Category Archives: Arts

Waktu Tanpa Buku: Tubuh, Trauma dan Ingatan

Article by Selvi Agnesia


“Kita menakar antara masa lalu dan masa kini. Di antara melupakan dan mengingat, tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit dalam hal apa saja. Kamu dilanda kesakitan. Merana karena kenangan, meratapi tentang apa yang telah terjadi. Pilu dalam kesunyian…,” tutur Maria berusaha mengupas ingatannya, juga ingatan kelam yang dialami Pedro dan Sofia.

Sejak fragmen pertama, pertunjukan teater film Waktu Tanpa Buku (WTB) yang dipentaskan mainteater Bandung pada 5-6 Desember 2020 secara daring, mencoba menguliti pergulatan pikiran dan jiwa setiap tokoh yang pernah hidup di masa kediktatoran Uruguay, Amerika Selatan pada tahun 1973-1985.

Ruang hitam dengan lantai yang ditutupi tumpukan koran, kertas-kertas berserakan, sebuah mesin ketik, benang rajut berwarna merah menjadi panggung kelima aktor mainteater yang disutradarai Heliana Sinaga. Meskipun mengalih wahanakan dalam bentuk teater film namun dramaturgi dibangun dengan realisme yang ketat. Dalam durasi 2 jam, mainteater mementaskan secara utuh dan bersetia pada naskah karena setiap fragmen dirasa menjadi penting disampaikan.

“Naskah ini tentang Uruguay tetapi dibahasakan secara universal. Kami membuat slide tragedi-tragedi hak asasi manusia di Indonesia. Apakah kita akan melupakan atau menghadirkan kembali,” ungkap Heliana.

Naskah Waktu Tanpa Buku karya penulis Norwegia Lene Therese Teigen, diterjemahkan oleh Faiza Mardzoeki. Naskah ini berkisah tentang kehidupan para penyintas yang mengalami penyiksaan, penjara dan pengasingan. Naskah ini juga turut dibukukan dan beredar di toko buku, sekolah dan kelompok-kelompok teater.  

Dalam rangka menyambut 16 Hari kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan Hari Hak Asasi Manusia, pada 25 November – 10 Desember 2020, Institut Ungu mengadakan kegiatan bertajuk Dialog Seni dan HAM. Salah satu rangkaian acaranya berupa pertunjukan daring teater film dari produser Faiza Mardzoeki berjudul Waktu Tanpa Buku berlangsung secara daring 1-10 Desember 2020, digarap 5 sutradara perempuan yaitu Ramdiana dari Serikat Sapu Lidi Aceh, Heliana Sinaga dari Mainteater Bandung, Ruth Marini dari Ruang Kala Jakarta, Shinta Febriany dari Kala Teater Makassar dan Agnes Christina dari Yogyakarta juga Wawan Sofwan sebagai konsultan pertunjukan.

“Institut Ungu mengajak 5 sutradara dalam proses ketat 2 bulan selama masa pandemi. Drama ini menampilkan memori para penyintas di Uruguay dan saya juga teringat masa Orde Baru dan korban seperti Wiji Tukul dan Marsinah. Kita perlu mengingat dan merawat ingatan karena masa lalu juga menjadi titik permulaan hari ini” tutur Faiza dalam Diskusi Seputar Seni dan HAM 25 November silam.

Penawaran kelima sutradara perempuan dalam mementaskan Waktu Tanpa Buku dipentaskan beragam dengan pendekatan sinematik.  Pada Kala Teater Makasar, tubuh menjadi pijakan utama untuk mengisahkan moment keharuan dan kesedihan. Menurut Shinta, naskah ini sudah memiliki struktur dramatik yang kuat dan puitik dan menjadi menjadi tantangan sendiri untuk menafsirkannya melalui peristiwa teater.


Dalam pertunjukan Kala Teater disutradarai Shinta Febriany, keberadaan tubuh-tubuh yang hidup dalam derita dan masa lalu direpresentasikan dengan tubuh yang artistik. Penonton seperti diajak memasuki dunia yang lain. Ruang putih dengan aktor-aktor berbaju putih, bertopeng merah dan kacamata hitam, lontaran dialog diucapkan dengan verbal dan stilisasi gerak—tubuh yang jatuh bangun, gerak-gerak kecil tangan dan kaki, memainkan kursi–memberikan impresi tersendiri yang unik tanpa kehilangan emosi kepedihan yang juga terasa kuat: berbicara tentang interogasi, perempuan-perempuan yang digantung, penyiksaan Pedro di penjara, seorang anak yang kehilangan ayah di penjara atau istri yang menunggu suaminya pulang atau mati. 

Pada adegan menari “Tango” peristiwa masa lalu dan kini terasa satir. Mengingat betapa indahnya ibu dan ayah menari Tango bersama dan pada sisi lain mengingat rasa sakit. Berbagai peristiwa hidup tak ayal serupa tarian kehidupan dalam derita dan kebahagiaan.

Continue reading Waktu Tanpa Buku: Tubuh, Trauma dan Ingatan

Sandi Kala, seni performans karya 69 Performance Club

Sandi Kala is a performing arts by 69 Performance Club, supported by Studiohanafi and Forum Lenteng. think archipelago is a proud media partner of the event held in Galerikertas – Studiohanafi, Saturday, 15 February 2020, 1:00 – 5:00 PM.

Kerap catatan peristiwa masa lalu menjadi pembacaan untuk masa depan yang dihadirkan pada hari ini. Narasi yang merekam riwayat tertentu dikenal masyarakat sebagai ramalan, primbon, hingga tradisi yang berbasis lokasi. Misalnya tradisi kampung tua Kinta di Palu, Sulawesi Selatan, yang banyak terkait erat dengan kondisi geologi wilayahnya sejak lampau.

Riwayat semacam ini menyandarkan kepercayaannya pada sebuah ide bahwa segala pengetahuan telah tersedia di semesta, tinggal bagaimana para penghuninya mampu mengambil sari dari catatan tersebut menjadi sebuah pengetahuan.

Akan tetapi, pengetahuan semacam ini sering disalahartikan oleh pengetahuan modern sebagai takhayul belaka. Berbagai pertemuan, baik dengan sistem, budaya, maupun peradaban baru telah menggeser keberadaan pengetahuan ini.

Kita tak lagi pandai mengakses tanda-tanda yang terserak pada semesta alam dan semesta sosial manusia sehingga kesulitan menyusun kode-kode pengetahuan tersebut. Ia menjadi seakan tersembunyi, rahasia, dan tak terjangkau.

Pada edisi ke-18 ini, 69 Performance Club mengangkat kuratorial “Sandi Kala” yang mengajak para partisipannya menggali kode-kode narasi kolektif yang tercecer dan menghadirkan kembali potensi performatifnya, terutama narasi kolektif yang tersimpan dalam teks, baik teks sebagai tulisan maupun dalam konteks yang lebih luas, melalui teks, gerak dan bentuk serta relevansinya dengan sebaran narasi kolektif di kawasan Asia Tenggara.

Tentang 69 Performance Club

69 Performance Club adalah sebuah inisiatif yang digagas oleh Forum Lenteng untuk studi fenomena sosial kebudayaan melalui seni performans. Kegiatan 69 Performance Club berupa workshop dan performans setiap bulan, diskusi, serta riset tentang perkembangan performans di Indonesia. Inisiatif ini terbuka untuk para pemerhati, peminat dan seniman untuk terlibat secara aktif menjadi bagian dari program-program 69 Perfomance Club.

Karya-karya 69 Performance Club telah dipresentasikan antara lain di SMAK Museum, Ghent, Belgium, TranzitDisplay Gallery, Prague, Czech Republic, Ministry of Foreign Artists, Geneva, Switzerland, Teater Garasi, Yogyakarta, Indonesia, Ilmin Museum of Art, Seoul, South Korea, dan GoetheHaus, Jakarta. Karya-karya dapat dilihat di http://www.69performance.club.

Biografi seniman

Otty Widasari (Balikpapan, 1973) adalah seniman, penulis, sutradara film, dan salah satu pendiri Forum Lenteng. Pada tahun 2015, pameran tunggalnya berjudul Ones Who Looked at the Presence diselenggarakan di Ark Galerie, Yogyakarta. Kemudian pada tahun 2016, pameran tunggal keduanya, Ones Who Are Being Controlled diadakan di Dia.Lo.Gue, Jakarta. Kedua pameran tersebut merupakan proyek berkelanjutan Otty dalam rangka penelitiannya terhadap arsip film kolonial yang ia mulai sejak residensi di Belanda.


Pingkan Polla (Magelang, 1993), seniman yang berfokus pada seni performans dan seni rupa. Anggota Forum Lenteng sebagai seniman dan peneliti di Milisifilem dan 69 Performance Club. Ia memulai praktik artistiknya semenjak tergabung dalam proyek seni AKUMASSA-Diorama dengan melakukan observasi visual terhadap diorama-diorama yang ada di Museum Nasional. Pengetahuan itu kemudian berkembang ke arah seni performans semenjak ia tergabung dalam platform 69 Performance Club. Karya-karya performansnya berfokus pada studi tubuh dan kerja, media sosial, dan studi atas performans di ruang privat hingga ruang publik. Pada tahun 2019, ia sempat melakukan residensi di Bangsal Menggawe di Pemenang, Lombok Utara, dan melakukan riset tentang persinggungan antara seni pertunjukan dan seni performans. Selain itu, ia pun telah mengikuti residensi di Bulukumba, dalam rangka Makassar Biennale 2019.


Robby Ocktavian (Samarinda, 1990) adalah seorang seniman dan organisator seni yang gemar menayangkan film di celah-celah kota Samarinda bersama kawan-kawan Sindikatsinema. Ia juga adalah direktur MUARASUARA – Sound Art Festival dan Naladeva Film Festival di Samarinda. Menyelesaikan studi Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman Samarinda dan kemudian belajar memahami dan memproduksi visual di Forum Lenteng dalam program Milisifilem Collective.


Dhuha Ramadhani (Jakarta, 1995) adalah seorang penulis dan pembuat film. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Departemen Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Anggota Forum Lenteng aktif. Pada 2018, ia menjadi salah satu kurator ARKIPEL untuk program Candrawala. Sekarang, dia juga seorang partisipan di Milisifilem Collective dan 69 Performance Club.


Riyadhus Shalihin acapkali melakukan penelitian atas obyek ruang dan arsip, seperti lokasi penggusuran, foto keluarga, reruntuhan bioskop, jembatan sungai, kompleks pemakaman, atau pun furnitur kolonial, sebagai latar penciptaan karya teater, performance art, video art, dan teks drama. Ia adalah co-founder dan direktur artistik Bandung Performing Arts Forum (B.P.A.F), yang bekerjasama dengan Theatre MUIBO ( Tokyo ) dalam proyek kolaborasi teater Once Upon A Time – The Fallen Boat (2019) dengan bantuan dari Japan Foundation. Leow Puay Tin (Malaysia) untuk proyek teater US NOT US pada Asian Dramaturgs Network, Yogyakarta – 2018. Anggota dari Majelis Dramaturgi – yang diinisiasi oleh Teater Garasi Yogyakarta. Menulis esai teater, tari, dan seni rupa di majalah Tempo, Sarasvati, Pikiran Rakyat, Indopos, dan Jawa Pos.

Biografi Kurator

Anggraeni Dwi Widhiasih (Sleman, 1993) adalah seorang kurator, penulis, seniman yang berdomisili di Jakarta. Setelah menamatkan studi Hubungan Internasional di Universitas Paramadina, ia menjadi anggota aktif di Forum Lenteng dan terlibat dalam Milisifilem Collective, sebuah kelompok studi produksi film melalui praktik eksperimen visual. Sebagai sebuah produk audiovisual, film bagi Anggra memiliki keterhubungan erat dengan persoalan sistem di masyarakat, teknologi media, produksi pengetahuan dan aspek kepenontonan. Hal-hal ini pun yang kerap muncul dalam kerja-kerja keseniannya, baik dalam bentuk kuratorial, tulisan, maupun karya visual. Selain aktif dalam skena seni dan film, ia juga terlibat dalam platform eksperimen ekonomi bernama Koperasi Riset Purusha dan Prakerti Collective Intelligence.


Prashasti Wilujeng Putri (Jakarta, 1991) adalah seorang seniman dan manajer seni. Ia seorang lulusan kriminologi, Universitas Indonesia. Penari dari Komunitas Tari Radha Sarisha dan Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah. Ia memulai proses artistiknya sendiri sejak bergabung di 69 Performance Club pada 2016. Ia pernah melakukan residensi di Silek Art Festival di Solok, Sumatra Barat pada 2018, melakukan riset tentang silek (silat) dalam kehidupan tubuh-tubuh kontemporer. Hasil residensinya berupa karya video, dan dilanjutkan dengan karya performans yang dibawakan di Ilmin Museum of Art, Seoul, Korea Selatan. Karya-karyanya yang lain fokus pada soal tubuh yang didefinisikan dan dibentuk oleh masyarakat, dan bagaimana seni performans bisa merekonstruksi hal itu. Sandi Kala merupakan karya kuratorialnya yang pertama.

Photos courtesy of 69 Performance Club.

Burudiri, catatan Hanura Hosea

Hanura Hosea, perupa kelahiran Wates, Jawa Tengah, yang kini menetap di Jerman, telah menampilkan 220 karya di pameran tunggalnya Alihan di Galerikertas Studiohanafi sejak November 2019, sebelum bertindak sebagai fasilitator di workshop Burudiri bersama 4 perupa muda pilihan. Karya-karyanya telah muncul di berbagai pameran, antara lain di Artipoli Art Gallery, dan Art Stage Singapore. Ia kerap membawakan isu sosial politik Indonesia.

Judul ini muncul sesudah saya tenggelam dalam pusaran pertanyaan-pertanyaan di acara presentasi karya. Ada tujuh orang, semua cowok, yang menyodorkan karya-karya mereka. Sementara beberapa hadir untuk mengukuhkan acara ini.

Karya-karya ditaruh paralel dalam pembuatnya. Mereka berbaring minta dibedah, siap berbahagia disayat-sayat. Seorang teman, Ugeng, datang menawarkan diri untuk memeriahkan obrolan.

Acara pun jadi meletup. Penuh semangat. Udara Jakarta panas lembab lengket-lengket di kulit, warna abu-abu berjuntai di langit. Ketujuh cowok ini mengusung hal yang sama, yaitu mau. Ada mau atau bukan-mau pada diri mereka dan itu banyak sekali, berserakan di lantai galeri, mengapung di atas ubun-ubun dan berhamburan di udara.

Berapa banyaknya, saya tidak tahu. Tetapi untuk sementara beberapa mau itu bisa dijumlahkan. Mau membuat karya, itu penjumlahan sementaranya. Mau itu tenaga. Buru diri merupakan usaha khayal bahwa diri dijadikan obyek ataupun obyek-obyek. Khayalan lain tentang buru diri adalah membelah-belah subyek jadi banyak.

Peristiwa perburuan akan terjadi bila ada yang memburu dan yang diburu. Dalam konteks ini antara subyek dan obyek akan bertukar peran. Dengan demikian diri punya kapasitas untuk bermain dengan dan dalam coba-coba. Jika membuat karya seni rupa dianggap sebuah eksperimen, maka salah satu kiat kerjanya adalah karya sebelumnya/lainnya diletakkan sebagai acuhan. Begitu harapannya.

Buru diri bisa menemukan jalannya lewat karya. Karya akan berargumen terhadap pembaca, sedangkan pembaca akan memutuskan selera (sebuah kemampuan sosial), untuk suka atau tidak terhadap karya, semisal. Proses-proses ini mencoba meletakkan buru diri tidak untuk menjinakkan tetapi justru meliarkan kembali diri.

Kami memulai dengan membaca bersama-sama karya-karya yang mereka presentasikan. Lewat karya-karya ini dicoba untuk membuat karya baru. Gagasan awal yang mereka bawa dijadikan dasar eksperimen untuk membuat karya-karya berikutnya.

Empat perupa dapat kesempatan untuk bermain-main dengan eksperimen ini. Ivan dengan gagasan dusunnya yang tergusur untuk pembangunan jalan layang rel kereta api. Dimas mencoba membenturkan diri pada komunikasi personal dengan ayahnya. Edy memakai kamera sebagai alat penoreh. Abul mencoba menari dengan percepatan logika digital. Itu sekelumit gagasan-gagasan dari hasil workshop Burudiri.

Sebagaimana sebuah eksperimen, hasil merupakan janji yang samar. Hasil yang mungkin pasti adalah tersesat dalam pertikaian gagasan-gagasan. Dalam persiapan memamerkan hasil workshop ini tentu banyak hal harus dilampaui. Setiap individu punya usungan batasan-batasan sendiri-sendiri.

Mungkin yang mirip pada empat perupa ini adalah waktu terbatas, fisik diri terbatas, anggaran terbatas. Kompromi juga bagian dari usaha buru diri. Lewat kompromi ini kita jadi punya ketegasan batasan diri yang harus diterima.

Dari batasan hal-hal di atas, paling tidak diri punya kepastian pegangan untuk bernegosiasi dalam buru diri. Mungkin juga tidak. Kita nikmati saja berita tubuh mereka dalam pameran ini. Karya (mungkin) berubah, sedangkan manusia (konon menurut sejarahnya) tidak pernah.

Burudiri dalam eksperimen 4 perupa muda

Burudiri is a joint exhibition of 4 selected aspiring artists, having participated in Hanura Hosea art workshop held by Galerikertas Studiohanafi. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 14 until 28 December 2019. Visit www.studiohanafi.com, or instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

Galerikertas Studiohanafi menyelenggarakan pameran bersama karya empat perupa muda hasil workshop kertas bersama perupa berpengalaman Hanura Hosea. Pameran ini menjadi penutup program galerikertas studiohanafi tahun ini.

4 perupa muda yang berasal dari Bandung, Jakarta dan Depok tersebut adalah Dimas Ismail M., Faris Abulkhair, Ivan Oktavian, dan Susilo Nofriadi.

Burudiri berangkat dari ide untuk memburu diri sendiri atau mengenali potensi masing-masing perupa dalam berkarya.

“Kami memulai dengan membaca bersama-sama karya-karya yang mereka presentasikan,“ tutur Hanura Hosea selaku fasilitator workshop. ”Lewat karya-karya ini dicoba untuk membuat karya baru. Gagasan awal yang mereka bawa dijadikan dasar eksperimen untuk membuat karya-karya berikutnya.”

Keempat perupa berkesempatan untuk bermain-main dengan eksperimen ini. Ivan dengan gagasan dusunnya yang tergusur untuk pembangunan jalan layang rel kereta api. Dimas mencoba membenturkan diri pada komunikasi personal dengan ayahnya. Edy memakai kamera sebagai alat penoreh. Abul mencoba menari dengan percepatan logika digital.

Pembukaan pameran “burudiri” akan berlangsung pada Sabtu, 14 Desember 2019, pukul 19.00 WIB-selesai. Pameran dibuka oleh Hanafi selaku penggagas galerikertas studiohanafi, dan Ugeng T. Moetidjo, perupa dan penulis.

Pameran turut diramaikan oleh penampilan musik dari Michael Felisianvs, musisi asal Jakarta yang baru saja memulai projek solo dengan mengambil tema #pulang.. Mike akan menyuguhkan musik bernuansa akustik dengan balutan tropical hawaiian folk dan blues, mencoba untuk berbagi kebahagiaan dan cerita-cerita kecil tentang kehidupan.

Selain pameran, galerikertas Studiohanafi melangsungkan Diskusi karya 4 perupa muda pilihan Hanura Hosea pada Minggu, 15 Desember 2019 pukul 16.00 WIB.

Dikutip dari penyelenggara pameran, pameran Burudiri diharapkan dapat menemukan jalannya lewat karya. Karya akan berargumen terhadap pembaca, sedangkan pembaca dengan kemampuan sosialnya akan berupaya memutuskan seleranya masing-masing untuk suka atau tidak terhadap karya. Proses-proses ini mencoba meletakkan buru diri tidak untuk menjinakkan tetapi justru meliarkan kembali diri.

Spekulasi dari balik tembok: 3000 jam jalan kaki setelah karya

Heru Joni Putra is the curator of Galerikertas Studiohanafi. He is an alumnus of Cultural Studies Universitas Indonesia and the author of Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa (2017). Alihan is an art program held in Galerikertas Studiohanafi featuring a solo exhibition by Indonesian artist Hanura Hosea in conjunction with a series of related events. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 2 until 17 November 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

“Berpikir secara seni adalah tindakan politik.”

Hanura Hosea

Apa yang disebut sebagai tindakan politik adalah sebuah jalan penuh simpang. Salah satu, pada tataran paling sederhana, tindakan politis bisa berkembang dari keyakinan bahwa realitas adalah sesuatu yang tidak apa adanya, realitas tidaklah persis sebagaimana kita menginderainya.

Apa yang terlihat oleh mata bukanlah realitas yang sudah selesai. Begitu juga yang terdengar oleh telinga, terhidu oleh hidung, tercecap oleh lidah, teraba oleh kulit, terasa oleh hati, dan seterusnya. Indera kita memang menjadi instrumen paling lumrah untuk mengidentifikasi realitas tetapi indera-indera itu tidak dapat berfungsi sebagai alat untuk “memastikan” realitas secara keseluruhan. Indera kita barangkali hanya bisa mencapai bagian-bagian dari realitas.

Dengan begitu, kesadaran bahwa realitas yang kita indrai bukanlah realitas yang selesai, apa adanya, emang begitu dari sononya dst adalah sebuah kesadaran yang politis dalam memahami realitas. Dalam hal inilah, sebagaimana diucapkan juga oleh Hanura Hosea, berpikir secara seni adalah tindakan politik.

Sebab, berpikir seni adalah sebuah tindakan yang tidak melihat realitas secara lumrah belaka. Karya seni tidak sebatas pengeras suara dari fenomena kasat mata saja. Seni bahkan mempunyai beban yang lebih dari itu, yaitu menunjukkan realitas yang tak sepenuhnya terjangkau oleh indra manusia.

Gambar yang ditampilkan di samping ini merupakan salah satu karya Hanura Hosea yang dipamerkan dalam pameran Alihan di Galerikertas. Figur-figur yang ditampilkan di dalamnya, secara umum, dapat dengan mudah kita kenali dengan baik, sekalipun pada beberapa bagian kita menemukan berbagai pemiuhan bentuk—sehingga menunjukkan karakteristik sureal. Kita tahu, dalam gambar itu ada tiga figur manusia. Lalu ada satu figur surealis yang bersamaan dengan salah satu figur manusia.

Dari segi ruang, ketiga figur tersebut berada di tiga ruang yang berbeda. Tapi, dari segi waktu, menjadi rujukan dasar untuk menunjukkan apakah mereka di waktu yang sama atau tidak. Tapi, kita masih bisa mencari penanda waktu yang terselubung melalui jenis aktivitas yang dilakukan ketiga figur manusia itu: tidur, berenang, dan aktivitas perapian.

Sederhananya, tiga penanda waktu tersebut bisa kita bawa ke pengertian waktu keseharian, rutinitas, dan berkala. Namun begitu, sebagai konsekuensi dari peleburan ruang, gambar tersebut juga menyiratkan peleburan waktu.

Dengan demikian, bicara soal waktu, kita tak bisa lagi sepenuhnya bicara perihal waktu yang sudah tertata secara sosio-kultural. Gambar tersebut cenderung menyiratkan waktu sebagai sesuatu yang berlapis, berhimpitan, tidak kronologis, dan seterusnya.

Dengan demikian, gambar tersebut bukanlah proyeksi dari realitas yang bisa diidentifikasi dengan panca indera. Proyeksi yang dimunculkan gambar tersebut tidaklah suatu komposisi keseharian realitas kita sekalipun elemen-elemen gambarnya sangat akrab dengan kita. Meskipun demikian, itu bukan berarti bahwa gambar tersebut tidak ada hubungannya dengan realitas itu sendiri. Dengan cara serupa itu, gambar tersebut menunjukkan kepada kita suatu realitas yang lain, tapi sama “nyata”-nya dengan apa yang bisa kita inderai.

Apa benar ada realitas lain selain realitas yang dapat kita inderai? Di manakah realitas lain itu terjadi? Apakah kita berada di luar realitas lain itu atau justru tidak sadar ada di dalamnya?

Ada banyak jawaban yang bisa muncul, tapi kita tentu tidak akan lebih jauh menjawab pertanyaan tersebut. Yang jelas, pertanyaan serupa itu adalah pertanyaan yang sangat mungkin muncul melalui karya seni. Dan karena dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan serupa itulah kemudian karya seni tanpa dapat dihindari senantiasa menjadi “politis”.

Menjadi “politis” tentu tidak sama artinya dengan menjadi bagian “politik praktis”. Kita sering terjebak, ketika menyebut “politis” maka yang terbayangkan adalah politik pemerintahan yang kotor dan seterusnya. Menunjukkan apa yang tak tertunjukkan adalah salah satu dari apa yang disebut sebagai “menjadi politis”.

Bagi sebagian orang, gambar Hanura Hosea tersebut bisa saja menunjukkan realitas psikologis manusia di kondisi tertentu. Katakanlah seseorang yang merasakan hidup tak lagi punya jeda, bahkan apa yang semestinya terjadi secara berurutan justru berarsiran.

Dalam hidupnya, apa yang sedang dibayangkannya lebih nyata daripada apa yang sedang dilakukannya di saat yang sama. Ketika ia secara fisik sangat jelas melakukan aktivitas A, tapi yang sedang ada dalam pikiran dan perasaannya sedang melalukan B, C, dan seterusnya.

Mengapa realitas yang seperti itu bisa disebut politis? Karena banyak yang memandang bahwa realitas sebenarnya hanyalah realitas yang dapat diinderai.

Orang-orang hanya percaya pada apa yang bisa dilihatnya saja, segala yang bisa didengarnya saja, semua yang bisa dicecapnya saja dan seterusnya. Sehingga risikonya, sebagaimana contoh yang kita buat tadi, mereka lupa bahwa realitas juga bekerja di dalam wilayah psikologi. Padahal, realitas psikologi sama “nyata”-nya dengan realitas indrawi.

Karya seni tertentu, terutama non-realis, seringkali membuat kita menggerakkan kaki untuk bergelimang dengan realitas yang lain tersebut. Dengan begitu, tentu tidak salah lagi, bila kemudian ada yang berkata, “Betapa arogannya orang-orang yang hanya percaya pada apa yang bisa dilihatnya saja, pada apa yang hanya bisa didengarnya saja, pada apa yang bisa disentuhnya saja, dan seterusnya…”

Dari penjabaran di atas, kita sebenarnya belum bicara banyak. Kita baru mencoba melakukan pemaknaan kembali atas trinitas manusia, ruang, dan waktu pada tataran paling sederhana.

Selain soal itu, dari karya-karya Hanura Hosea, kita juga melihat suatu kecenderungan untuk memilih warna hitam-putih, sekalipun itu bukan hal aneh dalam drawing. Namun, sebagaimana di realitas itu sendiri, di dalam seni pun tidak ada yang “kebetulan” begitu saja, selalu ada sebab, bahkan selalu ada “yang politis” di balik setiap kejadian, baik disadari ataupun tidak (political unconsciousness).

Pembukaan pameran tunggal Hanura Hosea, Alihan, Galerikertas Studiohanafi, 2 November 2019

“Hitam-putih adalah pilihan selera.”

Hanura Hosea

Dan untuk suatu selera warna pun selalu terkandung “yang politis”. Sebagai contoh, kita bisa memulainya dengan pertanyaan seperti ini: sejak kapan warna pink menjadi warna perempuan? Mengapa orang akan tertawa ketika laki-laki menggunakan kaos pink? Kita tidak bisa melepaskan pertanyaan tersebut dari persoalan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan yang selalu ditekankan sebagai kelembutan, ketenangan, kesabaran, dan seterusnya tentu akan mudah dikaitkan dengan pemaknaan kita terhadap warna pink. Begitu juga sebaliknya, laki-laki yang selalu ditekankan sebagai keperkasaan, kekuasaan, kekuatan, dan seterusnya, dikesankan tampak mencolok atau tidak cocok dengan makna dari warna pink.

Kultur warna kita, dengan demikian, mengandung bias gender yang sangat kentara. Dalam contoh di atas, warna pink telah melegitimasi karakter standar untuk perempuan sekaligus melanggengkan karakter standar untuk laki-laki.

Dalam konteks kultur warna dan politik dibaliknya, para perupa seringkali, sengaja atau tidak, menghancurkan kebekuan-kebekuan warna seperti itu. Di tangan para perupa, setiap warna seringkali mendapatkan makna baru. Seringkali, warna yang sebelumnya kentara oleh bias gender, bias etnis, bias ideologi, dan seterusnya kemudian menjadi terbatas dari beban-beban serupa itu.

Dalam kasus gambar Hanura Hosea, warna hitam-putih bisa menjadi salah satu cara paling menarik untuk meminimalisasi muslihat warna, bias dalam warna. Warna semerbak, pada sisi lainnya, mempunyai watak untuk memanipulasi. Dalam contoh lainnya, pewarnaan di dalam desain komunikasi visual adalah salah satu strategi “manipulasi” seperti strategi menarik perhatian, dan seterusnya.

Dalam konteks ini, warna hitam-putih bisa digunakan untuk memberi penekanan pada gambar itu sendiri, sehingga kita tidak larut pada permainan atau komposisi warna dan warni. Dengan meminimalisir bias-bias warna lain, warna hitam-putih pun terus mengarahkan fokus kita bahkan sampai pada komponen gambar itu sendiri: kapasitas garis.

Mengapa Hanura Hosea membuat trinitas manusia-ruang-waktu dalam formasi tidak teratur dan kemudian memilih menggunakan warna hitam-putih—sebagaimana contoh gambar di atas tadi? Kalau tadi kita menyebut “realitas psikologis”, maka bagaimana perbedaannya bila realitas itu digambar dengan warna-warni dan hanya dengan hitam-putih saja? Bagaimana dinamika pemaknaan yang bisa kita temukan berdasarkan hubungan-hubungan antar indikator bentuk dan isi tersebut?

Itulah pertanyaan berikut yang dapat kita eksplorasi. Bagaimanapun juga, sekeping karya seni tak akan pernah habis kita bahas. Tulisan ini hanya sebuah pembuka kata untuk karya-karya Hanura lainnya. Selebihnya, para pengunjung pameranlah yang akan berkontemplasi sendiri dalam merespons karya Hanura Hosea.

Pertanyaan-pertanyaan terakhir tadi sengaja saya tinggalkan tanpa tawaran jawaban. Semoga dapat menjadi pantikan untuk melihat karya-karya Hanura lebih dalam dan dengan sudut pandang lainnya. Apa spekulasimu?

Alihan dalam kertas dan gambar

Alihan is an art program held in Studio Hanafi featuring a solo exhibition by Indonesian artist Hanura Hosea in conjunction with a series of related events. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 2 until 17 November 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

Galerikertas studiohanafi menghadirkan pameran tunggal Hanura Hosea berjuluk “Alihan”. Pameran yang akan berlangsung sepanjang 2 November-2 Desember 2019 ini merupakan pameran tunggal penutup untuk program galerikertas studiohanafi di tahun 2019.

Hanura Hosea merupakan perupa kelahiran Wates, Jawa Tengah, 1966. Setelah aktif berkarya di Yogyakarta dan berpameran di dalam dan luar negeri, ia saat ini menetap di Jerman.

Pada pameran “Alihan”, Hanura akan membawa gambar-gambar kertas sejumlah 245 buah. Kertas-kertas yang bercakap melalui garis dan kertas tersebut menghasilkan bidang gambar yang terbagi dalam tiga ruang: Museum, pabrik dan ruang pamer (Galeri).


Kertas-kertas bersaksi, “gambar-gambar telah tumbuh di bidangku”, ungkap Hanura. Lebih lanjut, ia menjelaskan dalam catatan pamerannya, “Gambar adalah alihan yang menawarkan jeda. Ia lengkap tapi bergembira dibubuhi dimensi.

Gambar adalah dilempari batu dan ludah. Gambar adalah penjaja pundi-pundi. Gambar adalah berkulit tipis. Gambar adalah tegangan. Gambar adalah ….”

Pembukaan pameran “Alihan” akan berlangsung pada Sabtu, 2 November 2019, pukul 19.00 WIB-selesai. Pameran akan dibuka oleh Hanafi selaku penggagas galerikertas studiohanafi dan Ugeng T. Moetidjo, perupa dan penulis.

Selain itu, pameran turut diramaikan oleh penampilan musik dari Deugalih, musisi multi-instrumen dan multi-genre yang telah melahirkan empat album indie. Saat ini menetap di Yogyakarta.

Menurut Ugeng, karya Hanura Hosea, tetap dengan watak gambar tuturnya, atau gambar dalam watak bertuturnya. Namun yang terang, padanya, bidang gambar merupakan ruang untuk pengisahan moral sosial—kali ini, dengan menjaga jarak dari politik, untuk jadi lebih domestik.

“Karyanya pada masa ini berumpun dengan pola representasi bertutur politik yang begitu menggejala pada segolongan perupa menjelang dan pasca lindapnya kekuatan otoritarian Orde Baru, seakan merayakan datangnya kebebasan kreatifitas” tutur Ugeng.

Berbicara tentang teknik penciptaan, Heru Joni Putra, kurator in house Galerikertas menitikberatkan cara berpikir Hanura pada karya-karyanya. Sebagaimana diucapkan juga oleh Hanura Hosea, berpikir secara seni adalah tindakan politik.

Sebab, berpikir seni adalah sebuah tindakan yang tidak melihat realitas secara lumrah belaka. Karya seni tidak sebatas pengeras suara dari fenomena kasat mata saja.

Seni bahkan mempunyai beban yang lebih dari itu, yaitu menunjukkan realitas yang tak sepenuhnya terjangkau oleh indra manusia.

“Kita baru mencoba melakukan pemaknaan kembali atas trinitas manusia, ruang, dan waktu pada tataran paling sederhana. Selain soal itu, dari karya-karya Hanura Hosea, kita juga melihat suatu kecenderungan untuk memilih warna hitam-putih, sekalipun itu bukan hal aneh dalam drawing.

Namun, sebagaimana di realitas itu sendiri, di dalam seni pun tidak ada yang “kebetulan” begitu saja, selalu ada sebab, bahkan selalu ada “yang politis” di balik setiap kejadian, baik disadari ataupun tidak (political unconsciousness)” tutur Heru.

Sepanjang pameran, Hanura bersama galerikertas Studiohanafi melangsungkan dua agenda pameran lainnya yang berlangsung sepanjang November 2019 di antaranya: Diskusi dan Presentasi Karya Perupa Muda bersama Hanura Hosea pada Minggu, 3 November 2019 dan Workshop Kertas Perupa Muda bersama Hanura Hosea pada 12-17 November 2019.

Pahatan watak dan pikiran Henryette Louise di Spiritcuil

Spiritcuil is a solo exhibition by Indonesian artist Henryette Louise held in Studio Hanafi. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 7 until 24 October 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

Seniman Henryette Louise membuka kesempatan kolaborasi dengan seniman lintas disiplin. “Konsepnya Open Studio,” kata Lousie. Selama lebih kurang sebulan ia membuat Galeri Kertas Studio Hanafi menjadi layaknya studio kerja. Di studio tersebut ia akan menerima partisipan yang berminat untuk berproses bersama, merangkum ide bersama, dan membuat suatu karya bersama-sama.

“Jadi, konsepnya terbuka, setiap partisipan bisa datang dan pergi selama durasi workshop. Orang-orang juga boleh datang untuk melihat kami berproses,” ujar Louise.

Kurator Galerikertas, Heru Joni Putra, mengatakan bahwa program “Open Studio/Full Time Artist” ini menggabungkan proses dan pameran.

“Semua partisipan berproses sekaligus berpameran di saat yang sama. Mereka memamerkan proses sekaligus seiring berjalan waktu memamerkan karya-karya yang muncul dari proses tersebut.”

Bagi partisipan yang tidak mempunyai latar belakang seni, setidaknya, program ini menjadi ruang untuk mempelajari bagaimana seniman bekerja melalui metode yang dijalanan Henryette Louise. Dan bagi partisipan yang berasal dari latar belakang seni, setidaknya, program ini bisa menjadi ruang dialog dan uji coba kerja-kerja kolaborasi.

Henryette Louise dikenal sebagai seniman yang gemar memanfaatkan benda tak terpakai. Dalam konteks kerja penciptaannya, sebuah benda loak tidak hanya sebatas mendapatkan bentuk baru, tetapi juga fungsi dan makna baru.

Louise menyebut modus penciptaannya sebagai “re-use” atawa penggunaan kembali. Ia tidak menggunakan kata “re-cycle” atau daur-ulang. Ada perbedaan mendasar antara “re-use” dan “re-cycle” dalam konteks ini.

Dalam daur ulang, material bisa saja kehilangan sejarahnya. Ketika sebuah benda didaur ulang hingga menjadi material mentah, maka cenderung saat itu makna-makna sosio-kultural dari benda tersebut lenyap, kehilangan “nyawa” awalnya.

Lain halnya bila yang dilakukan adalah “re-use”. Sebuah benda yang digunakan kembali, dengan fungsi dan makna baru, tak akan hilang “nyawa” benda tersebut sepenuhnya. Selama benda tersebut masih mengandung bentuk awalnya, maka selama itu masih terikat dengan sejarah serta nilai sosial-kulturalnya.

Dengan kata lain, kerja “re-use” adalah kerja untuk “bermain-main” dengan bentuk awal serta makna lumrah pada sebuah benda, untuk kemudian diperluas, dikembangkan, atau dibenturkan dengan makna-makna baru.

Henryette Louise merupakan seniman asal Blitar dan menetap di Bandung. Ia pernah belajar seni rupa di SMSR Surabaya dan Seni Rupa STSI Bandung. Ia telah melakukan puluhan pameran bersama sejak tahun 2002 dan empat kali pameran tunggal sejak 2009. Dua pameran tunggal terakhirnya adalah Lokositato Makhluk (2014) dan Intro Lokos #1 (2015).

Tahun 2019 ini ia menyelenggarakan pameran tunggal-berdua berjudul Simbol dan Alegori di Museum dan Tanah Liat, Jogjakarta. Ia pernah beroleh beberapa penghargaan seperti Top 10 Asian Fotografi Analog Emerging Artist (1997), Pemenangan Kompetisi Instalasi Bebegig Nasional (2005), Peraih Hibah Seni dan Lingkungan (2014), dan Gold Award Emerging Artist UoB Painting of the Year (2016).

Sehari-hari ia berkomunitas-bekerja di Invalinder Urban sebagai artistik konseptor dan di Hellmate Circle sebagai freelance ilustrator. Bila ditanya soal pernyataan berkeseniannya, ia selalu menjawab, “Seni adalah kejanggalan yang memiliki tempat terpahatnya watak dan pikiranku.”

International collaboration in Art Jakarta 2019

Art Jakarta returns this year with its 11th edition, held at a new venue, Jakarta Convention Center Senayan. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 30 August to 1 September 2019. Tickets are available to buy on the spot and are priced at IDR 100,000 and IDR 50,000 for visitors below 12 years old. To see more of Art Jakarta 2019 program, go to https://artjakarta.com

Eko Nugroho, an internationally renowned contemporary artist from Yogyakarta, has two of his artworks shown in the front hall of Art Jakarta 2019. Moving Landscape (2015) hung as a metaphor of a dynamic urban society and how it shaped the city culture. The 400 x 300 cm manually embroidered work symbolizes modern life society which simultaneously causes estrangement.

Stood adjacent is sculpture Happy to be Alienated (2019), a criticism of alienation found in our society at the advent of technology. The intentionally massive work aims to intimidate the audience and the space they are in.  

Eko’s works are presented by Arario Gallery, one of the 70 galleries from 14 countries participating in the 11th edition of Art Jakarta, Indonesia’s biggest art fair, held in Jakarta Convention Center Senayan, from 30 August to 1 September 2019.

With its stellar line-up of leading Indonesian and international galleries, cutting-edge art projects by Indonesian and international artists, talks, educational programs as well as a charity component, Art Jakarta has been one of the leading fairs in Southeast Asia.

Artist collectives and initiatives, which form the cornerstone of Indonesia’s dynamic, are represented at the Fair in Art Jakarta Scene, while Art Jakarta Spot highlights carefully selected artworks in the Fair’s public areas. AJX offers a collaborative platform with partners, institutions and collectors.

“We want to make art and Art Jakarta accessible to everyone, for it to be engaging but also relatable and approachable. Underlying this idea is our commitment to the spirit of collaboration,” said Fair Director Tom Tandio.

“We work with people from various parts of the art scene in Indonesia and the region, bringing the art ecosystem together. Only by working together can we strengthen both the Indonesian and Southeast Asian contemporary art scenes,” he added.

Art Jakarta Gallery

In addition to returning galleries, 21 or 30 percent of the 70 participating galleries are making their debut at the Fair.  The new galleries are Amy Li Gallery, ANOMALY, Atelier Aki, Baik+Khneysser,GALERIE OVO, Galerie Taménaga, GALLERY YEH, Hatch Art Project, Jan Manton Art, Kendy’s, Nova Contemporary, Project Fulfill Art Space, Qi Mu Space, SAL Project, Segaris Art Center, ShugoArts, Sullivan+Strumpf, Tang Contemporary Art, TKG+, and Vin Gallery. Also, another new exhibitor is Phillips Auctioneers.

Art Jakarta provides opportunity where art galleries could interact with the public, besides dealing with patrons.

Participating galleries in Art Jakarta 2019 hail from 14 countries – Hong Kong, Japan, South Korea, Singapore, Indonesia, Malaysia, USA, Taiwan, Russia, Australia, Thailand, Philippines, Vietnam and China. From Indonesia, 30 of the country’s established and emerging galleries will be represented.

Several artists will be in attendance at Art Jakarta 2019 such as Indonesian artist Albert Yonathan, Bagus Pandega, Erizal, Eldwin Pradipta, Franziska Fennert, Irfan Hendrian, Indiguerillas, Kemal Ezedine, Maharani Mancanegara, Mella Jaarsma, Natisa Jones, Syagini Ratna Wulan, Zico Albaiquni, Hong Kong artist Cheuk Wing Nam, Philippines artist Ronald Ventura, Japanese artist Kei Imazu and art collective teamLab as well as Singaporean artist Dawn Ng, among others.

Art Jakarta Scene

Art Jakarta Space is a designated space presenting 20 artist collectives and artist initiatives offering not only many interesting artworks or art objects but also valuable information about their activities which are an important part of Indonesia’s dynamic art scene.

They include Art Dept ID, Atreyu Moniaga Project, C on Temporary supported by Gormeteria, DA’POZA, DGTMB Project, ER design, Facade Arts & Lifestyle Management, Glitch, Milisifilem Collective, Museum of Toys, Omnispace, ONX Idea Studio, RuangDalam Art House, Sekarputi & Agung, SRW X ADS, Studio Dinding Luar, Yayasan Biennale Yogyakarta, and YH Conservation.  

Art Jakarta Spot

Art Jakarta Spot is a showcase of works in dedicated public areas of the Fair by artists from Art Jakarta’s participating galleries. The selection has been carefully made together with members of Art Jakarta’s Board of Young Collectors for the enjoyment and appreciation of our visitors.

The artworks include Solar Worship by Albert Yonathan (Mizuma Gallery), Silence – Meditation in Blue by Cheuk Wing Nam (Galerie OVO), Happy To Be Alienated by Eko Nugroho (Arario Gallery), Bobro’s World Tour, Jakarta by Ronald Ventura (Yavuz Gallery), Balitsa Ehoor by Syaiful ‘Tepu’ Garibaldi (ROH Projects), North, K2 by You Ji In (The Columns Gallery) and Dark Waves by teamLab (Gajah Gallery).

Art Jakarta X

Art Jakarta Collaborations, or in short, Art Jakarta X, is a series of special presentations made possible by Art Jakarta’s collaborations with partners, collectors, as well as organizers of other platforms. Three artworks will be featured as part of Art Jakarta X. They are Production Line – Made in China & Made in Taiwan by Huang Po-Chih, Wave of Tomorrow by Isha Hening. Besides that, one of our lead partners, Julius Bär is supporting the VIP lounge with collector’s show: I Nyoman Masriadi.

Listen, Play, Give

A series of public programs have been designed to engage fair visitors from the moment they step into the fairground. Contemporary art is an ongoing flux of practices. The series of talks offer insights into understanding the many facets of these practices. As a forum, the Talk sessions bring artists, curators, academics, collectors, and various art professionals together to share their knowledge and experience about contemporary art.

Art Jakarta Play offers many educational programs, carefully and creatively prepared for young visitors to learn about and play with art. It is a great place for those who are eager to learn more about art.

In the spirit of collaboration and charity, an arena is set up where unique artworks made by 13 of Indonesia’s most prominent artists will be auctioned.

Charity auction at Art Jakarta 2019

Art Jakarta returns this year with its 11th edition, held at a new venue, Jakarta Convention Center. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 30 August to 1 September 2019. To see more of Art Jakarta 2019 program, go to https://artjakarta.com

Since its first edition 11 years ago, Art Jakarta’s fair program includes charity auctions as a main feature. This year, in an arena called ‘Renoscape’, Art Jakarta will auctioned unique artworks made by thirteen Indonesian prominent artists.

This arena is supported by OPPO, and the proceeds will be donated entirely to Happy Hearts Indonesia and Mitra Museum Jakarta.  Thirteen artists who participated including Agugn Prabowo, Arkiv Vilmansa, Cinanti Astria Johansah, Darbotz, Faisal Habibi, Indieguerillas, Kemal Ezedine, Marishka Soekarna, Mella Jaarsma, Natisa Jones, Radi Arwinda, Ronald Apriyan, and Uji ‘Hahan’ Handoko.

At Renoscape, every visitor can interact with these works through the cutting-edge augmented reality medium of the OPPO Reno series cellphone which also engraved with some of the artist’s works.

Charity Auction

Date : 

31st August 2019

Location : 

Pre-Function Hall A

Auctioned by : 

Phillips Auctioneers 

Time : 

16.00-18.00

Session 1 : 

13 carpets specially designed by 13 Indonesian contemporary artists. 

Session 2 :

Artworks by 28 Indonesian contemporary artists presented in the book ‘Inside Studios: Indonesian Artist’. 

Art Jakarta VIP visitors can also participate in an interesting programs, especially created to allow them to make the most out of their visit. Both local and international VIPs can join in various events starting on 28 August 2019, two days before the VIP Preview.

Some of the highlights of the VIP program include:

1.    MACAN Gala at the Ritz-Carlton Pacific Place (Wednesday, 28 August 2019, 18:30 – end)

The MACAN Gala is an exclusive dinner and charity gala to raise funds for Museum MACAN’s educational program and community initiatives. 

2.    National Gallery Visit (Friday, 30 August 2019 09.30 – 10.30) 

The National Gallery of Indonesia is a national institution and the country’s foremost art museum. Since its formal opening in 1999, the National Gallery plays an important role in expanding the public’s awareness of art through exhibitions and by preserving and developing visual arts in Indonesia.

3.    Ciputra Artpreneur Visit (Thursday, 29 August 2019 , 19.00 – 22.00)

Comprising approximately 10,000sqm, Ciputra Artpreneur is a multidisciplinary arts centre, including a 1,157-seats theatre featuring the lastest technology, multi-purpose galleries and halls, and a private museum displaying Ciputra’s collection of contemporary and modern art. Opened in 2014, Ciputra Artpreneur has been hosting a wide selection of local and international events – including exhibitions, music concerts, theatre plays, musicals, and other shows. Productions included Beauty and The Beast, Shrek The Musical, Annie, Shaolin Warrior, Stars of The West End and a concert by the Vienna Boys’ Choir. 

4.    Komunitas Salihara (Sunday, 1st September 2019, 10.00 – 13.00)

Komunitas Salihara is the first private multidisciplinary arts centre in Indonesia. It was opened in 2008. Formed by a number of writers, artists, journalists, and art lovers it has presented a wide range of programmes in arts and ideas, both locally and from abroad. It was named “The Best Art Space” by Time Out Jakarta (2010) and as one of the “10 Most Unique Places in Jakarta” by Metro TV (2010). The architecture of Komunitas Salihara is also worth mentioning and has been lauded as an “Architecture which applies environmentally friendly aspects” by Green Design Award (2009).

For RSVP or further information please contact Ayda at vip@artjakarta.com. Please include “VIP Programme RSVP” in the subject line.

Art Jakarta 2019 Indonesia’s international art fair

Art Jakarta returns this year with its 11th edition, held at a new venue, Jakarta Convention Center. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 30 August to 1 September 2019. To see more of Art Jakarta 2019 program, go to https://artjakarta.com

The collaboration of two leading figures in the Indonesian art scene Tom Tandio as fair director and artistic director Enin Supriyanto will ensure an invigorated approach and added value to Art Jakarta 2019. Their knowledge of and experience in the local and international art scenes will further enhance Art Jakarta’s position in both Indonesia and Southeast Asia.

Tom and Enin’s team also include graphic designer Henricus Linggawidjaja (Artnivora) and photographer Indra Leonardi (The Leonardi) who are the fair’s Design Director and Director of Photography respectively. Architects and Designers Dua Studio have been commissioned to create fresh designs and concepts for the fair.

Art Jakarta’s new brand identity is placing Jakarta as one of the key centers of Asian contemporary art whilst at the same time strengthening Indonesia’s position as one of the most important art hubs in Asia.

“This change in branding is one way to represent our commitment in building a foundation for the local and international art community to be able to interact,” said Enin.

The fair’s tenth edition in 2018 saw more than 40,000 visitors attending Art Jakarta. This year’s change of venue, from Pacific Place to the Jakarta Convention Center, is also due to an anticipated increase of visitors, in line with the continuous growth over the past years.

A total of 70 galleries from Indonesia and other Asian countries will participate in Art Jakarta 2019. “The fact that the number of overseas participants exceeds domestic exhibitors is a testimony of the strength and trust of the international art market in Art Jakarta in particular, and the Indonesian art market in general,” (Tom Tandio).

The fair is made up by six components:  Art Jakarta Gallery, Art Jakarta Spot, Art Jakarta X, Art Jakarta Play, and Art Jakarta Scene, as well as “Art_UNLTD”, presented by the Indonesian Creative Economy Agency (Bekraf).

Since the very first edition of Art Jakarta, fundraising for charity is a permanent feature of the fair. This year, ten carpets made by renowned artists will be auctioned to raise funds for a good cause.

Various art talks are also part of the Art Jakarta program.


Event Name: Art Jakarta

Place/Time: JCC Senayan, Friday, 30 August – Sunday, 1 September 2019

Type of event: International Art Fair

Exhibitors: 70 in total, of which 30 Indonesian and 40 international art galleries (focus: Asia), and ten special presentations.

Organizer: PT. Artindo Jakarta Seni Kini (a subsidiary of the MRA Group).

Fair Director: Tom Tandio

Artistic Director: Enin Supriyanto

Design Director: Henricus Linggawidjaja

Director of Photography: Indra Leonardi

Fair Consultant: Gil Schneider


Program

Art Jakarta Gallery

The main section of the fair, presenting 70 art galleries, with 30 art galleries from Indonesia and 40 art galleries from other countries in Asia-Pacific.

Art Jakarta Spot

Special presentations by seven artists, represented by seven art galleries, at dedicated spaces within the fairground.: Eko Nugroho (Arario Gallery), TeamLAB (Gajah Gallery), Cheuk Wing Nam (Galerie OVO), Albert Yonathan (Mizuma Gallery), Ronald Ventura (Yavuz Gallery), Ji in You (The Columns Gallery), and Syaiful ‘Tepu’ Garibaldi (ROH Projects).

Art Jakarta X

Art Jakarta extends its collaboration to other stakeholders in the industry, to produce special presentations for the fair. For this year’s Art Jakarta X, the following artists have been selected: Isha Hening by the Wave of Tomorrow, Huang Po-Chih, and I Nyoman Masriadi for a collector’s show in the VIP Lounge.

Art Jakarta Play

In collaboration with UOB Indonesia, a bank continuously emphasizing the value of education, Art Jakarta Play is dedicated to both children and adolescents eager to learn and experience art through various workshops organized by Eko Nugroho Art Class.

Art Jakarta Scene

This component of Art Jakarta brings together several dynamic players in Indonesia’s art ecosystem which is growing rapidly and nurtures various other creative industries.

Art Jakarta Talk

Art Jakarta Talk is a forum for stakeholders to discuss and share new topics and developments in the contemporary art world. Several panel discussions will provided new insights on current issues.

Art Jakarta Charity

A tradition of Art Jakarta since its first edition, the charity program is a fundraiser for organizations supporting good causes. Specially created art works will be sold by auction.

Art_UNLTD

In its ongoing commitment to offer young artists the opportunity to showcase their works and to interact with fair visitors from Indonesia and abroad, the Indonesian Creative Economy Agency (Bekraf) provides this dedicated platform for the continued development of talent. 


International galleries

  1. Amy Li Gallery Beijing
  2. ANOMALY Tokyo
  3. Arario Gallery Seoul
  4. Art Agenda S.E.A. Singapore
  5. Art Porters Singapore
  6. Art Seasons Singapore
  7. Art WeMe Contemporary Gallery Kuala Lumpur
  8. Art XChange Gallery Singapore
  9. Artcommune Gallery Singapore
  10. Artemis Art Kuala Lumpur
  11. Artredot Singapore
  12. Atelier Aki Seoul
  13. Baik+Khneysser Los Angeles/Seoul
  14. Bluerider ART Taipei
  15. Flower Gallery London
  16. Fost Gallery Singapore
  17. Gajah Gallery Singapore
  18. Galerie OVO Taipei
  19. Galerie Taménaga Tokyo/Paris/Osaka
  20. Gallery Khankhalaev Moscow
  21. Gallery Sun Contemporary Seoul
  22. Gallery YEH Seoul
  23. Hatch Art Project Singapore
  24. Jan Manton Art Queensland
  25. La Lanta Fine Art Bangkok
  26. Linda Gallery Jakarta/Singapore/Beijing
  27. Mizuma Gallery Singapore/Tokyo
  28. Nova Contemporary Bangkok
  29. Project Fulfill Art Space Taipei
  30. Qi Mu Space Beijing
  31. Richard Koh Fine Art Kuala Lumpur/Singapore/ Bangkok
  32. ShugoArts Tokyo
  33. Sullivan+Strumpf Singapore/Sydney
  34. Tang Contemporary Art China
  35. The Column Gallery Seoul
  36. TKG+ Taipei
  37. Tomio Koyama Gallery Tokyo
  38. Vin Gallery Ho Chi Minh City/Penang
  39. Wei-Ling Gallery Kuala Lumpur
  40. Yavuz Gallery Singapore
  41. Yeo Workshop Singapore

Indonesian galleries

  • Arkaarts Jakarta
  • Art Serpong Gallery Jakarta
  • Art:1 Jakarta
  • Artsphere Jakarta
  • Bale Project Bandung
  • CAN’s Gallery Jakarta
  • CGartspace Jakarta
  • D Gallerie Jakarta
  • Dunia Art Gallery Jakarta
  • Edwin’s Gallery Jakarta
  • Fenix Art Center
  • Gudang Gambar Jakarta
  • ISA Art Advisory Jakarta
  • KAS Project Yogyakarta
  • Kendy’s Gallery Jakarta
  • Kohesi Initiatives Yogyakarta
  • Lawangwangi Bandung
  • Linda Gallery
  • Nadi Gallery Jakarta
  • Puri Art Gallery Jakarta
  • Rachel Gallery Jakarta
  • ROH Projects Jakarta
  • ROH Projects Project Jakarta
  • RUCI Art Space Jakarta
  • SAL Projects Jakarta
  • Segaris Art Center Jakarta
  • Semarang Gallery Semarang
  • Syang Art Space Magelang
  • Zola Zolu Gallery Bandung