dalam cerita kisah mengenai sang peminjam emas. Pelajaran yang dapat diambil adalah bila hendak menginvestasikan uang pada orang lain, pastikan menginvestasikannya pada pihak yang memiliki pengetahuan yang menunjang imbal hasil yang baik. Jangan berikan kepada orang yang lalai dan tidak punya kemampuan mengembalikan, atau bahkan kepada penipu yang menjanjikan imbal hasil yang terlalu memikat. Nasihat lainnya untuk poin ini adalah pentingnya melakukan investasi yang dapat menjamin modal yang terlindungi. Tampak jelas bahwa pendekatan buku ini terhadap investasi bersifat konservatif.

Baca juga: Kesempatan di balik pandemi

Poin keempat adalah mempekerjakan uang yang diperoleh dari penghasilan investasi, atau konsep bunga berbunga di mana untuk setiap hasil investasi yang diperoleh diinvestasikan kembali.

Kapan kita dapat mencicipi hasil investasi? Jawabannya terdapat pada mengulang siklus kembali poin pertama yang mengajarkan untuk menyisihkan 10% penghasilan. Bila diterapkan secara disiplin, maka uang yang disisihkan akan semakin besar sejalan dengan penghasilan yang meningkat. Di saat yang sama, 90% penghasilan yang digunakan untuk selain investasi juga akan meningkat, sebab seiring dengan peningkatan penghasilan, gaya hidup juga meningkat.

Poin kelima adalah memastikan agar perencanaan keuangan terjaga di masa depan. Meski tidak dijelaskan langkah spesifik bagaimana merencanakannya, namun menerapkan poin-poin pembelajaran sebelumnya bertujuan untuk mencapai tujuan akhir di poin kelima ini. akan ada saatnya kita tidak dapat secara aktif lagi bekerja dan dapat menuai apa yang sudah kita bangun sehingga pada masa tua hidup senantiasa sejahtera, serta dapat menyiapkan warisan untuk keluarga dan keturunan.

Walter Mischel self control

Photo by David Dini, courtesy of Columbia University

Walter Mischel (1930 – 2018) adalah salah satu psikolog paling berpengaruh di dunia berkat penelitian berkelanjutan sepanjang karirnya sebagai pengajar Psikologi, mulai dari Universitas Colorado, Harvard, Stanford, hingga Columbia, terhadap perilaku manusia dari segi kemampuan untuk mengendalikan diri (self-control) dan penundaan kesenangan (delaying gratification).

Pengakuan atas kontribusinya terbukti dari pengangkatan dirinya sebagai anggota American Academy of Arts and Sciences pada tahun 1991, kemudian anggota National Academy of Sciences pada 2004, dan presiden Association for Psychological Science (APS) pada 2007. Penghargaan yang telah ia terima antara lain University of Louisville Grawemeyer Award in Psychology pada 2011, kemudian the Golden Goose Award, bersama rekannya sesama anggota APS Yuichi Shoda dan Philip Peake atas pencapaian besar di bidang ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat

Karya penting Walter berasal dari hasil eksperimen ia dan koleganya terhadap pengendalian diri dan kualitas kehidupan beberapa dekade kemudian, yang dikenal dengan marshmallow test.

Mengutip jurnal yang diterbitkan Asosiasi Psikologi Amerika (APA), berawal dari pengukuran kemampuan peserta eksperimen dari kalangan anak-anak untuk menahan godaan menikmati marshmallow, eksperimen ini dilanjutkan oleh para kolega B.J. Casey, PhD, Yuichi Shoda, PhD, dan lainnya hingga penemuan kausalitas dalam jangkauan yang lebih luas antara pengendalian diri di masa kecil dan seberapa baik pencapaian dalam hidup mereka saat sudah dewasa di usia 40an.

Mengutip rangkuman dari ASPI financial advisor Agus Chang, B.Sc, MPM, dalam artikel Tes Marshmallow tolok ukur potensi sukses, penelitian lanjutan menunjukkan mereka yang ketika kecil menunggu untuk mendapatkan lebih banyak cenderung memiliki kehidupan yang lebih bahagia, lebih sukses, dan secara finansial lebih mapan dibandingkan dengan mereka yang dulu memilih langsung memakan kudapan yang ada di hadapan.

Walter lahir di Vienna, Austria dari keluarga keturunan Yahudi. Mereka menyelematkan diri dari ancaman persekusi rasial Nazi (holocaust) ke Amerika Serikat pada 1938. Ia besar di Brooklyn, mendapatkan gelar S1 dan S2 di New York University, dan gelar PhD psikologi klinis di the Ohio State University pada 1956.

Menurut testimoni orang-orang di sekelilingnya dari obituari yang diterbitkan APS, Walter sudah terbiasa dengan insomnia yang membuatnya hanya tertidur 4-5 jam sehari. Ia tidak pernah mengeluh meski didiagnosa penyakit celiac, sejenis penyakit autoimun, pada usia 40an, atau osteoporosis pada usia 70an. Ia justru membalikkan situasi buruk dengan, misalnya, berpetualang mencari alternatif kuliner yang belum pernah dicicipinya, atau giat berolahraga untuk menurunkan berat badan demi melawan penyakit-penyakitnya.

Walter juga tertarik pada psikologi kepribadian dan konsep adaptasi manusia terhadap perubahan lingkungan yang dramatis. Ia mengambil contoh ayahnya yang ia gambarkan hidup dengan kebanggaan di tengah kemapanan karirnya di kampung halaman, dan ibunya yang mudah iritasi dan emosional di rumah. Setelah mereka menetap di New York, ayahnya bekerja sebagai karyawan di toko dengan kepribadian yang berubah, kini minder, dan ibunya yang menyadari bahwa keluarga butuh uang untuk bertahan hidup, bekerja sebagai pelayan, dan berubah menjadi penyemangat hidup keluarga.

Diingat oleh para murid dan rekannya sebagai seorang pecinta seni rupa di luar dedikasinya terhadap ilmu psikologi, seorang teman yang telah mengenalnya 20 tahun mengatakan tidak ada studi kepribadian sepenting penemuan Walter semenjak karya Sigmund Freud.

Namun, dari artikel The New Yorker oleh Maria Konnikova yang dulu adalah murid S2 Walter saat di Columbia University pada 2008, Walter diketahui menjadi seorang pecandu rokok dan penghisap rokok tembakau pipa. Ketika diwawancarai, ia mengaku sebagai perokok 3 bungkus sehari, sebelum ia memutuskan berhenti, meski butuh perjuangan melewati fase putus sambung, setelah melihat seorang pasien sekarat kasus perokok kronis di unit kedokteran Stanford University.

Dari sana, setiap kali ada dorongan, ia menciptakan gambaran mengerikan tentang perokok sekarat tersebut di benaknya yang kemudian membuat ia mengurungkan niat merokok, selamanya.

Baca juga: Tes Marshmallow tolok ukur potensi sukses

Mischel Walter menerbitkan buku pertamanya The Marshmallow test: mastering self control pada tahun 2014 di usia 84 tahun yang berisi kumpulan memoar, ilmu pengetahuan, dan panduan.

Buku tersebut memandu pembaca menciptakan faktor yang dapat mendinginkan (cool) dorongan kuat atau faktor impulsif (hot). Walter percaya bahwa kemampuan untuk menunda kesenangan sama dengan kemampuan untuk membuat pilihan yang baik di tengah godaan. Dengan begitu kita meraih kebebasan dalam arti sesungguhnya: bebas dari faktor impulsif dalam pengambilan keputusan yang baik.

Sama seperti ia mencontohkan pengendalian diri dalam perjuangannya ketika memutuskan berhenti merokok.