All posts by Agus Chang

Langkah bangun fondasi keuangan dari George S. Clason

Salah satu buku terkenal yang membahas mengenai keuangan ini membangun fondasi perilaku mengatur keuangan yang baik dan benar bagi mereka yang bahkan belum tahu dari mana harus memulai. Meski pertama kali diterbitkan pada 1926, pemikirannya masih relevan dengan situasi sekarang.

ASPI financial advisor Agus Chang, B.Sc, MPM, merangkum intisari buku pilihan think archipelago minggu ini The Richest Man in Babylon karya George S. Clason ke dalam lima poin pembelajaran.

Poin pertama, setiap menerima pendapatan, sisihkan sebagian di depan untuk diri sendiri sebelum menyalurkannya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dengan membayar kepada orang lain atas jasa atau barang yang kita terima.

Filosofi di balik ini adalah dengan menyisihkan uang untuk diri sendiri bukan berarti kita menggunakannya untuk keinginan sendiri, namun untuk mempertebal kantong kita, serta bagian dari penghargaan (gratification) atas jerih payah sendiri.

Baca juga: Memaksimalkan kebutuhan dan keinginan

Porsi pendapatan yang dianjurkan untuk disisihkan adalah 10 persen. Hal ini juga dapat dimaknai sebagai cara menyisihkan uang yang baik, yaitu dengan menyisihkan dulu, kemudian disisakan untuk pengeluaran, dibandingkan dengan cara yang umum di mana kita menentukan target terlebih dahulu namun baru menabung sisanya di akhir periode setelah membayar kebutuhan dan keinginan. 

Poin kedua adalah kontrol pengeluaran. Buku ini menekankan perbedaan antara pengeluaran atas kebutuhan dengan keinginan. Keinginan cenderung melebihi besarnya pendapatan. Pencatatan pengeluaran dibutuhkan untuk dapat mencapai target penyisihan minimal 10% dan mengidentifikasi pengeluaran apa yang mengakibatkan terjadinya kebocoran anggaran dan mengevaluasi pengeluaran apa yang dapat dihentikan guna mencapai target penyisihan minimal.

Poin ketiga adalah pergunakan dengan bijak uang yang disisihkan untuk investasi. Investasi bijak yang dimaksud di sini menekankan pada pengetahuan awal pra-investasi yang tepat pada bidang atau instrumen yang hendak digeluti. Banyak yang mengabaikan pengetahuan investasi terjerumus akibat mengira bahwa yang dilakukan adalah investasi meski sebenarnya adalah spekulasi.

George mengangkat isu tentang menitipkan sejumlah nilai investasi pada orang lain dalam cerita kisah mengenai sang peminjam emas. Pelajaran yang dapat diambil adalah bila hendak menginvestasikan uang pada orang lain, pastikan menginvestasikannya pada pihak yang memiliki pengetahuan yang menunjang imbal hasil yang baik. Jangan berikan kepada orang yang lalai dan tidak punya kemampuan mengembalikan, atau bahkan kepada penipu yang menjanjikan imbal hasil yang terlalu memikat. Nasihat lainnya untuk poin ini adalah pentingnya melakukan investasi yang dapat menjamin modal yang terlindungi. Tampak jelas bahwa pendekatan buku ini terhadap investasi bersifat konservatif.

Baca juga: Kesempatan di balik pandemi

Poin keempat adalah mempekerjakan uang yang diperoleh dari penghasilan investasi, atau konsep bunga berbunga di mana untuk setiap hasil investasi yang diperoleh diinvestasikan kembali.

Kapan kita dapat mencicipi hasil investasi? Jawabannya terdapat pada mengulang siklus kembali poin pertama yang mengajarkan untuk menyisihkan 10% penghasilan. Bila diterapkan secara disiplin, maka uang yang disisihkan akan semakin besar sejalan dengan penghasilan yang meningkat. Di saat yang sama, 90% penghasilan yang digunakan untuk selain investasi juga akan meningkat, sebab seiring dengan peningkatan penghasilan, gaya hidup juga meningkat.

Poin kelima adalah memastikan agar perencanaan keuangan terjaga di masa depan. Meski tidak dijelaskan langkah spesifik bagaimana merencanakannya, namun menerapkan poin-poin pembelajaran sebelumnya bertujuan untuk mencapai tujuan akhir di poin kelima ini. akan ada saatnya kita tidak dapat secara aktif lagi bekerja dan dapat menuai apa yang sudah kita bangun sehingga pada masa tua hidup senantiasa sejahtera, serta dapat menyiapkan warisan untuk keluarga dan keturunan.

Langkah adaptasi hadapi krisis

Artikel ini dibuat atas keprihatinan terhadap komunitas kita yang terpukul sejak pandemi melanda, dengan harapan dapat membantu rekan-rekan bangkit dan menjadi lebih tangguh. Setiap krisis yang datang tidak akan menetap, tetapi akan berlalu.

Tidak ada yang pasti di dunia kecuali perubahan. Dan di tengah perubahan yang tak terelakkan, kita harus beradaptasi, atau gamblangnya terpaksa beradaptasi. Satu teori mengenai keberlangsungan hidup mengatakan bahwa bukan yang terkuat, melainkan yang paling dapat beradaptasi, yang akan bertahan.

Belajar beradaptasi, itu yang harus difokuskan ketika krisis datang. Hanya dengan tindakan dan evaluasi, krisis dapat teratasi. Krisis memukul banyak industri dan bisnis, namun ada pembelajaran besar yang terkandung di dalamnya.

COVID-19 menjadi biang pandemi pertama dalam 102 tahun sejak 1918 di mana saat itu dunia lumpuh karena wabah flu spanyol selama 3 tahun. Artinya ini bukan krisis yang selama ini sering diramalkan terkait resesi atau karena terjadinya perang antar negara.

Apa pun itu, yang ingin digarisbawahi, krisis tidak dapat diketahui kapan akan terjadi dan bisa menimpa siapa saja. Yang dapat dilakukan adalah bagaimana kita beradaptasi dengan keadaan.

Fujifilm dan Kodak menjadi salah satu contoh klasik bagaimana perubahan harus segera direspon dengan beradaptasi. Begitu berjayanya Kodak pada masa lampau sehingga orang-orang sempat menggunakan sinonim kamera saku analog dengan sebutan kodak. Kebiasaan ini bertahan sampai akhirnya pasar digital kamera menemukan momentum.

Sebuah ironi bagi Kodak mengingat paten komponen digital kamera pertama di tahun 1971 didaftarkan oleh Louis A. Lopes Jr dan Owen F. Thomas, pekerja peneliti dan pengembangan (R&D) di Kodak yaitu David Lewis mengembangkan kamera CCD pertama di tahun 1974, dan dikembangkan lebih lanjut oleh Steven Sasson, juga bekerja di Kodak, sehingga menciptakan prototype awal kamera digital.

Sayangnya petinggi Kodak melihat hal ini bukan sebagai peluang menjadi pionir, namun ancaman kemapanan bisnis mereka. Kamera digital mulai dikenal oleh masyarakat umum di pertengahan 90an sampai mencapai momentum popularitas pada 2003. Setahun kemudian, Kodak mengumumkan tidak lagi menjual roll film dan akhirnya menyatakan bangkrut di tahun 2012.

Di sisi lain, Fujifilm menyikapi perubahan dengan cara yang berbeda. Tahun 2000, Shigataka Komori ditunjuk untuk menjadi CEO dan reformasi di tubuh Fujifilm pun terjadi terutama di bidang R&D, di mana Komori memerintahkan untuk mengeluarkan daftar teknologi yang dikembangkan secara internal oleh Fujifilm yang dapat digunakan untuk kebutuhan di masa mendatang.

Kantor pusat Fujifilm, Tokyo

Kebijakan yang diambil setelah melihat perubahan di pasar industri fotografi, dan peluang melakukan diversifikasi ke pasar lain seperti panel LCD, farmasi, bahkan kosmetik, telah menyelamatkan Fujifilm dari nasib serupa yang dialami Kodak.

Sebagai perbandingan, pada awal milenium di tahun 2000, penjualan Kodak sebesar 14 miliar dolar AS menurun 48% menjadi 7,2 miliar dolar AS di tahun 2010. Sementara Fujifilm pada tahun 2000 membukukan penjualan 1,4 triliun yen, dilanjutkan kenaikan 57% menjadi 2,2 triliun yen di tahun 2010.

Berangkat dari inspirasi di atas, ditambah ketidakpastian kapan perekonomian bisa kembali menggeliat, berikut tips beradaptasi yang diilustrasikan dalam studi kasus.

Pip adalah seorang karyawan suatu perusahaan yang terimbas oleh krisis akibat COVID-19 sehingga terpaksa dirumahkan. Penghasilan Pip dalam sebulan 4,500,000 rupiah. Pip tidak mengetahui secara pasti dalam siklus 1 bulan, berapa uang yang dia berhasil sisihkan baik itu untuk dikumpulkan sebagai modal katering rumahan yang ia rencanakan, maupun yang mau diinvestasikan. Yang dia tahu, dia merasa sudah menabung dengan penghasilan bulanannya tersebut.

Pip juga merasa nyaman karena dapat manfaat asuransi dari perusahannya, sehingga imbas dari pemutusan hubungan kerja ini adalah hilangnya penghasilan bulanan dan manfaat asuransi yang sebelumnya diberikan di perusahaan, serta harus bertahan dengan tabungan.

Berdasarkan studi kasus ini, langkah awal yang perlu dilakukan Pip adalah introspeksi positif. Pip perlu mengesampingkan faktor luar penyebab terjadinya kesulitan yang seringkali berada di luar kontrol dirinya. Contohnya, mengumpat perusahaan tempatnya bekerja tidak berperikemanusiaan, bahkan berencana menuntut.

Meski faktor luar berkontribusi langsung terhadap krisis, menyalahkan faktor luar cenderung membuat diri beralasan untuk tidak memperbaiki keadaan. 

Sebaliknya, Pip perlu fokus pada langkah perbaikan diri. Faktor internal yang mencakup koreksi diri dimulai dengan beberapa pertanyaan instrospektif, seperti, “Apa langkah selanjutnya yang harus saya ambil untuk mengatasi hal ini?”  Selanjutnya, apabila krisis sudah mulai terkontrol, “Apa yang seharusnya saya lakukan agar dapat mengatasi krisis serupa di masa depan?”

Pertanyaan negatif seperti, “Mengapa hal ini harus terjadi pada saya?” atau “Mengapa tidak ada yang menolong saya pada masa sulit ini?” membuat kita mencari alasan dan terus meratapi nasib.

Sebaliknya, pertanyaan yang positif akan membangun momentum yang dibutuhkan untuk bangkit.

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan Pip adalah identifikasi menyeluruh. Berdasarkan pertanyaan introspektif tersebut Pip mulai dapat mengidentifikasi kesalahan sehingga bisa segera melakukan langkah perbaikan.

Pertanyaan tentang langkah selanjutnya yang diambil untuk mengatasi hal ini dapat dijawab dengan sejumlah rencana, mulai dari mencari pekerjaan lain, atau melihat hal ini sebagai kesempatan untuk memulai bisnis katering yang sudah direncanakan dengan protokol higienis atau sistem manajemen keamanan pangan, serta jasa pengantaran yang kian populer digunakan kini, atau bisa juga memperoleh pemasukan dengan menjadi bagian dari garda depan melawan COVID-19.

Ketika keadaan berangsur membaik, pertanyaan selanjutnya seperti apa yang seharusnya dilakukan agar dapat mengatasi krisis serupa di masa depan, mungkin dapat dijawab dengan pengaturan keuangan yang lebih disiplin seperti rutin mencatat pengeluaran sehingga dapat mengetahui kondisi keuangan, melakukan investasi untuk menambah nilai lebih terhadap uang yang dimiliki, mencadangkan dana untuk menghadapi situasi darurat setelah kehilangan pekerjaan, mempertimbangkan memiliki asuransi pribadi sesuai kemampuan.

Langkah ketiga adalah aksi. Setelah melakukan introspeksi terarah dan identifikasi menyeluruh, maka aksi sekecil apa pun menjadi berarti. Aksi akan menghasilkan hasil, hasil yang didapatkan bisa berupa keberhasilan atau kegagalan. Pada fase inilah determinasi penting untuk dipahami. Hasil yang berhasil tentu akan baik dan memberikan kepercayaan diri untuk melanjutkan atau memulai hal lain yang selanjutnya direncanakan, lain halnya jika hasil yang didapatkan berupa kegagalan, untuk itu determinasi sangat diperlukan untuk mencapai hasil yang diharapkan meski sebelumnya menemui kegagalan. Dengan determinasi, kita akan memahami bahwa kegagalan adalah pembelajaran dan menanyakan kembali langkah lain apa yang bisa dilakukan selain yang sudah dicoba sebelumnya.

Meski berurutan, 2 langkah sebelumnya sia-sia apabila tidak ada tindakan nyata sampai hasil yang diharapkan tercapai untuk menyelesaikan proses adaptasi. Tanpa aksi dan kebulatan tekad untuk mencapai yang diinginkan, walaupun kita sudah menjalani dengan baik introspeksi dan identifikasi, Pip akan kembali ke titik nadir semula.

Salah satu tips untuk semakin memperbesar probabilitas melakukan aksi adalah dengan mendokumentasikan kapan dan di mana rencana yang sudah kita tetapkan sebelumnya.

Latih diri kita dengan tiga langkah adaptasi di atas agar selalu bisa mengatasi perubahan yang merupakan hal yang pasti terjadi dalam hidup. 

Tes Marshmallow tolok ukur potensi sukses

Foto: Antoine Doyen

Artikel ini merangkum bagaimana sebuah percobaan sederhana bisa menggambarkan perilaku keuangan seseorang berdasarkan teori yang pertama kali digagas oleh Walter Mischel saat ia menjadi dosen psikologi sosial dan teori kepribadian di Universitas Stanford pada tahun 1972.

Tujuan dari tes ini tidak hanya untuk mengukur keberhasilan seseorang dalam hal pencapaian dari aspek finansial, namun juga tingkat pencapaian perasaan bahagia serta ukuran kebahagiaan lainnya seperti keberhasilan dalam berkarir secara profesional, keberhasilan untuk berperilaku baik dan tidak mudah terjerumus dalam pola hidup menyimpang, serta kesuksesan dalam hidup.

Michio Kaku, fisikawan yang pernah dinobatkan sebagai 100 orang terpintar di New York oleh New York Magazine mendukung keakuratan tes ini dalam menilai tingkat keberhasilan dan pencapaian seseorang yang dapat melalui tes ini dengan baik.

Dalam suatu wawancara, Michio mengatakan, “Ketika Anda melihat anak-anak dan apa yang membuat mereka sukses, Anda akan menyadari bahwa hampir semua teori adalah keliru, seperti memiliki IQ yang tinggi, namun banyak yang memiliki IQ tinggi menjadi kaum marjinal di masyarakat. Marshmallow test adalah tes psikologi yang dapat berkorelasi terhadap kesuksesan dalam hidup.”

Eksperimen Marshmallow dimulai dengan memperhatikan perilaku puluhan anak berusia 4 sampai 6 tahun ketika diberikan penawaran kudapan yang mereka sukai, misalnya permen, biskuit, atau marshmallow.

Mereka diberi 2 pilihan: Pertama, mereka dapat makan kudapan yang mereka sukai tersebut sekarang namun hanya mendapat 1 buah saja. Kedua, mereka dapat makan kudapan tersebut nanti, 15 menit dari sekarang, dan akan mendapatkan 2 kali lebih banyak daripada yang mereka dapatkan sekarang.

Tentu dari opsi yang ditawarkan ini, sebagian berupaya menunggu untuk mendapatkan lebih, dan sebagian lainnya langsung memakannya.

Penelitian dilanjutkan 30 tahun mendatang, ketika anak-anak tersebut sudah dewasa. Mereka diundang kembali untuk diwawancarai mengenai bagaimana kehidupan mereka.

Hasilnya, mereka yang ketika kecil menunggu untuk mendapatkan lebih banyak cenderung memiliki kehidupan yang lebih bahagia, lebih sukses, dan secara finansial lebih mapan dibandingkan dengan mereka yang dulu memilih langsung memakan kudapan yang ada di hadapan.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian aspek dari perilaku tersebut mencerminkan karakter seseorang. Namun kabar baiknya, perilaku dapat dilatih dan dipraktikkan dalam kehidupan meski kita sudah tumbuh dewasa.

Berbeda dengan hewan, manusia mengerti konsep waktu. Seseorang bisa memahami bahwa jika dia tahu dengan menunda kesenangan sekarang dia bisa mencapai hal yang lebih baik di masa datang, maka akan muncul pertimbangan yang berujung pada keputusan untuk menjalani hal yang perlu dilakukan dahulu agar mendapatkan hasil lebih baik.

Almarhum Ciputra dalam beberapa kesempatan menceritakan bagaimana dia sudah harus membanting tulang dan harus membiasakan diri menunda keinginannya sementara teman seusianya dapat bermain dan bersekolah sewajarnya.

Salah satu penyebabnya adalah kehilangan ayahnya ketika dia masih berusia 12 tahun. Ciputra menceritakan perubahan dirinya dari manja menjadi kuat, dari yang semula tidak pernah berkotor-kotoran di kebun, hingga terpaksa harus memeras keringat setiap hari mengolah tanah agar sekeluarga dapat makan, dan belajar berburu binatang di hutan. Hal tersebut yang akhirnya menempa beliau menjadi taipan properti dan filantropis yang kita kenal sekarang.

Terkait keuangan, khususnya dalam berinvestasi, yang mana bertujuan mengalokasikan sejumlah uang untuk memperoleh penghasilan atau keuntungan, pada praktiknya kita mengendalikan dorongan menggunakan uang yang dimiliki sekarang untuk hasil yang lebih baik di masa mendatang.

Menyisihkan uang pun demikian. Kita memiliki tujuan di depan yang lebih besar dari yang bisa dicapai sekarang.

Berdonasi merupakan sesuatu yang sangat relevan dalam membantu masyarakat dan tim medis khususnya yang bisa dilakukan di masa sulit ini.

Seorang donatur tergerak atas kerelaan mendahulukan masyarakat yang lebih membutuhkan, dan menunda kebutuhan pribadinya.

Agar konsisten mempraktikkan hal ini dengan maksimal, penting sebelumnya untuk menetapkan apa tujuan hidup di masa depan, dan seberapa besar kita bersedia menunda hal lain yang menyenangkan sekarang demi tujuan yang lebih besar di depan?

Kesempatan di balik pandemi

Sejarah mencatat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, terjadi satu peristiwa luar biasa yang berakibat pada perekonomian suatu kawasan bahkan global setiap 5 tahun. Kilas balik peristiwa mulai dari krisis moneter di Asia (khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara) di tahun 1997 – 1998, pandemi SARS tahun 2003, subprime mortgage yang bermula di Amerika Serikat tahun 2007 dan berimbas secara tidak langsung pada krisis keuangan Eropa, wabah MERS di Timur Tengah pada 2012 dan sempat dilaporkan juga terjadi di Korea, hingga pandemi COVID-19 yang melanda saat ini.

Menurut Dana Moneter Internastional (IMF), melalui pernyataan Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional Lesetja Kganyago dan direktur Kristalina Georgieva, ekonomi dan keuangan global mengalami krisis karena pandemi ini.

Menggunakan analogi 2 sisi mata uang, di satu sisi pandemi COVID-19 memperlihatkan sebuah krisis dalam skala global, namun di sisi lain sarat peluang yang bisa diraih melalui pengendalian diri dan pembelajaran dari situasi yang dihadapi.

Artikel ini menyajikan 3 kesempatan yang dapat dimanfaatkan dari situasi pandemi COVID-19 untuk menghasilkan sesuatu yang positif dan produktif.

Melakukan kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan berdampak besar pada risiko tertular atau tetap sehat. Masyarakat semakin sadar akan pentingnya nutrisi yang sehat dan tentang apa yang mereka makan, karena berdasarkan sejumlah penelitian wabah ini ditengarai bermula dari hewan liar yang dikonsumsi oleh manusia tanpa melewati proses memasak dengan tingkat kematangan yang aman dan higienis.

Di tengah situasi ini fokuskan daya pada apa yang bisa dilakukan. Saat bereaksi terhadap sebuah kesulitan, hal pertama yang naluriah dilakukan adalah waspada. Namun tidak berakhir di situ, setelah tahap kewaspadaan kita perlu menjalankan tindakan pencegahan yang solid, dan selanjutnya melihat peluang apa yang ada di luar sana. Salah satunya ada di bursa saham.

Sir John Templeton berujar, “Masa di mana pesimisme berada pada titik tertinggi adalah waktu terbaik untuk membeli.”

Hal ini penting untuk diketahui terutama oleh investor individual karena aksi jual masif ketika terjadi kejadian luar biasa seperti sekarang atau diistilahkan cut loss. Istilah yang kerap menyesatkan ini sebenarnya adalah pelaku pasar modal yang sudah membeli dalam jumlah besar menjual kepemilikan saham mereka dengan harga lebih rendah ketika harga masih tinggi sehingga seakan menciptakan kepanikan pasar. Efek berantai yang terjadi adalah aksi jual yang juga dilakukan oleh investor-investor retail yang terbawa suasana tanpa sepenuhnya memahami situasi yang sebenarnya.

Lalu apa sebenarnya situasi yang mendasari terjadinya aksi jual?

Pertama, para investor besar di pasar modal yang memahami siklus pasar akan menjual sahamnya untuk profit taking karena ‘waktu panen’ telah tiba. Market akan dilanda aksi jual. Keuntungan akan berlipat karena mereka mencairkan dana yang mana banyak di antaranya bahkan tetap lebih tinggi ketika pasar jatuh karena mereka sudah menabung sejak lama, maupun menggunakan prinsip cost averaging.

Kedua, setelah market konsisten turun dan terlihat tanda-tanda akan naik atau stabil, dimulailah aksi beli karena pasar sedang dalam keadaan diskon. Faktor psikologis dan pemahaman terhadap kategori profil risiko membantu mengendalikan diri ketika melihat kejatuhan pasar seperti ini.

Krisis terkini berdampak pada semua jenis pekerjaan, tanpa mempedulikan apakah Anda seorang karyawan, pengusaha, pedagang maupun pengelola bisnis online. Timbul desakan untuk mengeluarkan kas lebih untuk membeli perlengkapan perlindungan guna menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh.

Karena lonjakan pengeluaran bulanan selama beberapa waktu ke depan, baik itu untuk mencukupi gizi makanan, mengonsumsi vitamin tambahan secara rutin, sampai melengkapi diri dengan alat sanitasi yang harganya melonjak seperti masker dan cairan disinsfektan, evaluasi keuangan bisa menjadi langkah awal untuk memaksimalkan uang yang dimiliki sekarang dan menginvestasikannya untuk menciptakan sumber cash flow baru yang dapat membantu memperkuat arus pendapatan kita di samping pendapatan yang kita miliki sekarang.

Seperti yang sebelumnya dibahas pada artikel Relevansi menabung di era 4.0, pembaca disarankan untuk senantiasa memberdayakan uang yang sudah disisihkan agar memberikan return seefektif mungkin dengan memanfaatkan instrumen yang dapat memberikan penghasilan cukup stabil dan aman di atas angka inflasi, seperti deposito sampai ke instrumen pinjaman pada platform peer to peer lending sebagai peminjam. 

 

 

Memaksimalkan kebutuhan dan keinginan

Salah satu fondasi dalam kecerdasan keuangan adalah kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan dalam tingkat ekstrim akan membahayakan keberlangsungan hidup. Sedangkan keinginan, ekstrimnya, jika tidak terpenuhi pun tidak membahayakan.

Pertanyaan selanjutnya, kapan kita memenuhi keinginan kita? Apakah kita hanya boleh memenuhi apa yang kita butuhkan? Tentunya tidak sedemikian dilematis juga. Seperti yang telah dibahas di artikel 3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan , pemenuhan keinginan dapat dilakukan apabila target kita terpenuhi.

Baca juga: 3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan

Ketika hal ini konsisten dilakukan, yang terjadi adalah pertama, kita akan lebih menghargai keinginan kita, dan kedua, kita mengasosiasikan pencapaian sebagai sesuatu yang menyenangkan karena kita dapat memenuhi keinginan kita.

Jadikan keinginan sebagai alat mencapai target yang kita tetapkan, baik itu target besar dalam hidup atau spesifik mengenai target keuangan. Praktikkan target-target yang lebih mudah dengan keinginan yang kecil seperti dapat meminum soda setelah mencatat pengeluaran rutin, hingga yang lebih besar seperti dapat berkeliling dunia setelah berhasil mengumpulkan 5 milyar rupiah, misalnya.

Jadikan pemenuhan keinginan sebuah konsistensi untuk memenuhi target-target yang sudah dicanangkan. Dari sini kita akan dapat mengaitkan secara faktual dan efektif peningkatan kualitas hidup karena tercapainya target-target tersebut.

Teknik marketing sekarang sudah pandai bermain di area tipis antara kebutuhan dan keinginan serta memperhitungkan aspek psikologis.

Contohnya, penawaran diskon 20% untuk pembelanjaan minimal Rp 500.000. Banyak yang berpikir, “Wow tanggung, mumpung diskon, coba pilih barang lain yang saya inginkan.“ Padahal yang konsumen tersebut butuhkan hanya barang seharga Rp 300.000. Pada akhirnya konsumen membelanjakan lebih dari Rp 500.000 ketika seharusnya hanya perlu mengeluarkan Rp 300.000.

Kesadaran akan keinginan dan kebutuhan penting agar pembaca dapat menggunakan dorongan keinginan untuk memaksimalkan peningkatan potensi diri dan target yang ditetapkan. 

3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan

Pada 2019 Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa berdasarkan data 2017, rasio tabungan terhadap produk domestik bruto (PDB) masyarakat Indonesia sebesar 30,9% berada jauh lebih rendah dari Singapura dan China yang telah mencapai 49% , bahkan Filipina di 44%.

Kala itu, di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sardjito, mendampingi Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, berkata bahwa orang Indonesia rata-rata tidak senang menabung.

“Saya nggak bilang yang terparah, tapi memang kebiasaan kita itu consume. Nabung semua juga nggak bagus, tapi rasio saving to GDP seharusnya bagus,” kata Sardjito.

Mengutip CNBC, survei pada tahun 2019 di Amerika Serikat menunjukkan setiap rumah tangga rata-rata memiliki tabungan sebesar 8.863 dolar AS. Kelompok pasangan menikah usia di bawah 34 memiliki tabungan rata-rata 4.700 dolar AS. Kelompok lajang di rentang usia yang sama semakin memprihatinkan dengan tabungan rata-rata 2.700 dolar AS.

Survei terpisah di tahun yang sama oleh bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve mengungkapkan bahwa 4 dari 10 responden mengaku kesulitan jika harus mengalami pengeluaran tak terduga senilai 400 dolar AS, misalnya untuk perbaikan kendaraan dan peralatan elektronik rumah tangga.

Dalam merencanakan keuangan pribadi, menyisihkan uang kerap dipandang sebagai keharusan yang sifatnya menuntut, membosankan, dan melelahkan. Seseorang yang harus menyisihkan uang untuk membayar tagihan kartu kredit di bulan depan, misalnya, atau lainnya karena boros di bulan lalu, kemudian berbalik ke penghematan lagi dalam menyisihkan uang. Dari ilustrasi ini sulit terlihat persepsi yang menyenangkan di balik menyisihkan uang.

Menyisihkan uang untuk tujuan menabung/investasi butuh disiplin. Banyak orang yang mendengar kata disiplin sudah merasa malas dan menarik diri. Sebab disiplin juga erat dengan hal yang tidak menyenangkan untuk dilakukan. Asosiasi antara disiplin dan hal yang tidak menyenangkan inilah yang perlu diubah.

Kiat pertama, hubungkan suatu keharusan positif dengan impian dan harapan yang menyenangkan. Bayangkan perlunya menyisihkan uang untuk berlibur dengan keluarga, membeli mobil impian, atau memiliki rumah. Harapan memberikan semangat dalam menjalankan disiplin untuk menyisihkan uang. Dengan kata lain, kebiasaan baru terbentuk jika kebiasaan tersebut menghasilkan perasaan semangat dan menyenangkan untuk dilakukan kembali.

Kedua adalah melakukan penghargaan terhadap diri Anda, kapan pun Anda berhasil mencapai target di bulan ini. Sebagai ilustrasi, seseorang memiliki target menyisihkan satu juta rupiah untuk diinvestasikan pada bulan ini, dan pada akhir periode ternyata ia berhasil menyisihkan satu juta lima ratus ribu rupiah. Selisih uang tersebut dapat ia gunakan untuk melakukan atau membeli hal yang diinginkan.

Ketiga, hindari merencanakan banyak kebiasaan sekaligus karena akan semakin mengecilkan probabilitas keberhasilannya. Fokuskan untuk membangun satu kebiasaan positif baru. Begitu berhasil akan lebih mudah mempertahankannya, sembari merencanakan kebiasaan positif yang baru.

Konsistensi melatih disiplin pada akhirnya akan membuat kita mengasosiasikan kedisiplinan dengan sesuatu yang menyenangkan.

Disiplin adalah kunci kesuksesan, termasuk kesuksesan finansial. Hal ini bahkan ditekankan dengan sangat dramatis oleh filsuf Yunani Socrates, “Kehidupan tanpa kedisiplinan adalah kehidupan yang tidak waras!”

Pengeluaran: kunci perencanaan keuangan

Terkadang apa yang sulit dilakukan justru perlu dilakukan. Ungkapan ini menggambarkan pentingnya melakukan pencatatan terhadap pengeluaran setiap hari. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Benjamin Franklin, “Beware of little expenses, a small leak will sink a great ship.

Kasus Mike Tyson memberikan pelajaran di mana pengeluaran yang tidak terkontrol menyebabkan kebangkrutan meski penghasilan yang diterima sangat besar. Mike yang sepanjang karir tinju profesionalnya berhasil mengumpulkan hampir 300 juta dolar AS mengajukan kebangkrutan tahun 2003 karena berhutang 23 juta dolar AS. Penyebab utamanya adalah gaya hidup yang mewah dan tidak memperhitungkan pengeluaran.

Perilaku keuangan di masyarakat saat ini cenderung tidak melakukan pencatatan pengeluaran rutin mereka. Alasannya dari yang sangat sederhana seperti malas, rumit, hingga anggapan bahwa jika dicatat malah membuat mereka merasa tidak nyaman, cemas dan terbebani.

Perasaan tidak nyaman atau cemas ini kemungkinan besar disebabkan kecurigaan kuat, bahkan mungkin hendak menyangkal bahwa selama ini pengeluaran mereka besar atau ternyata malah melebihi pendapatan. Penyangkalan ini tentu tidak sehat secara psikis, dan tentu saja tidak membantu tujuan kita dalam merencanakan keuangan.

Reaksi yang tepat adalah mengambil tindakan nyata dan mulai melakukan perencanaan keuangan. Mengetahui besar pengeluaran bulanan dapat dimulai dari menetapkan dana darurat yang perlu dikumpulkan, hingga menetapkan target berupa angka spesifik dari kebebasan finansial kita. Menarik, bukan?

 Mari kita buang jauh anggapan bahwa pencatatan pengeluaran itu rumit dan membebani, karena hanya dibutuhkan waktu kurang dari 3 menit setiap hari. Selain untuk melatih disiplin menerapkan suatu rutinitas yang positif, pencatatan pengeluaran adalah variabel penting guna mengetahui angka kebebasan finansial kita.

Cara melakukan pencatatan dan pemberian template pencatatan pengeluaran yang user-friendly dan efektif menjadi salah satu materi yang saya bawakan di seminar Financial Strategy yang terakhir diadakan pada 1 Februari 2020.

Bagi rekan-rekan yang ingin mengikuti seminar ‘Financial Strategy’, dapat mengikuti lebih lanjut melalui web dan ig di @thinkarchipelago maupun ig pribadi saya di @agus5chang untuk jadwal selanjutnya.

Pentingnya pengetahuan mengelola keuangan

Masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 19 tahun untuk menyelesaikan pendidikan formal dari pendidikan anak usia dini hingga bangku kuliah. Jika ditanyakan ke orangtua atau diri sendiri, apa sebenarnya tujuan akhir 19 tahun masa pendidikan yang telah ditempuh tersebut? Mayoritas akan menjawab demi mendapatkan pekerjaan sehingga dapat menghasilkan uang.

Hal ini membawa kita ke pertanyaan selanjutnya, berapa banyak porsi yang kita dapatkan selama pendidikan formal tersebut yang mengajarkan cara mengatur keuangan yang benar? Riset menunjukkan hampir tidak ada.

Kita tidak diajarkan bagaimana cara mengelola, hanya cara menghasilkan. Ini yang menjadi salah satu alasan seseorang yang berpenghasilan besar bisa terjerumus pada hutang tidak produktif sehingga akhirnya bangkrut. Tidak ada pendidikan yang menopangnya!

Kita tidak diajarkan bagaimana cara mengelola, hanya cara menghasilkan.

Agus Chang, B.Sc, MPM

Mantan gubernur bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve Alan Greenspan mengungkapkan bahwa problem utama pada generasi dan ekonomi sekarang ini adalah tidak adanya literasi keuangan.

Robert T. Kiyosaki menyuarakan kekhawatiran yang sama di mana, “Sekolah telah melupakan pendidikan keuangan dan fokus pada kualifikasi akademis, padahal keduanya sama pentingnya.”

Mengelola keuangan seharusnya menjadi pengetahuan dasar, sama halnya dengan membaca dan berhitung. Mengetahui cara mengelola keuangan membuat Anda memiliki pengetahuan tentang pola pikir yang tepat, target dan tujuan keuangan, dan langkah-langkah konkrit mengenai apa yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut.

Sebagai bagian dari rangkaian program rutin pelatihan bisnis dan manajemen bersertifikat, Archipelago Strategic & Partners Indonesia (ASPI) bersama Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM mengajak masyarakat Indonesia untuk mulai mencari tahu cara mengelola keuangan yang benar, karena ini adalah fondasi penting yang harus dipahami demi membangun kesejahteraan dan kebebasan finansial.

Pendaftaran batch 2 seminar Financial Strategy tahun 2020 oleh Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM telah dibuka dengan mengakses link berikut:

 

Cara berinvestasi terbaik di tahun baru

Kita mengawali tahun 2020 dengan meningkatkan kesadaran bahwa investasi merupakan sesuatu yang wajib. Di artikel Relevansi menabung di Era 4.0 telah dikupas bagaimana pergeseran dari budaya menabung secara konvensional harus bergeser – jika tidak sudah bergeser – ke berinvestasi.

Pertanyaan yang muncul akibat pergeseran ini, apakah berarti mempraktikkan menabung secara konvensional (disingkat sebagai menabung) dengan menabung jaman now (diartikan sebagai berinvestasi) ini dapat dilakukan secara instan?

Jawabannya dimulai dari mengidentifikasi perbedaan fundamental antara menabung dan berinvestasi, yaitu risiko.

Menabung dapat disebut berisiko rendah, meski bukan berarti tidak ada. Apa risiko menabung?

Produktivitas

Proteksi

Risiko menabung terdiri dari 2P yaitu produktivitas & proteksi. Paparan risiko produktivitas pertama datang dari inflasi, di mana rata-rata inflasi per tahun lebih besar dari bunga bank per tahun.

Lalu ada faktor biaya di mana untuk mengimbangi biaya administrasi bulanan kita harus memiliki sejumlah dana yang menghasilkan bunga demi setidaknya menutup biaya tersebut, ironis mengingat pendekatannya jadi bertolak belakang dengan poin inflasi.

Kemudian ada faktor pajak di mana sebagai perbandingan untuk obligasi hanya dikenakan pajak 15% sedangkan tabungan 20% untuk setiap keuntungan yang diperoleh.

Baca juga: Relevansi menabung di Era 4.0

Yang kedua, proteksi. Penempatan Rp 2 miliar ke atas tidak sepenuhnya lagi dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) apabila bank di mana uang tersebut ditempatkan bermasalah. Ini adalah risiko yang sebenarnya kecil namun perlu diketahui.

Lalu bagaimana dengan menabung zaman now atau disingkat berinvestasi? Risiko dari instrumen investasi yang digunakan akan mengecil seiring bertambahnya pengetahuan kita terhadap instrumen tersebut. Hal inilah yang membawa kita ke poin mengenai investasi awal yang harus kita jalankan, yaitu pengetahuan.

Mengutip Warren Buffett, “Risiko datang dari ketidaktahuan kita tentang apa yang kita lakukan”. Jadi, suka maupun tidak suka, pergeseran ini menuntut kita untuk belajar. Karena keefektifan menabung, bahkan penempatan deposito sebagai instrumen investasi sudah lama menjadi hal yang usang.

Banyak yang menggeluti berbagai instrumen investasi seperti obligasi, saham, reksa dana sampai ke properti, terjebak dan mengalami kerugian akibat kurangnya pengetahuan terhadap instrumen-instrumen tersebut.

Jadi, investasi pertama yang terbaik yang kita bisa lakukan adalah pengetahuan akan investasi itu sendiri. Pelajari melalui buku, seminar, lakukan penelitian kecil, maka kita siap memulai untuk investasi yang sebenarnya.

Investasi pertama yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah pengetahuan.

Agus Chang, B.Sc, MPM

Seorang Warren Buffett pun memulai berinvestasi dalam pengetahuan sebelum benar-benar mendedikasikan dirinya di dunia investasi sampai akhirnya menjadi figur investor yang kita kenal sekarang. Beliau sebelumnya berguru pada Benjamin Graham yang dikenal sebagai pelopor dari value investing.

Pengetahuan adalah kunci berinvestasi. Memang betul, dengan memiliki pengetahuan tidak serta merta kita dapat menekan risiko sampai nol persen. Namun niscaya pengetahuan memperbesar keberhasilan kita dalam berinvestasi.

Urgensi dan faktor waktu dalam menabung/berinvestasi

Faktor penting pertimbangan menabung/berinvestasi adalah membentuk pola pikir, kemudian membangun hasil. Hasil yang dimaksud ada 2. Pertama, pengembangan diri dengan terbentuknya pola pikir. Kedua, pengembangan uang yang ditabung. Pembentukan pola pikir sebelumnya sudah dibahas di artikel Relevansi Menabung di Era 4.0. Pokok bahasan ini berfokus pada bagaimana memaksimalkan pengembangan uang yang ditabung.

Sumber daya paling berharga yang dapat dimiliki oleh seseorang adalah waktu. Dan waktu pula yang bisa melipatgandakan serta memaksimalkan investasi terhadap aset. Definisi waktu dalam kaitannya dengan menabung/investasi adalah sejak kapan kita memulai. Semakin muda kita memulai, semakin panjang durasi yang kita punya untuk mengakumulasikannya. Konsep ini sering disebut dengan bunga berbunga (compound interest).

Melalui compound interest kita akan mengetahui mengenai “keajaiban” angka dan menggarisbawahi dengan nyata dan logis – karena berupa perhitungan – akan pentingnya segera memulai. Ungkapan yang bisa menggambarkan hal ini adalah “Dia yang pertama memulai mendapat lebih banyak”.

Baca juga: Relevansi menabung di Era 4.0

Berikut ilustrasinya. Amir berkomitmen mulai menabung/investasi sejak usia 20 tahun sampai usia 40 tahun dan Badu baru memulai menabung/investasi sejak usia 35 tahun sampai usia 65 tahun. Akumulasi uang yang ditabung Amir selama rentang waktu 20 tahun, sejak usia 20 hingga 40 adalah Rp 1.353.389.026. Sementara akumulasi uang yang ditabung Badu selama rentang 30 tahun, sejak usia 35 hingga 65 adalah Rp 3.295.103.460.

Uang ini singkat kata diakumulasikan dengan konsep bunga berbunga sampai usia keduanya 65 tahun. Perlu diperjelas bahwa Amir, sejak tahun di mana dia akan menginjak usia 41 tahun, sudah tidak menambah lagi uang yang ditabung sampai mencapai usia 65 tahun, dan uangnya tetap diakumulasikan dengan konsep bunga berbunga. Dan Badu sejak usia 20 sampai 34 tahun diumpamakan tidak menabung sepeser pun.

Hasil ilustrasi di atas adalah, pada saat berusia 65 tahun dengan memperhitungkan imbal hasil per tahun 6%, tanpa memperhitungkan pajak, Amir akan mengumpulkan uang sebesar Rp 8.365.849.700. Sementara Badu akan mengumpulkan Rp 9.447.423.870. Secara nominal memang Badu lebih besar, namun dilihat dari perbandingan antara dana yang harus dikeluarkan dengan hasil yang didapatkan, maka Amir berhasil melipatgandakan uangnya sebesar 6,18 kali lebih banyak, sedangkan Badu hanya 2,867 kali.

Dari ilustrasi di atas, tidak tepat bila berpikir, “Usia saya sudah tidak muda lagi, berarti sudah terlambat untuk memulai.” Yang harus Anda lakukan justru segeralah memulai. Di usia berapa pun Anda berada sekarang, tidak ada yang patut disesali. Segeralah bertindak!