Tag Archives: Business management

SMEs pandemic risk and opportunity

According to United Nations special report on SME Day 2020, small, medium and start-up enterprises, which generally employ fewer than 250 persons, are the backbone of most economies worldwide and currently play a key role in developing countries.

According to the data provided by the International Council for Small Business (ICSB), formal and informal small and medium-sized enterprises (SMEs) make up over 90% of all firms and account. While they may be small individually, new ILO data show that micro and small enterprises, together with own account workers, account for a staggering 70% of employment worldwide.

These types of enterprises, with a large share of those classed as micro firms consisting of fewer than ten employees, are responsible for significant employment and income generation opportunities across the world and have been identified as a major driver of poverty alleviation and development.

SMEs tend to employ a larger share of the vulnerable sectors of the workforce, such as women, youth, and people from poorer households – populations with high vulnerability in times of COVID-19. SMEs can sometimes be the only source of employment in rural areas. As such, SMEs as a group are the main income provider for income distribution at the “base of the pyramid”.

Across all countries, SMEs do more than create employment: they are also engines of economic growth and social development. In most OECD countries, SMEs contribute more than 50% of GDP, and some global estimates put this figure as high as 70%. This contribution varies across sectors, and is particularly high in the service industry, where SMEs account for 60% or more of GDP in nearly all OECD countries.

To continue playing their crucial role in creating decent jobs and improving livelihoods, small businesses depend more than ever on an enabling business environment, including support for access to finance, information, and markets.

The Indonesian-based Archipelago Strategic & Partners Indonesia (ASPI) business and management consulting, for their part, play an active role in helping both local SMEs and large enterprises meet ISO standards requirements through system development, competency-based certified training course, and reliable publication to support their partners’ business sustainability.

ASPI marketing director Felice Arlene, M.Si, said that trust is fundamental, as in every business scenes around the globe, but her team are also committed to deliver creative and practical approach to support businesses circumvent risks, while foreseeing the opportunities on the flip side of the coin.

Central Jakarta business district

See also: ASPI business and management consulting portfolio

Small businesses, including those run by women and young start-up entrepreneurs, are being hit hardest by the economic fall-out of the pandemic. Unprecedented lockdown measures enacted to contain the spread of the coronavirus have resulted in supply chain disruptions and a massive drop in demand in most sectors.

A global survey by the International Trade Centre, an agency of WTO and UN, reported in SME Competitiveness Outlook 2020, showed that The majority (55%) of businesses had been strongly affected by the pandemic and the measures taken to contain it. Smaller companies tended to be more strongly affected by COVID-19 than larger ones. Nearly two-thirds of micro and small firms said their business operations were strongly affected by the crisis, compared with about 40% for large companies.

Companies operating in services have been most affected by COVID-19 (Figure 24), with the most severity reported by those in accommodation and food services, followed by non-food manufacturing; retail and wholesale; and travel and transport. Micro, small and medium-sized enterprises are overrepresented in most of these sectors. In accommodation and food services, 76% of businesses said their operations were strongly affected by COVID-19 as a result of partial and full lockdown (Figure 24). More than three quarters of companies in this sector experienced a reduction in sales.

On the other hand, COVID-19 has presented an opportunity for some manufacturing firms. About 10% of firms in agri-food processing experienced an increase in sales due to COVID-19.

According to Forbes, a venture capital General Catalyst announced USD 2.3 billion plan for three series of funding, comprising seed funding, growth funding, and further support for the leagues of established start-ups to aim for bigger sales.

In April, General Catalyst executives said of how the pandemic brings forth the technology that allows them to rethink several core services in healthcare, education, and SMEs. Abound with optimism, they believed the founders will march forward while creating wonders out of the pandemic.

Experts opined that it is the time for start-up enterpreneurs to convince the public that they can endure the pandemic. The developing situation suggests some tech-driven opportunities leaning towards several industries including logistics, education, healthcare, and cyber security.

Online-based education start-up Yuanfudao from China recently acquired USD 1 billion fundings, adding up to their valuation at USD 7.8 billion. Initiated by Hillhouse and Tencent Holdings, investors can see the opportunity that underlies parents decision to move their children’s learning activities home, making advantage of all possible virtual means.  

English learning platform Lingumi brought in GBP 4 million in fundings when users recorded 50% increase during strict measures among Chinese citizen.

The founders of the artificial intelligence hotel booking company Pruvo in Israel are delighted to get USD 1.1 billion in seed fundings when the timing seem all at odds for many companies to attract investors.

Opportunity-driven investors are also found in a number of app-based retailers. Data collected by analytics company Apptopia suggested, several apps from the US recorded daily download rates surging in March compared to February.

Coupled with preventive measures by the US governments, the demand for goods delivery and household stocks had boosted Instacart up 218 per cent, Walmart Grocery 160 per cent, and Shipt 124 per cent.


Langkah bangun fondasi keuangan dari George S. Clason

Salah satu buku terkenal yang membahas mengenai keuangan ini membangun fondasi perilaku mengatur keuangan yang baik dan benar bagi mereka yang bahkan belum tahu dari mana harus memulai. Meski pertama kali diterbitkan pada 1926, pemikirannya masih relevan dengan situasi sekarang.

ASPI financial advisor Agus Chang, B.Sc, MPM, merangkum intisari buku pilihan think archipelago minggu ini The Richest Man in Babylon karya George S. Clason ke dalam lima poin pembelajaran.

Poin pertama, setiap menerima pendapatan, sisihkan sebagian di depan untuk diri sendiri sebelum menyalurkannya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dengan membayar kepada orang lain atas jasa atau barang yang kita terima.

Filosofi di balik ini adalah dengan menyisihkan uang untuk diri sendiri bukan berarti kita menggunakannya untuk keinginan sendiri, namun untuk mempertebal kantong kita, serta bagian dari penghargaan (gratification) atas jerih payah sendiri.

Baca juga: Memaksimalkan kebutuhan dan keinginan

Porsi pendapatan yang dianjurkan untuk disisihkan adalah 10 persen. Hal ini juga dapat dimaknai sebagai cara menyisihkan uang yang baik, yaitu dengan menyisihkan dulu, kemudian disisakan untuk pengeluaran, dibandingkan dengan cara yang umum di mana kita menentukan target terlebih dahulu namun baru menabung sisanya di akhir periode setelah membayar kebutuhan dan keinginan. 

Poin kedua adalah kontrol pengeluaran. Buku ini menekankan perbedaan antara pengeluaran atas kebutuhan dengan keinginan. Keinginan cenderung melebihi besarnya pendapatan. Pencatatan pengeluaran dibutuhkan untuk dapat mencapai target penyisihan minimal 10% dan mengidentifikasi pengeluaran apa yang mengakibatkan terjadinya kebocoran anggaran dan mengevaluasi pengeluaran apa yang dapat dihentikan guna mencapai target penyisihan minimal.

Poin ketiga adalah pergunakan dengan bijak uang yang disisihkan untuk investasi. Investasi bijak yang dimaksud di sini menekankan pada pengetahuan awal pra-investasi yang tepat pada bidang atau instrumen yang hendak digeluti. Banyak yang mengabaikan pengetahuan investasi terjerumus akibat mengira bahwa yang dilakukan adalah investasi meski sebenarnya adalah spekulasi.

George mengangkat isu tentang menitipkan sejumlah nilai investasi pada orang lain dalam cerita kisah mengenai sang peminjam emas. Pelajaran yang dapat diambil adalah bila hendak menginvestasikan uang pada orang lain, pastikan menginvestasikannya pada pihak yang memiliki pengetahuan yang menunjang imbal hasil yang baik. Jangan berikan kepada orang yang lalai dan tidak punya kemampuan mengembalikan, atau bahkan kepada penipu yang menjanjikan imbal hasil yang terlalu memikat. Nasihat lainnya untuk poin ini adalah pentingnya melakukan investasi yang dapat menjamin modal yang terlindungi. Tampak jelas bahwa pendekatan buku ini terhadap investasi bersifat konservatif.

Baca juga: Kesempatan di balik pandemi

Poin keempat adalah mempekerjakan uang yang diperoleh dari penghasilan investasi, atau konsep bunga berbunga di mana untuk setiap hasil investasi yang diperoleh diinvestasikan kembali.

Kapan kita dapat mencicipi hasil investasi? Jawabannya terdapat pada mengulang siklus kembali poin pertama yang mengajarkan untuk menyisihkan 10% penghasilan. Bila diterapkan secara disiplin, maka uang yang disisihkan akan semakin besar sejalan dengan penghasilan yang meningkat. Di saat yang sama, 90% penghasilan yang digunakan untuk selain investasi juga akan meningkat, sebab seiring dengan peningkatan penghasilan, gaya hidup juga meningkat.

Poin kelima adalah memastikan agar perencanaan keuangan terjaga di masa depan. Meski tidak dijelaskan langkah spesifik bagaimana merencanakannya, namun menerapkan poin-poin pembelajaran sebelumnya bertujuan untuk mencapai tujuan akhir di poin kelima ini. akan ada saatnya kita tidak dapat secara aktif lagi bekerja dan dapat menuai apa yang sudah kita bangun sehingga pada masa tua hidup senantiasa sejahtera, serta dapat menyiapkan warisan untuk keluarga dan keturunan.

Langkah adaptasi hadapi krisis

Artikel ini dibuat atas keprihatinan terhadap komunitas kita yang terpukul sejak pandemi melanda, dengan harapan dapat membantu rekan-rekan bangkit dan menjadi lebih tangguh. Setiap krisis yang datang tidak akan menetap, tetapi akan berlalu.

Tidak ada yang pasti di dunia kecuali perubahan. Dan di tengah perubahan yang tak terelakkan, kita harus beradaptasi, atau gamblangnya terpaksa beradaptasi. Satu teori mengenai keberlangsungan hidup mengatakan bahwa bukan yang terkuat, melainkan yang paling dapat beradaptasi, yang akan bertahan.

Belajar beradaptasi, itu yang harus difokuskan ketika krisis datang. Hanya dengan tindakan dan evaluasi, krisis dapat teratasi. Krisis memukul banyak industri dan bisnis, namun ada pembelajaran besar yang terkandung di dalamnya.

COVID-19 menjadi biang pandemi pertama dalam 102 tahun sejak 1918 di mana saat itu dunia lumpuh karena wabah flu spanyol selama 3 tahun. Artinya ini bukan krisis yang selama ini sering diramalkan terkait resesi atau karena terjadinya perang antar negara.

Apa pun itu, yang ingin digarisbawahi, krisis tidak dapat diketahui kapan akan terjadi dan bisa menimpa siapa saja. Yang dapat dilakukan adalah bagaimana kita beradaptasi dengan keadaan.

Fujifilm dan Kodak menjadi salah satu contoh klasik bagaimana perubahan harus segera direspon dengan beradaptasi. Begitu berjayanya Kodak pada masa lampau sehingga orang-orang sempat menggunakan sinonim kamera saku analog dengan sebutan kodak. Kebiasaan ini bertahan sampai akhirnya pasar digital kamera menemukan momentum.

Sebuah ironi bagi Kodak mengingat paten komponen digital kamera pertama di tahun 1971 didaftarkan oleh Louis A. Lopes Jr dan Owen F. Thomas, pekerja peneliti dan pengembangan (R&D) di Kodak yaitu David Lewis mengembangkan kamera CCD pertama di tahun 1974, dan dikembangkan lebih lanjut oleh Steven Sasson, juga bekerja di Kodak, sehingga menciptakan prototype awal kamera digital.

Sayangnya petinggi Kodak melihat hal ini bukan sebagai peluang menjadi pionir, namun ancaman kemapanan bisnis mereka. Kamera digital mulai dikenal oleh masyarakat umum di pertengahan 90an sampai mencapai momentum popularitas pada 2003. Setahun kemudian, Kodak mengumumkan tidak lagi menjual roll film dan akhirnya menyatakan bangkrut di tahun 2012.

Di sisi lain, Fujifilm menyikapi perubahan dengan cara yang berbeda. Tahun 2000, Shigataka Komori ditunjuk untuk menjadi CEO dan reformasi di tubuh Fujifilm pun terjadi terutama di bidang R&D, di mana Komori memerintahkan untuk mengeluarkan daftar teknologi yang dikembangkan secara internal oleh Fujifilm yang dapat digunakan untuk kebutuhan di masa mendatang.

Kantor pusat Fujifilm, Tokyo

Kebijakan yang diambil setelah melihat perubahan di pasar industri fotografi, dan peluang melakukan diversifikasi ke pasar lain seperti panel LCD, farmasi, bahkan kosmetik, telah menyelamatkan Fujifilm dari nasib serupa yang dialami Kodak.

Sebagai perbandingan, pada awal milenium di tahun 2000, penjualan Kodak sebesar 14 miliar dolar AS menurun 48% menjadi 7,2 miliar dolar AS di tahun 2010. Sementara Fujifilm pada tahun 2000 membukukan penjualan 1,4 triliun yen, dilanjutkan kenaikan 57% menjadi 2,2 triliun yen di tahun 2010.

Berangkat dari inspirasi di atas, ditambah ketidakpastian kapan perekonomian bisa kembali menggeliat, berikut tips beradaptasi yang diilustrasikan dalam studi kasus.

Pip adalah seorang karyawan suatu perusahaan yang terimbas oleh krisis akibat COVID-19 sehingga terpaksa dirumahkan. Penghasilan Pip dalam sebulan 4,500,000 rupiah. Pip tidak mengetahui secara pasti dalam siklus 1 bulan, berapa uang yang dia berhasil sisihkan baik itu untuk dikumpulkan sebagai modal katering rumahan yang ia rencanakan, maupun yang mau diinvestasikan. Yang dia tahu, dia merasa sudah menabung dengan penghasilan bulanannya tersebut.

Pip juga merasa nyaman karena dapat manfaat asuransi dari perusahannya, sehingga imbas dari pemutusan hubungan kerja ini adalah hilangnya penghasilan bulanan dan manfaat asuransi yang sebelumnya diberikan di perusahaan, serta harus bertahan dengan tabungan.

Berdasarkan studi kasus ini, langkah awal yang perlu dilakukan Pip adalah introspeksi positif. Pip perlu mengesampingkan faktor luar penyebab terjadinya kesulitan yang seringkali berada di luar kontrol dirinya. Contohnya, mengumpat perusahaan tempatnya bekerja tidak berperikemanusiaan, bahkan berencana menuntut.

Meski faktor luar berkontribusi langsung terhadap krisis, menyalahkan faktor luar cenderung membuat diri beralasan untuk tidak memperbaiki keadaan. 

Sebaliknya, Pip perlu fokus pada langkah perbaikan diri. Faktor internal yang mencakup koreksi diri dimulai dengan beberapa pertanyaan instrospektif, seperti, “Apa langkah selanjutnya yang harus saya ambil untuk mengatasi hal ini?”  Selanjutnya, apabila krisis sudah mulai terkontrol, “Apa yang seharusnya saya lakukan agar dapat mengatasi krisis serupa di masa depan?”

Pertanyaan negatif seperti, “Mengapa hal ini harus terjadi pada saya?” atau “Mengapa tidak ada yang menolong saya pada masa sulit ini?” membuat kita mencari alasan dan terus meratapi nasib.

Sebaliknya, pertanyaan yang positif akan membangun momentum yang dibutuhkan untuk bangkit.

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan Pip adalah identifikasi menyeluruh. Berdasarkan pertanyaan introspektif tersebut Pip mulai dapat mengidentifikasi kesalahan sehingga bisa segera melakukan langkah perbaikan.

Pertanyaan tentang langkah selanjutnya yang diambil untuk mengatasi hal ini dapat dijawab dengan sejumlah rencana, mulai dari mencari pekerjaan lain, atau melihat hal ini sebagai kesempatan untuk memulai bisnis katering yang sudah direncanakan dengan protokol higienis atau sistem manajemen keamanan pangan, serta jasa pengantaran yang kian populer digunakan kini, atau bisa juga memperoleh pemasukan dengan menjadi bagian dari garda depan melawan COVID-19.

Ketika keadaan berangsur membaik, pertanyaan selanjutnya seperti apa yang seharusnya dilakukan agar dapat mengatasi krisis serupa di masa depan, mungkin dapat dijawab dengan pengaturan keuangan yang lebih disiplin seperti rutin mencatat pengeluaran sehingga dapat mengetahui kondisi keuangan, melakukan investasi untuk menambah nilai lebih terhadap uang yang dimiliki, mencadangkan dana untuk menghadapi situasi darurat setelah kehilangan pekerjaan, mempertimbangkan memiliki asuransi pribadi sesuai kemampuan.

Langkah ketiga adalah aksi. Setelah melakukan introspeksi terarah dan identifikasi menyeluruh, maka aksi sekecil apa pun menjadi berarti. Aksi akan menghasilkan hasil, hasil yang didapatkan bisa berupa keberhasilan atau kegagalan. Pada fase inilah determinasi penting untuk dipahami. Hasil yang berhasil tentu akan baik dan memberikan kepercayaan diri untuk melanjutkan atau memulai hal lain yang selanjutnya direncanakan, lain halnya jika hasil yang didapatkan berupa kegagalan, untuk itu determinasi sangat diperlukan untuk mencapai hasil yang diharapkan meski sebelumnya menemui kegagalan. Dengan determinasi, kita akan memahami bahwa kegagalan adalah pembelajaran dan menanyakan kembali langkah lain apa yang bisa dilakukan selain yang sudah dicoba sebelumnya.

Meski berurutan, 2 langkah sebelumnya sia-sia apabila tidak ada tindakan nyata sampai hasil yang diharapkan tercapai untuk menyelesaikan proses adaptasi. Tanpa aksi dan kebulatan tekad untuk mencapai yang diinginkan, walaupun kita sudah menjalani dengan baik introspeksi dan identifikasi, Pip akan kembali ke titik nadir semula.

Salah satu tips untuk semakin memperbesar probabilitas melakukan aksi adalah dengan mendokumentasikan kapan dan di mana rencana yang sudah kita tetapkan sebelumnya.

Latih diri kita dengan tiga langkah adaptasi di atas agar selalu bisa mengatasi perubahan yang merupakan hal yang pasti terjadi dalam hidup. 

3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan

Pada 2019 Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa berdasarkan data 2017, rasio tabungan terhadap produk domestik bruto (PDB) masyarakat Indonesia sebesar 30,9% berada jauh lebih rendah dari Singapura dan China yang telah mencapai 49% , bahkan Filipina di 44%.

Kala itu, di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sardjito, mendampingi Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, berkata bahwa orang Indonesia rata-rata tidak senang menabung.

“Saya nggak bilang yang terparah, tapi memang kebiasaan kita itu consume. Nabung semua juga nggak bagus, tapi rasio saving to GDP seharusnya bagus,” kata Sardjito.

Mengutip CNBC, survei pada tahun 2019 di Amerika Serikat menunjukkan setiap rumah tangga rata-rata memiliki tabungan sebesar 8.863 dolar AS. Kelompok pasangan menikah usia di bawah 34 memiliki tabungan rata-rata 4.700 dolar AS. Kelompok lajang di rentang usia yang sama semakin memprihatinkan dengan tabungan rata-rata 2.700 dolar AS.

Survei terpisah di tahun yang sama oleh bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve mengungkapkan bahwa 4 dari 10 responden mengaku kesulitan jika harus mengalami pengeluaran tak terduga senilai 400 dolar AS, misalnya untuk perbaikan kendaraan dan peralatan elektronik rumah tangga.

Dalam merencanakan keuangan pribadi, menyisihkan uang kerap dipandang sebagai keharusan yang sifatnya menuntut, membosankan, dan melelahkan. Seseorang yang harus menyisihkan uang untuk membayar tagihan kartu kredit di bulan depan, misalnya, atau lainnya karena boros di bulan lalu, kemudian berbalik ke penghematan lagi dalam menyisihkan uang. Dari ilustrasi ini sulit terlihat persepsi yang menyenangkan di balik menyisihkan uang.

Menyisihkan uang untuk tujuan menabung/investasi butuh disiplin. Banyak orang yang mendengar kata disiplin sudah merasa malas dan menarik diri. Sebab disiplin juga erat dengan hal yang tidak menyenangkan untuk dilakukan. Asosiasi antara disiplin dan hal yang tidak menyenangkan inilah yang perlu diubah.

Kiat pertama, hubungkan suatu keharusan positif dengan impian dan harapan yang menyenangkan. Bayangkan perlunya menyisihkan uang untuk berlibur dengan keluarga, membeli mobil impian, atau memiliki rumah. Harapan memberikan semangat dalam menjalankan disiplin untuk menyisihkan uang. Dengan kata lain, kebiasaan baru terbentuk jika kebiasaan tersebut menghasilkan perasaan semangat dan menyenangkan untuk dilakukan kembali.

Kedua adalah melakukan penghargaan terhadap diri Anda, kapan pun Anda berhasil mencapai target di bulan ini. Sebagai ilustrasi, seseorang memiliki target menyisihkan satu juta rupiah untuk diinvestasikan pada bulan ini, dan pada akhir periode ternyata ia berhasil menyisihkan satu juta lima ratus ribu rupiah. Selisih uang tersebut dapat ia gunakan untuk melakukan atau membeli hal yang diinginkan.

Ketiga, hindari merencanakan banyak kebiasaan sekaligus karena akan semakin mengecilkan probabilitas keberhasilannya. Fokuskan untuk membangun satu kebiasaan positif baru. Begitu berhasil akan lebih mudah mempertahankannya, sembari merencanakan kebiasaan positif yang baru.

Konsistensi melatih disiplin pada akhirnya akan membuat kita mengasosiasikan kedisiplinan dengan sesuatu yang menyenangkan.

Disiplin adalah kunci kesuksesan, termasuk kesuksesan finansial. Hal ini bahkan ditekankan dengan sangat dramatis oleh filsuf Yunani Socrates, “Kehidupan tanpa kedisiplinan adalah kehidupan yang tidak waras!”

Pengeluaran: kunci perencanaan keuangan

Terkadang apa yang sulit dilakukan justru perlu dilakukan. Ungkapan ini menggambarkan pentingnya melakukan pencatatan terhadap pengeluaran setiap hari. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Benjamin Franklin, “Beware of little expenses, a small leak will sink a great ship.

Kasus Mike Tyson memberikan pelajaran di mana pengeluaran yang tidak terkontrol menyebabkan kebangkrutan meski penghasilan yang diterima sangat besar. Mike yang sepanjang karir tinju profesionalnya berhasil mengumpulkan hampir 300 juta dolar AS mengajukan kebangkrutan tahun 2003 karena berhutang 23 juta dolar AS. Penyebab utamanya adalah gaya hidup yang mewah dan tidak memperhitungkan pengeluaran.

Perilaku keuangan di masyarakat saat ini cenderung tidak melakukan pencatatan pengeluaran rutin mereka. Alasannya dari yang sangat sederhana seperti malas, rumit, hingga anggapan bahwa jika dicatat malah membuat mereka merasa tidak nyaman, cemas dan terbebani.

Perasaan tidak nyaman atau cemas ini kemungkinan besar disebabkan kecurigaan kuat, bahkan mungkin hendak menyangkal bahwa selama ini pengeluaran mereka besar atau ternyata malah melebihi pendapatan. Penyangkalan ini tentu tidak sehat secara psikis, dan tentu saja tidak membantu tujuan kita dalam merencanakan keuangan.

Reaksi yang tepat adalah mengambil tindakan nyata dan mulai melakukan perencanaan keuangan. Mengetahui besar pengeluaran bulanan dapat dimulai dari menetapkan dana darurat yang perlu dikumpulkan, hingga menetapkan target berupa angka spesifik dari kebebasan finansial kita. Menarik, bukan?

 Mari kita buang jauh anggapan bahwa pencatatan pengeluaran itu rumit dan membebani, karena hanya dibutuhkan waktu kurang dari 3 menit setiap hari. Selain untuk melatih disiplin menerapkan suatu rutinitas yang positif, pencatatan pengeluaran adalah variabel penting guna mengetahui angka kebebasan finansial kita.

Cara melakukan pencatatan dan pemberian template pencatatan pengeluaran yang user-friendly dan efektif menjadi salah satu materi yang saya bawakan di seminar Financial Strategy yang terakhir diadakan pada 1 Februari 2020.

Bagi rekan-rekan yang ingin mengikuti seminar ‘Financial Strategy’, dapat mengikuti lebih lanjut melalui web dan ig di @thinkarchipelago maupun ig pribadi saya di @agus5chang untuk jadwal selanjutnya.

Pentingnya pengetahuan mengelola keuangan

Masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 19 tahun untuk menyelesaikan pendidikan formal dari pendidikan anak usia dini hingga bangku kuliah. Jika ditanyakan ke orangtua atau diri sendiri, apa sebenarnya tujuan akhir 19 tahun masa pendidikan yang telah ditempuh tersebut? Mayoritas akan menjawab demi mendapatkan pekerjaan sehingga dapat menghasilkan uang.

Hal ini membawa kita ke pertanyaan selanjutnya, berapa banyak porsi yang kita dapatkan selama pendidikan formal tersebut yang mengajarkan cara mengatur keuangan yang benar? Riset menunjukkan hampir tidak ada.

Kita tidak diajarkan bagaimana cara mengelola, hanya cara menghasilkan. Ini yang menjadi salah satu alasan seseorang yang berpenghasilan besar bisa terjerumus pada hutang tidak produktif sehingga akhirnya bangkrut. Tidak ada pendidikan yang menopangnya!

Kita tidak diajarkan bagaimana cara mengelola, hanya cara menghasilkan.

Agus Chang, B.Sc, MPM

Mantan gubernur bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve Alan Greenspan mengungkapkan bahwa problem utama pada generasi dan ekonomi sekarang ini adalah tidak adanya literasi keuangan.

Robert T. Kiyosaki menyuarakan kekhawatiran yang sama di mana, “Sekolah telah melupakan pendidikan keuangan dan fokus pada kualifikasi akademis, padahal keduanya sama pentingnya.”

Mengelola keuangan seharusnya menjadi pengetahuan dasar, sama halnya dengan membaca dan berhitung. Mengetahui cara mengelola keuangan membuat Anda memiliki pengetahuan tentang pola pikir yang tepat, target dan tujuan keuangan, dan langkah-langkah konkrit mengenai apa yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut.

Sebagai bagian dari rangkaian program rutin pelatihan bisnis dan manajemen bersertifikat, Archipelago Strategic & Partners Indonesia (ASPI) bersama Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM mengajak masyarakat Indonesia untuk mulai mencari tahu cara mengelola keuangan yang benar, karena ini adalah fondasi penting yang harus dipahami demi membangun kesejahteraan dan kebebasan finansial.

Pendaftaran batch 2 seminar Financial Strategy tahun 2020 oleh Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM telah dibuka dengan mengakses link berikut:


Urgensi dan faktor waktu dalam menabung/berinvestasi

Faktor penting pertimbangan menabung/berinvestasi adalah membentuk pola pikir, kemudian membangun hasil. Hasil yang dimaksud ada 2. Pertama, pengembangan diri dengan terbentuknya pola pikir. Kedua, pengembangan uang yang ditabung. Pembentukan pola pikir sebelumnya sudah dibahas di artikel Relevansi Menabung di Era 4.0. Pokok bahasan ini berfokus pada bagaimana memaksimalkan pengembangan uang yang ditabung.

Sumber daya paling berharga yang dapat dimiliki oleh seseorang adalah waktu. Dan waktu pula yang bisa melipatgandakan serta memaksimalkan investasi terhadap aset. Definisi waktu dalam kaitannya dengan menabung/investasi adalah sejak kapan kita memulai. Semakin muda kita memulai, semakin panjang durasi yang kita punya untuk mengakumulasikannya. Konsep ini sering disebut dengan bunga berbunga (compound interest).

Melalui compound interest kita akan mengetahui mengenai “keajaiban” angka dan menggarisbawahi dengan nyata dan logis – karena berupa perhitungan – akan pentingnya segera memulai. Ungkapan yang bisa menggambarkan hal ini adalah “Dia yang pertama memulai mendapat lebih banyak”.

Baca juga: Relevansi menabung di Era 4.0

Berikut ilustrasinya. Amir berkomitmen mulai menabung/investasi sejak usia 20 tahun sampai usia 40 tahun dan Badu baru memulai menabung/investasi sejak usia 35 tahun sampai usia 65 tahun. Akumulasi uang yang ditabung Amir selama rentang waktu 20 tahun, sejak usia 20 hingga 40 adalah Rp 1.353.389.026. Sementara akumulasi uang yang ditabung Badu selama rentang 30 tahun, sejak usia 35 hingga 65 adalah Rp

Uang ini singkat kata diakumulasikan dengan konsep bunga berbunga sampai usia keduanya 65 tahun. Perlu diperjelas bahwa Amir, sejak tahun di mana dia akan menginjak usia 41 tahun, sudah tidak menambah lagi uang yang ditabung sampai mencapai usia 65 tahun, dan uangnya tetap diakumulasikan dengan konsep bunga berbunga. Dan Badu sejak usia 20 sampai 34 tahun diumpamakan tidak menabung sepeser pun.

Hasil ilustrasi di atas adalah, pada saat berusia 65 tahun dengan memperhitungkan imbal hasil per tahun 6%, tanpa memperhitungkan pajak, Amir akan mengumpulkan uang sebesar Rp 8.365.849.700. Sementara Badu akan mengumpulkan Rp 9.447.423.870. Secara nominal memang Badu lebih besar, namun dilihat dari perbandingan antara dana yang harus dikeluarkan dengan hasil yang didapatkan, maka Amir berhasil melipatgandakan uangnya sebesar 6,18 kali lebih banyak, sedangkan Badu hanya 2,867 kali.

Dari ilustrasi di atas, tidak tepat bila berpikir, “Usia saya sudah tidak muda lagi, berarti sudah terlambat untuk memulai.” Yang harus Anda lakukan justru segeralah memulai. Di usia berapa pun Anda berada sekarang, tidak ada yang patut disesali. Segeralah bertindak!

Relevansi menabung di era 4.0

Bagaimana prinsip menabung yang benar di era 4.0 sekarang? Apakah masih tepat untuk menabung atau langsung berinvestasi? Semoga dengan tulisan sederhana ini Anda bisa mendapatkan gambarannya. Selamat membaca.

Tujuan Menabung

Mari kita mulai dengan tujuan menabung. Mayoritas berpendapat menabung untuk mengumpulkan uang dan mendapatkan bunga sehingga uangnya akan bertambah. Awal mula pendapat ini diteruskan oleh generasi baby boomers kepada anak-anaknya, di mana pandangan persiapan pensiun yang terbentuk di generasi inilah yang mendorong menabung menjadi penting untuk mereka.

Namun tujuan yang lebih fundamental adalah menabung sebagai bagian dari pembentukan mindset dan disiplin sejak dini dengan menyisihkan sebagian pendapatan kita. Begitu sederhana, namun sangat berpengaruh ke depannya.

Oleh karenanya sangat penting untuk dipahami bahwa menabung sama sekali tidak ada kaitannya dengan berapa jumlah uang yang dapat disisihkan. Mempertimbangkan besarnya jumlah uang akan menggiring pada pemikiran ‘saya baru akan menabung ketika pendapatan saya besar. Menabung sekarang tidak terasa juga manfaatnya’. Akhirnya pemikiran inilah yang mencegah kita untuk mulai menabung.

Instrumen menabung

Tabungan bukanlah instrumen menabung, melainkan instrumen penyimpanan uang.

Agus Chang, b.sc, mpm

Menabung masih identik dilakukan dengan menempatkan uang pada rekening tabungan. Kedua kata ini kerap disalahartikan, salah satunya karena kata menabung sendiri memiliki kedekatan kosa kata dengan tabungan. Hal serupa juga terjadi di dalam Bahasa Inggris (bisa dibilang lebih menyimpang), antara saving (menabung) dengan saving account (tabungan). Mengapa menyimpang? Kaitannya adalah dengan tujuan membuat uang bertumbuh yang dipengaruhi oleh 2 faktor.

Pertama adalah imbal hasil atau bunga. Perlu diketahui bunga yang diberikan untuk instrumen tabungan, mengacu pada suku bunga bank besar di Indonesia periode Desember 2019, adalah di bawah 1% per tahun untuk saldo di bawah Rp 500 juta. Ilustrasinya dengan bunga 1% pun, Anda perlu punya uang 23 juta rupiah untuk mendapat bunga kurang lebih 18,900 rupiah per bulan.

Faktor kedua adalah biaya. Biaya dasar yang dikenakan untuk instrumen tabungan adalah administrasi bulanan yang berkisar dari Rp 10.000 hingga Rp 20.000, dan 20% potongan pajak dari bunga yang diberikan, yang mana artinya dari bunga Rp 18.900 di atas, akan dipotong lagi pajak sebesar Rp 3.700. Melalui ilustrasi di atas dapat disimpulkan tabungan bukanlah instrumen menabung, melainkan instrumen penyimpanan uang.

Lalu instrumen menabung sendiri baiknya apa? Di era 4.0 ini pergeseran sudah terjadi, bahkan sudah dimulai sejak era 3.0, di mana instrumen investasilah yang harus digunakan untuk menabung. Instrumen investasi paling umum adalah deposito sampai ke level lebih spesifik yang membutuhkan pengalaman dan pengetahuan sebelum memulai, contohnya saham.

Dengan kata lain, dalam kaitannya dengan menabung, kita perlu berpikir mengenai berinvestasi.

Paradigma dan tujuan kredit pemilikan rumah

Agus Chang has more than 11 years of experience in the business, technology and methodology aspects of various financial institutions. Not only widening his perspective in financial knowledge, but the journey has also inspired him to be more deeply committed to share and raise up the awareness of the society on how fundamental and essential financial knowledge is in achieving life fulfillment.

Seperti halnya pengambilan keputusan penting dalam perjalanan hidup kita, keputusan mengajukan kredit untuk kepemilikan rumah harus diawali dengan tujuan yang jelas.

Secara garis besar, tujuan seseorang mengambil KPR dapat dirangkum menjadi tiga, yaitu profit taking, investasi dan untuk kepemilikan pribadi. Singkatnya berikut adalah definisi untuk ketiganya.

Profit taking adalah tujuan yang ditetapkan seseorang terkait akuisisi properti untuk mengambil keuntungan dalam tempo sesingkatnya.

Investasi adalah sebuah tujuan di mana seorang investor mengakuisisi properti kemudian memanfaatkan properti tersebut untuk menciptakan pemasukan melalui kegiatan sewa. Investor juga dapat melakukan penjualan properti pada akhir periode setelah disewakan.

Kepemilikan pribadi adalah sebuah tujuan berupa akuisisi properti untuk memenuhi kebutuhan pribadi, misalnya sebagai tempat tinggal atau sebagai tempat usaha.

Setelah tujuan ditetapkan, analisis dilanjutkan dengan penyiapan data dan survei untuk menunjang keputusan tersebut. Data-data yang penting untuk diperoleh antara lain siklus properti untuk menentukan waktu akuisisi yang tepat, market value, market dan analisis keuangan pribadi untuk tujuan kepemilikan pribadi, sampai pembuatan simulasi perhitungan untuk menentukan apakah profit bisa diperoleh untuk tujuan profit taking dan investasi.

Rangkuman analisis akan menjawab secara rinci dan faktual apakah keputusan mengambil KPR dapat dieksekusi atau masih perlu dikaji ulang.

ASPI Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM, during his KPR presentation at API investor gathering, Jakarta, 6 October 2019

Paradigma terkait tujuan dari KPR ini dibahas pada event investor gathering yang diadakan oleh Abdi Properti Indonesia, Jakarta, 6 Oktober 2019, bersama Financial Advisor Archipelago Strategic & Partners Indonesia Agus Chang, B.Sc, MPM, yang dipaparkan secara detail hingga analisis perhitungan perbandingan menggunakan data yang sudah diriset dengan kondisi market terkini.

Investor gathering ini bertujuan memberikan edukasi dan bantuan kepada para investor properti dalam pengambilan keputusan.

Di event tersebut Agus menyimpulkan bahwa tujuan perlu ditetapkan di awal, dan untuk menanggulangi kesalahan pengambilan keputusan diperlukan perolehan data yang akurat dan analisis mendetil agar keputusan investor logis dan tidak semata berdasarkan faktor emosional.

Perkembangan budaya keselamatan publik

Artikel ini merupakan bagian kedua (2/3) dari makalah berjudul Dampak Kepemimpinan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Organisasi Terhadap Budaya Keselamatan Masyarakat, Business and Management Publication, Archipelago Strategic and Partners Indonesia, Jakarta, April 2019. Hak cipta dilindungi Undang-Undang.

Budaya Keselamatan Masyarakat

Dalam kumpulan jurnal ilmiah Occupational Safety and Health, Public Health in the 21st Century, 2014,  Kavouras dan Chalbot berargumen bahwa cakupan tujuan dari penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak hanya terbatas pada perlindungan kepada keselamatan dan kesehatan seorang pekerja saat bekerja di tempat kerja, namun juga individu yang berhubungan dengan pekerja tersebut, seperti keluarga, kolega, dan komunitas seperti pelanggan, pemasok, dan semua yang menjadi subyek pengaruh karakteristik K3 di tempat kerjanya.

Arief Zulkarnain dalam bukunya Safety Behavior, 2018, berargumen kita perlu membuat safety sebagai norma, karena dengan demikian masyarakat memiliki keyakinan dan disiplin untuk mencapai tujuan yang sama. Layanan jasa yang menurutnya kerap berkaitan dengan nilai safety antara lain transportasi, perbaikan kendaraan, hotel.

Ia menambahkan, ada tiga alasan yang mendasari kecenderungan perilaku (human tendency) terhadap isu keselamatan dapat berubah:

  1. Dampak: individu cenderung mengabaikan norma keselamatan jika dampaknya tidak secara langsung dirasakan.
  2. Lingkungan: jika individu mengabaikan aturan dalam sistem berarti telah melanggar norma komunitasnya. Sebaliknya, individu cenderung taat pada suatu lingkungan yang tersistem.
  3. Waktu: desakan waktu semakin mempengaruhi individu untuk mengabaikan keselamatan. Contoh: pelanggaran rambu lalu lintas karena mengejar waktu. 

Dalam teori behavior based safety (BBS), perilaku selamat dapat terbentuk melalui penanaman framing mengenai nilai keselamatan dan aktivitas sehari-hari. Framing perilaku selamat yang dimaksud adalah:

  1. Nilai dan kebutuhan (value and need) saat ini yang mengarah kepada nurani individu untuk beraktivitas secara aman yang dilandasi oleh nilai yang sudah pernah diterima sehingga diyakini sebagai sebuah kebutuhan untuk menjamin keselamatan diri.
  2. Nilai dan kebutuhan di masa depan, yaitu rasa cinta individu untuk tetap berarti bagi orang-orang terdekat yang dikasihi, sehingga mendorongnya untuk tetap berhati-hati dalam beraktivitas

Tanggung jawab individu untuk berperilaku mengutamakan keselamatan agar tidak membahayakan dirinya maupun lingkungan sekitar otomatis menciptakan kondisi aman. Zulkarnain menyimpulkan bahwa struktur pembentukan budaya safety berawal dari perilaku aman individual, kemudian group safe behavior, dan public safe behavior.

Konteks Budaya Organisasi Modern

Dalam buku Organizational Behavior oleh Robert Kreitner dan Angelo Kinicki, 2014, budaya organisasi (organizational culture) adalah perangkat asumsi yang dibagi secara implisit begitu saja serta dipegang oleh satu kelompok yang menetukan bagaimana hal itu dirasakan, dipikirkan, dan bereaksi terhadap lingkungan yang beragam.

Terdapat tiga unsur penting pada budaya organisasi:

  1. Budaya yang diberikan kepada para pegawai baru melalui proses sosialisasi.
  2. Budaya organisasi mempengaruhi perilaku pekerja saat bekerja.
  3. Budaya organisasi yang beroperasi pada level umum (lingkungan sekitar) yang berbeda melalui sosialisasi dan mentoring.

Menurut Kreitner dan Kinicki, tiga unsur budaya organisasi di atas diciptakan oleh empat karakteristik kunci:

  1. Nilai-nilai pendiri
  2. Lingkungan industri dan bisnis
  3. Kebudayaan nasional
  4. Visi dan sikap pemimpin senior

Southwest Airlines, salah satu maskapai terbesar d Amerika Serikat, berada dalam 5 besar perusahaan di Amerika Serikat untuk kategori Best Companies to Work For versi majalah Fortune dari 1997 hingga 2000, dan perusahaan paling diidamkan ke-12 di AS tahun 2008 karena kebudayaan yang kuat dan berbeda.

Empat fungsi budaya organisasi di Southwest antara lain:

  1. Memberikan para anggota sebuah identitas organisasi. CEO Southwest Airlines mengakui bahwa orang-orang kami merupakan kekuatan terbesar satu-satunya milik kami dan keuntungan bersaing jangka panjang kami yang paling penting.
  2. Memfasilitasi komitmen bersama terhadap misi: dedikasi terhadap kualitas tertinggi layanan pelanggan.
  3. Mempromosikan stabilitas sistem sosial melalui lingkungan kerja yang positif dan sejahtera.
  4. Membentuk perilaku dengan membantu para anggota memahami lingkungan sekitar mereka.
Penumpang domestik menunggu keberangkatan di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali. Membudayakan perilaku tertib dan selamat di masyarakat di fasilitas umum berguna bagi terjaganya keselamatan bersama.

Contoh studi kasus di Indonesia, pada tahun 2012 angkutan lebaran mencatat angka kecelakaan terbesar dari pemudik sepeda motor akibat kondisi mudik yang semrawut, seperti yang tercatat di dalam buku Transportasi Pro Rakyat, Edie Haryoto, 2013.

Ditambah lagi data dari Kementerian Perhubungan di masa itu menunjukkan bahwa peningkatan 7,6% kapasitas pesawat tidak dapat mengejar peningkatan permintaan dari jumlah pemudik sebesar 10%.

2,4% penumpang yang tidak tertampung oleh kapasitas angkutan udara kemungkinan besar akan menggunakan bus atau kendaraan pribadi, bukan kereta api, karena kapasitas kereta api sangat tidak mencukupi, terutama setelah kebijakan mengangkut sesuai jumlah tempat duduk. Kebijakan ini disertai dengan kemudahan memesan tiket, serta penggunaan boarding pass, membuat pelayanan menjadi lebih baik, nyaman, dan tertib.

Tapi di sisi lain hal ini menambah kepadatan jalan raya serta risiko kecelakaan, mengingat sebagian besar pengguna jalan raya adalah pemudik sepeda motor yang rentan mengalami kecelakaan.

Pemudik kereta api yang tidak mendapatkan tiket tidak akan membatalkan rencana mudik setahun sekali. Walaupun pemerintah menghimbau untuk tidak menggunakan sepeda motor, merencanakan angkutan lebaran yang bertumpu pada jalan raya otomatis menggiring pemudik untuk menggunakan sepeda motor.

Kondisi ini diperburuk oleh tiadanya penambahan panjang jalan sebab Kementerian Pekerjaan Rakyat hanya menyiapkan beberapa jalur alternatif dan beberapa perbaikan jalan.

Masyarakat menggunakan layanan kereta api komuter di Stasiun Bogor. Kesadaran untuk menjaga keselamatan diri masing-masing akan menciptakan keselamatan bersama.

Selain upaya meningkatkan kesadaran berperilaku selamat di masyarakat, secara holistik diperlukan penambahan kapasitas transportasi publik disertai pembatasan penjualan motor, serta insentif pemudik yang mudik setelah lebaran dengan menetapkan tarif murah.

Dengan kebijakan-kebijakan tersebut tampak bahwa budaya K3 di perusahaan angkutan massal darat dan udara seperti PT Kereta Api Indonesia dan PT Angkasa Pura II telah secara langsung berdampak pada keselamatan masyarakat.