Posts Tagged 'Indonesian contemporary art'

Burudiri, catatan Hanura Hosea

Burudiri, catatan Hanura Hosea

Buru diri bisa menemukan jalannya lewat karya. Karya akan berargumen terhadap pembaca, sedangkan pembaca akan memutuskan selera (sebuah kemampuan sosial), untuk suka atau tidak terhadap karya. Proses-proses ini mencoba meletakkan buru diri tidak untuk menjinakkan tetapi justru meliarkan kembali diri.

Alihan dalam kertas dan gambar

Alihan dalam kertas dan gambar

erikertas studiohanafi menghadirkan pameran tunggal Hanura Hosea berjuluk “Alihan”. Pameran yang akan berlangsung sepanjang 2 November-2 Desember 2019 ini merupakan pameran tunggal penutup untuk program galerikertas studiohanafi di tahun 2019.

Henryette Louise: Spiritcuil (pertemuan benda-benda)

Henryette Louise: Spiritcuil (pertemuan benda-benda)

Henryette Louise merupakan peraih Gold Award Emerging artist UOB Painting of The Year 2016. Seorang lulusan desain grafis di STSI Bandung dan seni murni di ISBI Bandung. Beberapa kali melakukan pameran tunggal dan pameran bersama. Ia juga merupakan salah satu perupa muda di galerikertas pilihan Ugo Untoro. Kini sehari-harinya ia bekerja sebagai illustrator, konseptor artisti, dan lain-lain.

Pahatan watak dan pikiran Henryette Louise di Spiritcuil

Pahatan watak dan pikiran Henryette Louise di Spiritcuil

Seniman Henryette Louise membuka kesempatan kolaborasi dengan seniman lintas disiplin. “Konsepnya Open Studio,” kata Lousie. Selama lebih kurang sebulan ia membuat Galeri Kertas Studio Hanafi menjadi layaknya studio kerja. Di studio tersebut ia akan menerima partisipan yang berminat untuk berproses bersama, merangkum ide bersama, dan membuat suatu karya bersama-sama.

Exuberant and uninhibited

Exuberant and uninhibited

There has not been any feverish polemic on art in Indonesia like what happened in the past. The memory of the 1974 Desember Hitam (Black December) manifesto following the disillusioned young artists in the defeat and humiliation in the art competition of that year held by Jakarta Art Council reemerges at the same place 40 years later, in Taman Ismail Marzuki.