Tag Archives: Manajemen keuangan ASPI

Langkah bangun fondasi keuangan dari George S. Clason

Salah satu buku terkenal yang membahas mengenai keuangan ini membangun fondasi perilaku mengatur keuangan yang baik dan benar bagi mereka yang bahkan belum tahu dari mana harus memulai. Meski pertama kali diterbitkan pada 1926, pemikirannya masih relevan dengan situasi sekarang.

ASPI financial advisor Agus Chang, B.Sc, MPM, merangkum intisari buku pilihan think archipelago minggu ini The Richest Man in Babylon karya George S. Clason ke dalam lima poin pembelajaran.

Poin pertama, setiap menerima pendapatan, sisihkan sebagian di depan untuk diri sendiri sebelum menyalurkannya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dengan membayar kepada orang lain atas jasa atau barang yang kita terima.

Filosofi di balik ini adalah dengan menyisihkan uang untuk diri sendiri bukan berarti kita menggunakannya untuk keinginan sendiri, namun untuk mempertebal kantong kita, serta bagian dari penghargaan (gratification) atas jerih payah sendiri.

Baca juga: Memaksimalkan kebutuhan dan keinginan

Porsi pendapatan yang dianjurkan untuk disisihkan adalah 10 persen. Hal ini juga dapat dimaknai sebagai cara menyisihkan uang yang baik, yaitu dengan menyisihkan dulu, kemudian disisakan untuk pengeluaran, dibandingkan dengan cara yang umum di mana kita menentukan target terlebih dahulu namun baru menabung sisanya di akhir periode setelah membayar kebutuhan dan keinginan. 

Poin kedua adalah kontrol pengeluaran. Buku ini menekankan perbedaan antara pengeluaran atas kebutuhan dengan keinginan. Keinginan cenderung melebihi besarnya pendapatan. Pencatatan pengeluaran dibutuhkan untuk dapat mencapai target penyisihan minimal 10% dan mengidentifikasi pengeluaran apa yang mengakibatkan terjadinya kebocoran anggaran dan mengevaluasi pengeluaran apa yang dapat dihentikan guna mencapai target penyisihan minimal.

Poin ketiga adalah pergunakan dengan bijak uang yang disisihkan untuk investasi. Investasi bijak yang dimaksud di sini menekankan pada pengetahuan awal pra-investasi yang tepat pada bidang atau instrumen yang hendak digeluti. Banyak yang mengabaikan pengetahuan investasi terjerumus akibat mengira bahwa yang dilakukan adalah investasi meski sebenarnya adalah spekulasi.

George mengangkat isu tentang menitipkan sejumlah nilai investasi pada orang lain dalam cerita kisah mengenai sang peminjam emas. Pelajaran yang dapat diambil adalah bila hendak menginvestasikan uang pada orang lain, pastikan menginvestasikannya pada pihak yang memiliki pengetahuan yang menunjang imbal hasil yang baik. Jangan berikan kepada orang yang lalai dan tidak punya kemampuan mengembalikan, atau bahkan kepada penipu yang menjanjikan imbal hasil yang terlalu memikat. Nasihat lainnya untuk poin ini adalah pentingnya melakukan investasi yang dapat menjamin modal yang terlindungi. Tampak jelas bahwa pendekatan buku ini terhadap investasi bersifat konservatif.

Baca juga: Kesempatan di balik pandemi

Poin keempat adalah mempekerjakan uang yang diperoleh dari penghasilan investasi, atau konsep bunga berbunga di mana untuk setiap hasil investasi yang diperoleh diinvestasikan kembali.

Kapan kita dapat mencicipi hasil investasi? Jawabannya terdapat pada mengulang siklus kembali poin pertama yang mengajarkan untuk menyisihkan 10% penghasilan. Bila diterapkan secara disiplin, maka uang yang disisihkan akan semakin besar sejalan dengan penghasilan yang meningkat. Di saat yang sama, 90% penghasilan yang digunakan untuk selain investasi juga akan meningkat, sebab seiring dengan peningkatan penghasilan, gaya hidup juga meningkat.

Poin kelima adalah memastikan agar perencanaan keuangan terjaga di masa depan. Meski tidak dijelaskan langkah spesifik bagaimana merencanakannya, namun menerapkan poin-poin pembelajaran sebelumnya bertujuan untuk mencapai tujuan akhir di poin kelima ini. akan ada saatnya kita tidak dapat secara aktif lagi bekerja dan dapat menuai apa yang sudah kita bangun sehingga pada masa tua hidup senantiasa sejahtera, serta dapat menyiapkan warisan untuk keluarga dan keturunan.

Tes Marshmallow tolok ukur potensi sukses

Foto: Antoine Doyen

Artikel ini merangkum bagaimana sebuah percobaan sederhana bisa menggambarkan perilaku keuangan seseorang berdasarkan teori yang pertama kali digagas oleh Walter Mischel saat ia menjadi dosen psikologi sosial dan teori kepribadian di Universitas Stanford pada tahun 1972.

Tujuan dari tes ini tidak hanya untuk mengukur keberhasilan seseorang dalam hal pencapaian dari aspek finansial, namun juga tingkat pencapaian perasaan bahagia serta ukuran kebahagiaan lainnya seperti keberhasilan dalam berkarir secara profesional, keberhasilan untuk berperilaku baik dan tidak mudah terjerumus dalam pola hidup menyimpang, serta kesuksesan dalam hidup.

Michio Kaku, fisikawan yang pernah dinobatkan sebagai 100 orang terpintar di New York oleh New York Magazine mendukung keakuratan tes ini dalam menilai tingkat keberhasilan dan pencapaian seseorang yang dapat melalui tes ini dengan baik.

Dalam suatu wawancara, Michio mengatakan, “Ketika Anda melihat anak-anak dan apa yang membuat mereka sukses, Anda akan menyadari bahwa hampir semua teori adalah keliru, seperti memiliki IQ yang tinggi, namun banyak yang memiliki IQ tinggi menjadi kaum marjinal di masyarakat. Marshmallow test adalah tes psikologi yang dapat berkorelasi terhadap kesuksesan dalam hidup.”

Eksperimen Marshmallow dimulai dengan memperhatikan perilaku puluhan anak berusia 4 sampai 6 tahun ketika diberikan penawaran kudapan yang mereka sukai, misalnya permen, biskuit, atau marshmallow.

Mereka diberi 2 pilihan: Pertama, mereka dapat makan kudapan yang mereka sukai tersebut sekarang namun hanya mendapat 1 buah saja. Kedua, mereka dapat makan kudapan tersebut nanti, 15 menit dari sekarang, dan akan mendapatkan 2 kali lebih banyak daripada yang mereka dapatkan sekarang.

Tentu dari opsi yang ditawarkan ini, sebagian berupaya menunggu untuk mendapatkan lebih, dan sebagian lainnya langsung memakannya.

Penelitian dilanjutkan 30 tahun mendatang, ketika anak-anak tersebut sudah dewasa. Mereka diundang kembali untuk diwawancarai mengenai bagaimana kehidupan mereka.

Hasilnya, mereka yang ketika kecil menunggu untuk mendapatkan lebih banyak cenderung memiliki kehidupan yang lebih bahagia, lebih sukses, dan secara finansial lebih mapan dibandingkan dengan mereka yang dulu memilih langsung memakan kudapan yang ada di hadapan.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian aspek dari perilaku tersebut mencerminkan karakter seseorang. Namun kabar baiknya, perilaku dapat dilatih dan dipraktikkan dalam kehidupan meski kita sudah tumbuh dewasa.

Berbeda dengan hewan, manusia mengerti konsep waktu. Seseorang bisa memahami bahwa jika dia tahu dengan menunda kesenangan sekarang dia bisa mencapai hal yang lebih baik di masa datang, maka akan muncul pertimbangan yang berujung pada keputusan untuk menjalani hal yang perlu dilakukan dahulu agar mendapatkan hasil lebih baik.

Almarhum Ciputra dalam beberapa kesempatan menceritakan bagaimana dia sudah harus membanting tulang dan harus membiasakan diri menunda keinginannya sementara teman seusianya dapat bermain dan bersekolah sewajarnya.

Salah satu penyebabnya adalah kehilangan ayahnya ketika dia masih berusia 12 tahun. Ciputra menceritakan perubahan dirinya dari manja menjadi kuat, dari yang semula tidak pernah berkotor-kotoran di kebun, hingga terpaksa harus memeras keringat setiap hari mengolah tanah agar sekeluarga dapat makan, dan belajar berburu binatang di hutan. Hal tersebut yang akhirnya menempa beliau menjadi taipan properti dan filantropis yang kita kenal sekarang.

Terkait keuangan, khususnya dalam berinvestasi, yang mana bertujuan mengalokasikan sejumlah uang untuk memperoleh penghasilan atau keuntungan, pada praktiknya kita mengendalikan dorongan menggunakan uang yang dimiliki sekarang untuk hasil yang lebih baik di masa mendatang.

Menyisihkan uang pun demikian. Kita memiliki tujuan di depan yang lebih besar dari yang bisa dicapai sekarang.

Berdonasi merupakan sesuatu yang sangat relevan dalam membantu masyarakat dan tim medis khususnya yang bisa dilakukan di masa sulit ini.

Seorang donatur tergerak atas kerelaan mendahulukan masyarakat yang lebih membutuhkan, dan menunda kebutuhan pribadinya.

Agar konsisten mempraktikkan hal ini dengan maksimal, penting sebelumnya untuk menetapkan apa tujuan hidup di masa depan, dan seberapa besar kita bersedia menunda hal lain yang menyenangkan sekarang demi tujuan yang lebih besar di depan?

Memaksimalkan kebutuhan dan keinginan

Salah satu fondasi dalam kecerdasan keuangan adalah kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan dalam tingkat ekstrim akan membahayakan keberlangsungan hidup. Sedangkan keinginan, ekstrimnya, jika tidak terpenuhi pun tidak membahayakan.

Pertanyaan selanjutnya, kapan kita memenuhi keinginan kita? Apakah kita hanya boleh memenuhi apa yang kita butuhkan? Tentunya tidak sedemikian dilematis juga. Seperti yang telah dibahas di artikel 3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan , pemenuhan keinginan dapat dilakukan apabila target kita terpenuhi.

Baca juga: 3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan

Ketika hal ini konsisten dilakukan, yang terjadi adalah pertama, kita akan lebih menghargai keinginan kita, dan kedua, kita mengasosiasikan pencapaian sebagai sesuatu yang menyenangkan karena kita dapat memenuhi keinginan kita.

Jadikan keinginan sebagai alat mencapai target yang kita tetapkan, baik itu target besar dalam hidup atau spesifik mengenai target keuangan. Praktikkan target-target yang lebih mudah dengan keinginan yang kecil seperti dapat meminum soda setelah mencatat pengeluaran rutin, hingga yang lebih besar seperti dapat berkeliling dunia setelah berhasil mengumpulkan 5 milyar rupiah, misalnya.

Jadikan pemenuhan keinginan sebuah konsistensi untuk memenuhi target-target yang sudah dicanangkan. Dari sini kita akan dapat mengaitkan secara faktual dan efektif peningkatan kualitas hidup karena tercapainya target-target tersebut.

Teknik marketing sekarang sudah pandai bermain di area tipis antara kebutuhan dan keinginan serta memperhitungkan aspek psikologis.

Contohnya, penawaran diskon 20% untuk pembelanjaan minimal Rp 500.000. Banyak yang berpikir, “Wow tanggung, mumpung diskon, coba pilih barang lain yang saya inginkan.“ Padahal yang konsumen tersebut butuhkan hanya barang seharga Rp 300.000. Pada akhirnya konsumen membelanjakan lebih dari Rp 500.000 ketika seharusnya hanya perlu mengeluarkan Rp 300.000.

Kesadaran akan keinginan dan kebutuhan penting agar pembaca dapat menggunakan dorongan keinginan untuk memaksimalkan peningkatan potensi diri dan target yang ditetapkan. 

3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan

Pada 2019 Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa berdasarkan data 2017, rasio tabungan terhadap produk domestik bruto (PDB) masyarakat Indonesia sebesar 30,9% berada jauh lebih rendah dari Singapura dan China yang telah mencapai 49% , bahkan Filipina di 44%.

Kala itu, di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sardjito, mendampingi Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, berkata bahwa orang Indonesia rata-rata tidak senang menabung.

“Saya nggak bilang yang terparah, tapi memang kebiasaan kita itu consume. Nabung semua juga nggak bagus, tapi rasio saving to GDP seharusnya bagus,” kata Sardjito.

Mengutip CNBC, survei pada tahun 2019 di Amerika Serikat menunjukkan setiap rumah tangga rata-rata memiliki tabungan sebesar 8.863 dolar AS. Kelompok pasangan menikah usia di bawah 34 memiliki tabungan rata-rata 4.700 dolar AS. Kelompok lajang di rentang usia yang sama semakin memprihatinkan dengan tabungan rata-rata 2.700 dolar AS.

Survei terpisah di tahun yang sama oleh bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve mengungkapkan bahwa 4 dari 10 responden mengaku kesulitan jika harus mengalami pengeluaran tak terduga senilai 400 dolar AS, misalnya untuk perbaikan kendaraan dan peralatan elektronik rumah tangga.

Dalam merencanakan keuangan pribadi, menyisihkan uang kerap dipandang sebagai keharusan yang sifatnya menuntut, membosankan, dan melelahkan. Seseorang yang harus menyisihkan uang untuk membayar tagihan kartu kredit di bulan depan, misalnya, atau lainnya karena boros di bulan lalu, kemudian berbalik ke penghematan lagi dalam menyisihkan uang. Dari ilustrasi ini sulit terlihat persepsi yang menyenangkan di balik menyisihkan uang.

Menyisihkan uang untuk tujuan menabung/investasi butuh disiplin. Banyak orang yang mendengar kata disiplin sudah merasa malas dan menarik diri. Sebab disiplin juga erat dengan hal yang tidak menyenangkan untuk dilakukan. Asosiasi antara disiplin dan hal yang tidak menyenangkan inilah yang perlu diubah.

Kiat pertama, hubungkan suatu keharusan positif dengan impian dan harapan yang menyenangkan. Bayangkan perlunya menyisihkan uang untuk berlibur dengan keluarga, membeli mobil impian, atau memiliki rumah. Harapan memberikan semangat dalam menjalankan disiplin untuk menyisihkan uang. Dengan kata lain, kebiasaan baru terbentuk jika kebiasaan tersebut menghasilkan perasaan semangat dan menyenangkan untuk dilakukan kembali.

Kedua adalah melakukan penghargaan terhadap diri Anda, kapan pun Anda berhasil mencapai target di bulan ini. Sebagai ilustrasi, seseorang memiliki target menyisihkan satu juta rupiah untuk diinvestasikan pada bulan ini, dan pada akhir periode ternyata ia berhasil menyisihkan satu juta lima ratus ribu rupiah. Selisih uang tersebut dapat ia gunakan untuk melakukan atau membeli hal yang diinginkan.

Ketiga, hindari merencanakan banyak kebiasaan sekaligus karena akan semakin mengecilkan probabilitas keberhasilannya. Fokuskan untuk membangun satu kebiasaan positif baru. Begitu berhasil akan lebih mudah mempertahankannya, sembari merencanakan kebiasaan positif yang baru.

Konsistensi melatih disiplin pada akhirnya akan membuat kita mengasosiasikan kedisiplinan dengan sesuatu yang menyenangkan.

Disiplin adalah kunci kesuksesan, termasuk kesuksesan finansial. Hal ini bahkan ditekankan dengan sangat dramatis oleh filsuf Yunani Socrates, “Kehidupan tanpa kedisiplinan adalah kehidupan yang tidak waras!”

Pengeluaran: kunci perencanaan keuangan

Terkadang apa yang sulit dilakukan justru perlu dilakukan. Ungkapan ini menggambarkan pentingnya melakukan pencatatan terhadap pengeluaran setiap hari. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Benjamin Franklin, “Beware of little expenses, a small leak will sink a great ship.

Kasus Mike Tyson memberikan pelajaran di mana pengeluaran yang tidak terkontrol menyebabkan kebangkrutan meski penghasilan yang diterima sangat besar. Mike yang sepanjang karir tinju profesionalnya berhasil mengumpulkan hampir 300 juta dolar AS mengajukan kebangkrutan tahun 2003 karena berhutang 23 juta dolar AS. Penyebab utamanya adalah gaya hidup yang mewah dan tidak memperhitungkan pengeluaran.

Perilaku keuangan di masyarakat saat ini cenderung tidak melakukan pencatatan pengeluaran rutin mereka. Alasannya dari yang sangat sederhana seperti malas, rumit, hingga anggapan bahwa jika dicatat malah membuat mereka merasa tidak nyaman, cemas dan terbebani.

Perasaan tidak nyaman atau cemas ini kemungkinan besar disebabkan kecurigaan kuat, bahkan mungkin hendak menyangkal bahwa selama ini pengeluaran mereka besar atau ternyata malah melebihi pendapatan. Penyangkalan ini tentu tidak sehat secara psikis, dan tentu saja tidak membantu tujuan kita dalam merencanakan keuangan.

Reaksi yang tepat adalah mengambil tindakan nyata dan mulai melakukan perencanaan keuangan. Mengetahui besar pengeluaran bulanan dapat dimulai dari menetapkan dana darurat yang perlu dikumpulkan, hingga menetapkan target berupa angka spesifik dari kebebasan finansial kita. Menarik, bukan?

 Mari kita buang jauh anggapan bahwa pencatatan pengeluaran itu rumit dan membebani, karena hanya dibutuhkan waktu kurang dari 3 menit setiap hari. Selain untuk melatih disiplin menerapkan suatu rutinitas yang positif, pencatatan pengeluaran adalah variabel penting guna mengetahui angka kebebasan finansial kita.

Cara melakukan pencatatan dan pemberian template pencatatan pengeluaran yang user-friendly dan efektif menjadi salah satu materi yang saya bawakan di seminar Financial Strategy yang terakhir diadakan pada 1 Februari 2020.

Bagi rekan-rekan yang ingin mengikuti seminar ‘Financial Strategy’, dapat mengikuti lebih lanjut melalui web dan ig di @thinkarchipelago maupun ig pribadi saya di @agus5chang untuk jadwal selanjutnya.

Cara berinvestasi terbaik di tahun baru

Kita mengawali tahun 2020 dengan meningkatkan kesadaran bahwa investasi merupakan sesuatu yang wajib. Di artikel Relevansi menabung di Era 4.0 telah dikupas bagaimana pergeseran dari budaya menabung secara konvensional harus bergeser – jika tidak sudah bergeser – ke berinvestasi.

Pertanyaan yang muncul akibat pergeseran ini, apakah berarti mempraktikkan menabung secara konvensional (disingkat sebagai menabung) dengan menabung jaman now (diartikan sebagai berinvestasi) ini dapat dilakukan secara instan?

Jawabannya dimulai dari mengidentifikasi perbedaan fundamental antara menabung dan berinvestasi, yaitu risiko.

Menabung dapat disebut berisiko rendah, meski bukan berarti tidak ada. Apa risiko menabung?

Produktivitas

Proteksi

Risiko menabung terdiri dari 2P yaitu produktivitas & proteksi. Paparan risiko produktivitas pertama datang dari inflasi, di mana rata-rata inflasi per tahun lebih besar dari bunga bank per tahun.

Lalu ada faktor biaya di mana untuk mengimbangi biaya administrasi bulanan kita harus memiliki sejumlah dana yang menghasilkan bunga demi setidaknya menutup biaya tersebut, ironis mengingat pendekatannya jadi bertolak belakang dengan poin inflasi.

Kemudian ada faktor pajak di mana sebagai perbandingan untuk obligasi hanya dikenakan pajak 15% sedangkan tabungan 20% untuk setiap keuntungan yang diperoleh.

Baca juga: Relevansi menabung di Era 4.0

Yang kedua, proteksi. Penempatan Rp 2 miliar ke atas tidak sepenuhnya lagi dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) apabila bank di mana uang tersebut ditempatkan bermasalah. Ini adalah risiko yang sebenarnya kecil namun perlu diketahui.

Lalu bagaimana dengan menabung zaman now atau disingkat berinvestasi? Risiko dari instrumen investasi yang digunakan akan mengecil seiring bertambahnya pengetahuan kita terhadap instrumen tersebut. Hal inilah yang membawa kita ke poin mengenai investasi awal yang harus kita jalankan, yaitu pengetahuan.

Mengutip Warren Buffett, “Risiko datang dari ketidaktahuan kita tentang apa yang kita lakukan”. Jadi, suka maupun tidak suka, pergeseran ini menuntut kita untuk belajar. Karena keefektifan menabung, bahkan penempatan deposito sebagai instrumen investasi sudah lama menjadi hal yang usang.

Banyak yang menggeluti berbagai instrumen investasi seperti obligasi, saham, reksa dana sampai ke properti, terjebak dan mengalami kerugian akibat kurangnya pengetahuan terhadap instrumen-instrumen tersebut.

Jadi, investasi pertama yang terbaik yang kita bisa lakukan adalah pengetahuan akan investasi itu sendiri. Pelajari melalui buku, seminar, lakukan penelitian kecil, maka kita siap memulai untuk investasi yang sebenarnya.

Investasi pertama yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah pengetahuan.

Agus Chang, B.Sc, MPM

Seorang Warren Buffett pun memulai berinvestasi dalam pengetahuan sebelum benar-benar mendedikasikan dirinya di dunia investasi sampai akhirnya menjadi figur investor yang kita kenal sekarang. Beliau sebelumnya berguru pada Benjamin Graham yang dikenal sebagai pelopor dari value investing.

Pengetahuan adalah kunci berinvestasi. Memang betul, dengan memiliki pengetahuan tidak serta merta kita dapat menekan risiko sampai nol persen. Namun niscaya pengetahuan memperbesar keberhasilan kita dalam berinvestasi.

Urgensi dan faktor waktu dalam menabung/berinvestasi

Faktor penting pertimbangan menabung/berinvestasi adalah membentuk pola pikir, kemudian membangun hasil. Hasil yang dimaksud ada 2. Pertama, pengembangan diri dengan terbentuknya pola pikir. Kedua, pengembangan uang yang ditabung. Pembentukan pola pikir sebelumnya sudah dibahas di artikel Relevansi Menabung di Era 4.0. Pokok bahasan ini berfokus pada bagaimana memaksimalkan pengembangan uang yang ditabung.

Sumber daya paling berharga yang dapat dimiliki oleh seseorang adalah waktu. Dan waktu pula yang bisa melipatgandakan serta memaksimalkan investasi terhadap aset. Definisi waktu dalam kaitannya dengan menabung/investasi adalah sejak kapan kita memulai. Semakin muda kita memulai, semakin panjang durasi yang kita punya untuk mengakumulasikannya. Konsep ini sering disebut dengan bunga berbunga (compound interest).

Melalui compound interest kita akan mengetahui mengenai “keajaiban” angka dan menggarisbawahi dengan nyata dan logis – karena berupa perhitungan – akan pentingnya segera memulai. Ungkapan yang bisa menggambarkan hal ini adalah “Dia yang pertama memulai mendapat lebih banyak”.

Baca juga: Relevansi menabung di Era 4.0

Berikut ilustrasinya. Amir berkomitmen mulai menabung/investasi sejak usia 20 tahun sampai usia 40 tahun dan Badu baru memulai menabung/investasi sejak usia 35 tahun sampai usia 65 tahun. Akumulasi uang yang ditabung Amir selama rentang waktu 20 tahun, sejak usia 20 hingga 40 adalah Rp 1.353.389.026. Sementara akumulasi uang yang ditabung Badu selama rentang 30 tahun, sejak usia 35 hingga 65 adalah Rp 3.295.103.460.

Uang ini singkat kata diakumulasikan dengan konsep bunga berbunga sampai usia keduanya 65 tahun. Perlu diperjelas bahwa Amir, sejak tahun di mana dia akan menginjak usia 41 tahun, sudah tidak menambah lagi uang yang ditabung sampai mencapai usia 65 tahun, dan uangnya tetap diakumulasikan dengan konsep bunga berbunga. Dan Badu sejak usia 20 sampai 34 tahun diumpamakan tidak menabung sepeser pun.

Hasil ilustrasi di atas adalah, pada saat berusia 65 tahun dengan memperhitungkan imbal hasil per tahun 6%, tanpa memperhitungkan pajak, Amir akan mengumpulkan uang sebesar Rp 8.365.849.700. Sementara Badu akan mengumpulkan Rp 9.447.423.870. Secara nominal memang Badu lebih besar, namun dilihat dari perbandingan antara dana yang harus dikeluarkan dengan hasil yang didapatkan, maka Amir berhasil melipatgandakan uangnya sebesar 6,18 kali lebih banyak, sedangkan Badu hanya 2,867 kali.

Dari ilustrasi di atas, tidak tepat bila berpikir, “Usia saya sudah tidak muda lagi, berarti sudah terlambat untuk memulai.” Yang harus Anda lakukan justru segeralah memulai. Di usia berapa pun Anda berada sekarang, tidak ada yang patut disesali. Segeralah bertindak!

Relevansi menabung di era 4.0

Bagaimana prinsip menabung yang benar di era 4.0 sekarang? Apakah masih tepat untuk menabung atau langsung berinvestasi? Semoga dengan tulisan sederhana ini Anda bisa mendapatkan gambarannya. Selamat membaca.

Tujuan Menabung

Mari kita mulai dengan tujuan menabung. Mayoritas berpendapat menabung untuk mengumpulkan uang dan mendapatkan bunga sehingga uangnya akan bertambah. Awal mula pendapat ini diteruskan oleh generasi baby boomers kepada anak-anaknya, di mana pandangan persiapan pensiun yang terbentuk di generasi inilah yang mendorong menabung menjadi penting untuk mereka.

Namun tujuan yang lebih fundamental adalah menabung sebagai bagian dari pembentukan mindset dan disiplin sejak dini dengan menyisihkan sebagian pendapatan kita. Begitu sederhana, namun sangat berpengaruh ke depannya.

Oleh karenanya sangat penting untuk dipahami bahwa menabung sama sekali tidak ada kaitannya dengan berapa jumlah uang yang dapat disisihkan. Mempertimbangkan besarnya jumlah uang akan menggiring pada pemikiran ‘saya baru akan menabung ketika pendapatan saya besar. Menabung sekarang tidak terasa juga manfaatnya’. Akhirnya pemikiran inilah yang mencegah kita untuk mulai menabung.

Instrumen menabung

Tabungan bukanlah instrumen menabung, melainkan instrumen penyimpanan uang.

Agus Chang, b.sc, mpm

Menabung masih identik dilakukan dengan menempatkan uang pada rekening tabungan. Kedua kata ini kerap disalahartikan, salah satunya karena kata menabung sendiri memiliki kedekatan kosa kata dengan tabungan. Hal serupa juga terjadi di dalam Bahasa Inggris (bisa dibilang lebih menyimpang), antara saving (menabung) dengan saving account (tabungan). Mengapa menyimpang? Kaitannya adalah dengan tujuan membuat uang bertumbuh yang dipengaruhi oleh 2 faktor.

Pertama adalah imbal hasil atau bunga. Perlu diketahui bunga yang diberikan untuk instrumen tabungan, mengacu pada suku bunga bank besar di Indonesia periode Desember 2019, adalah di bawah 1% per tahun untuk saldo di bawah Rp 500 juta. Ilustrasinya dengan bunga 1% pun, Anda perlu punya uang 23 juta rupiah untuk mendapat bunga kurang lebih 18,900 rupiah per bulan.

Faktor kedua adalah biaya. Biaya dasar yang dikenakan untuk instrumen tabungan adalah administrasi bulanan yang berkisar dari Rp 10.000 hingga Rp 20.000, dan 20% potongan pajak dari bunga yang diberikan, yang mana artinya dari bunga Rp 18.900 di atas, akan dipotong lagi pajak sebesar Rp 3.700. Melalui ilustrasi di atas dapat disimpulkan tabungan bukanlah instrumen menabung, melainkan instrumen penyimpanan uang.

Lalu instrumen menabung sendiri baiknya apa? Di era 4.0 ini pergeseran sudah terjadi, bahkan sudah dimulai sejak era 3.0, di mana instrumen investasilah yang harus digunakan untuk menabung. Instrumen investasi paling umum adalah deposito sampai ke level lebih spesifik yang membutuhkan pengalaman dan pengetahuan sebelum memulai, contohnya saham.

Dengan kata lain, dalam kaitannya dengan menabung, kita perlu berpikir mengenai berinvestasi.

Common money mindset part 2

Topik ini meninjau ulang pola pikir dasar dari manusia mengenai keuangan yang selama ini populer dianut, sehingga diyakini benar.

Apa/siapa yang bisa membuat saya dapat uang cepat dan mudah?

Poin cepat dan mudah sudah dijelaskan sebelumnya pada poin nomor 5 di artikel bagian pertama di mana segala hal yang konsisten membutuhkan proses. Kini banyak dijumpai analisis instrumen investasi disertai otomatisasi untuk melakukan transaksi, misalnya saham.

Tidak ada yang salah dari pemanfaatan teknologi dan otomatisasi untuk efisiensi. Namun hilangnya nilai edukasi dapat mengarah ke pembentukan mindset yang keliru. Spesifiknya bisa mengarahkan kepada pemikiran bahwa investasi adalah tanggung jawab orang lain atau tool yang ditawarkan. Perlu digarisbawahi bahwa keuangan Anda adalah tanggung jawab Anda. 

Pastikan dalam berinvestasi apa pun, Anda mengetahui cara kerja dan risiko instrumen yang Anda danai, di samping itu sadar bahwa Anda yang membuat keputusan investasi. Sehingga ketika profit Anda tidak hanya senang, namun yang terpenting Anda memberikan penghargaan ke diri sendiri. Hal yang sama berlaku ketika Anda menderita kerugian, Anda tidak menyalahkan orang atau tool, melainkan Anda memperoleh pelajaran berharga dan tumbuh dari sana.

Baca juga: Common money mindset part 1

Yang terpenting dalam investasi adalah tahu caranya

Penggunaan metodologi dan pilihan instrumen memegang faktor penting, namun ada aspek lain yang banyak dilupakan yaitu pengelolahan risiko dan faktor psikologis. Tidak ada metodologi atau tool yang menjamin investasi selalu menguntungkan. Saran maupun terms and condition sebuah tool pasti di dalamnya mencakup disclaimer. Hal ini tidak lepas karena ada faktor yang sulit untuk dijadikan tolok ukur, yaitu faktor psikologis.

Meminimalisir kerugian karena faktor psikologis dapat dilakukan dengan melakukan pengelolaan risiko, yang sederhananya dan secara umum tanpa melihat apa instrumen investasinya berupa diversifikasi dan melakukan riset pasar untuk menentukan target beli/jual dan/atau berapa lama.

Dia kaya karena hoki

Bila kita beranggapan memiliki banyak uang adalah karena faktor keberuntungan, bahkan diperkuat lagi bahwa kita bukan orang yang beruntung, maka selamanya kita tidak akan bisa meraihnya. Referensi hoki adalah hal yang tidak pasti dan terjadi tanpa sebab jelas. Mempercayai hal seperti ini mematikan upaya untuk bertumbuh dan sebenarnya hanya sebagai pembenaran seseorang untuk berhenti berusaha.

Lalu bagaimana dengan orang yang menang lotre? Faktanya orang yang memenangkan lotre lebih banyak yang kembali ke keadaan semula atau bahkan lebih parah dari sebelum memenangkan lotre. Hidup tidak dirancang untuk memberikan apa yang kita perlukan atau inginkan, melainkan apa yang pantas kita dapatkan.

Saya ingin kaya agar tak perlu bekerja lagi

Tidak ada yang salah dengan mindset di atas, yang mana umum diutarakan sebagai alasan ingin menjadi orang kaya. Pandangan ini membawa tingkat keberhasilan kita mencapai kekayaan menjadi nol persen.

Mengapa? Selain kaitannya dengan kepantasan, dilihat dari prosesnya, mindset tersebut menyiratkan kemalasan. Pada era di mana perubahan cepat terjadi dan ketatnya kompetisi seperti sekarang, kita dituntut secara konsisten bekerja menempa diri dan tidak berpuas diri. Jika pada hasil di awal (menjadi kaya) dengan tujuannya (tidak bekerja lagi) sudah tidak merefleksikan semangat yang harus dimiliki untuk mencapai hasil yang diinginkan, maka hampir mustahil untuk bisa mencapainya. Kecuali mungkin dengan menang lotre…

Saya ingin punya lebih banyak uang  

Jika seseorang menjawab demikian ketika ditanya “Apa yang Anda inginkan?” mungkin orang yang bijak atau yang cakap berkata-kata akan merespon, “Oke, ini uang 100 rupiah, apa yang Anda inginkan sudah terpenuhi, silahkan pergi.”

Kejelasan mengandung kekuatan. Penentuan tujuan sejelas mungkin dibutuhkan untuk mencapai hasil yang maksimal. Dalam tujuan finansial, kejelasan dapat berupa nominal uang yang ingin Anda peroleh, dan yang tidak kalah penting, target kapan Anda dapat mencapainya. Evaluasi dan bandingkan dengan keadaan saat ini, seringkali akan terlihat mustahil. Namun di situlah Anda sadar bahwa Anda harus mengembangkan diri dan memantaskan diri.

Common money mindset part 1

Topik ini meninjau ulang pola pikir dasar dari manusia mengenai keuangan yang selama ini populer dianut, sehingga diyakini benar.

Semakin besar penghasilan, semakin besar uang yang dapat saya tabung/investasikan

Ada 2 poin yang perlu ditekankan dalam mindset ini. Pertama, menabung atau bahkan berinvestasi adalah mengenai disiplin dan komitmen, bukan perkara jumlah. Perlu dipahami bahwa menabung dapat dilakukan bahkan dengan hanya menyisihkan Rp 100 setiap hari dan untuk melakukan investasi pun di instrumen keuangan sudah dapat dimulai di nominal yang cukup terjangkau yaitu Rp 100.000.

Kuncinya adalah membangun mentalitas mengelola uang sejak dini, bukan besarnya jumlah uang. Formula umum berlaku yaitu rutinitas membangun kebiasaan dan akhirnya kebiasaan akan membangun karakter kita sebagai individu.

Kedua, yang menjamin besar uang yang dialokasikan untuk menabung adalah gaya hidup, bukan besarnya uang yang Anda terima. Banyak di antara kita ketika mendapatkan kenaikan penghasilan, yang pertama ditonjolkan adalah gaya hidup, sehingga akhirnya uang yang dapat disisihkan sebelum dan setelah pendapatan kita naik, sama, atau malah berkurang. Betul atau betul?

Apa pun yang saya miliki adalah aset saya

Masyarakat umum meyakini aset sebagai apa pun yang sudah kita miliki setelah kita mengeluarkan uang untuk mendapatkannya. Rumah adalah salah satu contoh yang diyakini oleh mayoritas sebagai aset. Mungkinkah rumah bisa menjadi beban? Jawabannya adalah tergantung. Bisa jadi rumah menjadi aset dan bisa juga masuk kategori beban.

Untuk menjelaskan secara sederhana apa asset dan apa liability, saya ingin mengutip definisinya sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Robert Kiyosaki.

Asset adalah apa pun yang menambah uang ke kantong Anda dan liability adalah apa pun yang membuat Anda mengeluarkan uang lebih banyak dari kantong Anda. Perjelas klasifikasi keduanya jika Anda juga sependapat dengan hal ini, dan mulailah fokus mengumpulkan aset yang sebenarnya.

Bersenang-senang dahulu selagi muda

Secara statistik, tingkat kesejahteraan masyarakat makin meningkat dari tahun ke tahun. Tingkat usia produktif masyarakat juga mencapai puncaknya dalam rentang tahun 2020 – 2030 atau yang kerap disebut bonus demografis.

Promosi terarah, kebiasaan konsumsi dan kemudahan akses berhasil dibangun oleh market place maupun fintech sekarang ini untuk mendukung terjadinya trading secara masif dan konsisten.

Dalam perencanaan keuangan, salah satu yang terpenting adalah melakukan selebrasi. Hal ini penting karena disiplin membutuhkan penghargaan agar dapat konsisten. Salah satu disiplin yang harus dilakukan adalah membangun aset.

Ungkapan yang tepat untuk membuka pikiran kita lebih jauh adalah semakin muda kita berhasil mengumpulkan aset, semakin panjang periode kita menikmati hasil dari aset kita. Apabila kita gagal ketika masih muda, kesempatan dan waktu masih panjang untuk kita memulai kembali.

Spend dahulu, tabung sisanya

Salah satu trik sederhana untuk menunjukkan relevansi dari komitmen dalam melakukan menabung adalah tabung dulu lalu belanjakan sisanya. Untuk itu, pertama-tama perlu dilakukan pencatatan pengeluaran selama sebulan. Dari sana kita bisa mengetahui pos-pos pengeluaran mana yang dapat ditekan dan mulai membuat target menabung/investasi.

Dengan terlihat kaya, saya bisa memperoleh pengakuan

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan untuk diakui oleh orang lain. Setiap dari kita memiliki hasrat untuk diakui. Kaitannya dengan mindset keuangan adalah kebutuhan pengakuan dapat diwujudkan antara lain dengan publikasi melalui media sosial. Untuk itu dibutuhkan ‘modal’. Tren ini disambut positif dan didukung oleh platform teknologi, berupa like dan ungkapan kekaguman.

Apakah artinya manusia tidak boleh mempublikasi kesuksesan mereka? Sangat boleh. Publikasi bisa bermakna positif jika memberikan inspirasi. Mindset yang perlu untuk dibentuk adalah pihak yang melihat publikasi tersebut. Dengan mengetahui bahwa ada proses untuk mendapatkan hasil dan personifikasi dengan hanya mencontoh hasil saja tidak memberi efek pengakuan yang konsisten namun malah akan membebani kondisi keuangan.