Tag Archives: Indonesian contemporary art

Burudiri, catatan Hanura Hosea

Hanura Hosea, perupa kelahiran Wates, Jawa Tengah, yang kini menetap di Jerman, telah menampilkan 220 karya di pameran tunggalnya Alihan di Galerikertas Studiohanafi sejak November 2019, sebelum bertindak sebagai fasilitator di workshop Burudiri bersama 4 perupa muda pilihan. Karya-karyanya telah muncul di berbagai pameran, antara lain di Artipoli Art Gallery, dan Art Stage Singapore. Ia kerap membawakan isu sosial politik Indonesia.

Judul ini muncul sesudah saya tenggelam dalam pusaran pertanyaan-pertanyaan di acara presentasi karya. Ada tujuh orang, semua cowok, yang menyodorkan karya-karya mereka. Sementara beberapa hadir untuk mengukuhkan acara ini.

Karya-karya ditaruh paralel dalam pembuatnya. Mereka berbaring minta dibedah, siap berbahagia disayat-sayat. Seorang teman, Ugeng, datang menawarkan diri untuk memeriahkan obrolan.

Acara pun jadi meletup. Penuh semangat. Udara Jakarta panas lembab lengket-lengket di kulit, warna abu-abu berjuntai di langit. Ketujuh cowok ini mengusung hal yang sama, yaitu mau. Ada mau atau bukan-mau pada diri mereka dan itu banyak sekali, berserakan di lantai galeri, mengapung di atas ubun-ubun dan berhamburan di udara.

Berapa banyaknya, saya tidak tahu. Tetapi untuk sementara beberapa mau itu bisa dijumlahkan. Mau membuat karya, itu penjumlahan sementaranya. Mau itu tenaga. Buru diri merupakan usaha khayal bahwa diri dijadikan obyek ataupun obyek-obyek. Khayalan lain tentang buru diri adalah membelah-belah subyek jadi banyak.

Peristiwa perburuan akan terjadi bila ada yang memburu dan yang diburu. Dalam konteks ini antara subyek dan obyek akan bertukar peran. Dengan demikian diri punya kapasitas untuk bermain dengan dan dalam coba-coba. Jika membuat karya seni rupa dianggap sebuah eksperimen, maka salah satu kiat kerjanya adalah karya sebelumnya/lainnya diletakkan sebagai acuhan. Begitu harapannya.

Buru diri bisa menemukan jalannya lewat karya. Karya akan berargumen terhadap pembaca, sedangkan pembaca akan memutuskan selera (sebuah kemampuan sosial), untuk suka atau tidak terhadap karya, semisal. Proses-proses ini mencoba meletakkan buru diri tidak untuk menjinakkan tetapi justru meliarkan kembali diri.

Kami memulai dengan membaca bersama-sama karya-karya yang mereka presentasikan. Lewat karya-karya ini dicoba untuk membuat karya baru. Gagasan awal yang mereka bawa dijadikan dasar eksperimen untuk membuat karya-karya berikutnya.

Empat perupa dapat kesempatan untuk bermain-main dengan eksperimen ini. Ivan dengan gagasan dusunnya yang tergusur untuk pembangunan jalan layang rel kereta api. Dimas mencoba membenturkan diri pada komunikasi personal dengan ayahnya. Edy memakai kamera sebagai alat penoreh. Abul mencoba menari dengan percepatan logika digital. Itu sekelumit gagasan-gagasan dari hasil workshop Burudiri.

Sebagaimana sebuah eksperimen, hasil merupakan janji yang samar. Hasil yang mungkin pasti adalah tersesat dalam pertikaian gagasan-gagasan. Dalam persiapan memamerkan hasil workshop ini tentu banyak hal harus dilampaui. Setiap individu punya usungan batasan-batasan sendiri-sendiri.

Mungkin yang mirip pada empat perupa ini adalah waktu terbatas, fisik diri terbatas, anggaran terbatas. Kompromi juga bagian dari usaha buru diri. Lewat kompromi ini kita jadi punya ketegasan batasan diri yang harus diterima.

Dari batasan hal-hal di atas, paling tidak diri punya kepastian pegangan untuk bernegosiasi dalam buru diri. Mungkin juga tidak. Kita nikmati saja berita tubuh mereka dalam pameran ini. Karya (mungkin) berubah, sedangkan manusia (konon menurut sejarahnya) tidak pernah.

Burudiri dalam eksperimen 4 perupa muda

Burudiri is a joint exhibition of 4 selected aspiring artists, having participated in Hanura Hosea art workshop held by Galerikertas Studiohanafi. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 14 until 28 December 2019. Visit www.studiohanafi.com, or instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

Galerikertas Studiohanafi menyelenggarakan pameran bersama karya empat perupa muda hasil workshop kertas bersama perupa berpengalaman Hanura Hosea. Pameran ini menjadi penutup program galerikertas studiohanafi tahun ini.

4 perupa muda yang berasal dari Bandung, Jakarta dan Depok tersebut adalah Dimas Ismail M., Faris Abulkhair, Ivan Oktavian, dan Susilo Nofriadi.

Burudiri berangkat dari ide untuk memburu diri sendiri atau mengenali potensi masing-masing perupa dalam berkarya.

“Kami memulai dengan membaca bersama-sama karya-karya yang mereka presentasikan,“ tutur Hanura Hosea selaku fasilitator workshop. ”Lewat karya-karya ini dicoba untuk membuat karya baru. Gagasan awal yang mereka bawa dijadikan dasar eksperimen untuk membuat karya-karya berikutnya.”

Keempat perupa berkesempatan untuk bermain-main dengan eksperimen ini. Ivan dengan gagasan dusunnya yang tergusur untuk pembangunan jalan layang rel kereta api. Dimas mencoba membenturkan diri pada komunikasi personal dengan ayahnya. Edy memakai kamera sebagai alat penoreh. Abul mencoba menari dengan percepatan logika digital.

Pembukaan pameran “burudiri” akan berlangsung pada Sabtu, 14 Desember 2019, pukul 19.00 WIB-selesai. Pameran dibuka oleh Hanafi selaku penggagas galerikertas studiohanafi, dan Ugeng T. Moetidjo, perupa dan penulis.

Pameran turut diramaikan oleh penampilan musik dari Michael Felisianvs, musisi asal Jakarta yang baru saja memulai projek solo dengan mengambil tema #pulang.. Mike akan menyuguhkan musik bernuansa akustik dengan balutan tropical hawaiian folk dan blues, mencoba untuk berbagi kebahagiaan dan cerita-cerita kecil tentang kehidupan.

Selain pameran, galerikertas Studiohanafi melangsungkan Diskusi karya 4 perupa muda pilihan Hanura Hosea pada Minggu, 15 Desember 2019 pukul 16.00 WIB.

Dikutip dari penyelenggara pameran, pameran Burudiri diharapkan dapat menemukan jalannya lewat karya. Karya akan berargumen terhadap pembaca, sedangkan pembaca dengan kemampuan sosialnya akan berupaya memutuskan seleranya masing-masing untuk suka atau tidak terhadap karya. Proses-proses ini mencoba meletakkan buru diri tidak untuk menjinakkan tetapi justru meliarkan kembali diri.

Spekulasi dari balik tembok: 3000 jam jalan kaki setelah karya

Heru Joni Putra is the curator of Galerikertas Studiohanafi. He is an alumnus of Cultural Studies Universitas Indonesia and the author of Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa (2017). Alihan is an art program held in Galerikertas Studiohanafi featuring a solo exhibition by Indonesian artist Hanura Hosea in conjunction with a series of related events. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 2 until 17 November 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

“Berpikir secara seni adalah tindakan politik.”

Hanura Hosea

Apa yang disebut sebagai tindakan politik adalah sebuah jalan penuh simpang. Salah satu, pada tataran paling sederhana, tindakan politis bisa berkembang dari keyakinan bahwa realitas adalah sesuatu yang tidak apa adanya, realitas tidaklah persis sebagaimana kita menginderainya.

Apa yang terlihat oleh mata bukanlah realitas yang sudah selesai. Begitu juga yang terdengar oleh telinga, terhidu oleh hidung, tercecap oleh lidah, teraba oleh kulit, terasa oleh hati, dan seterusnya. Indera kita memang menjadi instrumen paling lumrah untuk mengidentifikasi realitas tetapi indera-indera itu tidak dapat berfungsi sebagai alat untuk “memastikan” realitas secara keseluruhan. Indera kita barangkali hanya bisa mencapai bagian-bagian dari realitas.

Dengan begitu, kesadaran bahwa realitas yang kita indrai bukanlah realitas yang selesai, apa adanya, emang begitu dari sononya dst adalah sebuah kesadaran yang politis dalam memahami realitas. Dalam hal inilah, sebagaimana diucapkan juga oleh Hanura Hosea, berpikir secara seni adalah tindakan politik.

Sebab, berpikir seni adalah sebuah tindakan yang tidak melihat realitas secara lumrah belaka. Karya seni tidak sebatas pengeras suara dari fenomena kasat mata saja. Seni bahkan mempunyai beban yang lebih dari itu, yaitu menunjukkan realitas yang tak sepenuhnya terjangkau oleh indra manusia.

Gambar yang ditampilkan di samping ini merupakan salah satu karya Hanura Hosea yang dipamerkan dalam pameran Alihan di Galerikertas. Figur-figur yang ditampilkan di dalamnya, secara umum, dapat dengan mudah kita kenali dengan baik, sekalipun pada beberapa bagian kita menemukan berbagai pemiuhan bentuk—sehingga menunjukkan karakteristik sureal. Kita tahu, dalam gambar itu ada tiga figur manusia. Lalu ada satu figur surealis yang bersamaan dengan salah satu figur manusia.

Dari segi ruang, ketiga figur tersebut berada di tiga ruang yang berbeda. Tapi, dari segi waktu, menjadi rujukan dasar untuk menunjukkan apakah mereka di waktu yang sama atau tidak. Tapi, kita masih bisa mencari penanda waktu yang terselubung melalui jenis aktivitas yang dilakukan ketiga figur manusia itu: tidur, berenang, dan aktivitas perapian.

Sederhananya, tiga penanda waktu tersebut bisa kita bawa ke pengertian waktu keseharian, rutinitas, dan berkala. Namun begitu, sebagai konsekuensi dari peleburan ruang, gambar tersebut juga menyiratkan peleburan waktu.

Dengan demikian, bicara soal waktu, kita tak bisa lagi sepenuhnya bicara perihal waktu yang sudah tertata secara sosio-kultural. Gambar tersebut cenderung menyiratkan waktu sebagai sesuatu yang berlapis, berhimpitan, tidak kronologis, dan seterusnya.

Dengan demikian, gambar tersebut bukanlah proyeksi dari realitas yang bisa diidentifikasi dengan panca indera. Proyeksi yang dimunculkan gambar tersebut tidaklah suatu komposisi keseharian realitas kita sekalipun elemen-elemen gambarnya sangat akrab dengan kita. Meskipun demikian, itu bukan berarti bahwa gambar tersebut tidak ada hubungannya dengan realitas itu sendiri. Dengan cara serupa itu, gambar tersebut menunjukkan kepada kita suatu realitas yang lain, tapi sama “nyata”-nya dengan apa yang bisa kita inderai.

Apa benar ada realitas lain selain realitas yang dapat kita inderai? Di manakah realitas lain itu terjadi? Apakah kita berada di luar realitas lain itu atau justru tidak sadar ada di dalamnya?

Ada banyak jawaban yang bisa muncul, tapi kita tentu tidak akan lebih jauh menjawab pertanyaan tersebut. Yang jelas, pertanyaan serupa itu adalah pertanyaan yang sangat mungkin muncul melalui karya seni. Dan karena dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan serupa itulah kemudian karya seni tanpa dapat dihindari senantiasa menjadi “politis”.

Menjadi “politis” tentu tidak sama artinya dengan menjadi bagian “politik praktis”. Kita sering terjebak, ketika menyebut “politis” maka yang terbayangkan adalah politik pemerintahan yang kotor dan seterusnya. Menunjukkan apa yang tak tertunjukkan adalah salah satu dari apa yang disebut sebagai “menjadi politis”.

Bagi sebagian orang, gambar Hanura Hosea tersebut bisa saja menunjukkan realitas psikologis manusia di kondisi tertentu. Katakanlah seseorang yang merasakan hidup tak lagi punya jeda, bahkan apa yang semestinya terjadi secara berurutan justru berarsiran.

Dalam hidupnya, apa yang sedang dibayangkannya lebih nyata daripada apa yang sedang dilakukannya di saat yang sama. Ketika ia secara fisik sangat jelas melakukan aktivitas A, tapi yang sedang ada dalam pikiran dan perasaannya sedang melalukan B, C, dan seterusnya.

Mengapa realitas yang seperti itu bisa disebut politis? Karena banyak yang memandang bahwa realitas sebenarnya hanyalah realitas yang dapat diinderai.

Orang-orang hanya percaya pada apa yang bisa dilihatnya saja, segala yang bisa didengarnya saja, semua yang bisa dicecapnya saja dan seterusnya. Sehingga risikonya, sebagaimana contoh yang kita buat tadi, mereka lupa bahwa realitas juga bekerja di dalam wilayah psikologi. Padahal, realitas psikologi sama “nyata”-nya dengan realitas indrawi.

Karya seni tertentu, terutama non-realis, seringkali membuat kita menggerakkan kaki untuk bergelimang dengan realitas yang lain tersebut. Dengan begitu, tentu tidak salah lagi, bila kemudian ada yang berkata, “Betapa arogannya orang-orang yang hanya percaya pada apa yang bisa dilihatnya saja, pada apa yang hanya bisa didengarnya saja, pada apa yang bisa disentuhnya saja, dan seterusnya…”

Dari penjabaran di atas, kita sebenarnya belum bicara banyak. Kita baru mencoba melakukan pemaknaan kembali atas trinitas manusia, ruang, dan waktu pada tataran paling sederhana.

Selain soal itu, dari karya-karya Hanura Hosea, kita juga melihat suatu kecenderungan untuk memilih warna hitam-putih, sekalipun itu bukan hal aneh dalam drawing. Namun, sebagaimana di realitas itu sendiri, di dalam seni pun tidak ada yang “kebetulan” begitu saja, selalu ada sebab, bahkan selalu ada “yang politis” di balik setiap kejadian, baik disadari ataupun tidak (political unconsciousness).

Pembukaan pameran tunggal Hanura Hosea, Alihan, Galerikertas Studiohanafi, 2 November 2019

“Hitam-putih adalah pilihan selera.”

Hanura Hosea

Dan untuk suatu selera warna pun selalu terkandung “yang politis”. Sebagai contoh, kita bisa memulainya dengan pertanyaan seperti ini: sejak kapan warna pink menjadi warna perempuan? Mengapa orang akan tertawa ketika laki-laki menggunakan kaos pink? Kita tidak bisa melepaskan pertanyaan tersebut dari persoalan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan yang selalu ditekankan sebagai kelembutan, ketenangan, kesabaran, dan seterusnya tentu akan mudah dikaitkan dengan pemaknaan kita terhadap warna pink. Begitu juga sebaliknya, laki-laki yang selalu ditekankan sebagai keperkasaan, kekuasaan, kekuatan, dan seterusnya, dikesankan tampak mencolok atau tidak cocok dengan makna dari warna pink.

Kultur warna kita, dengan demikian, mengandung bias gender yang sangat kentara. Dalam contoh di atas, warna pink telah melegitimasi karakter standar untuk perempuan sekaligus melanggengkan karakter standar untuk laki-laki.

Dalam konteks kultur warna dan politik dibaliknya, para perupa seringkali, sengaja atau tidak, menghancurkan kebekuan-kebekuan warna seperti itu. Di tangan para perupa, setiap warna seringkali mendapatkan makna baru. Seringkali, warna yang sebelumnya kentara oleh bias gender, bias etnis, bias ideologi, dan seterusnya kemudian menjadi terbatas dari beban-beban serupa itu.

Dalam kasus gambar Hanura Hosea, warna hitam-putih bisa menjadi salah satu cara paling menarik untuk meminimalisasi muslihat warna, bias dalam warna. Warna semerbak, pada sisi lainnya, mempunyai watak untuk memanipulasi. Dalam contoh lainnya, pewarnaan di dalam desain komunikasi visual adalah salah satu strategi “manipulasi” seperti strategi menarik perhatian, dan seterusnya.

Dalam konteks ini, warna hitam-putih bisa digunakan untuk memberi penekanan pada gambar itu sendiri, sehingga kita tidak larut pada permainan atau komposisi warna dan warni. Dengan meminimalisir bias-bias warna lain, warna hitam-putih pun terus mengarahkan fokus kita bahkan sampai pada komponen gambar itu sendiri: kapasitas garis.

Mengapa Hanura Hosea membuat trinitas manusia-ruang-waktu dalam formasi tidak teratur dan kemudian memilih menggunakan warna hitam-putih—sebagaimana contoh gambar di atas tadi? Kalau tadi kita menyebut “realitas psikologis”, maka bagaimana perbedaannya bila realitas itu digambar dengan warna-warni dan hanya dengan hitam-putih saja? Bagaimana dinamika pemaknaan yang bisa kita temukan berdasarkan hubungan-hubungan antar indikator bentuk dan isi tersebut?

Itulah pertanyaan berikut yang dapat kita eksplorasi. Bagaimanapun juga, sekeping karya seni tak akan pernah habis kita bahas. Tulisan ini hanya sebuah pembuka kata untuk karya-karya Hanura lainnya. Selebihnya, para pengunjung pameranlah yang akan berkontemplasi sendiri dalam merespons karya Hanura Hosea.

Pertanyaan-pertanyaan terakhir tadi sengaja saya tinggalkan tanpa tawaran jawaban. Semoga dapat menjadi pantikan untuk melihat karya-karya Hanura lebih dalam dan dengan sudut pandang lainnya. Apa spekulasimu?

Alihan dalam kertas dan gambar

Alihan is an art program held in Studio Hanafi featuring a solo exhibition by Indonesian artist Hanura Hosea in conjunction with a series of related events. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 2 until 17 November 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

Galerikertas studiohanafi menghadirkan pameran tunggal Hanura Hosea berjuluk “Alihan”. Pameran yang akan berlangsung sepanjang 2 November-2 Desember 2019 ini merupakan pameran tunggal penutup untuk program galerikertas studiohanafi di tahun 2019.

Hanura Hosea merupakan perupa kelahiran Wates, Jawa Tengah, 1966. Setelah aktif berkarya di Yogyakarta dan berpameran di dalam dan luar negeri, ia saat ini menetap di Jerman.

Pada pameran “Alihan”, Hanura akan membawa gambar-gambar kertas sejumlah 245 buah. Kertas-kertas yang bercakap melalui garis dan kertas tersebut menghasilkan bidang gambar yang terbagi dalam tiga ruang: Museum, pabrik dan ruang pamer (Galeri).


Kertas-kertas bersaksi, “gambar-gambar telah tumbuh di bidangku”, ungkap Hanura. Lebih lanjut, ia menjelaskan dalam catatan pamerannya, “Gambar adalah alihan yang menawarkan jeda. Ia lengkap tapi bergembira dibubuhi dimensi.

Gambar adalah dilempari batu dan ludah. Gambar adalah penjaja pundi-pundi. Gambar adalah berkulit tipis. Gambar adalah tegangan. Gambar adalah ….”

Pembukaan pameran “Alihan” akan berlangsung pada Sabtu, 2 November 2019, pukul 19.00 WIB-selesai. Pameran akan dibuka oleh Hanafi selaku penggagas galerikertas studiohanafi dan Ugeng T. Moetidjo, perupa dan penulis.

Selain itu, pameran turut diramaikan oleh penampilan musik dari Deugalih, musisi multi-instrumen dan multi-genre yang telah melahirkan empat album indie. Saat ini menetap di Yogyakarta.

Menurut Ugeng, karya Hanura Hosea, tetap dengan watak gambar tuturnya, atau gambar dalam watak bertuturnya. Namun yang terang, padanya, bidang gambar merupakan ruang untuk pengisahan moral sosial—kali ini, dengan menjaga jarak dari politik, untuk jadi lebih domestik.

“Karyanya pada masa ini berumpun dengan pola representasi bertutur politik yang begitu menggejala pada segolongan perupa menjelang dan pasca lindapnya kekuatan otoritarian Orde Baru, seakan merayakan datangnya kebebasan kreatifitas” tutur Ugeng.

Berbicara tentang teknik penciptaan, Heru Joni Putra, kurator in house Galerikertas menitikberatkan cara berpikir Hanura pada karya-karyanya. Sebagaimana diucapkan juga oleh Hanura Hosea, berpikir secara seni adalah tindakan politik.

Sebab, berpikir seni adalah sebuah tindakan yang tidak melihat realitas secara lumrah belaka. Karya seni tidak sebatas pengeras suara dari fenomena kasat mata saja.

Seni bahkan mempunyai beban yang lebih dari itu, yaitu menunjukkan realitas yang tak sepenuhnya terjangkau oleh indra manusia.

“Kita baru mencoba melakukan pemaknaan kembali atas trinitas manusia, ruang, dan waktu pada tataran paling sederhana. Selain soal itu, dari karya-karya Hanura Hosea, kita juga melihat suatu kecenderungan untuk memilih warna hitam-putih, sekalipun itu bukan hal aneh dalam drawing.

Namun, sebagaimana di realitas itu sendiri, di dalam seni pun tidak ada yang “kebetulan” begitu saja, selalu ada sebab, bahkan selalu ada “yang politis” di balik setiap kejadian, baik disadari ataupun tidak (political unconsciousness)” tutur Heru.

Sepanjang pameran, Hanura bersama galerikertas Studiohanafi melangsungkan dua agenda pameran lainnya yang berlangsung sepanjang November 2019 di antaranya: Diskusi dan Presentasi Karya Perupa Muda bersama Hanura Hosea pada Minggu, 3 November 2019 dan Workshop Kertas Perupa Muda bersama Hanura Hosea pada 12-17 November 2019.

Henryette Louise: Spiritcuil (pertemuan benda-benda)

Henryette Louise merupakan peraih Gold Award Emerging artist UOB Painting of The Year 2016. Seorang lulusan desain grafis di STSI Bandung dan seni murni di ISBI Bandung. Beberapa kali melakukan pameran tunggal dan pameran bersama. Ia juga merupakan salah satu perupa muda di galerikertas pilihan Ugo Untoro. Kini sehari-harinya ia bekerja sebagai ilustrator, seniman konseptor, dan lain-lain.

Memahami proses keseimbangan antara laku dan pahatan pikiran, tema yang diperoleh dari perjalanan hidup dan kehidupan. Bagiamana memilih material? Bagaimana waktu dapat menghentikan ingatan-ingatan terhadap benda-benda usang yang hadir di sekitar kita?

Setiap detik kita telah dipertemukan dengan benda-benda yang datang sebagai fungsi sebelumnya atau bahkan memang usang terbuang begitu saja, dapatkah mereka “benda-benda” meruntuhkan ingatan kita akan sesuatu hal atau kejadian lampau?

Seperti halnya pertemuan, kolaborasi ini cukup lebar membuka celah untuk siapa pun  dengan latar dan profesi beragam. Begitu juga tools atau bahkan cara mengolah kebendaan terdekat mereka sangat berbeda-beda. 

Pertemuan “benda-benda” dalam lingkaran dengan berbagai kisah , moment tersebut dapat mengingatkan akan tempat-tempat atau peristiwa yang pernah kita lalui,seperti hajatan atau gotong royong. Saya tertarik dengan percakapan Mbak Ami dan Mbak Siti ketika memilin kertas bersama-sama, terasa seperti akan punya hajatan bersama, katanya. Hajatan bersama tanggal 24 Oktober. 

Terus terang, saya cenderung mengabaikan nilai “gagasan hias “seperti mendekor atau membentuk yang indah yang harusnya ada di mata umum masyarakat. Namun, saya lebih menekankan makna dan nilai-nilai memungut benda-benda tersebut oleh pemungutnya sebagai pengalaman yang sangat pribadi.  

Benda-benda yang menarik untuk dipungut sangat rapuh, dapat dikatakan tidak permanen, dapat menjadi celah peringatan pribadi akan kekuatan tertentu yang tak terduga. Sementara itu ragam hias berorientasi pada benefit. Saya menekankan pada spirit. 

Makna “Spiritcuil” mengacu pada ingatan dan segala hal remeh temeh seperti sampah yang ketika ditata, dipilah, ditempatkan dapat mendapatkan tempatnya sendiri, mendapatkan bahasa yang berbeda. Seni hanya mengingatkan hal tersebut dan kehadiranku hanya sebagai pemantik. Bagaimana orang-orang mau datang dan berproses dalam workshop dan pameran proses ini.

Saya merasakan kehadiran kertas menjadi lebih tajam, sehari-hari kita selalu menemukan kertas namun cenderung abai dan kita menemukan kembali spiritnya saat menjadi intim dengan kertas. 

Seperti ketika teman-teman menggunakan kertas koran, mereka akhirnya membaca kembali berita-berita yang sering diabaikan. Gladys mengatakan koran yang dibacanya selalu berbicara ekonomi dan iklan apartemen, berbeda dengan koran di daerahnya yang berisi berita kejahatan dan kriminal. Ternyata kami menyadari, koran selalu mencatat letak geografis.

“Dan tak seorang pun ingin terganggu, namun mereka memaklumi karyanya (kadang) mengganggu” 

Mengalami pertemuan dengan benda-benda membuat mereka menyadari atau memaklumi keberadaan sampah.  Mereka berproses dan berkumpul memilin sampah kertas – mungkin ia akan menjadi hujan?!  

Mereka membentuknya,  sampah menjadi suatu mukjizat dan keberuntungan ketika sebuah galeri dapat memamerkannya, meskipun pada akhirnya sampah itu dikembalikan pada TPS (Tempat Pembuangan Sampah), pada tempat semestinya dan mereka yang mampu mengolahnya – secuil sejarah kertas fana bersama.

 

Pahatan watak dan pikiran Henryette Louise di Spiritcuil

Spiritcuil is a solo exhibition by Indonesian artist Henryette Louise held in Studio Hanafi. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 7 until 24 October 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

Seniman Henryette Louise membuka kesempatan kolaborasi dengan seniman lintas disiplin. “Konsepnya Open Studio,” kata Lousie. Selama lebih kurang sebulan ia membuat Galeri Kertas Studio Hanafi menjadi layaknya studio kerja. Di studio tersebut ia akan menerima partisipan yang berminat untuk berproses bersama, merangkum ide bersama, dan membuat suatu karya bersama-sama.

“Jadi, konsepnya terbuka, setiap partisipan bisa datang dan pergi selama durasi workshop. Orang-orang juga boleh datang untuk melihat kami berproses,” ujar Louise.

Kurator Galerikertas, Heru Joni Putra, mengatakan bahwa program “Open Studio/Full Time Artist” ini menggabungkan proses dan pameran.

“Semua partisipan berproses sekaligus berpameran di saat yang sama. Mereka memamerkan proses sekaligus seiring berjalan waktu memamerkan karya-karya yang muncul dari proses tersebut.”

Bagi partisipan yang tidak mempunyai latar belakang seni, setidaknya, program ini menjadi ruang untuk mempelajari bagaimana seniman bekerja melalui metode yang dijalanan Henryette Louise. Dan bagi partisipan yang berasal dari latar belakang seni, setidaknya, program ini bisa menjadi ruang dialog dan uji coba kerja-kerja kolaborasi.

Henryette Louise dikenal sebagai seniman yang gemar memanfaatkan benda tak terpakai. Dalam konteks kerja penciptaannya, sebuah benda loak tidak hanya sebatas mendapatkan bentuk baru, tetapi juga fungsi dan makna baru.

Louise menyebut modus penciptaannya sebagai “re-use” atawa penggunaan kembali. Ia tidak menggunakan kata “re-cycle” atau daur-ulang. Ada perbedaan mendasar antara “re-use” dan “re-cycle” dalam konteks ini.

Dalam daur ulang, material bisa saja kehilangan sejarahnya. Ketika sebuah benda didaur ulang hingga menjadi material mentah, maka cenderung saat itu makna-makna sosio-kultural dari benda tersebut lenyap, kehilangan “nyawa” awalnya.

Lain halnya bila yang dilakukan adalah “re-use”. Sebuah benda yang digunakan kembali, dengan fungsi dan makna baru, tak akan hilang “nyawa” benda tersebut sepenuhnya. Selama benda tersebut masih mengandung bentuk awalnya, maka selama itu masih terikat dengan sejarah serta nilai sosial-kulturalnya.

Dengan kata lain, kerja “re-use” adalah kerja untuk “bermain-main” dengan bentuk awal serta makna lumrah pada sebuah benda, untuk kemudian diperluas, dikembangkan, atau dibenturkan dengan makna-makna baru.

Henryette Louise merupakan seniman asal Blitar dan menetap di Bandung. Ia pernah belajar seni rupa di SMSR Surabaya dan Seni Rupa STSI Bandung. Ia telah melakukan puluhan pameran bersama sejak tahun 2002 dan empat kali pameran tunggal sejak 2009. Dua pameran tunggal terakhirnya adalah Lokositato Makhluk (2014) dan Intro Lokos #1 (2015).

Tahun 2019 ini ia menyelenggarakan pameran tunggal-berdua berjudul Simbol dan Alegori di Museum dan Tanah Liat, Jogjakarta. Ia pernah beroleh beberapa penghargaan seperti Top 10 Asian Fotografi Analog Emerging Artist (1997), Pemenangan Kompetisi Instalasi Bebegig Nasional (2005), Peraih Hibah Seni dan Lingkungan (2014), dan Gold Award Emerging Artist UoB Painting of the Year (2016).

Sehari-hari ia berkomunitas-bekerja di Invalinder Urban sebagai artistik konseptor dan di Hellmate Circle sebagai freelance ilustrator. Bila ditanya soal pernyataan berkeseniannya, ia selalu menjawab, “Seni adalah kejanggalan yang memiliki tempat terpahatnya watak dan pikiranku.”

SIPFest 2018: a reference to universal humanism

SIPFest 2018 is a performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in conjunction with the art center’s tenth anniversary. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 4 August 2018 onwards until early September. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2018 banner found in think archipelago website.


Creating an exhibition in the awe-inspiring vicinity of Komunitas Salihara was both suitable and challenging to Jakarta-based sculptor Gabriel Aries Setiadi, whose artworks involving LEDs are among the three visual artists brandishing their new media art installation.

Together with Achmad Krisgatha and ARTJOG 2018 winner of Young Artist Award Meliantha Muliawan, they took part in three months preparation, from concluding survey to locate the spot for their artworks, to creating process by adapting to the architecture of Salihara, and the final step of installation which had taken them by surprise.

The result of the contemplation was what the artists aimed to share with the audience of Salihara International Performing Arts Festival 2018. “Artists should aim at facilitating the public through ideas,” Gabriel said before his arched light art gracing a silent corner of the second floor. More striking spot is Achmad’s giant blue LED installation hanging  cold and lonely at the apex, increasingly pervasive as the dusk fell upon visitors staring from the viewing deck of the third floor.

Curator Asikin Hasan who prides the art center he works in as the country’s best among other buildings of similar function by Ikatan Arsitek Indonesia, said that in its tenth year, Komunitas Salihara has progressed from a mere place of exhibit into a public space, and currently being a place to form discussion.

Themed Di seni senang, (Happy go artsy), the art space’s co-founder Nirwan Dewanto said SIPFest continues to be a small recreational party for the exceptionals. “The majority of our audience aged between 20-30 years old who fill the 220 seats at its most capacity with a different kind of art expectation. I think that entails critical discourse we have been nurturing here,” he said.

He added, “We do not simply invite Didik to have him dance here, but we want to raise the transgender issue often entailed in his dances.”

In a similar notion is choreographer Otniel Tasman chosen to perform Lengger, a dance only recently brought to light after being shunned for long in the place of its origin in Banyumas.

“I put honesty above everything else in my work, about how our culture perceive Lengger all this time, the discrimination those minority men face for dancing like women,” he said.

A theater by Rukman Rosadi, the Yogyakarta-based proficient director who gets less scrutiny, about Sjahrir, played by Rendra Bagus Pamungkas (starred in Wage as Wage Rudolf Supratman, 2017) talks in parralel about the universal value of being human.

Universal humanism, a non-violence and non-discriminatory movement since 1969 by its founder Mario Rodriguez Cobos, has always found a relevance in many of Salihara’s program, a necessary identity reminder especially at the onset of of religious extremism.

Among a plethora of programs, from visual art, theater, dance, music, to their latest addition, the art lecture, the SIPFest 2018 feature promising local and international artists alike to share the platform in Komunitas Salihara for a month ahead with names such as choreographer Lucy Guerin (Australia) whose Split won her the Helpmann Award in 2017, musical duo Quatuor Bozzini (Canada), Ju Percussion Group (Taiwan), Toccato Studio (Malaysia), Nassim Soleimanpour (Iran) , whose script read by Reza Rahadian an Sita Nursanti, master choreographer Jim Adhi Limas, dubbed the founder of Indonesian contemporary theater, and many more.

Exuberant and uninhibited

Panorama 1

There has not been any feverish polemic on art in Indonesia like what happened in the past. The memory of the 1974 Desember Hitam (Black December) manifesto following the disillusioned young artists in the defeat and humiliation in the art competition of that year held by Jakarta Art Council reemerges at the same place 40 years later, in Taman Ismail Marzuki.

The highlighted paragraph at the center of the exhibition entitled 40 Tahun Desember Hitam called for the retirement of the established groups comprising older thus conservative generation of painters and jurors.

Some 200 art works sidelined because of containing the then unrecognized extra elements in paints such as mixed media was derided by a statement that such new wave of arts lacked pure skill and creativity, and merely ventured into the questionable realm of experiments. Hence there appeared the dichotomy between good paintings and non-paintings.

20141231_151053
Potret Chairil Anwar by Dede Eri Supria (left painting), among others in art exhibition “40 Years of Black December” in Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

The rejected many, some of which now become the country’s influential personas in local art scene such as FX Harsono and Jim Supangkat, upon hearing such negative assesment, made a stance in unity and released the Black December manifesto, to which they also faced the consequence, such as marginalisation.

Some went to far by saying that the art is dead. Subsequently they formed Gerakan Seni Rupa Baru (Neo Visual Art Movement) and several others that followed.

The media spread the publicity the phenomenon they referred to as the art rebellion. The fight between the established group of artists and their liberal counterparts have twice marked the modern history of Indonesian art.

Another intense conflict also occured in the 60’s between Lembaga Kebudayaan Rakyat (The People’s Art Institute) shortened into Lekra, which was mistaken for its affiiation to the communist party despite repeated correction that it was anything but, and the opposing group that came underfire at the time, Manifesto Kebudayaan.

Unfortunately it got pulled deeper into the escalating political struggle at the height of communism versus nationalism issue, and many from both sides were perpetrated throughout the political crisis era.

Curators Leonhard Bartolomeus and Riksa Afiaty told that they never intended to reintroduce the 1974 polemic of what is and is not a good painting. Hence they did not place the opposing paintings in two separate places even though they could.

Their intention, however, is to tell a story to current generation how exuberant the country’s art scene was 4 decades ago. Perhaps the commercial aspect in the capitalistic era has caused a long inhibition.

A satire in Serangan Fajar Kartun Politik

Jurus menertawakan diri menjelang coblosan! Bentara Budaya Jakarta, 8 – 13 Juli 2014

The Openness. GM Sudarta
The Openness by GM Sudarta (center painting), Jalesveva termehek-mehek by Didie SW (center below art installation).

Some prominent illustrators whose caricatures are frequently seen in Kompas newspapers exhibited their latest artworks in Bentara Budaya Jakarta ahead of the Indonesian presidential election.

Having deliberately chosen the timing very nearly to the election day, they intended to create a quick reminder for public in a short moment before casting the ballots.

Following several times of open elections preceded by decades of authoritarian rule, the country remains heavily infested with corrupt officials and populist yet short-term solutions–e.g. the direct cash assistance (BLT) to millions of low income population that caused more harm than good.

In contrast with the slogans for change, previous administrations did less with addressing some of the most pressing problem in this large population, heterogeneous country, poverty and horizontal conflicts.

Names that characterize daily editorial cartoons of Kompas as one of the biggest newspaper company in Indonesia such as GM Sudarta, Jitet Koestana, Didie SW, Thomdean and Rahardi Handining showed their constant wit and critical thoughts, put up in a single showcase that give an intense view of a stagnated social changes.

Nevertheless, the so-called change for the people especially in a democratic country is a right that this society must fight. These artists have been doing their shares of moral responsibility, in a hope that the public will be more aware of theirs, and so the hopeful president of Indonesia.