Tag Archives: Galeri Kertas

Spekulasi dari balik tembok: 3000 jam jalan kaki setelah karya

Heru Joni Putra is the curator of Galerikertas Studiohanafi. He is an alumnus of Cultural Studies Universitas Indonesia and the author of Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa (2017). Alihan is an art program held in Galerikertas Studiohanafi featuring a solo exhibition by Indonesian artist Hanura Hosea in conjunction with a series of related events. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 2 until 17 November 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

“Berpikir secara seni adalah tindakan politik.”

Hanura Hosea

Apa yang disebut sebagai tindakan politik adalah sebuah jalan penuh simpang. Salah satu, pada tataran paling sederhana, tindakan politis bisa berkembang dari keyakinan bahwa realitas adalah sesuatu yang tidak apa adanya, realitas tidaklah persis sebagaimana kita menginderainya.

Apa yang terlihat oleh mata bukanlah realitas yang sudah selesai. Begitu juga yang terdengar oleh telinga, terhidu oleh hidung, tercecap oleh lidah, teraba oleh kulit, terasa oleh hati, dan seterusnya. Indera kita memang menjadi instrumen paling lumrah untuk mengidentifikasi realitas tetapi indera-indera itu tidak dapat berfungsi sebagai alat untuk “memastikan” realitas secara keseluruhan. Indera kita barangkali hanya bisa mencapai bagian-bagian dari realitas.

Dengan begitu, kesadaran bahwa realitas yang kita indrai bukanlah realitas yang selesai, apa adanya, emang begitu dari sononya dst adalah sebuah kesadaran yang politis dalam memahami realitas. Dalam hal inilah, sebagaimana diucapkan juga oleh Hanura Hosea, berpikir secara seni adalah tindakan politik.

Sebab, berpikir seni adalah sebuah tindakan yang tidak melihat realitas secara lumrah belaka. Karya seni tidak sebatas pengeras suara dari fenomena kasat mata saja. Seni bahkan mempunyai beban yang lebih dari itu, yaitu menunjukkan realitas yang tak sepenuhnya terjangkau oleh indra manusia.

Gambar yang ditampilkan di samping ini merupakan salah satu karya Hanura Hosea yang dipamerkan dalam pameran Alihan di Galerikertas. Figur-figur yang ditampilkan di dalamnya, secara umum, dapat dengan mudah kita kenali dengan baik, sekalipun pada beberapa bagian kita menemukan berbagai pemiuhan bentuk—sehingga menunjukkan karakteristik sureal. Kita tahu, dalam gambar itu ada tiga figur manusia. Lalu ada satu figur surealis yang bersamaan dengan salah satu figur manusia.

Dari segi ruang, ketiga figur tersebut berada di tiga ruang yang berbeda. Tapi, dari segi waktu, menjadi rujukan dasar untuk menunjukkan apakah mereka di waktu yang sama atau tidak. Tapi, kita masih bisa mencari penanda waktu yang terselubung melalui jenis aktivitas yang dilakukan ketiga figur manusia itu: tidur, berenang, dan aktivitas perapian.

Sederhananya, tiga penanda waktu tersebut bisa kita bawa ke pengertian waktu keseharian, rutinitas, dan berkala. Namun begitu, sebagai konsekuensi dari peleburan ruang, gambar tersebut juga menyiratkan peleburan waktu.

Dengan demikian, bicara soal waktu, kita tak bisa lagi sepenuhnya bicara perihal waktu yang sudah tertata secara sosio-kultural. Gambar tersebut cenderung menyiratkan waktu sebagai sesuatu yang berlapis, berhimpitan, tidak kronologis, dan seterusnya.

Dengan demikian, gambar tersebut bukanlah proyeksi dari realitas yang bisa diidentifikasi dengan panca indera. Proyeksi yang dimunculkan gambar tersebut tidaklah suatu komposisi keseharian realitas kita sekalipun elemen-elemen gambarnya sangat akrab dengan kita. Meskipun demikian, itu bukan berarti bahwa gambar tersebut tidak ada hubungannya dengan realitas itu sendiri. Dengan cara serupa itu, gambar tersebut menunjukkan kepada kita suatu realitas yang lain, tapi sama “nyata”-nya dengan apa yang bisa kita inderai.

Apa benar ada realitas lain selain realitas yang dapat kita inderai? Di manakah realitas lain itu terjadi? Apakah kita berada di luar realitas lain itu atau justru tidak sadar ada di dalamnya?

Ada banyak jawaban yang bisa muncul, tapi kita tentu tidak akan lebih jauh menjawab pertanyaan tersebut. Yang jelas, pertanyaan serupa itu adalah pertanyaan yang sangat mungkin muncul melalui karya seni. Dan karena dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan serupa itulah kemudian karya seni tanpa dapat dihindari senantiasa menjadi “politis”.

Menjadi “politis” tentu tidak sama artinya dengan menjadi bagian “politik praktis”. Kita sering terjebak, ketika menyebut “politis” maka yang terbayangkan adalah politik pemerintahan yang kotor dan seterusnya. Menunjukkan apa yang tak tertunjukkan adalah salah satu dari apa yang disebut sebagai “menjadi politis”.

Bagi sebagian orang, gambar Hanura Hosea tersebut bisa saja menunjukkan realitas psikologis manusia di kondisi tertentu. Katakanlah seseorang yang merasakan hidup tak lagi punya jeda, bahkan apa yang semestinya terjadi secara berurutan justru berarsiran.

Dalam hidupnya, apa yang sedang dibayangkannya lebih nyata daripada apa yang sedang dilakukannya di saat yang sama. Ketika ia secara fisik sangat jelas melakukan aktivitas A, tapi yang sedang ada dalam pikiran dan perasaannya sedang melalukan B, C, dan seterusnya.

Mengapa realitas yang seperti itu bisa disebut politis? Karena banyak yang memandang bahwa realitas sebenarnya hanyalah realitas yang dapat diinderai.

Orang-orang hanya percaya pada apa yang bisa dilihatnya saja, segala yang bisa didengarnya saja, semua yang bisa dicecapnya saja dan seterusnya. Sehingga risikonya, sebagaimana contoh yang kita buat tadi, mereka lupa bahwa realitas juga bekerja di dalam wilayah psikologi. Padahal, realitas psikologi sama “nyata”-nya dengan realitas indrawi.

Karya seni tertentu, terutama non-realis, seringkali membuat kita menggerakkan kaki untuk bergelimang dengan realitas yang lain tersebut. Dengan begitu, tentu tidak salah lagi, bila kemudian ada yang berkata, “Betapa arogannya orang-orang yang hanya percaya pada apa yang bisa dilihatnya saja, pada apa yang hanya bisa didengarnya saja, pada apa yang bisa disentuhnya saja, dan seterusnya…”

Dari penjabaran di atas, kita sebenarnya belum bicara banyak. Kita baru mencoba melakukan pemaknaan kembali atas trinitas manusia, ruang, dan waktu pada tataran paling sederhana.

Selain soal itu, dari karya-karya Hanura Hosea, kita juga melihat suatu kecenderungan untuk memilih warna hitam-putih, sekalipun itu bukan hal aneh dalam drawing. Namun, sebagaimana di realitas itu sendiri, di dalam seni pun tidak ada yang “kebetulan” begitu saja, selalu ada sebab, bahkan selalu ada “yang politis” di balik setiap kejadian, baik disadari ataupun tidak (political unconsciousness).

Pembukaan pameran tunggal Hanura Hosea, Alihan, Galerikertas Studiohanafi, 2 November 2019

“Hitam-putih adalah pilihan selera.”

Hanura Hosea

Dan untuk suatu selera warna pun selalu terkandung “yang politis”. Sebagai contoh, kita bisa memulainya dengan pertanyaan seperti ini: sejak kapan warna pink menjadi warna perempuan? Mengapa orang akan tertawa ketika laki-laki menggunakan kaos pink? Kita tidak bisa melepaskan pertanyaan tersebut dari persoalan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan yang selalu ditekankan sebagai kelembutan, ketenangan, kesabaran, dan seterusnya tentu akan mudah dikaitkan dengan pemaknaan kita terhadap warna pink. Begitu juga sebaliknya, laki-laki yang selalu ditekankan sebagai keperkasaan, kekuasaan, kekuatan, dan seterusnya, dikesankan tampak mencolok atau tidak cocok dengan makna dari warna pink.

Kultur warna kita, dengan demikian, mengandung bias gender yang sangat kentara. Dalam contoh di atas, warna pink telah melegitimasi karakter standar untuk perempuan sekaligus melanggengkan karakter standar untuk laki-laki.

Dalam konteks kultur warna dan politik dibaliknya, para perupa seringkali, sengaja atau tidak, menghancurkan kebekuan-kebekuan warna seperti itu. Di tangan para perupa, setiap warna seringkali mendapatkan makna baru. Seringkali, warna yang sebelumnya kentara oleh bias gender, bias etnis, bias ideologi, dan seterusnya kemudian menjadi terbatas dari beban-beban serupa itu.

Dalam kasus gambar Hanura Hosea, warna hitam-putih bisa menjadi salah satu cara paling menarik untuk meminimalisasi muslihat warna, bias dalam warna. Warna semerbak, pada sisi lainnya, mempunyai watak untuk memanipulasi. Dalam contoh lainnya, pewarnaan di dalam desain komunikasi visual adalah salah satu strategi “manipulasi” seperti strategi menarik perhatian, dan seterusnya.

Dalam konteks ini, warna hitam-putih bisa digunakan untuk memberi penekanan pada gambar itu sendiri, sehingga kita tidak larut pada permainan atau komposisi warna dan warni. Dengan meminimalisir bias-bias warna lain, warna hitam-putih pun terus mengarahkan fokus kita bahkan sampai pada komponen gambar itu sendiri: kapasitas garis.

Mengapa Hanura Hosea membuat trinitas manusia-ruang-waktu dalam formasi tidak teratur dan kemudian memilih menggunakan warna hitam-putih—sebagaimana contoh gambar di atas tadi? Kalau tadi kita menyebut “realitas psikologis”, maka bagaimana perbedaannya bila realitas itu digambar dengan warna-warni dan hanya dengan hitam-putih saja? Bagaimana dinamika pemaknaan yang bisa kita temukan berdasarkan hubungan-hubungan antar indikator bentuk dan isi tersebut?

Itulah pertanyaan berikut yang dapat kita eksplorasi. Bagaimanapun juga, sekeping karya seni tak akan pernah habis kita bahas. Tulisan ini hanya sebuah pembuka kata untuk karya-karya Hanura lainnya. Selebihnya, para pengunjung pameranlah yang akan berkontemplasi sendiri dalam merespons karya Hanura Hosea.

Pertanyaan-pertanyaan terakhir tadi sengaja saya tinggalkan tanpa tawaran jawaban. Semoga dapat menjadi pantikan untuk melihat karya-karya Hanura lebih dalam dan dengan sudut pandang lainnya. Apa spekulasimu?

A Southeast Asian city narratives by photographer turn artist

It’s All About the Story, Past, Present, Future is a solo exhibition by mixed-media artist Robert Pearce, held in Galeri Kertas, Depok. think archipelago is a proud media partner of the exhibition that runs from 1 to 31 May 2019. To visit their official site, go to http://www.studiohanafi.com, or @galerikertas_art

Rob Pearce performs on the opening site of his solo exhibition at Galeri Kertas, 1 May 2019. Photo by Arhan, courtesy of Studio Hanafi.

During the 1000 days of mourning for his parents passing years ago, a common social behavior in parts of Asia, 57 year-old Robert Pearce, residing in Indonesia, drowned himself into period of contemplation.

Then, in frenzy collage, he glued pieces of cut photos of his parents, words from the books he read, leaves from plants on his lush yard, pasted it on the wall and had it photographed.

More than a visual object, it became a shrine where he left flowers as if he was in the cemetary, visiting his memories with them.

His intricate works are also composed of advertising posters he ripped on the streets and underpasses of Jakarta he had noticed during one of his his photography projects.

It took months to execute all the pieces together, and who knows how long to muster the idea. Judging from the finished objects, craft knife and paint are presumably tools he often uses.

Douglas Ramage, an avid collector of Hanafi’s works which he first came to know some 20 years back, said that in those time he would not have seriously thought about buying a photograph that he deemed of no artistic value. But Rob Pearce, whom he first met when he was a photographer, changed that notion.

“Rob loves to tell stories of his photos. I believe he can’t create something without telling the story,” Doug said in fluent Indonesian during the public discussion. His favorite is the medium format 2×1 photowork containing fragments of Jakarta, and interestingly, after a much closer look, the artist’s late mother.

He added that Rob tried to put his mother inside the frames, hidden in a rich selection of colors 

Hanafi is also notable for his preference to colors, the collector said.

“There is depth in Hanafi’s colors,” he said.

Hanafi said that within Rob is a soul that will never stop delving into the torned pieces, looking for each of the memory kept inside.

“Jakarta made me a better person, more tolerant, more patient,” Rob said, while adding that he hates the portrayal of Jakarta as another exotic Asian cosmopolitan city. Among his notable portfolio about Jakarta were Marunda Water (1999-2000), and Ripped Faces, 8008km (2001-2003).

The youth Rob came for the first time to Jakarta in 1970, before settling since the 1990 as an English teacher. His return in the 2000s after taking bachelor degree in Documentary Photography, University of Wales, Newport, began the journey that turned him from a photographer to a widely-recognized artist, a move he described as self-learning and mind-liberating.

Asked about the motivation behind the move, the artist who also obtained bachelor degree in Southeast Asian Studies, University of Kent, Canterbury, in 1983, said being a photographer is driven by his view of both romanticism and machoism, that of having oneself in a new place, investigating one case to another.

The downside is that the job is an instructed routine that can be mind-numbing. He wanted to tell more stories in creative ways and possibilities of his own making.

Looking into his works, the trace of photography are commonplace, but they have become less of an art photography and more of a mixed media art, uniquely shaped by the artist’s fragments of past memory, the current “Asian” state of being, and the way he visualizes the country he lives in.

Lembaran Kelengkapan. Rob Pearce. Joss paper, book pages, acrylic paint, acrylicink on aluminium composite. 2019.

Nevertheless, he said that the intuition shaped in the years of “tukang foto” still persist. He just feels lucky and seems grateful enough to be able to make narratives the way he wants to now.        

He credited Jakarta as his aesthetic teacher, saying, “My artworks came to be owing to Jakarta. They are inspired by the raucous noise, dust, and smoke around the city streets and flyovers.”

Lontar Foundation founder John H. McGlynn, on the opening day filled with lively ceremony and the line-up of musicians such as Oppie Andaresta, explained that Rob exhibit what used to be simple photoworks he had taken decades before they transformed into complex, impassioned artworks. Hence he suggested that each piece has an enriching story to be understood, learned by the audience.

It‘s All About the Story, Past, Present, Future by Rob Pearce is Galeri Kertas first exhibition of this year. On this occasion they simultaneously introduce their 2019 tagline: Let’s fill this town with artists.

As what has been the usual agenda of Galeri Kertas, Rob Pearce art exhibition precedes a workshop by the artist for selected young, aspiring artists, a public discussion, and the eventual workshop exhibition.

Curator Heru Joni Putra said the main source of material of Rob’s artwork is the books he read. Moreover, the torned pages he attached to joss “ghost” papers in Chinese ritual, for instance, showed Rob’s perseverance on exploring the paper-based artwork material, and how it conforms to Galeri Kertas mission to light up the exploration and promote the particular medium.

Asked why the displayed works are not signed with date of completion, it is revealed that Rob has phobia with his own signature, which explained why he decided to put it at the back of the frame.

For a supposedly dyslexic person, Rob left a somewhat articulate note on the wall to tell the visitors about the journey from his suburb home-garden in Cipayung to Hanafi’s art studio in Parung Bingung.

There was no eureka moment just the drip drip drip of learning. Observing that which can lead you in the direction of partial understanding. Of looking for opportunities and celebrating mistakes, as it is here that can lead to something new. The joy of randomness and the pleasure in work can come together, meshing and weaving intertwined threads with the aim of producing a piece that pleases the eye and tweaks the intellect.