Walter Mischel self control

Photo by David Dini, courtesy of Columbia University

Walter Mischel (1930 – 2018) adalah salah satu psikolog paling berpengaruh di dunia berkat penelitian berkelanjutan sepanjang karirnya sebagai pengajar Psikologi, mulai dari Universitas Colorado, Harvard, Stanford, hingga Columbia, terhadap perilaku manusia dari segi kemampuan untuk mengendalikan diri (self-control) dan penundaan kesenangan (delaying gratification).

Pengakuan atas kontribusinya terbukti dari pengangkatan dirinya sebagai anggota American Academy of Arts and Sciences pada tahun 1991, kemudian anggota National Academy of Sciences pada 2004, dan presiden Association for Psychological Science (APS) pada 2007. Penghargaan yang telah ia terima antara lain University of Louisville Grawemeyer Award in Psychology pada 2011, kemudian the Golden Goose Award, bersama rekannya sesama anggota APS Yuichi Shoda dan Philip Peake atas pencapaian besar di bidang ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat

Karya penting Walter berasal dari hasil eksperimen ia dan koleganya terhadap pengendalian diri dan kualitas kehidupan beberapa dekade kemudian, yang dikenal dengan marshmallow test.

Mengutip jurnal yang diterbitkan Asosiasi Psikologi Amerika (APA), berawal dari pengukuran kemampuan peserta eksperimen dari kalangan anak-anak untuk menahan godaan menikmati marshmallow, eksperimen ini dilanjutkan oleh para kolega B.J. Casey, PhD, Yuichi Shoda, PhD, dan lainnya hingga penemuan kausalitas dalam jangkauan yang lebih luas antara pengendalian diri di masa kecil dan seberapa baik pencapaian dalam hidup mereka saat sudah dewasa di usia 40an.

Mengutip rangkuman dari ASPI financial advisor Agus Chang, B.Sc, MPM, dalam artikel Tes Marshmallow tolok ukur potensi sukses, penelitian lanjutan menunjukkan mereka yang ketika kecil menunggu untuk mendapatkan lebih banyak cenderung memiliki kehidupan yang lebih bahagia, lebih sukses, dan secara finansial lebih mapan dibandingkan dengan mereka yang dulu memilih langsung memakan kudapan yang ada di hadapan.

Walter lahir di Vienna, Austria dari keluarga keturunan Yahudi. Mereka menyelematkan diri dari ancaman persekusi rasial Nazi (holocaust) ke Amerika Serikat pada 1938. Ia besar di Brooklyn, mendapatkan gelar S1 dan S2 di New York University, dan gelar PhD psikologi klinis di the Ohio State University pada 1956.

Menurut testimoni orang-orang di sekelilingnya dari obituari yang diterbitkan APS, Walter sudah terbiasa dengan insomnia yang membuatnya hanya tertidur 4-5 jam sehari. Ia tidak pernah mengeluh meski didiagnosa penyakit celiac, sejenis penyakit autoimun, pada usia 40an, atau osteoporosis pada usia 70an. Ia justru membalikkan situasi buruk dengan, misalnya, berpetualang mencari alternatif kuliner yang belum pernah dicicipinya, atau giat berolahraga untuk menurunkan berat badan demi melawan penyakit-penyakitnya.

Walter juga tertarik pada psikologi kepribadian dan konsep adaptasi manusia terhadap perubahan lingkungan yang dramatis. Ia mengambil contoh ayahnya yang ia gambarkan hidup dengan kebanggaan di tengah kemapanan karirnya di kampung halaman, dan ibunya yang mudah iritasi dan emosional di rumah. Setelah mereka menetap di New York, ayahnya bekerja sebagai karyawan di toko dengan kepribadian yang berubah, kini minder, dan ibunya yang menyadari bahwa keluarga butuh uang untuk bertahan hidup, bekerja sebagai pelayan, dan berubah menjadi penyemangat hidup keluarga.

Diingat oleh para murid dan rekannya sebagai seorang pecinta seni rupa di luar dedikasinya terhadap ilmu psikologi, seorang teman yang telah mengenalnya 20 tahun mengatakan tidak ada studi kepribadian sepenting penemuan Walter semenjak karya Sigmund Freud.

Namun, dari artikel The New Yorker oleh Maria Konnikova yang dulu adalah murid S2 Walter saat di Columbia University pada 2008, Walter diketahui menjadi seorang pecandu rokok dan penghisap rokok tembakau pipa. Ketika diwawancarai, ia mengaku sebagai perokok 3 bungkus sehari, sebelum ia memutuskan berhenti, meski butuh perjuangan melewati fase putus sambung, setelah melihat seorang pasien sekarat kasus perokok kronis di unit kedokteran Stanford University.

Dari sana, setiap kali ada dorongan, ia menciptakan gambaran mengerikan tentang perokok sekarat tersebut di benaknya yang kemudian membuat ia mengurungkan niat merokok, selamanya.

Baca juga: Tes Marshmallow tolok ukur potensi sukses

Mischel Walter menerbitkan buku pertamanya The Marshmallow test: mastering self control pada tahun 2014 di usia 84 tahun yang berisi kumpulan memoar, ilmu pengetahuan, dan panduan.

Buku tersebut memandu pembaca menciptakan faktor yang dapat mendinginkan (cool) dorongan kuat atau faktor impulsif (hot). Walter percaya bahwa kemampuan untuk menunda kesenangan sama dengan kemampuan untuk membuat pilihan yang baik di tengah godaan. Dengan begitu kita meraih kebebasan dalam arti sesungguhnya: bebas dari faktor impulsif dalam pengambilan keputusan yang baik.

Sama seperti ia mencontohkan pengendalian diri dalam perjuangannya ketika memutuskan berhenti merokok.

About think archipelago

Since 2012, think archipelago has provided concise business and management publication of various topics to cater for the stakeholders at Archipelago Strategic & Partners Indonesia (ASPI). As it expands into reaching wider audience, the ASPI media subsidiary now also features insightful articles covering environmental and social issues, art studies, history, accompanied by critical review by ASPI professionals.

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s