Category Archives: Social

Koko Cici Jakarta 2021: spirit of phoenix

Pemilihan Koko Cici Jakarta merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan untuk mencari putra-putri terbaik di DKI Jakarta untuk menjadi duta budaya Tionghoa, duta pariwisata dan duta social di DKI Jakarta. Acara budaya ini tergolong prestisius, karena rutin dihadiri oleh kepala daerah, kalangan pejabat pemerintahan, pengusaha, dan tokoh masyarakat.

Setelah suksesnya pelaksanaan Koko Cici Jakarta 2019, tahun 2020 semua acara yang mendatangkan keramaian harus dibatalkan akibat upaya semua untuk mengatasi pandemi.

Kini, di tengah pandemi COVID-19 masih mendera, namun menimbang penurunan kasus harian di DKI Jakarta pada khususnya, Pemilihan Koko Cici Jakarta 2021 kembali diadakan, dan mengambil tema Spirit of Phoenix.

Spirit memiliki arti semangat, sedangkan Phoenix sering dianggap sebagai raja dari segala burung, sehingga dianggap sebagai burung yang paling terhormat. Satwa yang digambarkan kepala seperti burung pelikan, berleher seperti ular, berekor sisik ikan, bermahkota burung merak, bertulang punggung mirip naga dan juga berkulit sekeras kura-kura ini, diyakini akan memperbaiki keadaan dan
mendamaikan suasana.

Selain itu, Phoenix juga merupakan lambang dari kebajikan, keharmonisan, tanggung jawab, perbuatan baik, kemanusiaan, sosok yang dapat dipercaya, sehingga sering dijadikan sebagai simbol dari pelbagai daur hidup manusia.

Dengan demikian diharapkan Koko Cici Jakarta sebagai duta budaya Tionghoa, duta pariwisata dan duta sosial di DKI Jakarta dapat membangkitkan semangat menyongsong hari yang indah.

Sama dengan kriteria yang ditetapkan di rangkaian pagelaran sebelumnya, kontestan Koko Cici Jakarta akan dinilai berdasarkan 3B+1T, yaitu behavior, brain, beauty & talent.

Namun ada yang berbeda di tahun ini, di mana penggunaan teknologi komunikasi daring memungkinkan para finalis untuk mempertunjukkan penampilan dan bakat mereka , seperti beatbox, acting, wushu, memasak, sulap, menyanyi, dansa, pertunjukan musik, melalui unggahan ke Instagram Koko Cici Jakarta.

Pada Grand Final, ke-24 finalis Koko Cici Jakarta 2021 akan memperkenalkan diri mereka dengan kemampuan bahasa asing yang dimiliki oleh masing-masing finalis. Kegiatan ini juga menjadi langkah pertama bagi finalis untuk memperkenalkan diri sebagai Koko Cici Jakarta 2021 kepada masyarakat Jakarta.

CSMS workshop at PP University

Being a speaker at a contractor safety management system workshop in PP University, Bogor, 6-8 November 2019, ASPI lead auditor Purnadi Phan, B.Ed, CSE, presented his insight on the occupational health and safety management system to the stakeholders across the country.

CSMS has been one of the most talked about topics since Pertamina mandated it to be included in their subcontractor selection process, and other major public owned enterprises seemed to follow suit.

Subscribe to ASPI business management publication to get you updated with the initiatives to make a safe place at work, and how ASPI can help organizations meet local safety regulations.

Paradigma dan tujuan kredit pemilikan rumah

Agus Chang has more than 11 years of experience in the business, technology and methodology aspects of various financial institutions. Not only widening his perspective in financial knowledge, but the journey has also inspired him to be more deeply committed to share and raise up the awareness of the society on how fundamental and essential financial knowledge is in achieving life fulfillment.

Seperti halnya pengambilan keputusan penting dalam perjalanan hidup kita, keputusan mengajukan kredit untuk kepemilikan rumah harus diawali dengan tujuan yang jelas.

Secara garis besar, tujuan seseorang mengambil KPR dapat dirangkum menjadi tiga, yaitu profit taking, investasi dan untuk kepemilikan pribadi. Singkatnya berikut adalah definisi untuk ketiganya.

Profit taking adalah tujuan yang ditetapkan seseorang terkait akuisisi properti untuk mengambil keuntungan dalam tempo sesingkatnya.

Investasi adalah sebuah tujuan di mana seorang investor mengakuisisi properti kemudian memanfaatkan properti tersebut untuk menciptakan pemasukan melalui kegiatan sewa. Investor juga dapat melakukan penjualan properti pada akhir periode setelah disewakan.

Kepemilikan pribadi adalah sebuah tujuan berupa akuisisi properti untuk memenuhi kebutuhan pribadi, misalnya sebagai tempat tinggal atau sebagai tempat usaha.

Setelah tujuan ditetapkan, analisis dilanjutkan dengan penyiapan data dan survei untuk menunjang keputusan tersebut. Data-data yang penting untuk diperoleh antara lain siklus properti untuk menentukan waktu akuisisi yang tepat, market value, market dan analisis keuangan pribadi untuk tujuan kepemilikan pribadi, sampai pembuatan simulasi perhitungan untuk menentukan apakah profit bisa diperoleh untuk tujuan profit taking dan investasi.

Rangkuman analisis akan menjawab secara rinci dan faktual apakah keputusan mengambil KPR dapat dieksekusi atau masih perlu dikaji ulang.

ASPI Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM, during his KPR presentation at API investor gathering, Jakarta, 6 October 2019

Paradigma terkait tujuan dari KPR ini dibahas pada event investor gathering yang diadakan oleh Abdi Properti Indonesia, Jakarta, 6 Oktober 2019, bersama Financial Advisor Archipelago Strategic & Partners Indonesia Agus Chang, B.Sc, MPM, yang dipaparkan secara detail hingga analisis perhitungan perbandingan menggunakan data yang sudah diriset dengan kondisi market terkini.

Investor gathering ini bertujuan memberikan edukasi dan bantuan kepada para investor properti dalam pengambilan keputusan.

Di event tersebut Agus menyimpulkan bahwa tujuan perlu ditetapkan di awal, dan untuk menanggulangi kesalahan pengambilan keputusan diperlukan perolehan data yang akurat dan analisis mendetil agar keputusan investor logis dan tidak semata berdasarkan faktor emosional.

Eksistensi Singo Barong di Taiwan

Selvi Agnesia, born in Bandung, 30th of November, 1986, took Master Degree in Anthropology, University of Indonesia. She lives in Jakarta, working as art manager of production in Studiohanafi, besides cultural and art critic. Between 2009 – 2016 she worked as cultural and art journalist, while taking part in performing arts management of several Indonesian theater groups and art institutions, such as in Festival Tokyo 2012, 2013, and Imagine Festival Basel-Switzerland, activist of New Zealand Cultures in 2015. She is currently taking trans/voice project Indonesia-Taiwan residence program.


Photo by Sima Ting Kuan Wu, courtesy of think archipelago

Ruang Hall Gungguan Elementary School, Pingtung County padat oleh ratusan pekerja migran Indonesia dari berbagai pelosok Taiwan. Selain orkes dangdut Om Ramesta yang cukup popular di kalangan PMI, kehadiran Paguyuban Singo Barong Taiwan menjadi bintang utama dalam rangkaian acara silaturahmi organisasi Densus 87 Pingtung dan Putra Katong pada 21 Juli 2019.

“Kami membawa satu rombongan lebih 30 orang,” ungkap Heri Budi Santoso, Ketua Paguyuban Singo Barong Taiwan, saat ditemui sebelum pementasan penutup Singo Barong di Pingtung, Taiwan Selatan. Tidak sia-sia, besarnya pengabdian sebuah loyalitas pada seni tradisional Reog Ponorogo yang dibawa oleh teman-teman Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang merangkap sebagai seniman tersebut mendapatkan apresiasi besar di negeri Formosa.

Menjelang penutupan acara silaturahmi tersebut, pertunjukan Reog Ponorogo yang dinanti beraksi. Dimulai dari para penari jatilan yang bergerak gemulai mengikuti alunan musik dan nyanyian yang dibawakan para pengrawit. Gemulai gerak tarian yang dibawakan Lorena, Puput, Dinda, Anis dan lain-lain lambat tapi pasti semakin menarik para penonton bergeser ke depan hingga akhirnya terlihat beberapa pemuda menemani mereka menari, lembar demi lembar 100 dolar Taiwan diberikan sebagai saweran.

Tidak lama kemudian, giliran Tari Patih yang dibawakan dua orang penari laki-laki yang berperan sebagai panglima Singo Barong. Keduanya bergantian menari diselingi atraksi akrobat dan gerak gesture yang menghibur. Seusai tari jatilan dan tari patih, akhirnya dua sosok Singa berkepala burung merak yang ditunggu mulai beraksi.

Kedua sosok singa berkepala burung merak berdiri saling berhadapan, mereka mulai dengan mengibaskan kepalanya, kemudian satu sama lain bergerak bergantian. Alunan musik kendang, terompet, gong dan angklung membuat ritme gerak kedua Singo Barong semakin kencang.

Photo by Sima Ting Kuan Wu, courtesy of think archipelago

Penonton dibuat terpukau sekaligus khawatir. Terutama penonton paling depan yang khawatir terkena kibasan. Ratusan layar handphone terlihat merekam aksi mereka. Tetapi amukan Singo Barong yang ditunggu ini tidak berlangsung lama. Sebab, tentu saja bukan perkara mudah bagi Rudi dan Hendrik, dua pemain di balik sosok Singo barong untuk membawa beban lebih dari 50 kilogram. Permainan mereka secara fisik mengandalkan kekuatan leher dan gigi.

Banyak pula yang mengira bahwa atraksi Reog Ponorogo melibatkan hal-hal mistis. Namun pada realitanya, para pemain Singo Barong berlatih hingga mampu mengendalikan dan memainkan Singo Barong dengan seimbang.

“Yang penting ada kesungguhan dan giginya gak ompong. Kalau giginya sudah ompong yah gak bisa soalnya memainkan harus digigit. Walaupun orangnya kecil, kalau mau belajar sungguh-sunggu dan tahu tekniknya pasti bisa,” ungkap Heri diselingi canda.

Demi Warisan Budaya

Satu bulan sebelum Singo Barong Taiwan pentas di Pingtung, pada akhir Juni 2019, para personil berlatih di Toko Indo Cen Cen daerah Zhongli, Taiwan dalam rangka silaturahmi Singo Barong yang akan berlangsung di Taman Zhongli.

Di lantai paling atas Toko Indo Cen Cen, sembari menunggu hujan reda, para personil terlihat duduk melingkar dan asik berbincang dalam bahasa Jawa. Sedangkan yang lain, Lorena dan Dinda, dua penari jatilan sedang asik berdandan dan bersiap memakai kostum.

“Kami sudah lama menyewa tempat ini buat kumpul dan simpan kostum, tapi kalau untuk latihan biasanya di taman saat minggu ketiga di setiap bulannya” ungkap Heri.

Photo by Sima Ting Kuan Wu, courtesy of think archipelago

Dua topeng kepala Singo Barong berhias bulu merak terlihat gagah menghiasi dinding ruangan tersebut. Tidak mudah membawa kedua topeng ke Taiwan. Topeng pertama didatangkan pada tahun 2014 ketika tahun pertama Paguyuban Singo berdiri. Tope kedua menyusul didatangkan pada tahun 2018. Dibutuhkan biaya hingga 1 juta dolar Taiwan atau sekitar Rp 500 juta untuk mendatangkan topeng tersebut. Heri dengan tegas mengungkapkan, biaya tersebut murni berasal dari bantuan teman-teman Pekerja Migran Indonesia.

Saya sempat berpikir. tentu saja tujuan teman-teman PMI ke Taiwan tentu saja untuk bekerja dan mencari uang, namun mengapa mereka tetap loyal dalam memberikan bantuan bagi eksistensi paguyuban Singo Barong.

Memasuki generasi ketiga dan tahun kelima berdirinya Singo Barong Taiwan, paguyuban ini telah pentas keliling di beberapa kota seperti Hsinchu dan berkali-kali di Taipei. Kehadiran mereka selalu dinanti teman-teman PMI dan animo masyarakat berupa undangan pemerintah Taiwan juga cukup besar.

Namun, hingga saat ini, kendala yang dialami kelompok berada pada soal dana dan regenerasi pemain. “Yang nonton kita banyak. Yang main susah.”

Kesibukan bekerja para PMI yang sebagian besar bekerja di lingkup domestik cukup menjadi kendala untuk mengumpulkan orang untuk ikut serta bermain. Tidak hanya mengandalkan talenta-talenta orang Ponorogo asli, mereka turut membuka siapapun orang awam yang bersungguh-sungguh untuk berlatih. Selesai masa kontrak di Taiwan, para anggota dan regenerasi juga tentunya akan berganti, maka pembinaan dalam kelompok tetap harus terus dijalankan.

Situasi tersebut sangat berbeda dengan keberlangsungan Reog Ponorogo di tempat kelahirannya Ponorogo, Jawa Timur. Setiap tahunnya, terutama bertepatan 1 Muharam, seni pertunjukan yang berlangsung dari cerita rakyat ini dihelat secara nasional dalam Festival Reog Ponorogo dari berbagai kelompok se-Indonesia. Reog Ponorogo pun sudah masuk sebagai kurikulum pelajaran kesenian dan diberlakukan di setiap desa. Peran pemerintah begitu aktif, berbeda dengan kondisi yang dialami Singo Barong Taiwan.

“Bagaimanapun yang terpenting ini adalah warisan budaya” tegas Heri. Ia dan komunitasnya berharap semoga Reog Ponorogo dapat dikenal oleh marayarakat Taiwan, selain mempertahankan keberlangsungan seni pertunjukan Reog Ponorogo ke depannya agar masyarakat tetap bisa mengetahui bahwa ada Singo Barong di Taiwan.

Singo Barong menjadi sebuah organisasi yang menjadi wadah berkumpul semua Pekerja Migran Indonesia tanpa memandang ras, suku dan agama.

Joged Idul Fitri dan kebebasan beragama di Taiwan

Selvi Agnesia, born in Bandung, 30th of November, 1986, took Master Degree in Anthropology, University of Indonesia. She lives in Jakarta, working as art manager of production in Studiohanafi, besides cultural and art critic. Between 2009 – 2016 she worked as cultural and art journalist, while taking part in performing arts management of several Indonesian theater groups and art institutions, such as in Festival Tokyo 2012, 2013, and Imagine Festival Basel-Switzerland, activist of New Zealand Cultures in 2015. She is currently taking trans/voice project Indonesia-Taiwan residence program.


Pukul 05.00 pagi, Rabu, 5 Juni 2019, alunan suara takbir dan tahmid meraung di halaman Taman Taipei Travel Plaza- Taipei Main Station. Umat muslim laki-laki dengan sarung dan kopiah, serta perempuan berhijab datang berbondong-bondong. Kebanyakan dari mereka berstatus pekerja migran Indonesia (PMI).

Tercatat sebanyak lebih dari 50.000 umat muslim datang dari berbagai penjuru Taiwan dengan kereta, bus, dan sebagian lainnya terlihat kompak menggowes sepeda bersama-sama dengan wajah yang sumringah. Ada juga yang datang sambil mendorong kursi roda para ama dan akong, menempatkan pemberi kerjanya tersebut disampingnya, sebab pelaksanaan Idul Fitri 1440 H tahun ini bertepatan dengan hari kerja.

Dua lansia menunggu pekerja migran menjalankan ibadah di hari raya Idul Fitri, 2019, Taiwan. Photo by Sima Wu Ting Kuan, courtesy of think archipelago.

Sebenarnya, sebagian pekerja dapat melampirkan surat izin kepada atasan yang dikeluarkan oleh pihak Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI), namun sebagian PMI sulit untuk melepaskan tanggung jawab pekerjaanya, terutama jika merawat lansia.

Menjelang pukul 06.30 pagi suara takbir bercampur aduk dengan suara obrolan berbahasa Indonesia, Jawa, Sunda dan himbauan petugas dari mikrofon yang sibuk mengatur para umat, “Tolong segera dirapikan barisannya, yang belum dapat tempat jangan khawatir, shalat idul fitri masih ada gelombang selanjutnya.”

Sebagian lainnya terlihat sibuk beraktivitas dengan ponsel masing-masing untuk bervideo call dengan keluarga, berswafoto dan siaran langsung di media sosial. Suara keriuhan itu akhirnya senyap seketika ketika imam mengumandangkan, “Allahhu akbar.” Di antara megahnya gedung-gedung, di bawah langsung atap langit, mereka khusyuk bersujud pada pencipta.

Usai shalat, mereka saling bersalaman. Terlihat haru yang tak dapat disembunyikan. Setidaknya, meskipun mereka jauh dari orang tua, suami, istri dan anak, terdapat rasa syukur dapat merayakan idul fitri bersama-sama teman keluarga setanah air. Pelaksanaan shalat idul fitri di Taipei Main Station terbagi dalam tiga gelombang sejak pukul 06.30 hingga 09.00 waktu setempat. Setiap gelombang dipandu bilal, imam salat, dan khatib yang keseluruhannya berkewarganegaraan Indonesia.

Tradisi perayaan Idul Fitri di kalangan pekerja migran

Dari Plaza Taipei Main Station, saya berkunjung ke kota Keelung, 30 menit dari Taipei dengan menggunakan bus. Keelung merupakan salah satu kota pelabuhan sejarah terpenting di Taiwan. Di depan pelabuhan sudah berdiri panggung megah dan deretan bazaar kuliner. Dari pagi hingga menjelang sore, panggung diisi oleh hiburan musik dangdut, pop dan tarian-tarian daerah.

Mayoritas pekerja migran Indonesia di Keelung bekerja sebagai anak buah kapal dan pekerja domestik yang mengurus lansia dan keluarga. Di tengah kegembiraan bernyanyi dan berjoged, seorang pekerja mengungkapkan, bahwa ini merupakan hiburan yang ampuh untuk pelipur sepi dari rasa rindu pada keluarga.

Ada tradisi yang berbeda antara lebaran di Indonesia dan di kalangan PMI di Taiwan. Usai shalat idul fitri, tak ada saling kunjung antar keluarga dekat. Yang terlihat justru perayaan bersama teman-teman seperantauan dan halal bihalal dengan hiburan musik dan tarian.

Seluruh pengisi acara yang berasal dari PMI heboh bernyanyi dan berjoged bersama, menyajikan sebuah pemandangan yang langka untuk ditemukan di tanah air, berbeda dengan penampakan mereka yang kerap berkaraoke bersama di warung Indonesia atau tempat karaoke khusus sambil membawakan lagu dangdut ala pantura, Banyuwangi dan musik dangdut yang sedang populer.  

Hal lain yang berbeda dari lebaran di tanah air adalah langkanya ketupat di Taiwan, sebab daun kelapa untuk bahan ketupat memang jarang dijual. Sebagai pengganti digunakan lontong dengan daun pisang atau plastik, sedangkan yang terlihat di tenda-tenda bazaar makanan di antaranya bakso, siomay, opor dan berbagai minuman dingin yang dijual oleh PMI.

Kebebasan beragama di Taiwan

Muslim women in hijab perform Idul Fitri mass prayer in Taiwan, 5 June 2019. Photo by Sima Wu Ting Kuan, courtesy of think archipelago.

Shalat Idul Fitri di Taipei terselenggara berkat kerja sama berbagai pihak. Misalnya di Taipei Main Station, Administratur Taipei memberikan fasilitas tempat, sedangkan Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) mendukung pendanaan penyelenggaraannya dengan melibatkan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Taiwan, Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah, sejumlah organisasi kemasyarakatan lainnya, BUMN Indonesia dan perusahaan swasta di Taiwan. Wali Kota Taipei Ke Wen Zhe turut hadir dalam kegiatan tersebut dan memberikan sambutan bersama KDEI di Taipei, Didi Sumedi, menyampaikan ucapan selamat hari raya Idul Fitri kepada para umat.

Umat muslim di Taiwan berjumlah kurang dari 1% dari populasi, namun Taiwan yang berlandaskan demokrasi terlihat nyata turut melindungi kebebasan beragama. Hal tersebut tampak dari pelaksanaan shalat Idul Fitri yang tersebar di berbagai kota di Taiwan, beberapa di antaranya Taoyuan, Nankan, Penghu, Taitung, Changhua, Kaohsiung, Hualien, Keelung, Dolio, Donggang, Taichung, dan Yilan.

Tersebarnya ruang ibadah di sederet kota tersebut memberikan kesempatan bagi lebih dari 200.000 pekerja migran Indonesia dan berbagai masyarakat muslim dari negara lainnya untuk menjalankan kebebasan beragama selain menjadi ruang interaksi sosial. Ekspresi kebebasan spiritual lewat seni terasa lebih dekat saat Idul Fitri di Taiwan.

Begitulah cara mereka merayakan di negeri formosa yang katanya sesyahdu musik dangdut.

Keselamatan publik abad 21

Artikel ini merupakan bagian pertama (1/3) dari makalah berjudul Dampak Kepemimpinan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Organisasi Terhadap Budaya Keselamatan Masyarakat, Business and Management Publication, Archipelago Strategic and Partners Indonesia, Jakarta, April 2019. Hak cipta dilindungi Undang-Undang.


Upaya pemerintah untuk membudayakan perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Indonesia mendapat penekanan penting sejak diterbitkannya Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yang hingga kini tetap menjadi acuan pembuatan regulasi-regulasi turunannya.

Sama halnya dengan kecenderungan tatanan ekonomi negara-negara berkembang menjelang abad ke-21 yang ditandai dengan industrialisasi berbasis tenaga kerja, regulasi demi regulasi di bidang ketenagakerjaan di Indonesia, khususnya perlindungan terhadap kecelakaan kerja, telah berdampak pada tingkat kepatuhan hukum di bidang keselamatan kerja.

Sejalan dengan penegakan peraturan dan mekanisme pengawasan, baik dari pihak berwenang maupun sukarela di tingkat organisasi, budaya keselamatan dan kesehatan kerja merupakan faktor pendorong untuk mewujudkan dunia kerja yang aman dan selamat.

Di antara sekian banyak variabel pengukur penerapan budaya selamat di tempat kerja, kepemimpinan semakin menjadi perhatian penting, sedemikian pentingnya sehingga badan standarisasi dunia seperti International Organization for Standardization (ISO), misalnya, mensyaratkan kepemimpinan dalam standar sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di versi tahun 2018, dan juga standar sistem manajemen lainnya yang telah mereka seragamkan melalui istilah high level structure

Hal ini beranjak dari pemahaman bahwa para pimpinan dalam sebuah organisasi berperan langsung dalam menentukan seberapa jauh organisasi tersebut menaati peraturan yang berlaku serta membudayakan perilaku K3 di tempat kerja dan pada akhirnya menjadi kebiasaan di kehidupan selepas jam kerja yang juga akan mempengaruhi persepsi tentang keselamatan masyarakat sekitar.

Keselamatan Berkendara

Data kecelakaan lalu lintas nasional pada 2017 mencatat 577 korban luka berat dan 222 kematian akibat perilaku berkendara tidak aman, yaitu kelebihan batas kecepatan. Di tahun berikutnya perilaku yang sama menyebabkan 337 korban luka berat dan 276 kematian.

Dalam acara Konstruksi Indonesia 2018 di Jakarta, penulis mengikuti seminar dan workshop Membangun Budaya Keselamatan pada Industri Konstruksi Berdaya Saing Tinggi di Indonesia. Salah satu panelis dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat memaparkan rendahnya angka kecelakaan fatal di pembangunan jalan setahun terakhir, sebelum ditanggapi oleh salah satu peserta seminar mengenai nilai sesungguhnya dari pencapaian tersebut apabila mempertimbangkan angka kecelakaan pengguna jalan yang tetap tinggi.

Pengendara berhenti di persimpangan Jl. Medan Merdeka, Jakarta Pusat

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi DKI Jakarta menunjukkan jumlah kecelakaan lalu lintas jalan tol tahun 2014 sebanyak 1164, dengan jumlah kematian 82 orang. Sebab kecelakaan terbesar berasal dari pengemudi, dengan 977 kasus, kendaraan 178 kasus, dan faktor lingkungan (3 kasus).    

Data Kepolisian Republik Indonesia tahun 2017 menunjukkan 61% kecelakaan lalu lintas di Indonesia disebabkan kemampuan dan karakter pengemudi, 30% faktor prasarana dan lingkungan, dan 9% faktor kelayakan kendaraan. 

Perilaku berkendara aman di masyarakat Indonesia dalam 5 tahun terakhir tetap berada di tingkat memprihatinkan dengan tetap menyandang status utama penyebab kecelakaan fatal. Di samping itu, faktor kelayakan prasarana dan lingkungan turut mengancam keselamatan masyarakat di perjalanan.

Keselamatan Moda Transportasi Massal

Jusman Syafii Djamal, Menteri Perhubungan Kabinet Indonesia Bersatu Pertama 2007-2009, dalam kata pengantarnya di buku Transportasi Pro Rakyat, 2013, mencatat, Edie Haryoto sebagai direktur utama PT Kereta Api Indonesia mengundurkan diri di tahun 2000 setelah peristiwa tabrakan dekat Pos Rawabuntu, Tangerang, Banten, yang memakan 4 korban jiwa.

Badar Zaenie juga mundur dari jabatannya sebagai direktur utama terkait tewasnya 30 orang setelah tabrakan kereta di Stasiun Ketanggunan Barat, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Desember 2001.

Menurut Jusman, Edie Haryoto telah dengan sukarela memberikan contoh teladan kepada masyarakat tentang arti tanggung jawab moral ketika diberi amanah menjadi pemimpin sebuah BUMN yang berorientasi pada pelayanan publik.

Bandar Udara Internasional Kualanamu, Medan

Dalam buku yang berisi kumpulan catatan Edie Haryoto tersebut, diceritakan saat menjabat sebagai direktur utama PT Angkasa Pura II tahun 2002-2010, Edie dengan aktif mendukung program Roadmap to Zero Accident melalui berbagai langkah korporasi pada tahun 2007, saat membangun Bandar Udara Internasional Kualanamu, Medan, bandara pertama di Indonesia yang memiliki akses jalur kereta api dan city checkin terminal, di antaranya fokus pada pemberantasan pungutan liar di layanan taksi bandara.

Selanjutnya, atas masukan Jusman tentang kaitan antara toilet yang kotor dan dampaknya terhadap program roadmap to zero accident, Edie secara konsisten merombak semua sistem pembuangan kotoran dan mengganti semua peralatan di dalamnya, seperti keran air, dinding kumuh, dan sebagainya, demi memberikan layanan terbaik bagi pekerja dan pelanggan.

Ia menulis bahwa setiap elemen kecil di bandara perlu dicermati karena pasti ada kaitannya dengan peningkatan keselamatan dan keamanan penerbangan. Di dalam ketidakteraturan, ketidakbersihan, dan ruang yang tidak steril, ancaman pada keamanan bandara dan penerbangan bisa muncul tanpa diduga.

Contohnya seorang pilot atau pramugari terpeleset di toilet, kepalanya terbentur, dan ia tetap menjalankan tugasnya. Skenario kecelakaan kerja seperti ini tentu akan membuatnya tidak mampu berkonsentrasi membawa pesawat terbang dengan nyaman dan aman sampai tujuan.

Pesawat penumpang saat taxiing di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Wiraswasta

Pada sebuah makalah berjudul Developments Regarding the Integration of the Occupational Safety and Health with Quality and Environment Management System oleh Gilberto Santos, Manuel Rebelo, Barros et al, yang dimuat dalam jurnal ilmiah Occupational Safety and Health, Public Health in the 21st Century, 2014, terangkum hasil penelitian tentang perkembangan usaha kecil dan menengan (UKM) di negara para peneliti, Portugal, menuju sertifikasi sistem manajemen K3, sistem manajemen mutu, maupun integrasi kedua sistem manajemen tersebut.

Mengacu pada standar sistem manajemen mutu ISO 9001 dan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja OHSAS 18001, sebanyak 300 kuesioner dibagikan kepada 300 UKM.

Mereka berpendapat tempat kerja di masa depan akan disesaki oleh usaha-usaha mikro yang fleksibel dan tahan banting.

Bahkan sejak 1980-an, para peneliti mengatakan bahwa tren peran penting UKM yang sedang mengalami tren peningkatan mengindikasikan awal baru era industrialisasi dan manufaktur yang semakin manusiawi dibandingkan generasi buruh massal jaman dulu.

Toko makanan ringan di Pasar Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat

Kesimpulan penelitian mereka adalah aset terbesar organisasi di wilayah atau negara mana pun adalah manusia yang memiliki kompetensi. Sumber daya manusia adalah sumber daya yang paling berharga di organisasi mana pun, di negara mana pun, tapi sayangnya belum disadari oleh sebagian pemimpin.

Menurut European Agency for Safety and Health at Work (2002), isu-isu perubahan tatanan dunia kerja atau Changing Work World  memiliki karakteristik berikut:

  1. Bentuk organisasi kerja baru
  2. Hubungan kontrak model baru antar pihak terkait
  3. Waktu kerja baru
  4. Teknologi baru
  5. Perubahan pada tenaga kerja
  6. Perubahan pada keselamatan dan kesehatan kerja.

Dalam makalah terpisah berjudul Occupational Safety in Finland and South Korea, Salminen dan Seo menemukan bahwa berdasarkan data dari negara-negara yang tergabung di OECD tahun 2012, porsi wiraswasta (self-employed) lebih tinggi di Korea Selatan (28,8%) dibandingkan Finlandia (13.5%).

Masalahnya adalah para wirausahawan di Finlandia menghadapi jumlah kecelakaan kerja 40% lebih tinggi dibandingkan kelompok pekerja di Finlandia.

Di Amerika Serikat, pekerja mandiri 2,7 kali lebih sering menjadi korban kecelakaan kerja fatal dibandingkan pegawai perusahaan. Sementara data perbandingan ini tidak tersedia di Korea Selatan.

Konsinyering pengawasan norma K3

Menurut data Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, terdapat 3173 kasus fatalitas di tempat kerja se-Indonesia sepanjang tahun 2018, naik dari 2347 kasus di 2017, dengan penyebab terbesar berasal dari lalu lintas pulang pergi tempat kerja, diikuti oleh jatuh.

Direktur Binwasnaker Herman Prakoso lebih lanjut mengatakan bahwa jumlah kecelakaan kerja naik seiring dengan kebijakan pembangunan era Joko Widodo yang menitikberatkan penggunaan APBN pada infrastruktur, mulai dari bandara, proyek-proyek revitalisasi infrastruktur ekonomi, jalan tol, hingga jalan desa.

Untuk itu Herman mengingatkan perlunya bersinergi dan menyingkirkan ego sektoral antar kementerian. “Kompetensi boleh dijalankan kementerian masing-masing, namun kewenangan K3 konstruksi tetap berada di Kementerian Ketanagakerjaan,” tegasnya.

Selain soal kewenangan yang melemahkan pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), Indonesia dihadapkan pada persoalan 4000 peraturan menteri yang tumpang tindih lintas sektor.

ASPI lead auditor Purnadi Phan, B.Ed, CSE, yang tergabung dalam Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (A2K4) Dewan Pengurus Wilayah DKI Jakarta, terlibat dalam penyusunan draf peraturan perundang-undangan bidang K3 konstruksi bangunan dalam konsinyering pengawasan norma K3 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, 11-12 Maret 2019.

Traces of cross gender in Indonesian traditional dance

SIPFest 2018 is a performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in conjunction with the art center’s tenth anniversary. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 4 August 2018 onwards until early September. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2018 banner found in think archipelago website.


Didik Nini Thowok
Didik Nini Thowok in SIPFest 2018, Jakarta, 7 August. Photograph by Witjak Widhi Cahya, courtesy of Komunitas Salihara

It is likely to spark controversy whenever such an issue is brought up amid the majority religious people at the present Indonesia, but cross gender has been a part of the traditional performances across the archipelago which now become the sovereignty of the country.

Dancer cum choreographer Didik Nini Thowok, a 1982 graduate of Indonesian Art Institute (ISI) in Yogyakarta, whose birth name Didik Hadiprayitno, and who has carved a name on the short list of a patron of cross gender dance remains unshaken by the prevailing sentiment.

He is adamant at preserving cross gender dances in many of his works. One of them was presented in a lecture-performance in SIPFest 2018, Jakarta.

Moderated by Joned Suryatmoko, Didik’s unabated traditional dances and his ability to embody the female character dazzled the audience. All the more precious was his extensive research on cross gender traditional dance shared to public in one occassion. It revealed that the issue is not a new, abhorrent influence. It has thrived in the society before long.

He listed references to cross gender cultural and historical presence in a number of Javanese masked dances, Ludruk, Ronggeng, Balinese theatrical dance, Tari Gandrung, Buginese ritual, and in current times, the cabaret-styled Oyot Godhong in Yogyakarta, whose performers are mostly ISI students.

The routinely-held grass-root entertainment often involves  comedy show and lypsincing, savoring popular songs local and foreign-alike.

In comparison to European classic piece Swan Lake, the humorous Trockadero Ballet,  the Indian Stree Vesham where men perform as women similar to Japanese Kabuki, or the opposite movement of Takarazuka where women perform as men like the Chinese Yueju Opera, and mask dances in many Asian countries, Indonesia has a variety of cross-gender performance of its own, apparent across social groups, from grass root level to the royal castes, from entertainment to rituals, as follow:

  1. Langendriyan, a Javanese Opera performed in the palaces of Yogyakarta sultanate as well as in Surakarta. The opera played in both kingdoms differ in the gender. While the opera group in Yogyakarta consisted of men, the Langendriyan in Mangkunegaran Surakarta was performed by all women dancers.
  2. Wayang Wong, an epic Mahabarata-inspired theatrical dance which reached its zenith in 20th century, also performed before the sultanates of Yogyakarta and Surakarta
  3. Tari Golek, performed following Wayang Kulit
  4. Tari Topeng Cirebon, a female-led mask dance impersonating male character originating from the west coast of Java, such as in Palimanan and Indramayu
  5. The folk performing arts of Wari Lais, whose history can be traced in Cirebon, Cilacap, and Lasem
  6. The popular Ronggeng in Banyumas, which was later called Lengger Banyumas, where female dancer staged Tari Baladewan of male character to accompany local peasant ritual
  7. Lengger Wonosobo, whose origin dated back to Hindu era, performed by male dancers impersonating female eroticism
  8. A play and mask dance of Malang, called Tari Beskalan Putri Malangan, derived from folk tale Panji and played by male impersonators, to accompany ritual ceremony
  9. Ludruk Tutik Bintang Timur from Surabaya, a famous Ludruk group in 1950s, famous for the play Sarip Tambakyoso, a tale of indigenous heroism during the Dutch colonization
  10. Tari Gandrung Banyuwangi, documenting male dancers with female costumes holding drum and violin
  11. Drama Gambuh of Bali, influenced by cross-gender performances of predominantly-Hindu India. It is common to see such type of dance in Hindu society, where one of the goddess Shiva is depicted half male and half female. In Bali, other dances of similar fashion are , Legong Muani, Nandir, Trunajaya, Panji Semirang, Wiranata, Margapati, and so on, making it a land of opportunity for artists to thrive freely, such as dance group Sekaa Gong Kebyar Wanita, Topeng Wanita, Kecak Wanita, Gambuh Muani, and Arja Muani. (Muani means male).
  12. Folk theatrical dance Randai, whose origin can be traced in Padang, West Sumatra. Randai dance required a night-long performance, which explained why dancers are all males replacing the female dancers who are supposed to play their characters by nature due to the local customs of deriding women seen outside homes at night. Ronggeng is an acculturation of Javanese and Sumatran culture, hence the resemblance of Ronggeng and Randai.
  13. The sacred ritual Bissu in South Sulawesi, a tradition of Buginese as written in epic La Galigo. Performed with violent content by male monks, Bissu involve feverish dance and sing to the state of possessed-like and result in self-inflicted stabbing to limbs.

Kunjungan traumatis di the Invitation

IMG_20170316_130104

Paranoia yang disebabkan oleh trauma masa lalu membuat orang sekitar meragukan kondisi mental mereka yang mengalaminya. Rasionalitas dianggap sebagai tolok ukur kondisi psikologi yang normal. Di sisi lain intuisi yang sebagian dipengaruhi oleh perasaan diragukan.

Intuisi tokoh utama dalam thriller the Invitation merupakan hal yang menyebabkan kekacauan batin, dan kecurigaan teman-temannya karena ia terlihat gelisah terhadap semua hal, meskipun ketakutan yang berlebihan mungkin satu-satunya penyelamat dalam akumulasi plot yang berbahaya ini. Sebagian besar porsi dalam film ini berkutat pada tokoh sentral ini yang masih mengobati luka kehilangan anak.

Trauma kedua orang tua atas kematian anak tunggal yang disebabkan oleh kelalaian dalam hitungan detik di sebuah pesta rumah masih sulit terobati beberapa tahun lalu.

Mereka masih berupaya menerima kepedihan dari rasa bersalah itu. Mantan ayah telah menjalani hidup baru bersama seorang kekasih, dan terungkap kemudian di saat mereka memenuhi sebuah undangan ke sebuah rumah di lokasi kalangan atas di perbukitan Hollywood, Los Angeles, bahwa mantan istrinya yang tinggal di rumah mewah tersebut mengatasi kehilangan anaknya dengan berserah pada sebuah ajaran kepercayaan di Meksiko.

Sepulang dari sana, ia juga telah memiliki pasangan hidup baru yang keduanya menyebarkan kisah tentang perjalanan mereka mengatasi kesedihan di dunia ini, dan tampaknya kini berakhir bahagia, meski dengan bantuan obat penenang di laci kamar. Motif sebenarnya dari undangan reuni makan malam ini makin disadari oleh para undangan, mungkin promosi untuk mencari anggota baru.

Menutupi trauma

Film ini mengisahkan perlombaan untuk berusaha menutupi trauma pribadi, ketabahan untuk melanjutkan hidup yang seringkali tragis ini, dan menunjukkannya kepada orang lain dengan lantang dan riang bahwa diri ini menang dan menginspirasi.

Dan lucunya film ini mendiskreditkan kelas sosial atas yang hidup eksklusif, dan demikian besar jarak dengan kelas sosial lainnya hingga persepsi dari kejauhan yang ditujukan kepada mereka adalah kehidupan yang serba ada, walau hanya penghuninya yang tahu tingkat kebahagiaan masing-masing di balik pagar rumah yang tinggi.

Mendapatkan ketenaran setelah terpilih menjadi salah satu film yang diputar di festival film tahunan British Film Institute di London, dan konferensi tahunan 2015 SXSW (South By Southwest) yang diselenggarakan selama 30 tahun oleh perusahaan swasta di Austin, Texas.

Namun menyematkan South By Southwest dalam poster film sebagai salah satu pemberi penghargaan tidak begitu berarti karena bukan kebetulan distributor eksklusif film ini, Drafthouse, adalah sebuah jaringan sinema yang juga berasal dari Austin.

Penghargaan yang pantas berasal dari Sitges. The Invitation memenangkan penghargaan best picture di festival film fantasi dan horor asal Spanyol tersebut.

Masih kurang indie

Meski demikian, sanjungan direktur festival Sitges Angel Sala bahwa produksi film indie di Amerika Serikat berkembang pesat agak menyesatkan, terutama mengingat bahwa film ini tidak memperkenalkan talenta baru, tetapi malah terlihat mainstream dengan dipakainya Michiel Huisman dari serial HBO Game of Thrones dan Logan Marshall-Green dari film layar lebar Prometheus sebagai dua nama-nama yang ditaruh di baris depan agar lebih menjual.

Di samping itu sutradara Karyn Kusama asal Amerika Serikat juga sedang terlibat bersama Fox dalam pembuatan film horor Breed.

Debut Karyn Kiyoko Kusama sebagai penulis sekaligus sutradara bersama aktris debutan Michelle Rodriguez dalam film Girlfight di tahun 2000 memang menuai pujian karena ia sempat kesulitan mendanai film senilai USD1 juta, dan akhirnya mendapat dukungan secara terbatas, salah satunya dari Independent Film Channel.

Namun reputasinya sebagai sutradara film indie patut direvisi karena dalam perjalanannya ia semakin lekat dengan ranah mainstream di dua film berikutnya 5 tahun kemudian, Aeon Flux, dan Jennifer’s Body, bekerja sama dengan barisan pemain Hollywood seperti Charlize Theron, Adam Brody, dan Megan Fox.

Bagaimana pun juga, masih ada yang menyebut the Invitation sebagai sebuah subgenre yang layaknya berada di lingkup independen.

Antara thriller dan drama

Perkembangan cerita berdurasi 100 menit perlahan mencekam, namun arahnya dapat diprediksi dari dialog di beberapa adegan yang membuka isu sekte sesat. Entah sudah berapa kali tuduhan “cult!” masuk dalam skrip.

Konflik terjadi di perempat akhir film, dan twist yang dinanti di adegan akhir film terasa klise, karena hanya mengeksploitasi tren twist ending film-film blockbusters yang menunjukkan histeria massal seperti layaknya film-film bergenre epidemi zombie dan kiamat.

Meski tidak ada efek yang mengejutkan, film ini meninggalkan efek mencekam di benak seusai menonton, bahkan paranoia menerima undangan dari teman yang sudah lama tidak bertemu, setelah membayangkan begitu dekatnya ancaman isu ini dengan kenyataan.

Beberapa pemainnya pun tidak yakin apakah film ini thriller atau drama. Film ini mencerminkan sisi kejiwaan terdalam dari kasus-kasus nyata tentang bunuh diri massal oleh sekte-sekte kepercayaan sesat, seperti yang terjadi di Uganda, Bangladesh, dan di negara mereka sendiri, yaitu kasus Heaven’s Gate di California di tahun 90an.

New year marks a new you

dsc_4367
A man flies a sky lantern on new year’s eve

The often-cited words in the trying times is that hope keeps humans alive. And in a spirited gesture of placing that hopes sky-high in the new year, people who crowded a new year party event at a beach hotel in Bangka Island lit the sky lantern before releasing them up to the sky.

Moments after the collective act, the view above began to be surrounded by bright dots, and at a particular height they slowly turned to obscurity.

Indonesia welcomed the year 2017 with the kind of dimming hopes. Lowered state budget forecast by some IDR12 trillion compared to the previous year got people into conversation about another lackluster year ahead. “It will bounce back by 2020,” Tony said with a heavy tone. But at least he looked happy on the evening, bringing his family along to routinely celebrate the new year in his hometown.

He was one of the first to attempt flying a lantern, but failed for several times before hotel staff noticed about their customers dissatisfaction and offered a new one, this time successfully assisted.

Some people chose to slip away from the jovial crowd and released their lantern after a moment of prayers.

Stood by the jetty, businessman Mr. Himawan in his formal shirt kept his hopes for himself, silently watched his lantern flew away to join dozens other in the dark sky. “At this age, I need to constantly have a soul renewal,” he said when the trace of his lantern had gone, and he returned to the crowd, unsighted.

As a typical family recreation, this place is full of children. Their existence, most likely, are the driving force behind holding on tightly to the positive expectation of this year.

Despite the general uncertainty of tomorrow, survival of the offspring is a responsibility of eery household.