Tag Archives: indonesian theater event

Waktu Tanpa Buku: Tubuh, Trauma dan Ingatan

Article by Selvi Agnesia


“Kita menakar antara masa lalu dan masa kini. Di antara melupakan dan mengingat, tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit dalam hal apa saja. Kamu dilanda kesakitan. Merana karena kenangan, meratapi tentang apa yang telah terjadi. Pilu dalam kesunyian…,” tutur Maria berusaha mengupas ingatannya, juga ingatan kelam yang dialami Pedro dan Sofia.

Sejak fragmen pertama, pertunjukan teater film Waktu Tanpa Buku (WTB) yang dipentaskan mainteater Bandung pada 5-6 Desember 2020 secara daring, mencoba menguliti pergulatan pikiran dan jiwa setiap tokoh yang pernah hidup di masa kediktatoran Uruguay, Amerika Selatan pada tahun 1973-1985.

Ruang hitam dengan lantai yang ditutupi tumpukan koran, kertas-kertas berserakan, sebuah mesin ketik, benang rajut berwarna merah menjadi panggung kelima aktor mainteater yang disutradarai Heliana Sinaga. Meskipun mengalih wahanakan dalam bentuk teater film namun dramaturgi dibangun dengan realisme yang ketat. Dalam durasi 2 jam, mainteater mementaskan secara utuh dan bersetia pada naskah karena setiap fragmen dirasa menjadi penting disampaikan.

“Naskah ini tentang Uruguay tetapi dibahasakan secara universal. Kami membuat slide tragedi-tragedi hak asasi manusia di Indonesia. Apakah kita akan melupakan atau menghadirkan kembali,” ungkap Heliana.

Naskah Waktu Tanpa Buku karya penulis Norwegia Lene Therese Teigen, diterjemahkan oleh Faiza Mardzoeki. Naskah ini berkisah tentang kehidupan para penyintas yang mengalami penyiksaan, penjara dan pengasingan. Naskah ini juga turut dibukukan dan beredar di toko buku, sekolah dan kelompok-kelompok teater.  

Dalam rangka menyambut 16 Hari kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan Hari Hak Asasi Manusia, pada 25 November – 10 Desember 2020, Institut Ungu mengadakan kegiatan bertajuk Dialog Seni dan HAM. Salah satu rangkaian acaranya berupa pertunjukan daring teater film dari produser Faiza Mardzoeki berjudul Waktu Tanpa Buku berlangsung secara daring 1-10 Desember 2020, digarap 5 sutradara perempuan yaitu Ramdiana dari Serikat Sapu Lidi Aceh, Heliana Sinaga dari Mainteater Bandung, Ruth Marini dari Ruang Kala Jakarta, Shinta Febriany dari Kala Teater Makassar dan Agnes Christina dari Yogyakarta juga Wawan Sofwan sebagai konsultan pertunjukan.

“Institut Ungu mengajak 5 sutradara dalam proses ketat 2 bulan selama masa pandemi. Drama ini menampilkan memori para penyintas di Uruguay dan saya juga teringat masa Orde Baru dan korban seperti Wiji Tukul dan Marsinah. Kita perlu mengingat dan merawat ingatan karena masa lalu juga menjadi titik permulaan hari ini” tutur Faiza dalam Diskusi Seputar Seni dan HAM 25 November silam.

Penawaran kelima sutradara perempuan dalam mementaskan Waktu Tanpa Buku dipentaskan beragam dengan pendekatan sinematik.  Pada Kala Teater Makasar, tubuh menjadi pijakan utama untuk mengisahkan moment keharuan dan kesedihan. Menurut Shinta, naskah ini sudah memiliki struktur dramatik yang kuat dan puitik dan menjadi menjadi tantangan sendiri untuk menafsirkannya melalui peristiwa teater.


Dalam pertunjukan Kala Teater disutradarai Shinta Febriany, keberadaan tubuh-tubuh yang hidup dalam derita dan masa lalu direpresentasikan dengan tubuh yang artistik. Penonton seperti diajak memasuki dunia yang lain. Ruang putih dengan aktor-aktor berbaju putih, bertopeng merah dan kacamata hitam, lontaran dialog diucapkan dengan verbal dan stilisasi gerak—tubuh yang jatuh bangun, gerak-gerak kecil tangan dan kaki, memainkan kursi–memberikan impresi tersendiri yang unik tanpa kehilangan emosi kepedihan yang juga terasa kuat: berbicara tentang interogasi, perempuan-perempuan yang digantung, penyiksaan Pedro di penjara, seorang anak yang kehilangan ayah di penjara atau istri yang menunggu suaminya pulang atau mati. 

Pada adegan menari “Tango” peristiwa masa lalu dan kini terasa satir. Mengingat betapa indahnya ibu dan ayah menari Tango bersama dan pada sisi lain mengingat rasa sakit. Berbagai peristiwa hidup tak ayal serupa tarian kehidupan dalam derita dan kebahagiaan.

Continue reading Waktu Tanpa Buku: Tubuh, Trauma dan Ingatan

Reanimating cultural polemic in the National Theater Week 2018

undangan depanNational Theater Week 2018 is an annual theater event initiated by the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia, and Jakarta Arts Council, since 2017. think archipelago is a proud media partner of the week-long event which runs from 6-14 October, Graha Bhakti Budaya, Jakarta.


DSC_7356
Theatrical piece SIDE B 47:17 [speech, noise and effect] by Teater Ghanta, Graha Bhakti Budaya, Jakarta, 9 October 2018

Compared with the first event last year held in Gedung Societed Komplek Taman Budaya Yogyakarta, and participated by 10 group of theaters from 10 provinces of Indonesia, Pekan Teater Nasional or the National Theater Week 2018 involves 16 groups across 15 cities, categorized into three types of city, community, and campus theaters.

Among the lineups are Teater Language (Sumenep-Madura), Sandiwara Pettapuang (Makassar), Teater Sakata (Padangpanjang), Komunitas Polelea (Sigi, Sulawesi Tengah), Teater Ghanta (Jakarta), Teater Selembayung (Pekanbaru), Teater Bel (Bandung), Teater Akar (Tegal), Teater Yupa (Samarinda), Teater Sirat (Surakarta), Akarpohon (Mataram), Teater Rumahmata (Medan), Nara Teater (Lewolema, East Flores), Teater Tobong (Surabaya).

Jakarta Arts Council Theater Committee Head Afrizal Malna stressed out public participation in the country’s modern theater, serving the purpose of education and performer regeneration.

Besides daily performances throughout the week, twice a day at 16:00 and 20:00, the event also exhibits archival collection, performing arts education timeline, forums, and the 16 director profiles hung in the main hall.

The opening day was marked with a ceremony awarding Teater Koma’s director Nano Riantiarno for his 53 years of dedication, and as pointed by curator Seno Joko Suyono, Teater Koma is the only group that has successfully built followers of three generation since 70s. At 69 years old, he showed little hint of slowing down when Teater Koma has just performed Gemintang, the 159rd work of 2018.

Director General of Culture, Ministry of Education and Culture Hilmar Farid said that although Indonesian theater as an industry is still underdeveloped compared to Broadway performances that have generated tourism revenues, Riantiarno’s relentless works could pave a way for such a business model.

DSC_7361
Teater Ghanta performs at National Theater Week 2018, Graha Bhakti Budaya, Jakarta, 9 October 2018.

Head of Jakarta Arts Council Irawan Karseno said that theater groups in their quest for increasing prominence can no longer count on themselves, but also the public, and the municipal support.

Such is Teater Ghanta, founded in 1995 at Universitas Nasional, Jakarta, and in 2014 decided to become an independent community theater, collaborating broadly with artists and institutions across discipline in response to social issues.

SIDE B 47:17 [speech, noise and effect] is a performance-presentation of the audio recording of a 1970 lecture by Sutan Takdir Alisjahbana in Jakarta Arts Council, entitled the history of the cultural development of the world community, and identifying Indonesia’s position in it. It attempts to revisit the lost polemic about Indonesian culture.