Tag Archives: Banten

Coretan para pemanggul keramik

Di balik beban dan coretan.
Raut wajah seorang buruh menyiratkan beban seberat keramik yang dipanggul di punggungnya.

Di balik koridor yang menjebak udara dingin, para buruh harian berhadapan dengan beban yang terus menanti untuk dipikul setiap hari. Ini bukan saja pekerjaan berat, tapi merusak tubuh.

Bahaya biomekanis yang mendera di setiap keramik berukuran setidaknya 60 meter persegi yang mereka angkat tidak menciutkan air mukanya. Justru yang tampak dari raut wajah mereka saat melangkah dengan memanggul beban berat di punggung itu adalah mata yang terpaku pada sebuah harapan di luar dinding koridor yang dingin tersebut.

Inilah beban hidup di dunia kerja yang sempit, dan dapat disandingkan sebagai analogi dari perjuangan berat untuk bertahan hidup di luar sana.

Sekitar 20 pekerja, sebagian berasal dari sekitar Serang, Banten, mengeroyok proyek konstruksi di sana yang sudah berlangsung selama satu tahun, dan kini dalam tahap penataan lantai.

Fisik gedung berlantai 4 tersebut sudah terlihat rampung dari luar. Tampak dari jalanan sebuah gedung kantor di sebuah lokasi industri modern yang mewakili wajah pembangunan pesat di salah satu daerah padat penduduk dan kaya akan potensi ekonomi.

Daerah ini terik, gersang, bertanah merah dengan frekuensi hujan panas yang akan menyebabkan tanah segera menjadi lumpur begitu hujan mengguyur sepanjang siang. Di sekitarnya bertebaran wilayah penambangan pasir di perbukitan.

Industri bata hebel yang kini kian populer digunakan oleh warga desa-kota di Jawa berkembang di sini beberapa tahun terakhir, dan mencakup skala industri mulai dari rumahan hingga pabrik besar.

Truk pengangkut pasir meninggalkan jejak jalan rusak di banyak titik di antara pintu tol Balaraja dan Ciujung. Ini adalah sentra industri mengalirkan arus ekonomi dari basis produksi di Serang hingga ke Jakarta atau Pelabuhan Merak di barat.

Produktivitas tinggi, namun tidak demikian halnya dengan kualitas tenaga kerja secara umum.

Buruh harian menapaki tangga sambil memikul sebidang keramik.
Seorang buruh harian menapaki tangga sambil memikul sebidang keramik, sebuah pekerjaan yang berbahaya, apalagi tanpa alat pengaman diri yang cukup.

Meski volume kendaraan tersendat akibat kepadatan dan jalan berlubang, serta terik karena konstruksi yang marak sehingga memangkas kerindangan, para pekerja harian di balik salah satu proyek di sepanjang jalan tersebut tidak tersiksa.

Otot tangan mereka kencang, sendi-sendi mereka kokoh diselimuti kelembapan interior bangunan yang masih telanjang dengan warna semen serta tanpa instalasi lampu kecuali sinar yang merambah ke dalam melalui kedua ujung koridor di lantai dua dan tiga.

Kompetensi pekerja

Mungkin mereka tidak menggubris rendahnya nilai rata-rata kompetensi pekerja di Indonesia selain berapa akumulasi pendapatan saat pembagian gaji di akhir pekan. Tidak pernah terlintas di benak mereka soal menapak jenjang karir, kecuali asa untuk menapak anak tangga sambil kedua tangannya menopang bidang keramik yang ujungnya tajam itu.

Tidak ada yang tahu di dalam gedung yang sedang dalam tahap penyelesaian tersebut bahwa Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sedang membagi-bagikan sertifikasi melalui serangkaian program pelatihan kepada seribuan pekerja konstruksi dalam sebuah acara simbolik di beberapa kota untuk mengurangi kekhawatiran pemerintah akan rendahnya daya saing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Itu pun hanya sebagian dari 25% pekerja konstruksi Indonesia yang bersertifikat. Tidak ada yang pernah menjalani uji kompetensi, kecuali ujian kerelaan menerima pekerjaan yang memakan raga, serta ujian ketabahan hidup yang rentan terhadap ancaman kemiskinan dan ketidakpastian kerja setelah proyek ini selesai.

Mencoret dinding

Tidak ada dari buruh harian ini yang meratapi status mereka yang tidak termasuk dalam 7 juta pekerja konstruksi di Indonesia. Mereka hanya menuangkan status hati di atas dinginnya dinding semen telanjang, dicoret dengan kapur tulis di balik koridor dan di pojok ruangan-ruangan setengah jadi.

Coretan tersebut di antaranya memuat pesan penantian hari pembagian gaji yang kian menyiksa, ungkapan cinta dan harapan di tengah ketidakberdayaan keuangan, pernyataan bokek.

Menarik dilihat bahwa ada beberapa buruh yang gemar menuangkan perasaannya di beberapa tempat tanpa lupa meninggalkan jejak identitas, baik dalam aksara maupun simbol.

Alias bertuliskan Tokid Mimpi, misalnya, atau guratan berbentuk hati yang setidaknya di salah satu coretannya melambangkan cinta.

Ada pula di antara mereka yang menggambar sebuah jam dinding berbentuk lingkaran yang nyaris sempurna.

Di sela-sela langkah yang berat, para pemanggul keramik menyikapi hari demi hari yang menganiaya dengan humor vernakular. Ini sebuah cara untuk mengurangi tekanan sosial dengan berbagi ungkapan spontan kepada sesama rekan kerja yang dirasa senasib.

Namun tampaknya tiada coretan yang menarik seseorang untuk menoleh sejenak, kecuali penciptanya sendiri. Tampaknya mereka adalah penikmat sesaat bagi graffitti masing-masing.

dsc_1505
Seorang buruh harian dengan wajah tertutup kain menyapu lantai semen di sore hari.

This slideshow requires JavaScript.

Brave the world

Monomatthink archipelago V8 Nov 2014Brave the world is the cover story of the 8th international edition of think archipelago magazine, a post-independence discourse on 7.9 million coastal population in Indonesia who live with less than USD2 of earnings per day.


3

Reviving Indonesia’s past glory as the world’s biggest archipelagic state, then called Nusantara in pre-colonial era, is the newly elected Indonesian President Joko Widodo’s keynote in terms of economic development. In what his administration touted as the maritime axis power, Indonesia is going to build its economy with much larger proportion coming from the waters.

Pushing renewable resources would mean a boost in fishing output, and the vision to increase sea trade would translate into an ambitious plan of ports building. To this extent, the government has a huge task of making a headstart.

Some analysts said the country is not by any means close to the bold terms of the maritime axis power, and the vision far-flung.

Bojonegara port redevelopment plan layout
Bojonegara port redevelopment plan layout

Like in this lagging port infrastructure in Bojonegara, Banten, the decade-old vision to transform this shore into a port in West Java that will overtake Tanjung Priok in Jakarta as the hub for Sumatra-Java sea trade, let alone an important regional port on par with Singapore lacks every indication.

The service boat operated by Kadiman, among other small number of crews as seen on this page clearly suggests that Bojonegara has a long way to go. Its inability to handle large vessels is the reason Kadiman still works there. He and his small boat carries passengers and goods from and to the ships anchoring off the waters.

Since Bojonegara is close to the Merak, one of the busiest ports in Indonesia, it has seen heavy traffic of cargos, tankers, and other large utility vessels such as dredging ships. Some shipping companies have made Bojonegara their home port.

But Kadiman does not get a lot of money there. The absence of infrastructure, especially the docks, is now certainly something he is grateful of, and also to some dozen other boat crews. Bojonegara remains trapped in visionary rhetorics, and it has not transformed into reality.

Maritime power is not only limited to trades, but also the sovereignty over waters. The newly appointed Foreign Affair Minister Retno Marsudi underlines her agenda settling disputed claims with neighboring countries, and bolstering cooperation. The Joko Widodo-led new administration marks a dawn where Indonesia braves the world.

This slideshow requires JavaScript.