Tag Archives: Indonesia

Jazz di alam Indonesia

dscn3441

Jazz gunung adalah pagelaran musik tahunan yang diadakan tanpa putus sejak 2009 di kawasan wisata Bromo atau Taman Nasional Tengger Semeru, Jawa Timur. Musisi yang pernah tampil di antaranya adalah Djaduk Ferianto, yang pada awalnya juga adalah penggagas konsep acara ini. Ia hampir selalu tampil setiap tahunnya bersama sekian musisi seperti Kua Etnika, Trie Utami dan Idang Rasjidi. Selain itu ada pula Syaharani, Balawan, Dewa Budjana, Tohpati Ethnomission, Kulkul, Benny Likumahuwa beserta anaknya Barry Likumahuwa, vokalis Iga Mawarni, hingga musisi di ranah indie dan pop seperti Banda Neira atau Yovie Widianto, dan Rieke Roslan.

Gunung Bromo yang merupakan tanah vulkanik yang terkenal dengan keindahannya memberikan pengalaman yang berbeda. Penikmat jazz tidak hanya mendapatkan pengalaman auditif namun juga visual yang diberikan oleh keindahan alam Gunung Bromo. Jazz Gunung yang diadakan selama 2 hari merupakan bentuk apresiasi yang diberikan kepada para penikmat jazz.

Jazz Atas Awan merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan dalam Dieng Culture Festival di kawasan Gunung Dieng, Jawa Tengah. Jika Jazz Gunung hanya menampilkan satu pagelaran konser, Dieng Culture Festival memadukan kebudayaan tradisional dengan sisi modern, yaitu jazz.

Jika selama ini jazz hanya diasosiasikan ke penikmat musik kalangan tertentu, Jazz Atas Awan menawarkan pagelaran yang lebih terkesan merakyat. Berlatar belakang artefak Candi Arjuna, Jazz Atas Awan tidak memberikan sebuah panggung megah yang memisahkan pemusik dan penonton. Konsep ini ditawarkan agar jazz dapat dinikmati semua orang.

Kedua pagelaran tersebut menawarkan keindahan alam terbuka, kebudayaan, peninggalan sejarah dan musik jazz dalam satu kemasan. Sama-sama diadakan di ketinggian 2000 meter di atas laut, siapkan pakaian musim dingin karena suhu yang tak biasanya rendah di alam terbuka.

Acara-acara serupa turut bermunculan, seperti Ngayogjazz di Yogyakarta, Prambanan Jazz, Banyuwangi Jazz Festival, Maratua Jazz yang juga mempopulerkan pariwisata Kepulauan Derawan, Mahakam Fiesta Jazz Samarinda, Jazz Pinggir Kali Purbalingga, dan Ijen Summer Jazz yang berlatar belakang pegunungan Merapi. Kedua terakhir digelar untuk pertama kalinya tahun ini. Ubud Village Jazz Festival yang berlangsung selama dua hari setiap tahun sejak 2012, diikuti oleh sejumlah grup internasional, dan di antara musisi lokal terdapat Salamander Big Band dan Sandy Winarta.

Telaah kebakaran pencakar langit

Tak banyak yang bisa diperbuat untuk memadamkan api di ketinggian gedung baru Neo SOHO hingga puncaknya di lantai 42, yang berlangsung selama tiga jam sejak pukul 21:00, Rabu, 9 November 2016.

img_20161109_215921
Pengunjung Taman Tribeca, mal Central Park, menyaksikan kebakaran di gedung Neo SOHO, Grogol.

Di antara kerumunan yang menengadah tertegun menyaksikan dan memotret kebakaran lantai demi lantai apartemen yang belum berpenghuni tersebut, sebagian terduduk santai bersama teman dan keluarga di Taman Tribeca, Mal Central Park, sebagian melakukan swafoto, sebagian berseliweran sambil menenteng kopi, kantong belanja, mendorong kereta bayi.

Bahkan banyak yang dalam ketenangan mereka melanjutkan malam keakraban di tempat kumpul-kumpul sekitar hingga larut.

Musik live saling bersahutan antara satu band dan lainnya di masing-masing bar, hanya mau berhenti ketika tengah malam saat di mana api telah lama padam dan iringan mobil pemadam kebakaran membunyikan sirene meninggalkan lokasi.

Dinas kebakaran gabungan di Jakarta telah mengerahkan selusin pemadam kebakaran sambil menutup akses ke Podomoro City demi menjaga keselamatan publik. Akibatnya arus keluar kendaraan dialihkan memutari mal lewat jalan sempit yang terhubung dengan jalan arteri Grogol.

Namun arus kendaraan tidak bergerak, mengakibatkan sebagian pemilik kendaraan yang baru saja meninggalkan mal memutuskan kembali ke area parkir.

Sementara nyala api menyajikan tontonan bagi semua yang terjebak di Central Park, para petugas keamanan sigap menutup akses ke Neo SOHO melalui jembatan penghubung yang sedang populer untuk swafoto belakangan ini. Penghuni apartemen sekitar tumpah ruah di jalanan.

Salah satu penghuni bahkan sempat merasakan hawa panas dari kebakaran yang terjadi tepat di seberangnya, sebelum mendapat instruksi meninggalkan apartemennya. Garis pengaman untuk mensterilkan area kerja petugas pemadam sempat tidak dapat menahan jumlah manusia yang bahkan sebagian di antaranya masih mengenakan pakaian tidur.

Dalam kecemasan semuanya berbaur dalam kerumunan, menengadah menyaksikan dan memotret api yang merambat naik hingga lantai tertinggi, diwarnai pemandangan material fasad gedung yang mengelupas dan jatuh terus-menerus.

Sebagian berseliweran dengan menggendong binatang peliharaan, sebagian duduk di depan minimarket yang semakin ramai, sebagian lainnya masuk tayangan televisi saat  diwawancara wartawan.

Meski upaya pemadaman tak berhenti, namun semprotan air tak mampu mencapai ketinggian di atas 20 lantai. Asa dan keberanian para pemadam harus berhenti di batas ketinggian tangga otomatis.

Jauh di atas sana, api merambat semakin tinggi, dan sesaat setelah terlihat sudah padam, panas yang belum pupus membuat api kembali menyala, dan padam lagi. Kondisi ini berlangsung selama kurang dari 3 jam sebelum jalan kembali dibuka dan warga diizinkan untuk pulang, melewati sisi samping gedung modern yang sudah gosong tersebut. Penghuni apartemen di seberangnya juga sudah tak tampak di jalanan.

Dalam beberapa dekake terakhir, perkembangan kota begitu cepat, dan  laju vertikal fisik kota semakin jauh meninggalkan kemampuan penanggulangan kebakaran pencakar langit. Potensi kebakaran, terutama pada tahap pembangunan, diperparah oleh sarana pemadam yang belum memadai.

Pemerintah kota Dubai, Uni Emirat Arab, bahkan menetapkan respon penanggulangan kebakaran lewat udara, melengkapi para petugas pemadam dengan jetpack agar mereka bisa terbang sambil memadamkan api.

Dubai memiliki gedung tertinggi di dunia saat ini, Burj Khalifa, setinggi 828 meter, dan kabarnya sudah memulai pembangunan The Tower, pencakar langit baru tahun 2020 dengan ketinggian melampauai Burj Khalifa. Kota tetangga sewilayah, Jeddah, Arab Saudi, juga sudah memulai pembangunan Kingdom Tower, pencakar langit dengan ketinggian melampaui 1 kilometer.

Tidak ada kata berhenti untuk membuat struktur tertinggi di muka bumi walaupun pandangan tentang keselamatan selalu memperingatkan bahwa fatalitas akan terjadi cepat atau lambat jika hasrat proyek mercusuar seperti ini tak terkendali.

Pakar penanggulangan kebakaran bahkan mengatakan bahwa hutan pencakar langit di Dubai rawan kebakaran. Mayoritas pencakar langit mengandung material mudah terbakar, seperti polyurethane dan aluminium composite, dua material yang terlalu banyak digunakan saat booming proyek gedung tinggi di sana, dan kemudian dilarang penggunaannya sejak 2013.

Sudah terjadi 3 kebakaran pencakar langit di Dubai sejak 2012. Kasus terakhir menghanguskan nyaris seluruh lantai Address Hotel, gedung 63 lantai, dalam hitungan menit.

Sebenarnya aspek keselamatan sudah diperhatikan sejak dua dekade silam di Jakarta. Wisma 46 di pusat finansial Jakarta yang memiliki 50 lantai, misalnya, pernah dikritik karena desain mengerucut di puncaknya yang meniadakan sarana evakuasi helipad akan menyulitkan upaya penyelamatan orang-orang yang terjebak di beberapa lantai teratas jika terjadi kebakaran.

Namun dilihat dari persepsi publik, arsitektur inilah yang membuat Jakarta memiliki sebuah ikon modern sejak 1996, dan pada saat itu sempat menjadi gedung tertinggi di belahan bumi selatan (southern hemisphere).

Ini adalah proyek mercusuar Indonesia yang terakhir sebelum krisis ekonomi melanda. Beberapa tahun belakangan, roda pembangunan vertikal kembali bergulir dengan lingkup dan pencapaian teknik yang lebih hebat.

Di Jakarta terdapat 3 kebakaran gedung tinggi dalam setahun terakhir, semuanya terjadi saat tahap pembangunan. Swiss-Belhotel di Kelapa Gading, Casa Domaine di Tanah Abang, dan terakhir gedung apartemen dan kantor Neo SOHO di Grogol.

Penyebab kebakaran diduga berasal dari faktor kelalaian, seperti arus pendek, percikan api pengelasan, bahkan rokok. Pesatnya pembangunan gedung tinggi di Jakarta sudah berada dalam tahap perlombaan mana yang tertinggi. Harga tanah dan permintaan menjadi salah satu faktor alami seperti lumrahnya semua kota berkembang.

Di sisi lain, aspek keselamatan menjadi tinjauan utama hanya ketika kecelakaan telah terjadi. Ada yang berpolemik bahwa tiada yang bisa menghilangkan setiap risiko. Risiko senantiasa mengikuti pergerakan progresif manusia.

Jailolo in Eko’s bold conception

web-banner-sipfest-on-think-archipelagoSIPFest 2016 is the fifth performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in Kompleks Komunitas Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 1 October 2016 onwards until early November. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2016 banner found in think archipelago website.


Eko Supriyanto
Indonesia’s top choreographer Eko Supriyanto showcases his latest work Balabala, the second part of his Jailolo trilogy in SIPFest 2016, Jakarta. He considers local tradition as relevant and priceless in his contemporary dance.

Better to let go of the excessive reminiscence of his touring with a famous American pop star, or more prominently, a stint at a production of Disney’s musical that involved names such as Elton John, Hans Zimmer, and Tim Rice, all happened over 15 years ago.

Eko Supriyanto is at the top list of homegrown contemporary dance choreographers. So much he loves the diversity of tradition that make up what is now Indonesia that he draws the inspiration from ethnic groups traditional value and social setting, then reconceptualizes them in his work, such as clearly demonstrated in the Balabala.

The sequel of the so-called Jailolo trilogy is a testament to an extensive work of a former dancer who studied in ISI Surakarta in 1990, beginning with Cry Jailolo in 2014.

Eko continues to involve indigenous teenagers of Jailolo, North Maluku, whom he picked based on instincts, and later trained to perform a modern reinterpretation of local ritual, or, by today’s common definition, dance.

But the all-female dancers distinguishes Balabala from its prequel, where the local young boys took the spotlight, and enjoyed their fame in the world tour, a case that seemed to inspire their female peers to take part in this project.

Gender equality

Cry Jailolo and Balabala delved into social and environmental issues in the dancers native place. But as the former rises environmental concerns, the latter sheds light on gender equality.

And breaking the then impermeable norm was not without rejection. Eko admitted to take a careful approach for he did not want to be seen as a typically “Javanese invader” to the local community, for he aimed to deconstruct several dances into a brand new fusion entity.

He succeeded in bringing seasoned instructors of Cakalele, a native war dance that Balabala draws an inspiration from, and of which involves male only, to prepare the five girls undertaking the unprecedented challenge.

As if they were on the defensive by wielding shield in the face of their opponents, they exuded man-like vigor, the eyes of agression and caution at the same time, that fearless charm.

The world’s premiere, which served also as the summit program in SIPFest 2016, was just the beginning of the world tour spanning across countries in Asia, Australia, and Europe.

Maluku all-female dancers perform in Balabala by Eko Supriyanto at SIPFest 2016, Jakarta
All-female dancers from Jailolo, Maluku, perform in Balabala by Eko Supriyanto at SIPFest 2016, Jakarta. Molding these dancers-by-coincidence was more about soco-cultural approach and less about technical challenges, said Eko.

Cultural diversity

Talking about Indonesian contemporary dance in comparison with other countries, Eko proudly said that it mainly differs in the wealth of material derived from his home country’s diverse culture.

Such a conviction that makes him aware that tradition is not obsolete. On the contrary, “There is no gap between modern and traditional dance,” he said, confident in his way of working on new things with much likely a lot of reference to deep-rooted cultural values.

According to him, old tradition is very relevant in new exploration, as long as there is a willingness to make a revisit, and interpret it. “Contemporary is not a form, but a conception,” he said.

Quo vadis tari kontemporer?

web-banner-sipfest-on-think-archipelagoSIPFest 2016 is the fifth performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in Kompleks Komunitas Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 1 October 2016 onwards until early November. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2016 banner found in think archipelago website.


Ingun Bjørnsgaard Prosjekt menampilkan Praeambulum di SIPFest 2016, Komunitas Salihara
Ingun Bjørnsgaard Prosjekt menampilkan Praeambulum di Salihara International Performing Arts Festival 2016, Komunitas Salihara, Jakarta.

Judul tinjauan seni yang klise, namun rangkaian pertunjukan seni di SIPFest 2016 mengundang pertanyaan dan pernyataan yang sama menyangkut komentar khalayak tentang perkembangan seni tari yang dikurasi oleh Komunitas Salihara tersebut.

Menarik untuk disimak kembali anggapan bahwa seni kontemporer, khususnya tari, tidak pernah beranjak dari unsur tradisional.

Meski perkembangan tari makin beragam dengan isi konten sosial dan politik melalui rekaan eksploitasi tubuh yang lebih demokratis, ditandai oleh munculnya banyak kelompok baru, namun dinamikanya, ditelaah dari aspek sejarah, misalnya, tidak berasal dari pertentangan dengan tesis pendahulunya.

Dinamika sosial dan politik

Setidaknya sulit ditemukan sebuah antitesis dari inisiatif pemberontakan seorang artis, kecuali dalam kasus Konstruktivisme yang mempengaruhi seni pertunjukan di era transisi Soviet Rusia, itu pun ditunggangi kepentingan politis.

Memang ada pemberontakan kolektif terhadap balet di awal abad ke 20 di Amerika Serikat oleh kelas menengah. Namun itu juga karena aspek sosio-ekonomi, bukan kesadaran individual untuk melawan budayanya sendiri (counter-culture).

Kelas menengah sedang bangkit pada saat itu ditilik dari sudut pendapatan, dan juga peningkatan pengeluaran. Dari perbaikan ekonomi timbul kebebasan menentukan selera baru, apa pun itu asal bukan perwakilan dari dominasi usang yang membatasi gerak seperi halnya balet klasik.

Mungkin ini data empiris terakhir terkait dinamika tari dalam sejarah modern. Terdapat kompromi identitas budaya hanya agar sebuah pertunjukan dapat diterima kelompok tertentu, dengan dalih penciptaan sintesis dari unsur tradisi lama dan embrio kreativitas baru.

Kompromi yang dijalankan demi mengukuhkan ikatan dengan penonton dalam sebuah pertunjukan langsung diakui oleh Ingun Bjørnsgaard saat ditanya tentang penggunaan karya klasik Johann Sebastian Bach dalam Praeambulum yang ia pentaskan bersama Ingun Bjørnsgaard Prosjekt.

Diakuinya bahwa musik klasik sudah dikenal penonton di Indonesia. Ini adalah generalisasi pascakolonial yang tidak bisa disalahkan. Namun ia menampik komentar bahwa karyanya merupakan bagian dari neoclassicism yang sedang populer di tanah asalnya beberapa tahun belakangan.

Motif-motif neoklasik telah memberikan wajah-wajah familiar dengan konteks baru. Patung-patung Yunani yang mendapat semprotan grafiti, modifikasi model melalui perangkat lunak, atau bahkan sekadar sentuhan collage, tren ini melanda pameran patung hingga, katakanlah, sampul CD grup musik elektronik Whomadewho dari Denmark. Tidak ada yang benar-benar baru saat ini.

 

Koreografer kelompok yang bermarkas di Oslo ini tidak serta-merta latah. “Kombinasi antara musik baroque dan musik kontemporer bukan berarti neoklasik,” katanya sambil menggeleng. Itu upaya untuk melakukan kontak dengan penonton global, tambahnya.

Pengaruh klasik dalam gerakan modern

Tampaknya produk kuno itulah yang menjadi katalis. Terlepas dari pengaruh klasik, para penari bebas berinisiatif mengendalikan tempo tanpa terlalu memperdulikan iringan musik itu sendiri. Meski masih sangat kuat akan unsur koreografi, Praeambulum yang tahun lalu ditampilkan di New York dan di awal November ini di Havana, menyuguhkan ekspektasi yang sangat bervariasi.

Meski tidak terlalu bebas, setiap penari di banyak kesempatan mampu memberikan materi untuk membangun struktur mereka masing-masing.

Berawal dari upaya kompromi inilah yang membuat unsur tradisional masih dipakai dalam seni tari saat ini. Bagaimana pun juga, ada kebebasan yang tak terdapat di seni tari, yang sebaliknya diumbar oleh seni lukis, misalnya.

Ada sebuah bentuk interaksi fisik yang perlu segera dibangun di tempat itu juga. Ada semacam tekanan rule of engagement agar penonton lebih proaktif.

Di sisi lain, peradaban yang dibangun oleh interaksi fisik lintas benua, dan dalam dua dekade terakhir secara global berubah wujud menjadi abstrak dari perangkat digital yang kemudian memunculkan konsep zero distance, telah menciptakan siklus membentuk, melebur, dan membentuk lagi. Yang direka ulang adalah gambaran-gambaran familiar dari masa lalu, yang dilebur adalah kebudayaan antarbenua, disaksikan oleh penonton di ujung lain dunia. Dari Eropa hingga Asia Tenggara, ada kesamaan.

 

Mega Mendung. Fitri Setyaningsih
Mega Mendung oleh Fitri Dance Work, SIPFest 2016, Jakarta. Photograph by Witjak Widhi Cahya, courtesy of Komunitas Salihara

Penampilan Fitri Dance Work bertajuk Mega Mendung di SIPFest 2016, contohnya, tak perlu diragukan lagi jika dilihat lagi konsistensi pemakaian pola rutinitas ke dalam gerakan artistik. Dalam karya yang akan tampil di Korea Selatan pada 2017 ini, koreografer Fitri Setyaningsih memiliki kecenderungan berkutat pada stereotip alam negaranya yang akan ia bawa ke depan penonton di ujung lain dunia.

Hamparan pasir yang beterbangan disapu kaki-kaki telanjang, dan struktur tak berdinding yang menghadirkan banyak bukaan. Nuansa pesisir hadir. Dari sana para penarinya kental membawakan pengaruh sosio-kultural.

Unsur tradisional dalam bentuk modern

Tampaknya Fitri Setyaningsih kerap mencari bentuk kontemporer yang berasal dari unsur-unsur tradisional, seperti di Mega Mendung dengan busana pedesaan yang dikenakan para penarinya, properti panggung seperti kantong isi beras yang dituang di atas tangan-tangan yang menadah, hingga sampai ke tangan para penonton yang kebagian sedikit, dan tabuhan instrumen musik tradisional.

Jika demikian, tidak salah untuk berasumsi bahwa tarian kontemporer Bu Fitri sulit terlepas dari pengaruh budaya tradisional.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah seberapa relevankah unsur tradisional dalam perkembangan seni tari di Indonesia?

Apakah melulu berangkat dari, misalnya, identitas lokal si koreografernya, romantisisme akan kekayaan budayanya, atau apakah di masa depan nanti akan tiba saat di mana seni tari Indonesia akan tercerabut dari akarnya (grassroot) dan mencari bentuk kontemporer seutuhnya dan baru?

Eko Supriyanto akan menyajikan pertunjukan tari yang paling diantisipasi di SIPFest 2016, menjadi penutup dengan Balabala. Berangkat sebagai penari dan sudah berkeliling dunia membangun karir dan reputasi, kini ia memimpin Ekosdance Company menampilkan untuk pertama kalinya sebuah karya interpretasi baru dari tarian tradisional dari timur Cakalele yang rupanya dibawakan oleh para penari perempuan asal Maluku, bukan pria pada lumrahnya.

Coretan para pemanggul keramik

Di balik beban dan coretan.
Raut wajah seorang buruh menyiratkan beban seberat keramik yang dipanggul di punggungnya.

Di balik koridor yang menjebak udara dingin, para buruh harian berhadapan dengan beban yang terus menanti untuk dipikul setiap hari. Ini bukan saja pekerjaan berat, tapi merusak tubuh.

Bahaya biomekanis yang mendera di setiap keramik berukuran setidaknya 60 meter persegi yang mereka angkat tidak menciutkan air mukanya. Justru yang tampak dari raut wajah mereka saat melangkah dengan memanggul beban berat di punggung itu adalah mata yang terpaku pada sebuah harapan di luar dinding koridor yang dingin tersebut.

Inilah beban hidup di dunia kerja yang sempit, dan dapat disandingkan sebagai analogi dari perjuangan berat untuk bertahan hidup di luar sana.

Sekitar 20 pekerja, sebagian berasal dari sekitar Serang, Banten, mengeroyok proyek konstruksi di sana yang sudah berlangsung selama satu tahun, dan kini dalam tahap penataan lantai.

Fisik gedung berlantai 4 tersebut sudah terlihat rampung dari luar. Tampak dari jalanan sebuah gedung kantor di sebuah lokasi industri modern yang mewakili wajah pembangunan pesat di salah satu daerah padat penduduk dan kaya akan potensi ekonomi.

Daerah ini terik, gersang, bertanah merah dengan frekuensi hujan panas yang akan menyebabkan tanah segera menjadi lumpur begitu hujan mengguyur sepanjang siang. Di sekitarnya bertebaran wilayah penambangan pasir di perbukitan.

Industri bata hebel yang kini kian populer digunakan oleh warga desa-kota di Jawa berkembang di sini beberapa tahun terakhir, dan mencakup skala industri mulai dari rumahan hingga pabrik besar.

Truk pengangkut pasir meninggalkan jejak jalan rusak di banyak titik di antara pintu tol Balaraja dan Ciujung. Ini adalah sentra industri mengalirkan arus ekonomi dari basis produksi di Serang hingga ke Jakarta atau Pelabuhan Merak di barat.

Produktivitas tinggi, namun tidak demikian halnya dengan kualitas tenaga kerja secara umum.

Buruh harian menapaki tangga sambil memikul sebidang keramik.
Seorang buruh harian menapaki tangga sambil memikul sebidang keramik, sebuah pekerjaan yang berbahaya, apalagi tanpa alat pengaman diri yang cukup.

Meski volume kendaraan tersendat akibat kepadatan dan jalan berlubang, serta terik karena konstruksi yang marak sehingga memangkas kerindangan, para pekerja harian di balik salah satu proyek di sepanjang jalan tersebut tidak tersiksa.

Otot tangan mereka kencang, sendi-sendi mereka kokoh diselimuti kelembapan interior bangunan yang masih telanjang dengan warna semen serta tanpa instalasi lampu kecuali sinar yang merambah ke dalam melalui kedua ujung koridor di lantai dua dan tiga.

Kompetensi pekerja

Mungkin mereka tidak menggubris rendahnya nilai rata-rata kompetensi pekerja di Indonesia selain berapa akumulasi pendapatan saat pembagian gaji di akhir pekan. Tidak pernah terlintas di benak mereka soal menapak jenjang karir, kecuali asa untuk menapak anak tangga sambil kedua tangannya menopang bidang keramik yang ujungnya tajam itu.

Tidak ada yang tahu di dalam gedung yang sedang dalam tahap penyelesaian tersebut bahwa Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sedang membagi-bagikan sertifikasi melalui serangkaian program pelatihan kepada seribuan pekerja konstruksi dalam sebuah acara simbolik di beberapa kota untuk mengurangi kekhawatiran pemerintah akan rendahnya daya saing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Itu pun hanya sebagian dari 25% pekerja konstruksi Indonesia yang bersertifikat. Tidak ada yang pernah menjalani uji kompetensi, kecuali ujian kerelaan menerima pekerjaan yang memakan raga, serta ujian ketabahan hidup yang rentan terhadap ancaman kemiskinan dan ketidakpastian kerja setelah proyek ini selesai.

Mencoret dinding

Tidak ada dari buruh harian ini yang meratapi status mereka yang tidak termasuk dalam 7 juta pekerja konstruksi di Indonesia. Mereka hanya menuangkan status hati di atas dinginnya dinding semen telanjang, dicoret dengan kapur tulis di balik koridor dan di pojok ruangan-ruangan setengah jadi.

Coretan tersebut di antaranya memuat pesan penantian hari pembagian gaji yang kian menyiksa, ungkapan cinta dan harapan di tengah ketidakberdayaan keuangan, pernyataan bokek.

Menarik dilihat bahwa ada beberapa buruh yang gemar menuangkan perasaannya di beberapa tempat tanpa lupa meninggalkan jejak identitas, baik dalam aksara maupun simbol.

Alias bertuliskan Tokid Mimpi, misalnya, atau guratan berbentuk hati yang setidaknya di salah satu coretannya melambangkan cinta.

Ada pula di antara mereka yang menggambar sebuah jam dinding berbentuk lingkaran yang nyaris sempurna.

Di sela-sela langkah yang berat, para pemanggul keramik menyikapi hari demi hari yang menganiaya dengan humor vernakular. Ini sebuah cara untuk mengurangi tekanan sosial dengan berbagi ungkapan spontan kepada sesama rekan kerja yang dirasa senasib.

Namun tampaknya tiada coretan yang menarik seseorang untuk menoleh sejenak, kecuali penciptanya sendiri. Tampaknya mereka adalah penikmat sesaat bagi graffitti masing-masing.

dsc_1505
Seorang buruh harian dengan wajah tertutup kain menyapu lantai semen di sore hari.

This slideshow requires JavaScript.

20 years of kubikukuri

web-banner-sipfest-on-think-archipelagoSIPFest 2016 is the fifth performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in Kompleks Komunitas Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 1 October 2016 onwards until early November. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2016 banner found in think archipelago website.


Takuzo Kubikukuri in Butterfly Dream
Takuzo Kubikukuri dances with his neck hanging to a rope in Butterfly Dream.

In one of the most intense art performance in SIPFest 2016, the ARICA Theater Company draws an inspiration from a mundane cycle of life which conveys a universal message about a vivid impression of everyone’s life that often failed to be notice.

The way both performers deliver it was about the collaboration of two very distinctive styles and background. Tomoko Ando studied acting and built her career in theater.

In contrast, the male performer Takuzo Kubikukuri is reluctant to call himself and actor. Instead he is an actionist, a definition of his own preference.

Butterfly Dream, a theater from Japan by Arica Theater Company, performing in SIPFest, 15-16 October, Jakarta.
Butterfly Dream, a theater from Japan by ARICA Theater Company, performing in SIPFest, 15-16 October, Jakarta.

The main set, tools and choreography seems to exhibit a clear gesture of hanging an exasperated soul to death.

When asked whether the performance reflect a certain issue in the country of origin, director Yasuki Fujita, who is also the founder of the new group formed in 2001, made it clear that there is no intention to contemplate suicide, but on the contrary, his work displays a stronger sense for life, saying, “It is more lively, especially when you see someone dances like a butterfly.”

And that is exactly when the dance intensifies as Takuzo, in his disturbingly peaceful smile, had his body swayed with a neck hung to a rope, which was tied to a mechanical device with a pivot controlled at the other end by Tomoko.

Through a suspended moment, Takuzo showed his dance to the world, right before the dumbfounded audience, as their eyes were set to the swinging thin and old body, joyful as it seemed.

In this perplexed final part of the dance, his chin sat comfortably on a strap attached to a hanging rope while Nat King Cole’s Smile accompanied him to the end.

All it takes to be happy

When smile is used to hide an ache, as the song suggests, and one must keep trying to smile because that is what matters instead of crying, the audience gets to feel Takuzo’s smile at the face of pain.

And all the burden at the other end of the rope will get by, as Tomoko could not catch her breath, and then she stumbled over her own work of mechanism made to be inflict pain upon him.

Tomoko Ando and Takuzo Kubukukuri
Tokyo-based  Tomoko Ando (left) and Takuzo Kubikukuri (right) during an interview in SIPFest 2016. Despite stark differences in background, both intends to show interaction between humans.

Japan is among the countries with the highest suicide rate, the third below South Korea and Hungary.

It has on average 19.4 number of suicides per 100,000 people. 25,000 suicides were reported in Japan in 2014. That was roughly 70 per day. The vast majority were male.

Financial pressure among old citizens are often cited as the reason to opt for ending life. The inability to funnel frustrations or anger under the rule-oriented society is suspected by many as the particular reason for suicide among young population.

Tomoko Ando told that it crossed her mind that they might have reconstructed suicide gesture in their performance, intendedly or not, while Takuzo, when asked is there a reason why we should be happy in this life, said that he feels something nostaligic about happiness and sadness.

He has been dangerously practicing hanging himself for almost 20 years, starting in 1997 in his garden under the tree. His surname means hanging oneself.

He lives alone.

Kuntskring Paleis

dscn7528
Suzie Wong Bar at Kuntskring Paleis, Jakarta

Ever since it underwent major interior makeover a couple of years ago, the restaurant, which is housed in a conserved building in Menteng – the Dutch remainings of urban housing complex with ecological concept arguably the maiden project of its time in Asia – quickly became one of the most celebrated culinary experience in town.

dscn7534Taking advantage of the characteristics of the vicinity is an apparent for the restaurant owner, the Tugu Group, to boost its existence in the culinary map.

But it is the mixture of elements inside that mainly draws the visitors both and the majority knowledge-thirst audience.

dscn7555
The preserved facade of what used to be a Dutch cultural center, now turned to an establishment.  

The 20th century new indies style cultural center by Netherlands-Indies architect and painter Pieter Adriaan Jacobus Mooyen opened in 1914 by the patronage called Fine Arts Circle whose initiatives brought exhibitions, musical show, and art lectures.

Now serving as an establishment, not only exhibiting souvenirs of colonial times, Kuntskring Paleis interior is decorated with the product of acculturation in early centuries, the epic Mahabarata.

A giant statue of Arjuna in the hall, for instance, forms an inseparable ornament to the wall across the hall.

Hence it entails the presence of Pandawa, consisting of five siblings in Indian mythology: Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula and Sadewa.

If there is a time and place of historical value in Jakarta that can spur appetite, Kuntskring Paleis might just be the best in delivering such implosive effect.

In close vicinity, the management operates a number of restaurants that share similar aesthetics, notedly Dapur Babah Elite, Lara Djonggrang, Shanghai Blue 1920 and Samarra.

Sipfest 2016 to find a relevance in the host country

web-banner-sipfest-on-think-archipelagoSIPFest 2016 is the fifth performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in Kompleks Komunitas Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 1 October 2016 onwards until early November. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2016 banner found in think archipelago website.


Gus Dur: Tuhan Tidak Perlu Dibela. Purjito. 2016.Gus Dur: Tuhan Tidak Perlu Dibela. Purjito. 2016.

Komunitas Salihara’s traditional bienalle festival, held consecutively ever since its opening in 2008, then called Festival Salihara, begins in October with a more significant merit to be an internationally recognized art stage showcasing its well curated exhibitions so far under the new name SIPFest 2016, said the Program Director Nirwan Dewanto.

The Salihara International Performing Arts 2016 catches up with the recent tightly scheduled art events in town, say Jakarta Bienalle early this year or the ostentatious Bazaar Art Jakarta in a lavish shopping mall last month. But one wonders about its true intention besides global recognition. Every souvenir shop at the corner of the world aspires to export their products anyway.

Having successfully invited award-winning artists among international performers to fill the month-long programs is a brag worth appreciating. Local audience gets the chance to see some premiere exhibitions in a variety of preference: theater, music, and dance.

The Human Zoo Theater Company from England, will play The Girl Who Fell In love with the Moon for the first time in Asia. Likewise, Australian Speak Percussion will perform their musical show Transducer & Fluorophone, while Canadian-based Montreal Danse presents their Asian premiere work Prisms.

From local artists, EkosDance Company will perform Balabala, noted as the world’s first by choreographer Eko Supriyanto, whose reputation can no longer be disputed following Opera Jawa, and Madonna’s Drowned World Tour in 2001.

Dance, a chance to raise local issues

But what is the relevance to the host country current situation? Is it simply art for art’s sake? Since when it is so?

Even when Manifesto Kebudayaan, or more popularly known for its derogatory remarks Manikebu, emphasizes on art independence from any political stances in 1963, it was already an outright political movement, signed by a thousand proponents to counter the government-backed Lembaga Kebudayaan Rakyat or Lekra.

Or when New Art Movement or Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) threw an antithesis in another chapter of art struggle in the country’s history, the decision to unite against the prevailing group in the 70s art scene was in in itself a clear politically-laden initiatives by a particular group. “Art for the sake of art” notion sounds naive.

Obviously bringing international names to an art event is a head-turning feat. But it remains to be seen whether these participants would have brought in ideas from afar that resonate here.

Although one can hardly challenge the fact that Indonesia’s fine arts is shaped by global art scene, it is the degree of relevance to the local issues that eventually perceive a particular form of art whether it will thrive or fade into obscurity.

The political language

Soviet Russia in pre-revolutionary era was a fine example of this, at least in a practical sense.

Theater thrived exponentially as art patrons and governments were fully aware that it was the most effective form compared to, say, literature, to deliver ideas at the times when illiteracy was high, not to mention it was easier to express cynicism against the merchant class through mimicry, a major issue among the Soviet Russia’s majority deprived peasants and labors.

Santuary 2016. Made Gede Guna Valasara
Santuary 2016. Made Gede Guna Valasara
Santuary 2016. Made Gede Guna Valasara. 2016.
Santuary 2016. Made Gede Guna Valasara. 2016.

Will theater program in SIPFest 2016 echo the above example in terms of getting the right medium to reach out to the public?

Perhaps, but the organizers have another approach. Four art installations could be the answer to how Komunitas Salihara use this moment to magnify social issues around.

One that steals the spotlight is the statue of the former president of Indonesia, the late Abdurrahman Wahid, by sculptor Purjito, whose provocatie title Gus Dur: Tuhan Tidak Perlu Dibela, named after Wahid’s book containing his writing pieces about vested interest by religious groups in Indonesia that undermines peace in diversity.

A life-sized sculpture is a reminder that to live in harmony albeit differences is the priority in the heterogeneous society such as Indonesia. The flock of birds in an art installation by Made Gede Wiguna Valasara titled Sanctuary 2016 discloses an intense display, as viewers wonder where the birds are heading.

The convoluted mass migration to find a refuge is a tragedy. In a local perspective, the eviction of illegal dwelling that has been filling the headlines of late to make way for city development raises a dilemma among the unaffected public. Conscience is put to test against the pragmatic decision for the greater good.

Bird hunt in a giant reservoir

DSC_0553

At the north-end of Jatiluhur Dam, Purwakarta, lush trees at the foothill of Mount Lembu that descends to the giant reservoir makes perfect habitat for bird and lizard.

Shading between the trunks and wriggling roots, these animals once in a while appear to seek food and water, and that is precisely when the danger awaits them.

From the opposite distance, the men on the hovering motorboat set watchful eyes with air rifles pointed forward in search of animal sightings. This place, after all, is not a natural reserves. No one was reserved about killing beings.

DSC_0648The hunting frenzy in surrounding area has become a popular holiday purpose for hobbyists from nearby big cities such as Jakarta and Bandung, riding their spiky 4-wheel vehicles with excessive light sources at the top in front of the modified freestand single seat.

Purwakarta is not known to have any forest in protection, and the remaining wilderness is of negligible wildlife variety, insomuch that one can find an abundance of natural habitat in Purwakarta open for public every day promoted as eco-tourism destination.

DSC_0565

Herons are prized in this area for their beauty and for their relatively sheer numbers, so told by the locals. The easy access to their living habitat through the giant reservoir, built as a part of Jatiluhur Dam, the oldest and remain as the biggest one in the country up to current date, makes them easy prey even among novice with their fancy gears.

Having meticulously observed what might be behind the outermost layer of treetops through telescope, the hunters under the warm afternoon sun were desperate to catch a tiny movement.

Just when one thought that there was nothing in there, a random shot scared a pair of herons away and they flew over the discontented faces who watched them disappeared to the far horizon.

The pack of hunters on the drifting boat realised that they would have to let go of them and focus on other sitting preys. There were still many left to shoot at, but they got nothing until sun set.

Jatiluhur Dam took a total area of 8,300 hectares in Purwakarta, having played a vital role in watering over 242,000 hectares of agricultural field, producing 187 megawatt electricity for the region from 6 turbines, preventing flood on wet season and drought on dry season.

Local government’s initiative to clamp down on the excess of fishing activities-many had trespassed into the turbines zone-and unruly settlement on the embankment, has taken place in the past several months. Click to read The village in a reservoir.

DSC_0604
Fishing for rent along the foothill that forms the surrounding environment of Jatiluhur Dam. These makeshift floating tents are unregulated, polluting the reservoir which is used to supply water to tap water facility. Fifty years after its construction, the dam is a rich ecology that draws human exploitation. Many view this a boon following Jatilihur Dam construction.

The village in a reservoir

DSC_0082
The floating village and their fish cages form a permanent sight at the open water embankment of Jatiluhur Dam, severing its function as a water supply for consumption to as far as Jakarta.

Indonesia’s first and biggest dam gets into more critical condition each year as the waste from fish farm continues to accumulate and the illegal population sprawled out of control to its peak at some thirty thousands, a number that had caught the governor’s attention, vowing to reduce it to the accepted quota at 4,000.

The quota assumption was based on the number of households who are deprived of their farming activities following the dam completion in 1967.

DSC_0689

This apparently has taught the local authorities to rule out fish cage as a compensation for farmland during the inundation of the newly built Jatigede Dam in Sumedang, West Java, the country’s second biggest at the size of nearly 5,000 hectares, this August.

The generation half a century apart has come to learn the aggravating impact of fish cage to dam pollution, water incapacity and the hazard in operating the power turbines.

There are 28 villages reported to be eradicated to make way for Jatigede Dam, a huge social impact affecting some tens of thousands of people.

The important lesson is that to handle such crucial infrastructure and make it work as what it is originally planned for requires great responsibility.

DSC_0662

Tap water for all

Despite its critical condition, Jatiluhur Dam has not given up on its initial purpose: to become a vital source of water consumption for the immensely populated capital city, 70 kilometers away, plus the surrounding industrial areas of Bekasi, Karawang, to agricultural areas such as Subang and Indramayu.

Thus the plan to build two tap water facilities or the so-called Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jatiluhur goes on. It was part of the national commitment to Millenium Development Goals (MDGs), in which it demands tap water access to over 68 per cent population by this year, and ultimately for all in 2019.

It has produced nearly one million cubic meters of fresh water in 2015, part of it goes to bottled water industry consumed today, and is expected to double in the next two years.

DSC_0613

Agriculture backbone

Jatiluhur Dam took a total area of 8,300 hectares in Purwakarta, having played a vital role in watering over 242,000 hectares of agricultural field, producing 187 megawatt electricity for the region from 6 turbines, preventing flood on wet season and drought on dry season.

Bandung was the first city to get supplied by the electricity from this dam in 1965, followed by Jakarta in 1966. Additional power generators added 32 megawatt supply since 1981.

Some 5,000 population from 14 villages had to be relocated to compensate for all the merits brought by the construction of what is also named the Ir. H. Djuanda dam, owing to the role of the country’s ex prime minister’s role in the project.

The initiative to clamp down on the excess of fishing activities-many had trespassed into the turbines zone-and unruly settlement on the embankment, has taken place in the past several months. Even the neighborhood self-regulated cleaning activities had made it into the news in March this year.

West Java Governor Ahmad Heryawan has reiterated early this year that there will be no fish cage in Jatigede’s reservoir.

DSC_0701
105 meters tall, 1.2 kilometers long, its reservoir contained 2.4 billion cubic meters of water, Jatiluhur Dam’s construction began in 1957 during the ruling era of Indonesia’s first president Soekarno. It took ten years to complete and remains the biggest dam in the country.