Tag Archives: Indonesian contemporary dance

Sandi Kala, seni performans karya 69 Performance Club

Sandi Kala is a performing arts by 69 Performance Club, supported by Studiohanafi and Forum Lenteng. think archipelago is a proud media partner of the event held in Galerikertas – Studiohanafi, Saturday, 15 February 2020, 1:00 – 5:00 PM.

Kerap catatan peristiwa masa lalu menjadi pembacaan untuk masa depan yang dihadirkan pada hari ini. Narasi yang merekam riwayat tertentu dikenal masyarakat sebagai ramalan, primbon, hingga tradisi yang berbasis lokasi. Misalnya tradisi kampung tua Kinta di Palu, Sulawesi Selatan, yang banyak terkait erat dengan kondisi geologi wilayahnya sejak lampau.

Riwayat semacam ini menyandarkan kepercayaannya pada sebuah ide bahwa segala pengetahuan telah tersedia di semesta, tinggal bagaimana para penghuninya mampu mengambil sari dari catatan tersebut menjadi sebuah pengetahuan.

Akan tetapi, pengetahuan semacam ini sering disalahartikan oleh pengetahuan modern sebagai takhayul belaka. Berbagai pertemuan, baik dengan sistem, budaya, maupun peradaban baru telah menggeser keberadaan pengetahuan ini.

Kita tak lagi pandai mengakses tanda-tanda yang terserak pada semesta alam dan semesta sosial manusia sehingga kesulitan menyusun kode-kode pengetahuan tersebut. Ia menjadi seakan tersembunyi, rahasia, dan tak terjangkau.

Pada edisi ke-18 ini, 69 Performance Club mengangkat kuratorial “Sandi Kala” yang mengajak para partisipannya menggali kode-kode narasi kolektif yang tercecer dan menghadirkan kembali potensi performatifnya, terutama narasi kolektif yang tersimpan dalam teks, baik teks sebagai tulisan maupun dalam konteks yang lebih luas, melalui teks, gerak dan bentuk serta relevansinya dengan sebaran narasi kolektif di kawasan Asia Tenggara.

Tentang 69 Performance Club

69 Performance Club adalah sebuah inisiatif yang digagas oleh Forum Lenteng untuk studi fenomena sosial kebudayaan melalui seni performans. Kegiatan 69 Performance Club berupa workshop dan performans setiap bulan, diskusi, serta riset tentang perkembangan performans di Indonesia. Inisiatif ini terbuka untuk para pemerhati, peminat dan seniman untuk terlibat secara aktif menjadi bagian dari program-program 69 Perfomance Club.

Karya-karya 69 Performance Club telah dipresentasikan antara lain di SMAK Museum, Ghent, Belgium, TranzitDisplay Gallery, Prague, Czech Republic, Ministry of Foreign Artists, Geneva, Switzerland, Teater Garasi, Yogyakarta, Indonesia, Ilmin Museum of Art, Seoul, South Korea, dan GoetheHaus, Jakarta. Karya-karya dapat dilihat di http://www.69performance.club.

Biografi seniman

Otty Widasari (Balikpapan, 1973) adalah seniman, penulis, sutradara film, dan salah satu pendiri Forum Lenteng. Pada tahun 2015, pameran tunggalnya berjudul Ones Who Looked at the Presence diselenggarakan di Ark Galerie, Yogyakarta. Kemudian pada tahun 2016, pameran tunggal keduanya, Ones Who Are Being Controlled diadakan di Dia.Lo.Gue, Jakarta. Kedua pameran tersebut merupakan proyek berkelanjutan Otty dalam rangka penelitiannya terhadap arsip film kolonial yang ia mulai sejak residensi di Belanda.


Pingkan Polla (Magelang, 1993), seniman yang berfokus pada seni performans dan seni rupa. Anggota Forum Lenteng sebagai seniman dan peneliti di Milisifilem dan 69 Performance Club. Ia memulai praktik artistiknya semenjak tergabung dalam proyek seni AKUMASSA-Diorama dengan melakukan observasi visual terhadap diorama-diorama yang ada di Museum Nasional. Pengetahuan itu kemudian berkembang ke arah seni performans semenjak ia tergabung dalam platform 69 Performance Club. Karya-karya performansnya berfokus pada studi tubuh dan kerja, media sosial, dan studi atas performans di ruang privat hingga ruang publik. Pada tahun 2019, ia sempat melakukan residensi di Bangsal Menggawe di Pemenang, Lombok Utara, dan melakukan riset tentang persinggungan antara seni pertunjukan dan seni performans. Selain itu, ia pun telah mengikuti residensi di Bulukumba, dalam rangka Makassar Biennale 2019.


Robby Ocktavian (Samarinda, 1990) adalah seorang seniman dan organisator seni yang gemar menayangkan film di celah-celah kota Samarinda bersama kawan-kawan Sindikatsinema. Ia juga adalah direktur MUARASUARA – Sound Art Festival dan Naladeva Film Festival di Samarinda. Menyelesaikan studi Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman Samarinda dan kemudian belajar memahami dan memproduksi visual di Forum Lenteng dalam program Milisifilem Collective.


Dhuha Ramadhani (Jakarta, 1995) adalah seorang penulis dan pembuat film. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Departemen Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Anggota Forum Lenteng aktif. Pada 2018, ia menjadi salah satu kurator ARKIPEL untuk program Candrawala. Sekarang, dia juga seorang partisipan di Milisifilem Collective dan 69 Performance Club.


Riyadhus Shalihin acapkali melakukan penelitian atas obyek ruang dan arsip, seperti lokasi penggusuran, foto keluarga, reruntuhan bioskop, jembatan sungai, kompleks pemakaman, atau pun furnitur kolonial, sebagai latar penciptaan karya teater, performance art, video art, dan teks drama. Ia adalah co-founder dan direktur artistik Bandung Performing Arts Forum (B.P.A.F), yang bekerjasama dengan Theatre MUIBO ( Tokyo ) dalam proyek kolaborasi teater Once Upon A Time – The Fallen Boat (2019) dengan bantuan dari Japan Foundation. Leow Puay Tin (Malaysia) untuk proyek teater US NOT US pada Asian Dramaturgs Network, Yogyakarta – 2018. Anggota dari Majelis Dramaturgi – yang diinisiasi oleh Teater Garasi Yogyakarta. Menulis esai teater, tari, dan seni rupa di majalah Tempo, Sarasvati, Pikiran Rakyat, Indopos, dan Jawa Pos.

Biografi Kurator

Anggraeni Dwi Widhiasih (Sleman, 1993) adalah seorang kurator, penulis, seniman yang berdomisili di Jakarta. Setelah menamatkan studi Hubungan Internasional di Universitas Paramadina, ia menjadi anggota aktif di Forum Lenteng dan terlibat dalam Milisifilem Collective, sebuah kelompok studi produksi film melalui praktik eksperimen visual. Sebagai sebuah produk audiovisual, film bagi Anggra memiliki keterhubungan erat dengan persoalan sistem di masyarakat, teknologi media, produksi pengetahuan dan aspek kepenontonan. Hal-hal ini pun yang kerap muncul dalam kerja-kerja keseniannya, baik dalam bentuk kuratorial, tulisan, maupun karya visual. Selain aktif dalam skena seni dan film, ia juga terlibat dalam platform eksperimen ekonomi bernama Koperasi Riset Purusha dan Prakerti Collective Intelligence.


Prashasti Wilujeng Putri (Jakarta, 1991) adalah seorang seniman dan manajer seni. Ia seorang lulusan kriminologi, Universitas Indonesia. Penari dari Komunitas Tari Radha Sarisha dan Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah. Ia memulai proses artistiknya sendiri sejak bergabung di 69 Performance Club pada 2016. Ia pernah melakukan residensi di Silek Art Festival di Solok, Sumatra Barat pada 2018, melakukan riset tentang silek (silat) dalam kehidupan tubuh-tubuh kontemporer. Hasil residensinya berupa karya video, dan dilanjutkan dengan karya performans yang dibawakan di Ilmin Museum of Art, Seoul, Korea Selatan. Karya-karyanya yang lain fokus pada soal tubuh yang didefinisikan dan dibentuk oleh masyarakat, dan bagaimana seni performans bisa merekonstruksi hal itu. Sandi Kala merupakan karya kuratorialnya yang pertama.

Photos courtesy of 69 Performance Club.

(a)part penutup 7 tarian kontemporer Helatari 2019

Helatari Salihara 2019 adalah agenda tari Komunitas Salihara yang diselenggarakan rutin di Teater Salihara, Jakarta. think archipelago adalah mitra media di pagelaran bergengsi ini yang berlangsung mulai dari 15 Juni hingga 6 Juli. Untuk informasi jadwal pertunjukan, silakan klik banner Helatari Salihara 2019 yang terdapat di website think archipelago.

Komunitas Salihara, pusat kesenian multidisiplin swasta pertama di Indonesia yang didirikan sastrawan dan mantan pemimpin redaksi Majalah Tempo Goenawan Mohamad, untuk ketiga kalinya sejak 2015 menghelat Helatari Salihara untuk pecinta tarian kontemporer tanah air dan internasional.

Rangkaian 7 tarian unik dalam program rutin Komunitas Salihara kali ini menyajikan wacana segar kepada publik untuk memaknai substansi teater yang dipentaskan melalui estetika gerakan para penari maupun suguhan tata panggung yang bernuansa kehidupan sehari-hari.

Dengan mematok harga tiket masuk Rp 65.000 untuk umum dan Rp 35.000 untuk pelajar, para penikmat tari gaya baru akan terpuaskan dengan pilihan pertunjukan berbobot yang telah dikurasi secara seksama.

(a)part

Keunikan tarian penutup Helateater Salihara 2019 ini terdapat pada upayanya menceritakan kehidupan masyarakat urban yang tinggal di apartemen dan rumah susun. Karya ini melibatkan delapan penari dan menggabungkan bentuk tari dan teater tubuh.

(a)part juga dipadukan dengan seni instalasi abstrak yang terbuat dari pipa PVC yang dibagi menjadi sembilan bagian, sebagai metafora kamar-kamar yang ada di dalam gedung apartemen dan rumah susun. Karya ini dikemas dengan pemetaan multimedia, efek lampu ultraviolet dan cat fosfor untuk lukisan badan (body painting).

Pementasan (a)part di Helatari Salihara 2019: Panggung Tari Baru. Photo by Witjak Widhi Cahya, courtesy of Komunitas Salihara.

The Seen and Unseen

Tarian ini terinspirasi dari film karya Kamila Andini berjudul sama menyabet predikat film terbaik pada Berlin Film Festival (Berlinale) 2018.

Pertunjukan ini menggabungkan seni tari, musik langsung, skor elektronik dan menciptakan perpaduan gerakan tari tradisional Bali dengan pendekatan kontemporer ke arah teater.

The Seen and Unseen berangkat dari filosofi masyarakat Bali “Sekala Niskala” yang berarti keseimbangan antara realita dan spiritual. Karya ini melibatkan Ida Ayu Wayan Arya Satyani sebagai koreografer dan sejumlah seniman dari Indonesia, Jepang dan Australia.

Sedangkan ada 3 tiga koreografer yang tampil pada Helatari 2019 adalah koreografer/kelompok tari terpilih undangan terbuka yang di adakan pada 2018 dengan nama diantaranya Anis Harliani Kencana Eka Putri, Ayu Permata Sari dan Eyi Lesar. Mereka inilah menciptakan tari Holy Body , X dan Ad Interim atau disebut dengan “Panggung Tari Baru”.

Holy Body

Menurut hasil dari pengamatan koreografer, ada ukuran-ukuran ideal yang harus dimiliki oleh penari perempuan untuk bisa menerima pesanan tari (komersial). Holy Body menawarkan konsep tari dokumenter yang berangkat dari riset tersebut dan mempertanyakan adakah tubuh yang ideal dalam estetika tari?

Anis Harliani adalah koreografer yang pernah berkolaborasi untuk pertunjukan Us/Not Us (2018) produksi Bandung Performing Arts Forum di Asian Dramaturg Network.  Beliau pernah mengikuti program Koreografer Muda Potensial di Indonesia Dance Festival 2018.

X

Karya ini adalah pengembangan motif “samber melayang”, salah satu motif dalam tari Sigeh Penguten (Siger Penguntin), sebuah tarian kreasi dari Lampung. Tarian ini mulanya adalah tari persembahan atau penyambutan untuk orang-orang terhormat, tetapi kali ini akan dilakukan tanpa musik, menggunakan kostum keseharian yang sederhana.

Ayu Permata Sari pernah berkolaborasi dengan koreografer luar negeri seperti Eisa Jocson (Filipina), Bethani (Amerika Serikat), Edgar Freire (Ekuador) dan Anne Maria (Jerman). Ia memperoleh penghargaan penghargaan “Jasa Bakti” di Festival Teknologi dan Seni ASIA di Johor Malaysia 2018.

Ad Interim

Ad Interim mengangkat tema perbedaan dan sifat bertolak belakang di masyarakat yang seharusnya dapat menjalin harmoni dan keseimbangan hidup. Seorang penari tunggal akan berkolaborasi dengan musisi yang menggunakan teknologi sensor gerak.

Ekspresi yang dihasilkan merupakan perpaduan antara gerak, musik dan tata cahaya. Eyi Lesar pernah beroleh Hibah Seni Inovatif dari Yayasan Kelola untuk karya Who Are You di tahun 2018. Ia pernah mengikuti showcase tari di SIPFest 2018.

Three Airs & The Two Doors

Pementasan Three Airs karya Park Na Hoon. Photo courtesy of think archipelago.

Park Na Hoon akan membawakan dua karya pentingnya. Three Airs membangun cerita tentang kehidupan manusia melalui tiga orang penari yang berlaku sebagai “organisme” udara. The Two Doors mengungkapkan makna dan rahasia penari melalui pernyataan-pernyataan saling bertentangan yang dilontarkan si penari.

Na Hoon Park adalah koreografer yang pernah terpilih sebagai seniman baru berbakat dari Dewan Kesenian Korea Selatan pada 2003. Karya Three Airs memperoleh penghargaan dalam 3rd Performing Arts Market (PAMS) di Seoul, Korea Selatan.

Ia telah tampil di sejumlah negara, mengikuti program kerja sama budaya serta pernah menjadi seniman mukiman antara lain di Jerman, Italia, dan Amerika Serikat.

Program seniman mukiman

Komunitas Salihara menyelenggarakan program seniman mukiman (artist-in-residence) untuk seniman dalam maupun luar negeri secara berkala. Kali ini bekerja sama dengan STRUT Dance Australia, Komunitas Salihara menerima Natalie Allen dan Samuel Harnett-Welk, dua koreografer dari Australia selama Helatari Salihara 2019.

Karya yang mereka bawakan dalam showcase Helatari Salihara 2019 adalah karya hasil selama menjalani program seniman mukiman.

Park Na Hoon staged award-winning Three Airs at Helatari Salihara 2019

Helatari Salihara 2019 is Komunitas Salihara’s regular dance event held in Teater Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 15 June until 6 July. To see more of their schedule, please click the Helatari Salihara 2019 banner found in think archipelago website.

4 years after he was titled the 2003 best newcomer artist by Arts Council Korea (ARCO), Park Na Hoon won the 3rd Performing Arts Market (PAMS) in Seoul with choreography work Three Airs.

It had been staged in 2015 San Fransisco International Art Festival and 2017 EiMa Festival, Spain.

His latest tour to Indonesia as an artistic director cum choreographer is to stage Three Airs and the Two Doors with fellow dancers Park Sang Jun, Moon Hyung Soo, and Kim Kyu Won in Helatari Salihara 2019.

The Two Doors had been staged in Acker Stadt Palast, Berlin, 2015, and Projekktheater, Dresden, 2016.

Park took part in a number of artist-in-residence program, such as the Korean-Finnish cultural exchange program in Helsinki, 2012, and the similar program in Denmark, German, Italy, and the United States.

Recently he was involved in Ari Project: Performing Arts Korean Contemporary Dance Performance, and the ever expanding Asian performance tours.

In Komunitas Salihara, Jakarta, Park Na Hoon showcased two of his important works. Three Airs is a narrative surrounding the lives of three people who represent organism in the air, whereas the Two Doors tells about how the choreographer discloses his secrets by repeatedly making contradictory self-inquiries.

According to the choreographer, the unrealistic movements of the organism feels more tangible. He perceives eccentric, foolish, and fictitious things that may seem unreal, yet heart-moving.

Moreover, the yes-no questions that remained unanswered were ultimately shared to the audience for the sake of sharing the particular frustration of oneself. Park views answers to these questions could might have revealed the conflicting truth about human existentialism against the world.

 

Nouveau center stage at Helatari 2019

Helatari Salihara 2019 is Komunitas Salihara’s regular dance event held in Teater Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 15 June until 6 July. To see more of their schedule, please click the Helatari Salihara 2019 banner found in think archipelago website.

Helatari Salihara had presented well-known choreographers and dance groups of local and international twice in 2015 and 2017. This year Helatari takes a different view on their curation by inviting public participation.

The program which began last year came to fruition as three aspiring entities were selected to showcase their latest works. They are Anis Harliani (Bandung) with her concept of documentary dance of Holy Body, Ayu Permata Dance Company (Yogyakarta) which synthesizes a traditional dance of her hometown, Lampung , and Eyi Lesar (Jakarta), laden with light show in Ad Interim.

Holy Body comes to be following the choregrapher’s observation of the accepted physical shapes of commercial dancers in her hometown, Bandung, West Java. It is a documentary work based on Harliani’s experience, and also dancers who come under the pressure of the esthetical view of dance.

X by Lampung dancer Ayu Permata Sari recreates Samber Melayang pattern typicaly found in Sigeh Penguten dance of nobility. It allows close distance between dancers and audience under minimum light and without music.

After performing in Salihara International Performing Arts Festival (SIPFest) 2018, Eyi Lesar showcases Ad Interim which highlight social conflicts and diversity that can lead to balance and harmony.

Ida Ayu Wayan Arya Satyani performs a work by script writer and movie director Kamila Andini in the Seen and Unseen which took inspiration from the award-winning movie of the same name for Kplus International Jury category of Berlin Film Festival (Berlinale) 2018.

The contemporary dance incorporates cross-cultural collaboration from Japan (composer Yasuhiro Morigana), Australia (designer Eugyeene Teh, lighting designer Jenny Hector, Adena Jacobs), and Indonesia (dancers of Komunitas Bumi Bajra, and the Balinese choreographer), demonstrating the spirituality of Balinese Sekala Niskala, of equally valuing the abstract and concrete elements of this world.

There are also Korean choreographers Park Na Hoon performing Three Airs & the Two Doors, and the young choreographer Maharani Pane from Tangerang.

To close the Helatari 2019, Komunitas Salihara will present Strut Dance Australia by Natalie Allen and Samuel Harnett-Welk as part of the artist-in-residence program with the National Choreographic Centre of Western Australia, showcasing works during their stay in Indonesia.

Kamila Andini dan Ida Ayu Wayan Arya Satyani: 
Sabtu, 15 Juni 2019, 20:00 WIB
Minggu, 16 Juni 2019, 15:00 WIB

Anis Harliani, Ayu Permata Dance Company, Eyi Lesar: 
Sabtu, 22 Juni 2019, 20:00 WIB
Minggu, 23 Juni 2019, 16:00 WIB

Diskusi Tubuh dan Permainan: 
Sabtu 22 Juni 2019, 16:00 WIB

Park Na Hoon:
Sabtu, 29 Juni 2019, 20:00 WIB

Showcase Natalie Allen & Samuel Harnett-Welk:
Sabtu, 06 Juli 2019, 16:00 WIB

Maharani Pane:
Sabtu, 06 Juli 2019, 20:00 WIB

Jailolo in Eko’s bold conception

web-banner-sipfest-on-think-archipelagoSIPFest 2016 is the fifth performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in Kompleks Komunitas Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 1 October 2016 onwards until early November. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2016 banner found in think archipelago website.


Eko Supriyanto
Indonesia’s top choreographer Eko Supriyanto showcases his latest work Balabala, the second part of his Jailolo trilogy in SIPFest 2016, Jakarta. He considers local tradition as relevant and priceless in his contemporary dance.

Better to let go of the excessive reminiscence of his touring with a famous American pop star, or more prominently, a stint at a production of Disney’s musical that involved names such as Elton John, Hans Zimmer, and Tim Rice, all happened over 15 years ago.

Eko Supriyanto is at the top list of homegrown contemporary dance choreographers. So much he loves the diversity of tradition that make up what is now Indonesia that he draws the inspiration from ethnic groups traditional value and social setting, then reconceptualizes them in his work, such as clearly demonstrated in the Balabala.

The sequel of the so-called Jailolo trilogy is a testament to an extensive work of a former dancer who studied in ISI Surakarta in 1990, beginning with Cry Jailolo in 2014.

Eko continues to involve indigenous teenagers of Jailolo, North Maluku, whom he picked based on instincts, and later trained to perform a modern reinterpretation of local ritual, or, by today’s common definition, dance.

But the all-female dancers distinguishes Balabala from its prequel, where the local young boys took the spotlight, and enjoyed their fame in the world tour, a case that seemed to inspire their female peers to take part in this project.

Gender equality

Cry Jailolo and Balabala delved into social and environmental issues in the dancers native place. But as the former rises environmental concerns, the latter sheds light on gender equality.

And breaking the then impermeable norm was not without rejection. Eko admitted to take a careful approach for he did not want to be seen as a typically “Javanese invader” to the local community, for he aimed to deconstruct several dances into a brand new fusion entity.

He succeeded in bringing seasoned instructors of Cakalele, a native war dance that Balabala draws an inspiration from, and of which involves male only, to prepare the five girls undertaking the unprecedented challenge.

As if they were on the defensive by wielding shield in the face of their opponents, they exuded man-like vigor, the eyes of agression and caution at the same time, that fearless charm.

The world’s premiere, which served also as the summit program in SIPFest 2016, was just the beginning of the world tour spanning across countries in Asia, Australia, and Europe.

Maluku all-female dancers perform in Balabala by Eko Supriyanto at SIPFest 2016, Jakarta
All-female dancers from Jailolo, Maluku, perform in Balabala by Eko Supriyanto at SIPFest 2016, Jakarta. Molding these dancers-by-coincidence was more about soco-cultural approach and less about technical challenges, said Eko.

Cultural diversity

Talking about Indonesian contemporary dance in comparison with other countries, Eko proudly said that it mainly differs in the wealth of material derived from his home country’s diverse culture.

Such a conviction that makes him aware that tradition is not obsolete. On the contrary, “There is no gap between modern and traditional dance,” he said, confident in his way of working on new things with much likely a lot of reference to deep-rooted cultural values.

According to him, old tradition is very relevant in new exploration, as long as there is a willingness to make a revisit, and interpret it. “Contemporary is not a form, but a conception,” he said.

Quo vadis tari kontemporer?

web-banner-sipfest-on-think-archipelagoSIPFest 2016 is the fifth performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in Kompleks Komunitas Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 1 October 2016 onwards until early November. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2016 banner found in think archipelago website.


Ingun Bjørnsgaard Prosjekt menampilkan Praeambulum di SIPFest 2016, Komunitas Salihara
Ingun Bjørnsgaard Prosjekt menampilkan Praeambulum di Salihara International Performing Arts Festival 2016, Komunitas Salihara, Jakarta.

Judul tinjauan seni yang klise, namun rangkaian pertunjukan seni di SIPFest 2016 mengundang pertanyaan dan pernyataan yang sama menyangkut komentar khalayak tentang perkembangan seni tari yang dikurasi oleh Komunitas Salihara tersebut.

Menarik untuk disimak kembali anggapan bahwa seni kontemporer, khususnya tari, tidak pernah beranjak dari unsur tradisional.

Meski perkembangan tari makin beragam dengan isi konten sosial dan politik melalui rekaan eksploitasi tubuh yang lebih demokratis, ditandai oleh munculnya banyak kelompok baru, namun dinamikanya, ditelaah dari aspek sejarah, misalnya, tidak berasal dari pertentangan dengan tesis pendahulunya.

Dinamika sosial dan politik

Setidaknya sulit ditemukan sebuah antitesis dari inisiatif pemberontakan seorang artis, kecuali dalam kasus Konstruktivisme yang mempengaruhi seni pertunjukan di era transisi Soviet Rusia, itu pun ditunggangi kepentingan politis.

Memang ada pemberontakan kolektif terhadap balet di awal abad ke 20 di Amerika Serikat oleh kelas menengah. Namun itu juga karena aspek sosio-ekonomi, bukan kesadaran individual untuk melawan budayanya sendiri (counter-culture).

Kelas menengah sedang bangkit pada saat itu ditilik dari sudut pendapatan, dan juga peningkatan pengeluaran. Dari perbaikan ekonomi timbul kebebasan menentukan selera baru, apa pun itu asal bukan perwakilan dari dominasi usang yang membatasi gerak seperi halnya balet klasik.

Mungkin ini data empiris terakhir terkait dinamika tari dalam sejarah modern. Terdapat kompromi identitas budaya hanya agar sebuah pertunjukan dapat diterima kelompok tertentu, dengan dalih penciptaan sintesis dari unsur tradisi lama dan embrio kreativitas baru.

Kompromi yang dijalankan demi mengukuhkan ikatan dengan penonton dalam sebuah pertunjukan langsung diakui oleh Ingun Bjørnsgaard saat ditanya tentang penggunaan karya klasik Johann Sebastian Bach dalam Praeambulum yang ia pentaskan bersama Ingun Bjørnsgaard Prosjekt.

Diakuinya bahwa musik klasik sudah dikenal penonton di Indonesia. Ini adalah generalisasi pascakolonial yang tidak bisa disalahkan. Namun ia menampik komentar bahwa karyanya merupakan bagian dari neoclassicism yang sedang populer di tanah asalnya beberapa tahun belakangan.

Motif-motif neoklasik telah memberikan wajah-wajah familiar dengan konteks baru. Patung-patung Yunani yang mendapat semprotan grafiti, modifikasi model melalui perangkat lunak, atau bahkan sekadar sentuhan collage, tren ini melanda pameran patung hingga, katakanlah, sampul CD grup musik elektronik Whomadewho dari Denmark. Tidak ada yang benar-benar baru saat ini.

 

Koreografer kelompok yang bermarkas di Oslo ini tidak serta-merta latah. “Kombinasi antara musik baroque dan musik kontemporer bukan berarti neoklasik,” katanya sambil menggeleng. Itu upaya untuk melakukan kontak dengan penonton global, tambahnya.

Pengaruh klasik dalam gerakan modern

Tampaknya produk kuno itulah yang menjadi katalis. Terlepas dari pengaruh klasik, para penari bebas berinisiatif mengendalikan tempo tanpa terlalu memperdulikan iringan musik itu sendiri. Meski masih sangat kuat akan unsur koreografi, Praeambulum yang tahun lalu ditampilkan di New York dan di awal November ini di Havana, menyuguhkan ekspektasi yang sangat bervariasi.

Meski tidak terlalu bebas, setiap penari di banyak kesempatan mampu memberikan materi untuk membangun struktur mereka masing-masing.

Berawal dari upaya kompromi inilah yang membuat unsur tradisional masih dipakai dalam seni tari saat ini. Bagaimana pun juga, ada kebebasan yang tak terdapat di seni tari, yang sebaliknya diumbar oleh seni lukis, misalnya.

Ada sebuah bentuk interaksi fisik yang perlu segera dibangun di tempat itu juga. Ada semacam tekanan rule of engagement agar penonton lebih proaktif.

Di sisi lain, peradaban yang dibangun oleh interaksi fisik lintas benua, dan dalam dua dekade terakhir secara global berubah wujud menjadi abstrak dari perangkat digital yang kemudian memunculkan konsep zero distance, telah menciptakan siklus membentuk, melebur, dan membentuk lagi. Yang direka ulang adalah gambaran-gambaran familiar dari masa lalu, yang dilebur adalah kebudayaan antarbenua, disaksikan oleh penonton di ujung lain dunia. Dari Eropa hingga Asia Tenggara, ada kesamaan.

 

Mega Mendung. Fitri Setyaningsih
Mega Mendung oleh Fitri Dance Work, SIPFest 2016, Jakarta. Photograph by Witjak Widhi Cahya, courtesy of Komunitas Salihara

Penampilan Fitri Dance Work bertajuk Mega Mendung di SIPFest 2016, contohnya, tak perlu diragukan lagi jika dilihat lagi konsistensi pemakaian pola rutinitas ke dalam gerakan artistik. Dalam karya yang akan tampil di Korea Selatan pada 2017 ini, koreografer Fitri Setyaningsih memiliki kecenderungan berkutat pada stereotip alam negaranya yang akan ia bawa ke depan penonton di ujung lain dunia.

Hamparan pasir yang beterbangan disapu kaki-kaki telanjang, dan struktur tak berdinding yang menghadirkan banyak bukaan. Nuansa pesisir hadir. Dari sana para penarinya kental membawakan pengaruh sosio-kultural.

Unsur tradisional dalam bentuk modern

Tampaknya Fitri Setyaningsih kerap mencari bentuk kontemporer yang berasal dari unsur-unsur tradisional, seperti di Mega Mendung dengan busana pedesaan yang dikenakan para penarinya, properti panggung seperti kantong isi beras yang dituang di atas tangan-tangan yang menadah, hingga sampai ke tangan para penonton yang kebagian sedikit, dan tabuhan instrumen musik tradisional.

Jika demikian, tidak salah untuk berasumsi bahwa tarian kontemporer Bu Fitri sulit terlepas dari pengaruh budaya tradisional.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah seberapa relevankah unsur tradisional dalam perkembangan seni tari di Indonesia?

Apakah melulu berangkat dari, misalnya, identitas lokal si koreografernya, romantisisme akan kekayaan budayanya, atau apakah di masa depan nanti akan tiba saat di mana seni tari Indonesia akan tercerabut dari akarnya (grassroot) dan mencari bentuk kontemporer seutuhnya dan baru?

Eko Supriyanto akan menyajikan pertunjukan tari yang paling diantisipasi di SIPFest 2016, menjadi penutup dengan Balabala. Berangkat sebagai penari dan sudah berkeliling dunia membangun karir dan reputasi, kini ia memimpin Ekosdance Company menampilkan untuk pertama kalinya sebuah karya interpretasi baru dari tarian tradisional dari timur Cakalele yang rupanya dibawakan oleh para penari perempuan asal Maluku, bukan pria pada lumrahnya.

Urban street dance project by United Dance Works

The performance at Erasmus Huis is a testament of perseverance by a struggling group of dancers in Jakarta. Coming from parts of the country to live up to their common dreams, they often hit rock bottom in the capital to survive with their choice.

They want to prove through every part of their bodies and every inch of their movements that they always find bliss in life decision, ever energetic, however bitter it sometimes gets.

For all that they have gone through, happiness is not measured in how much they have earned, but in how much they have achieved through choreography.