Tag Archives: galerikertas studiohanafi

Pameran Rekonstruks7 karya dari 7 Perupa Muda pilihan Edi Bonetski

Mengikuti pameran perupa Edi Bonetski yang bertajuk “Ondel-ondel: Yang Rural dan yang Urban,” studiohanafi membuka kesempatan bagi seniman muda untuk berpameran di galerikertas di bawah bimbingan Edi Bonetski dan perupa Hanafi. Dari sekitar 20 perupa muda yang mempresentasikan karyanya, terpilih 7 perupa yang kini telah menjalani proses workshop di galerikertas dan siap menampilkan karya-karya kertas dan instalasinya pada pameran yang bertajuk “Rekonstruks7” mulai dibuka pada tanggal 17 Agustus hingga 17 September 2022.

7 perupa muda yang berpameran pada “Rekonstruks7” antara lain Achmad Farid, Agung Rachmat Prakarsa, Angelica Chintya, Ferdinand Michael, Iyusman Utomo, Ulfah Maharani, dan Zullaika Nur Maulida.

Masing-masing dari mereka berangkat dari latar belakang mode
penciptaan dan preferensi style yang berbeda, ada yang berfokus pada studi garis, mixed media, bentuk-bentuk geometris, kertas origami, hingga fotografi, namun perpaduan antara mode penciptaan yang berbeda-beda tersebut dan pendekatan street art serta performance art yang dikenalkan oleh Edi Bonetski menghasilkan sekumpulan karya yang tidak lain merupakan rekonstruksi dari kekaryaan mereka masing-masing. 7 perupa muda diajak mengolah barang- barang bekas yang ditemukan di daerah sekitar galerikertas dan mengaplikasikan metode-
metode yang dekat dengan Edi Bonetski dalam merencanakan pameran bersamanya.

Hasilnya adalah sebuah pameran bersama yang menampilkan sekumpulan karya lukis dan instalasi yang merangkum studi serta eksplorasi mereka terhadap medium kertas dan kemungkinan-
kemungkinan penciptaan lain yang muncul sepanjang perjalanannya.

Pameran “Rekonstruks7” berlangsung mulai pada tanggal 17 Agustus hingga 17 September 2022. Pada Sabtu, 20 Agustus pukul 15.30 WIB akan digelar diskusi karya “Rekonstruks7” yang menghadirkan 7 perupa muda sekaligus Edi Bonetski dan Hanafi selaku pembicara dengan mendaftarkan diri pada link ini: https://bit.ly/Diskusirekonstruks7.

Mengunjungi pameran di galerikertas tidak dipungut biaya dan galerikertas menerima tamu setiap hari pukul 10:00 – 17:00 WIB kecuali pada hari Senin. Pengunjung agar mendaftarkan diri terlebih dahulu pada link ini: https://bit.ly/Pameranrekonstruks7.

Sandi Kala, seni performans karya 69 Performance Club

Sandi Kala is a performing arts by 69 Performance Club, supported by Studiohanafi and Forum Lenteng. think archipelago is a proud media partner of the event held in Galerikertas – Studiohanafi, Saturday, 15 February 2020, 1:00 – 5:00 PM.

Kerap catatan peristiwa masa lalu menjadi pembacaan untuk masa depan yang dihadirkan pada hari ini. Narasi yang merekam riwayat tertentu dikenal masyarakat sebagai ramalan, primbon, hingga tradisi yang berbasis lokasi. Misalnya tradisi kampung tua Kinta di Palu, Sulawesi Selatan, yang banyak terkait erat dengan kondisi geologi wilayahnya sejak lampau.

Riwayat semacam ini menyandarkan kepercayaannya pada sebuah ide bahwa segala pengetahuan telah tersedia di semesta, tinggal bagaimana para penghuninya mampu mengambil sari dari catatan tersebut menjadi sebuah pengetahuan.

Akan tetapi, pengetahuan semacam ini sering disalahartikan oleh pengetahuan modern sebagai takhayul belaka. Berbagai pertemuan, baik dengan sistem, budaya, maupun peradaban baru telah menggeser keberadaan pengetahuan ini.

Kita tak lagi pandai mengakses tanda-tanda yang terserak pada semesta alam dan semesta sosial manusia sehingga kesulitan menyusun kode-kode pengetahuan tersebut. Ia menjadi seakan tersembunyi, rahasia, dan tak terjangkau.

Pada edisi ke-18 ini, 69 Performance Club mengangkat kuratorial “Sandi Kala” yang mengajak para partisipannya menggali kode-kode narasi kolektif yang tercecer dan menghadirkan kembali potensi performatifnya, terutama narasi kolektif yang tersimpan dalam teks, baik teks sebagai tulisan maupun dalam konteks yang lebih luas, melalui teks, gerak dan bentuk serta relevansinya dengan sebaran narasi kolektif di kawasan Asia Tenggara.

Tentang 69 Performance Club

69 Performance Club adalah sebuah inisiatif yang digagas oleh Forum Lenteng untuk studi fenomena sosial kebudayaan melalui seni performans. Kegiatan 69 Performance Club berupa workshop dan performans setiap bulan, diskusi, serta riset tentang perkembangan performans di Indonesia. Inisiatif ini terbuka untuk para pemerhati, peminat dan seniman untuk terlibat secara aktif menjadi bagian dari program-program 69 Perfomance Club.

Karya-karya 69 Performance Club telah dipresentasikan antara lain di SMAK Museum, Ghent, Belgium, TranzitDisplay Gallery, Prague, Czech Republic, Ministry of Foreign Artists, Geneva, Switzerland, Teater Garasi, Yogyakarta, Indonesia, Ilmin Museum of Art, Seoul, South Korea, dan GoetheHaus, Jakarta. Karya-karya dapat dilihat di http://www.69performance.club.

Biografi seniman

Otty Widasari (Balikpapan, 1973) adalah seniman, penulis, sutradara film, dan salah satu pendiri Forum Lenteng. Pada tahun 2015, pameran tunggalnya berjudul Ones Who Looked at the Presence diselenggarakan di Ark Galerie, Yogyakarta. Kemudian pada tahun 2016, pameran tunggal keduanya, Ones Who Are Being Controlled diadakan di Dia.Lo.Gue, Jakarta. Kedua pameran tersebut merupakan proyek berkelanjutan Otty dalam rangka penelitiannya terhadap arsip film kolonial yang ia mulai sejak residensi di Belanda.


Pingkan Polla (Magelang, 1993), seniman yang berfokus pada seni performans dan seni rupa. Anggota Forum Lenteng sebagai seniman dan peneliti di Milisifilem dan 69 Performance Club. Ia memulai praktik artistiknya semenjak tergabung dalam proyek seni AKUMASSA-Diorama dengan melakukan observasi visual terhadap diorama-diorama yang ada di Museum Nasional. Pengetahuan itu kemudian berkembang ke arah seni performans semenjak ia tergabung dalam platform 69 Performance Club. Karya-karya performansnya berfokus pada studi tubuh dan kerja, media sosial, dan studi atas performans di ruang privat hingga ruang publik. Pada tahun 2019, ia sempat melakukan residensi di Bangsal Menggawe di Pemenang, Lombok Utara, dan melakukan riset tentang persinggungan antara seni pertunjukan dan seni performans. Selain itu, ia pun telah mengikuti residensi di Bulukumba, dalam rangka Makassar Biennale 2019.


Robby Ocktavian (Samarinda, 1990) adalah seorang seniman dan organisator seni yang gemar menayangkan film di celah-celah kota Samarinda bersama kawan-kawan Sindikatsinema. Ia juga adalah direktur MUARASUARA – Sound Art Festival dan Naladeva Film Festival di Samarinda. Menyelesaikan studi Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman Samarinda dan kemudian belajar memahami dan memproduksi visual di Forum Lenteng dalam program Milisifilem Collective.


Dhuha Ramadhani (Jakarta, 1995) adalah seorang penulis dan pembuat film. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Departemen Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Anggota Forum Lenteng aktif. Pada 2018, ia menjadi salah satu kurator ARKIPEL untuk program Candrawala. Sekarang, dia juga seorang partisipan di Milisifilem Collective dan 69 Performance Club.


Riyadhus Shalihin acapkali melakukan penelitian atas obyek ruang dan arsip, seperti lokasi penggusuran, foto keluarga, reruntuhan bioskop, jembatan sungai, kompleks pemakaman, atau pun furnitur kolonial, sebagai latar penciptaan karya teater, performance art, video art, dan teks drama. Ia adalah co-founder dan direktur artistik Bandung Performing Arts Forum (B.P.A.F), yang bekerjasama dengan Theatre MUIBO ( Tokyo ) dalam proyek kolaborasi teater Once Upon A Time – The Fallen Boat (2019) dengan bantuan dari Japan Foundation. Leow Puay Tin (Malaysia) untuk proyek teater US NOT US pada Asian Dramaturgs Network, Yogyakarta – 2018. Anggota dari Majelis Dramaturgi – yang diinisiasi oleh Teater Garasi Yogyakarta. Menulis esai teater, tari, dan seni rupa di majalah Tempo, Sarasvati, Pikiran Rakyat, Indopos, dan Jawa Pos.

Biografi Kurator

Anggraeni Dwi Widhiasih (Sleman, 1993) adalah seorang kurator, penulis, seniman yang berdomisili di Jakarta. Setelah menamatkan studi Hubungan Internasional di Universitas Paramadina, ia menjadi anggota aktif di Forum Lenteng dan terlibat dalam Milisifilem Collective, sebuah kelompok studi produksi film melalui praktik eksperimen visual. Sebagai sebuah produk audiovisual, film bagi Anggra memiliki keterhubungan erat dengan persoalan sistem di masyarakat, teknologi media, produksi pengetahuan dan aspek kepenontonan. Hal-hal ini pun yang kerap muncul dalam kerja-kerja keseniannya, baik dalam bentuk kuratorial, tulisan, maupun karya visual. Selain aktif dalam skena seni dan film, ia juga terlibat dalam platform eksperimen ekonomi bernama Koperasi Riset Purusha dan Prakerti Collective Intelligence.


Prashasti Wilujeng Putri (Jakarta, 1991) adalah seorang seniman dan manajer seni. Ia seorang lulusan kriminologi, Universitas Indonesia. Penari dari Komunitas Tari Radha Sarisha dan Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah. Ia memulai proses artistiknya sendiri sejak bergabung di 69 Performance Club pada 2016. Ia pernah melakukan residensi di Silek Art Festival di Solok, Sumatra Barat pada 2018, melakukan riset tentang silek (silat) dalam kehidupan tubuh-tubuh kontemporer. Hasil residensinya berupa karya video, dan dilanjutkan dengan karya performans yang dibawakan di Ilmin Museum of Art, Seoul, Korea Selatan. Karya-karyanya yang lain fokus pada soal tubuh yang didefinisikan dan dibentuk oleh masyarakat, dan bagaimana seni performans bisa merekonstruksi hal itu. Sandi Kala merupakan karya kuratorialnya yang pertama.

Photos courtesy of 69 Performance Club.

Burudiri, catatan Hanura Hosea

Hanura Hosea, perupa kelahiran Wates, Jawa Tengah, yang kini menetap di Jerman, telah menampilkan 220 karya di pameran tunggalnya Alihan di Galerikertas Studiohanafi sejak November 2019, sebelum bertindak sebagai fasilitator di workshop Burudiri bersama 4 perupa muda pilihan. Karya-karyanya telah muncul di berbagai pameran, antara lain di Artipoli Art Gallery, dan Art Stage Singapore. Ia kerap membawakan isu sosial politik Indonesia.

Judul ini muncul sesudah saya tenggelam dalam pusaran pertanyaan-pertanyaan di acara presentasi karya. Ada tujuh orang, semua cowok, yang menyodorkan karya-karya mereka. Sementara beberapa hadir untuk mengukuhkan acara ini.

Karya-karya ditaruh paralel dalam pembuatnya. Mereka berbaring minta dibedah, siap berbahagia disayat-sayat. Seorang teman, Ugeng, datang menawarkan diri untuk memeriahkan obrolan.

Acara pun jadi meletup. Penuh semangat. Udara Jakarta panas lembab lengket-lengket di kulit, warna abu-abu berjuntai di langit. Ketujuh cowok ini mengusung hal yang sama, yaitu mau. Ada mau atau bukan-mau pada diri mereka dan itu banyak sekali, berserakan di lantai galeri, mengapung di atas ubun-ubun dan berhamburan di udara.

Berapa banyaknya, saya tidak tahu. Tetapi untuk sementara beberapa mau itu bisa dijumlahkan. Mau membuat karya, itu penjumlahan sementaranya. Mau itu tenaga. Buru diri merupakan usaha khayal bahwa diri dijadikan obyek ataupun obyek-obyek. Khayalan lain tentang buru diri adalah membelah-belah subyek jadi banyak.

Peristiwa perburuan akan terjadi bila ada yang memburu dan yang diburu. Dalam konteks ini antara subyek dan obyek akan bertukar peran. Dengan demikian diri punya kapasitas untuk bermain dengan dan dalam coba-coba. Jika membuat karya seni rupa dianggap sebuah eksperimen, maka salah satu kiat kerjanya adalah karya sebelumnya/lainnya diletakkan sebagai acuhan. Begitu harapannya.

Buru diri bisa menemukan jalannya lewat karya. Karya akan berargumen terhadap pembaca, sedangkan pembaca akan memutuskan selera (sebuah kemampuan sosial), untuk suka atau tidak terhadap karya, semisal. Proses-proses ini mencoba meletakkan buru diri tidak untuk menjinakkan tetapi justru meliarkan kembali diri.

Kami memulai dengan membaca bersama-sama karya-karya yang mereka presentasikan. Lewat karya-karya ini dicoba untuk membuat karya baru. Gagasan awal yang mereka bawa dijadikan dasar eksperimen untuk membuat karya-karya berikutnya.

Empat perupa dapat kesempatan untuk bermain-main dengan eksperimen ini. Ivan dengan gagasan dusunnya yang tergusur untuk pembangunan jalan layang rel kereta api. Dimas mencoba membenturkan diri pada komunikasi personal dengan ayahnya. Edy memakai kamera sebagai alat penoreh. Abul mencoba menari dengan percepatan logika digital. Itu sekelumit gagasan-gagasan dari hasil workshop Burudiri.

Sebagaimana sebuah eksperimen, hasil merupakan janji yang samar. Hasil yang mungkin pasti adalah tersesat dalam pertikaian gagasan-gagasan. Dalam persiapan memamerkan hasil workshop ini tentu banyak hal harus dilampaui. Setiap individu punya usungan batasan-batasan sendiri-sendiri.

Mungkin yang mirip pada empat perupa ini adalah waktu terbatas, fisik diri terbatas, anggaran terbatas. Kompromi juga bagian dari usaha buru diri. Lewat kompromi ini kita jadi punya ketegasan batasan diri yang harus diterima.

Dari batasan hal-hal di atas, paling tidak diri punya kepastian pegangan untuk bernegosiasi dalam buru diri. Mungkin juga tidak. Kita nikmati saja berita tubuh mereka dalam pameran ini. Karya (mungkin) berubah, sedangkan manusia (konon menurut sejarahnya) tidak pernah.

Burudiri dalam eksperimen 4 perupa muda

Burudiri is a joint exhibition of 4 selected aspiring artists, having participated in Hanura Hosea art workshop held by Galerikertas Studiohanafi. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 14 until 28 December 2019. Visit www.studiohanafi.com, or instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

Galerikertas Studiohanafi menyelenggarakan pameran bersama karya empat perupa muda hasil workshop kertas bersama perupa berpengalaman Hanura Hosea. Pameran ini menjadi penutup program galerikertas studiohanafi tahun ini.

4 perupa muda yang berasal dari Bandung, Jakarta dan Depok tersebut adalah Dimas Ismail M., Faris Abulkhair, Ivan Oktavian, dan Susilo Nofriadi.

Burudiri berangkat dari ide untuk memburu diri sendiri atau mengenali potensi masing-masing perupa dalam berkarya.

“Kami memulai dengan membaca bersama-sama karya-karya yang mereka presentasikan,“ tutur Hanura Hosea selaku fasilitator workshop. ”Lewat karya-karya ini dicoba untuk membuat karya baru. Gagasan awal yang mereka bawa dijadikan dasar eksperimen untuk membuat karya-karya berikutnya.”

Keempat perupa berkesempatan untuk bermain-main dengan eksperimen ini. Ivan dengan gagasan dusunnya yang tergusur untuk pembangunan jalan layang rel kereta api. Dimas mencoba membenturkan diri pada komunikasi personal dengan ayahnya. Edy memakai kamera sebagai alat penoreh. Abul mencoba menari dengan percepatan logika digital.

Pembukaan pameran “burudiri” akan berlangsung pada Sabtu, 14 Desember 2019, pukul 19.00 WIB-selesai. Pameran dibuka oleh Hanafi selaku penggagas galerikertas studiohanafi, dan Ugeng T. Moetidjo, perupa dan penulis.

Pameran turut diramaikan oleh penampilan musik dari Michael Felisianvs, musisi asal Jakarta yang baru saja memulai projek solo dengan mengambil tema #pulang.. Mike akan menyuguhkan musik bernuansa akustik dengan balutan tropical hawaiian folk dan blues, mencoba untuk berbagi kebahagiaan dan cerita-cerita kecil tentang kehidupan.

Selain pameran, galerikertas Studiohanafi melangsungkan Diskusi karya 4 perupa muda pilihan Hanura Hosea pada Minggu, 15 Desember 2019 pukul 16.00 WIB.

Dikutip dari penyelenggara pameran, pameran Burudiri diharapkan dapat menemukan jalannya lewat karya. Karya akan berargumen terhadap pembaca, sedangkan pembaca dengan kemampuan sosialnya akan berupaya memutuskan seleranya masing-masing untuk suka atau tidak terhadap karya. Proses-proses ini mencoba meletakkan buru diri tidak untuk menjinakkan tetapi justru meliarkan kembali diri.