Tag Archives: Personal financial knowledge

Tes Marshmallow tolok ukur potensi sukses

Foto: Antoine Doyen

Artikel ini merangkum bagaimana sebuah percobaan sederhana bisa menggambarkan perilaku keuangan seseorang berdasarkan teori yang pertama kali digagas oleh Walter Mischel saat ia menjadi dosen psikologi sosial dan teori kepribadian di Universitas Stanford pada tahun 1972.

Tujuan dari tes ini tidak hanya untuk mengukur keberhasilan seseorang dalam hal pencapaian dari aspek finansial, namun juga tingkat pencapaian perasaan bahagia serta ukuran kebahagiaan lainnya seperti keberhasilan dalam berkarir secara profesional, keberhasilan untuk berperilaku baik dan tidak mudah terjerumus dalam pola hidup menyimpang, serta kesuksesan dalam hidup.

Michio Kaku, fisikawan yang pernah dinobatkan sebagai 100 orang terpintar di New York oleh New York Magazine mendukung keakuratan tes ini dalam menilai tingkat keberhasilan dan pencapaian seseorang yang dapat melalui tes ini dengan baik.

Dalam suatu wawancara, Michio mengatakan, “Ketika Anda melihat anak-anak dan apa yang membuat mereka sukses, Anda akan menyadari bahwa hampir semua teori adalah keliru, seperti memiliki IQ yang tinggi, namun banyak yang memiliki IQ tinggi menjadi kaum marjinal di masyarakat. Marshmallow test adalah tes psikologi yang dapat berkorelasi terhadap kesuksesan dalam hidup.”

Eksperimen Marshmallow dimulai dengan memperhatikan perilaku puluhan anak berusia 4 sampai 6 tahun ketika diberikan penawaran kudapan yang mereka sukai, misalnya permen, biskuit, atau marshmallow.

Mereka diberi 2 pilihan: Pertama, mereka dapat makan kudapan yang mereka sukai tersebut sekarang namun hanya mendapat 1 buah saja. Kedua, mereka dapat makan kudapan tersebut nanti, 15 menit dari sekarang, dan akan mendapatkan 2 kali lebih banyak daripada yang mereka dapatkan sekarang.

Tentu dari opsi yang ditawarkan ini, sebagian berupaya menunggu untuk mendapatkan lebih, dan sebagian lainnya langsung memakannya.

Penelitian dilanjutkan 30 tahun mendatang, ketika anak-anak tersebut sudah dewasa. Mereka diundang kembali untuk diwawancarai mengenai bagaimana kehidupan mereka.

Hasilnya, mereka yang ketika kecil menunggu untuk mendapatkan lebih banyak cenderung memiliki kehidupan yang lebih bahagia, lebih sukses, dan secara finansial lebih mapan dibandingkan dengan mereka yang dulu memilih langsung memakan kudapan yang ada di hadapan.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian aspek dari perilaku tersebut mencerminkan karakter seseorang. Namun kabar baiknya, perilaku dapat dilatih dan dipraktikkan dalam kehidupan meski kita sudah tumbuh dewasa.

Berbeda dengan hewan, manusia mengerti konsep waktu. Seseorang bisa memahami bahwa jika dia tahu dengan menunda kesenangan sekarang dia bisa mencapai hal yang lebih baik di masa datang, maka akan muncul pertimbangan yang berujung pada keputusan untuk menjalani hal yang perlu dilakukan dahulu agar mendapatkan hasil lebih baik.

Almarhum Ciputra dalam beberapa kesempatan menceritakan bagaimana dia sudah harus membanting tulang dan harus membiasakan diri menunda keinginannya sementara teman seusianya dapat bermain dan bersekolah sewajarnya.

Salah satu penyebabnya adalah kehilangan ayahnya ketika dia masih berusia 12 tahun. Ciputra menceritakan perubahan dirinya dari manja menjadi kuat, dari yang semula tidak pernah berkotor-kotoran di kebun, hingga terpaksa harus memeras keringat setiap hari mengolah tanah agar sekeluarga dapat makan, dan belajar berburu binatang di hutan. Hal tersebut yang akhirnya menempa beliau menjadi taipan properti dan filantropis yang kita kenal sekarang.

Terkait keuangan, khususnya dalam berinvestasi, yang mana bertujuan mengalokasikan sejumlah uang untuk memperoleh penghasilan atau keuntungan, pada praktiknya kita mengendalikan dorongan menggunakan uang yang dimiliki sekarang untuk hasil yang lebih baik di masa mendatang.

Menyisihkan uang pun demikian. Kita memiliki tujuan di depan yang lebih besar dari yang bisa dicapai sekarang.

Berdonasi merupakan sesuatu yang sangat relevan dalam membantu masyarakat dan tim medis khususnya yang bisa dilakukan di masa sulit ini.

Seorang donatur tergerak atas kerelaan mendahulukan masyarakat yang lebih membutuhkan, dan menunda kebutuhan pribadinya.

Agar konsisten mempraktikkan hal ini dengan maksimal, penting sebelumnya untuk menetapkan apa tujuan hidup di masa depan, dan seberapa besar kita bersedia menunda hal lain yang menyenangkan sekarang demi tujuan yang lebih besar di depan?

Kesempatan di balik pandemi

Sejarah mencatat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, terjadi satu peristiwa luar biasa yang berakibat pada perekonomian suatu kawasan bahkan global setiap 5 tahun. Kilas balik peristiwa mulai dari krisis moneter di Asia (khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara) di tahun 1997 – 1998, pandemi SARS tahun 2003, subprime mortgage yang bermula di Amerika Serikat tahun 2007 dan berimbas secara tidak langsung pada krisis keuangan Eropa, wabah MERS di Timur Tengah pada 2012 dan sempat dilaporkan juga terjadi di Korea, hingga pandemi COVID-19 yang melanda saat ini.

Menurut Dana Moneter Internastional (IMF), melalui pernyataan Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional Lesetja Kganyago dan direktur Kristalina Georgieva, ekonomi dan keuangan global mengalami krisis karena pandemi ini.

Menggunakan analogi 2 sisi mata uang, di satu sisi pandemi COVID-19 memperlihatkan sebuah krisis dalam skala global, namun di sisi lain sarat peluang yang bisa diraih melalui pengendalian diri dan pembelajaran dari situasi yang dihadapi.

Artikel ini menyajikan 3 kesempatan yang dapat dimanfaatkan dari situasi pandemi COVID-19 untuk menghasilkan sesuatu yang positif dan produktif.

Melakukan kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan berdampak besar pada risiko tertular atau tetap sehat. Masyarakat semakin sadar akan pentingnya nutrisi yang sehat dan tentang apa yang mereka makan, karena berdasarkan sejumlah penelitian wabah ini ditengarai bermula dari hewan liar yang dikonsumsi oleh manusia tanpa melewati proses memasak dengan tingkat kematangan yang aman dan higienis.

Di tengah situasi ini fokuskan daya pada apa yang bisa dilakukan. Saat bereaksi terhadap sebuah kesulitan, hal pertama yang naluriah dilakukan adalah waspada. Namun tidak berakhir di situ, setelah tahap kewaspadaan kita perlu menjalankan tindakan pencegahan yang solid, dan selanjutnya melihat peluang apa yang ada di luar sana. Salah satunya ada di bursa saham.

Sir John Templeton berujar, “Masa di mana pesimisme berada pada titik tertinggi adalah waktu terbaik untuk membeli.”

Hal ini penting untuk diketahui terutama oleh investor individual karena aksi jual masif ketika terjadi kejadian luar biasa seperti sekarang atau diistilahkan cut loss. Istilah yang kerap menyesatkan ini sebenarnya adalah pelaku pasar modal yang sudah membeli dalam jumlah besar menjual kepemilikan saham mereka dengan harga lebih rendah ketika harga masih tinggi sehingga seakan menciptakan kepanikan pasar. Efek berantai yang terjadi adalah aksi jual yang juga dilakukan oleh investor-investor retail yang terbawa suasana tanpa sepenuhnya memahami situasi yang sebenarnya.

Lalu apa sebenarnya situasi yang mendasari terjadinya aksi jual?

Pertama, para investor besar di pasar modal yang memahami siklus pasar akan menjual sahamnya untuk profit taking karena ‘waktu panen’ telah tiba. Market akan dilanda aksi jual. Keuntungan akan berlipat karena mereka mencairkan dana yang mana banyak di antaranya bahkan tetap lebih tinggi ketika pasar jatuh karena mereka sudah menabung sejak lama, maupun menggunakan prinsip cost averaging.

Kedua, setelah market konsisten turun dan terlihat tanda-tanda akan naik atau stabil, dimulailah aksi beli karena pasar sedang dalam keadaan diskon. Faktor psikologis dan pemahaman terhadap kategori profil risiko membantu mengendalikan diri ketika melihat kejatuhan pasar seperti ini.

Krisis terkini berdampak pada semua jenis pekerjaan, tanpa mempedulikan apakah Anda seorang karyawan, pengusaha, pedagang maupun pengelola bisnis online. Timbul desakan untuk mengeluarkan kas lebih untuk membeli perlengkapan perlindungan guna menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh.

Karena lonjakan pengeluaran bulanan selama beberapa waktu ke depan, baik itu untuk mencukupi gizi makanan, mengonsumsi vitamin tambahan secara rutin, sampai melengkapi diri dengan alat sanitasi yang harganya melonjak seperti masker dan cairan disinsfektan, evaluasi keuangan bisa menjadi langkah awal untuk memaksimalkan uang yang dimiliki sekarang dan menginvestasikannya untuk menciptakan sumber cash flow baru yang dapat membantu memperkuat arus pendapatan kita di samping pendapatan yang kita miliki sekarang.

Seperti yang sebelumnya dibahas pada artikel Relevansi menabung di era 4.0, pembaca disarankan untuk senantiasa memberdayakan uang yang sudah disisihkan agar memberikan return seefektif mungkin dengan memanfaatkan instrumen yang dapat memberikan penghasilan cukup stabil dan aman di atas angka inflasi, seperti deposito sampai ke instrumen pinjaman pada platform peer to peer lending sebagai peminjam. 

 

 

Memaksimalkan kebutuhan dan keinginan

Salah satu fondasi dalam kecerdasan keuangan adalah kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan dalam tingkat ekstrim akan membahayakan keberlangsungan hidup. Sedangkan keinginan, ekstrimnya, jika tidak terpenuhi pun tidak membahayakan.

Pertanyaan selanjutnya, kapan kita memenuhi keinginan kita? Apakah kita hanya boleh memenuhi apa yang kita butuhkan? Tentunya tidak sedemikian dilematis juga. Seperti yang telah dibahas di artikel 3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan , pemenuhan keinginan dapat dilakukan apabila target kita terpenuhi.

Baca juga: 3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan

Ketika hal ini konsisten dilakukan, yang terjadi adalah pertama, kita akan lebih menghargai keinginan kita, dan kedua, kita mengasosiasikan pencapaian sebagai sesuatu yang menyenangkan karena kita dapat memenuhi keinginan kita.

Jadikan keinginan sebagai alat mencapai target yang kita tetapkan, baik itu target besar dalam hidup atau spesifik mengenai target keuangan. Praktikkan target-target yang lebih mudah dengan keinginan yang kecil seperti dapat meminum soda setelah mencatat pengeluaran rutin, hingga yang lebih besar seperti dapat berkeliling dunia setelah berhasil mengumpulkan 5 milyar rupiah, misalnya.

Jadikan pemenuhan keinginan sebuah konsistensi untuk memenuhi target-target yang sudah dicanangkan. Dari sini kita akan dapat mengaitkan secara faktual dan efektif peningkatan kualitas hidup karena tercapainya target-target tersebut.

Teknik marketing sekarang sudah pandai bermain di area tipis antara kebutuhan dan keinginan serta memperhitungkan aspek psikologis.

Contohnya, penawaran diskon 20% untuk pembelanjaan minimal Rp 500.000. Banyak yang berpikir, “Wow tanggung, mumpung diskon, coba pilih barang lain yang saya inginkan.“ Padahal yang konsumen tersebut butuhkan hanya barang seharga Rp 300.000. Pada akhirnya konsumen membelanjakan lebih dari Rp 500.000 ketika seharusnya hanya perlu mengeluarkan Rp 300.000.

Kesadaran akan keinginan dan kebutuhan penting agar pembaca dapat menggunakan dorongan keinginan untuk memaksimalkan peningkatan potensi diri dan target yang ditetapkan. 

3 tips disiplin bangun kebiasaan keuangan

Pada 2019 Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa berdasarkan data 2017, rasio tabungan terhadap produk domestik bruto (PDB) masyarakat Indonesia sebesar 30,9% berada jauh lebih rendah dari Singapura dan China yang telah mencapai 49% , bahkan Filipina di 44%.

Kala itu, di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sardjito, mendampingi Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, berkata bahwa orang Indonesia rata-rata tidak senang menabung.

“Saya nggak bilang yang terparah, tapi memang kebiasaan kita itu consume. Nabung semua juga nggak bagus, tapi rasio saving to GDP seharusnya bagus,” kata Sardjito.

Mengutip CNBC, survei pada tahun 2019 di Amerika Serikat menunjukkan setiap rumah tangga rata-rata memiliki tabungan sebesar 8.863 dolar AS. Kelompok pasangan menikah usia di bawah 34 memiliki tabungan rata-rata 4.700 dolar AS. Kelompok lajang di rentang usia yang sama semakin memprihatinkan dengan tabungan rata-rata 2.700 dolar AS.

Survei terpisah di tahun yang sama oleh bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve mengungkapkan bahwa 4 dari 10 responden mengaku kesulitan jika harus mengalami pengeluaran tak terduga senilai 400 dolar AS, misalnya untuk perbaikan kendaraan dan peralatan elektronik rumah tangga.

Dalam merencanakan keuangan pribadi, menyisihkan uang kerap dipandang sebagai keharusan yang sifatnya menuntut, membosankan, dan melelahkan. Seseorang yang harus menyisihkan uang untuk membayar tagihan kartu kredit di bulan depan, misalnya, atau lainnya karena boros di bulan lalu, kemudian berbalik ke penghematan lagi dalam menyisihkan uang. Dari ilustrasi ini sulit terlihat persepsi yang menyenangkan di balik menyisihkan uang.

Menyisihkan uang untuk tujuan menabung/investasi butuh disiplin. Banyak orang yang mendengar kata disiplin sudah merasa malas dan menarik diri. Sebab disiplin juga erat dengan hal yang tidak menyenangkan untuk dilakukan. Asosiasi antara disiplin dan hal yang tidak menyenangkan inilah yang perlu diubah.

Kiat pertama, hubungkan suatu keharusan positif dengan impian dan harapan yang menyenangkan. Bayangkan perlunya menyisihkan uang untuk berlibur dengan keluarga, membeli mobil impian, atau memiliki rumah. Harapan memberikan semangat dalam menjalankan disiplin untuk menyisihkan uang. Dengan kata lain, kebiasaan baru terbentuk jika kebiasaan tersebut menghasilkan perasaan semangat dan menyenangkan untuk dilakukan kembali.

Kedua adalah melakukan penghargaan terhadap diri Anda, kapan pun Anda berhasil mencapai target di bulan ini. Sebagai ilustrasi, seseorang memiliki target menyisihkan satu juta rupiah untuk diinvestasikan pada bulan ini, dan pada akhir periode ternyata ia berhasil menyisihkan satu juta lima ratus ribu rupiah. Selisih uang tersebut dapat ia gunakan untuk melakukan atau membeli hal yang diinginkan.

Ketiga, hindari merencanakan banyak kebiasaan sekaligus karena akan semakin mengecilkan probabilitas keberhasilannya. Fokuskan untuk membangun satu kebiasaan positif baru. Begitu berhasil akan lebih mudah mempertahankannya, sembari merencanakan kebiasaan positif yang baru.

Konsistensi melatih disiplin pada akhirnya akan membuat kita mengasosiasikan kedisiplinan dengan sesuatu yang menyenangkan.

Disiplin adalah kunci kesuksesan, termasuk kesuksesan finansial. Hal ini bahkan ditekankan dengan sangat dramatis oleh filsuf Yunani Socrates, “Kehidupan tanpa kedisiplinan adalah kehidupan yang tidak waras!”

Pengeluaran: kunci perencanaan keuangan

Terkadang apa yang sulit dilakukan justru perlu dilakukan. Ungkapan ini menggambarkan pentingnya melakukan pencatatan terhadap pengeluaran setiap hari. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Benjamin Franklin, “Beware of little expenses, a small leak will sink a great ship.

Kasus Mike Tyson memberikan pelajaran di mana pengeluaran yang tidak terkontrol menyebabkan kebangkrutan meski penghasilan yang diterima sangat besar. Mike yang sepanjang karir tinju profesionalnya berhasil mengumpulkan hampir 300 juta dolar AS mengajukan kebangkrutan tahun 2003 karena berhutang 23 juta dolar AS. Penyebab utamanya adalah gaya hidup yang mewah dan tidak memperhitungkan pengeluaran.

Perilaku keuangan di masyarakat saat ini cenderung tidak melakukan pencatatan pengeluaran rutin mereka. Alasannya dari yang sangat sederhana seperti malas, rumit, hingga anggapan bahwa jika dicatat malah membuat mereka merasa tidak nyaman, cemas dan terbebani.

Perasaan tidak nyaman atau cemas ini kemungkinan besar disebabkan kecurigaan kuat, bahkan mungkin hendak menyangkal bahwa selama ini pengeluaran mereka besar atau ternyata malah melebihi pendapatan. Penyangkalan ini tentu tidak sehat secara psikis, dan tentu saja tidak membantu tujuan kita dalam merencanakan keuangan.

Reaksi yang tepat adalah mengambil tindakan nyata dan mulai melakukan perencanaan keuangan. Mengetahui besar pengeluaran bulanan dapat dimulai dari menetapkan dana darurat yang perlu dikumpulkan, hingga menetapkan target berupa angka spesifik dari kebebasan finansial kita. Menarik, bukan?

 Mari kita buang jauh anggapan bahwa pencatatan pengeluaran itu rumit dan membebani, karena hanya dibutuhkan waktu kurang dari 3 menit setiap hari. Selain untuk melatih disiplin menerapkan suatu rutinitas yang positif, pencatatan pengeluaran adalah variabel penting guna mengetahui angka kebebasan finansial kita.

Cara melakukan pencatatan dan pemberian template pencatatan pengeluaran yang user-friendly dan efektif menjadi salah satu materi yang saya bawakan di seminar Financial Strategy yang terakhir diadakan pada 1 Februari 2020.

Bagi rekan-rekan yang ingin mengikuti seminar ‘Financial Strategy’, dapat mengikuti lebih lanjut melalui web dan ig di @thinkarchipelago maupun ig pribadi saya di @agus5chang untuk jadwal selanjutnya.

Pentingnya pengetahuan mengelola keuangan

Masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 19 tahun untuk menyelesaikan pendidikan formal dari pendidikan anak usia dini hingga bangku kuliah. Jika ditanyakan ke orangtua atau diri sendiri, apa sebenarnya tujuan akhir 19 tahun masa pendidikan yang telah ditempuh tersebut? Mayoritas akan menjawab demi mendapatkan pekerjaan sehingga dapat menghasilkan uang.

Hal ini membawa kita ke pertanyaan selanjutnya, berapa banyak porsi yang kita dapatkan selama pendidikan formal tersebut yang mengajarkan cara mengatur keuangan yang benar? Riset menunjukkan hampir tidak ada.

Kita tidak diajarkan bagaimana cara mengelola, hanya cara menghasilkan. Ini yang menjadi salah satu alasan seseorang yang berpenghasilan besar bisa terjerumus pada hutang tidak produktif sehingga akhirnya bangkrut. Tidak ada pendidikan yang menopangnya!

Kita tidak diajarkan bagaimana cara mengelola, hanya cara menghasilkan.

Agus Chang, B.Sc, MPM

Mantan gubernur bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve Alan Greenspan mengungkapkan bahwa problem utama pada generasi dan ekonomi sekarang ini adalah tidak adanya literasi keuangan.

Robert T. Kiyosaki menyuarakan kekhawatiran yang sama di mana, “Sekolah telah melupakan pendidikan keuangan dan fokus pada kualifikasi akademis, padahal keduanya sama pentingnya.”

Mengelola keuangan seharusnya menjadi pengetahuan dasar, sama halnya dengan membaca dan berhitung. Mengetahui cara mengelola keuangan membuat Anda memiliki pengetahuan tentang pola pikir yang tepat, target dan tujuan keuangan, dan langkah-langkah konkrit mengenai apa yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut.

Sebagai bagian dari rangkaian program rutin pelatihan bisnis dan manajemen bersertifikat, Archipelago Strategic & Partners Indonesia (ASPI) bersama Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM mengajak masyarakat Indonesia untuk mulai mencari tahu cara mengelola keuangan yang benar, karena ini adalah fondasi penting yang harus dipahami demi membangun kesejahteraan dan kebebasan finansial.

Pendaftaran batch 2 seminar Financial Strategy tahun 2020 oleh Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM telah dibuka dengan mengakses link berikut:

 

Cara berinvestasi terbaik di tahun baru

Kita mengawali tahun 2020 dengan meningkatkan kesadaran bahwa investasi merupakan sesuatu yang wajib. Di artikel Relevansi menabung di Era 4.0 telah dikupas bagaimana pergeseran dari budaya menabung secara konvensional harus bergeser – jika tidak sudah bergeser – ke berinvestasi.

Pertanyaan yang muncul akibat pergeseran ini, apakah berarti mempraktikkan menabung secara konvensional (disingkat sebagai menabung) dengan menabung jaman now (diartikan sebagai berinvestasi) ini dapat dilakukan secara instan?

Jawabannya dimulai dari mengidentifikasi perbedaan fundamental antara menabung dan berinvestasi, yaitu risiko.

Menabung dapat disebut berisiko rendah, meski bukan berarti tidak ada. Apa risiko menabung?

Produktivitas

Proteksi

Risiko menabung terdiri dari 2P yaitu produktivitas & proteksi. Paparan risiko produktivitas pertama datang dari inflasi, di mana rata-rata inflasi per tahun lebih besar dari bunga bank per tahun.

Lalu ada faktor biaya di mana untuk mengimbangi biaya administrasi bulanan kita harus memiliki sejumlah dana yang menghasilkan bunga demi setidaknya menutup biaya tersebut, ironis mengingat pendekatannya jadi bertolak belakang dengan poin inflasi.

Kemudian ada faktor pajak di mana sebagai perbandingan untuk obligasi hanya dikenakan pajak 15% sedangkan tabungan 20% untuk setiap keuntungan yang diperoleh.

Baca juga: Relevansi menabung di Era 4.0

Yang kedua, proteksi. Penempatan Rp 2 miliar ke atas tidak sepenuhnya lagi dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) apabila bank di mana uang tersebut ditempatkan bermasalah. Ini adalah risiko yang sebenarnya kecil namun perlu diketahui.

Lalu bagaimana dengan menabung zaman now atau disingkat berinvestasi? Risiko dari instrumen investasi yang digunakan akan mengecil seiring bertambahnya pengetahuan kita terhadap instrumen tersebut. Hal inilah yang membawa kita ke poin mengenai investasi awal yang harus kita jalankan, yaitu pengetahuan.

Mengutip Warren Buffett, “Risiko datang dari ketidaktahuan kita tentang apa yang kita lakukan”. Jadi, suka maupun tidak suka, pergeseran ini menuntut kita untuk belajar. Karena keefektifan menabung, bahkan penempatan deposito sebagai instrumen investasi sudah lama menjadi hal yang usang.

Banyak yang menggeluti berbagai instrumen investasi seperti obligasi, saham, reksa dana sampai ke properti, terjebak dan mengalami kerugian akibat kurangnya pengetahuan terhadap instrumen-instrumen tersebut.

Jadi, investasi pertama yang terbaik yang kita bisa lakukan adalah pengetahuan akan investasi itu sendiri. Pelajari melalui buku, seminar, lakukan penelitian kecil, maka kita siap memulai untuk investasi yang sebenarnya.

Investasi pertama yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah pengetahuan.

Agus Chang, B.Sc, MPM

Seorang Warren Buffett pun memulai berinvestasi dalam pengetahuan sebelum benar-benar mendedikasikan dirinya di dunia investasi sampai akhirnya menjadi figur investor yang kita kenal sekarang. Beliau sebelumnya berguru pada Benjamin Graham yang dikenal sebagai pelopor dari value investing.

Pengetahuan adalah kunci berinvestasi. Memang betul, dengan memiliki pengetahuan tidak serta merta kita dapat menekan risiko sampai nol persen. Namun niscaya pengetahuan memperbesar keberhasilan kita dalam berinvestasi.

Common money mindset part 2

Topik ini meninjau ulang pola pikir dasar dari manusia mengenai keuangan yang selama ini populer dianut, sehingga diyakini benar.

Apa/siapa yang bisa membuat saya dapat uang cepat dan mudah?

Poin cepat dan mudah sudah dijelaskan sebelumnya pada poin nomor 5 di artikel bagian pertama di mana segala hal yang konsisten membutuhkan proses. Kini banyak dijumpai analisis instrumen investasi disertai otomatisasi untuk melakukan transaksi, misalnya saham.

Tidak ada yang salah dari pemanfaatan teknologi dan otomatisasi untuk efisiensi. Namun hilangnya nilai edukasi dapat mengarah ke pembentukan mindset yang keliru. Spesifiknya bisa mengarahkan kepada pemikiran bahwa investasi adalah tanggung jawab orang lain atau tool yang ditawarkan. Perlu digarisbawahi bahwa keuangan Anda adalah tanggung jawab Anda. 

Pastikan dalam berinvestasi apa pun, Anda mengetahui cara kerja dan risiko instrumen yang Anda danai, di samping itu sadar bahwa Anda yang membuat keputusan investasi. Sehingga ketika profit Anda tidak hanya senang, namun yang terpenting Anda memberikan penghargaan ke diri sendiri. Hal yang sama berlaku ketika Anda menderita kerugian, Anda tidak menyalahkan orang atau tool, melainkan Anda memperoleh pelajaran berharga dan tumbuh dari sana.

Baca juga: Common money mindset part 1

Yang terpenting dalam investasi adalah tahu caranya

Penggunaan metodologi dan pilihan instrumen memegang faktor penting, namun ada aspek lain yang banyak dilupakan yaitu pengelolahan risiko dan faktor psikologis. Tidak ada metodologi atau tool yang menjamin investasi selalu menguntungkan. Saran maupun terms and condition sebuah tool pasti di dalamnya mencakup disclaimer. Hal ini tidak lepas karena ada faktor yang sulit untuk dijadikan tolok ukur, yaitu faktor psikologis.

Meminimalisir kerugian karena faktor psikologis dapat dilakukan dengan melakukan pengelolaan risiko, yang sederhananya dan secara umum tanpa melihat apa instrumen investasinya berupa diversifikasi dan melakukan riset pasar untuk menentukan target beli/jual dan/atau berapa lama.

Dia kaya karena hoki

Bila kita beranggapan memiliki banyak uang adalah karena faktor keberuntungan, bahkan diperkuat lagi bahwa kita bukan orang yang beruntung, maka selamanya kita tidak akan bisa meraihnya. Referensi hoki adalah hal yang tidak pasti dan terjadi tanpa sebab jelas. Mempercayai hal seperti ini mematikan upaya untuk bertumbuh dan sebenarnya hanya sebagai pembenaran seseorang untuk berhenti berusaha.

Lalu bagaimana dengan orang yang menang lotre? Faktanya orang yang memenangkan lotre lebih banyak yang kembali ke keadaan semula atau bahkan lebih parah dari sebelum memenangkan lotre. Hidup tidak dirancang untuk memberikan apa yang kita perlukan atau inginkan, melainkan apa yang pantas kita dapatkan.

Saya ingin kaya agar tak perlu bekerja lagi

Tidak ada yang salah dengan mindset di atas, yang mana umum diutarakan sebagai alasan ingin menjadi orang kaya. Pandangan ini membawa tingkat keberhasilan kita mencapai kekayaan menjadi nol persen.

Mengapa? Selain kaitannya dengan kepantasan, dilihat dari prosesnya, mindset tersebut menyiratkan kemalasan. Pada era di mana perubahan cepat terjadi dan ketatnya kompetisi seperti sekarang, kita dituntut secara konsisten bekerja menempa diri dan tidak berpuas diri. Jika pada hasil di awal (menjadi kaya) dengan tujuannya (tidak bekerja lagi) sudah tidak merefleksikan semangat yang harus dimiliki untuk mencapai hasil yang diinginkan, maka hampir mustahil untuk bisa mencapainya. Kecuali mungkin dengan menang lotre…

Saya ingin punya lebih banyak uang  

Jika seseorang menjawab demikian ketika ditanya “Apa yang Anda inginkan?” mungkin orang yang bijak atau yang cakap berkata-kata akan merespon, “Oke, ini uang 100 rupiah, apa yang Anda inginkan sudah terpenuhi, silahkan pergi.”

Kejelasan mengandung kekuatan. Penentuan tujuan sejelas mungkin dibutuhkan untuk mencapai hasil yang maksimal. Dalam tujuan finansial, kejelasan dapat berupa nominal uang yang ingin Anda peroleh, dan yang tidak kalah penting, target kapan Anda dapat mencapainya. Evaluasi dan bandingkan dengan keadaan saat ini, seringkali akan terlihat mustahil. Namun di situlah Anda sadar bahwa Anda harus mengembangkan diri dan memantaskan diri.

Common money mindset part 1

Topik ini meninjau ulang pola pikir dasar dari manusia mengenai keuangan yang selama ini populer dianut, sehingga diyakini benar.

Semakin besar penghasilan, semakin besar uang yang dapat saya tabung/investasikan

Ada 2 poin yang perlu ditekankan dalam mindset ini. Pertama, menabung atau bahkan berinvestasi adalah mengenai disiplin dan komitmen, bukan perkara jumlah. Perlu dipahami bahwa menabung dapat dilakukan bahkan dengan hanya menyisihkan Rp 100 setiap hari dan untuk melakukan investasi pun di instrumen keuangan sudah dapat dimulai di nominal yang cukup terjangkau yaitu Rp 100.000.

Kuncinya adalah membangun mentalitas mengelola uang sejak dini, bukan besarnya jumlah uang. Formula umum berlaku yaitu rutinitas membangun kebiasaan dan akhirnya kebiasaan akan membangun karakter kita sebagai individu.

Kedua, yang menjamin besar uang yang dialokasikan untuk menabung adalah gaya hidup, bukan besarnya uang yang Anda terima. Banyak di antara kita ketika mendapatkan kenaikan penghasilan, yang pertama ditonjolkan adalah gaya hidup, sehingga akhirnya uang yang dapat disisihkan sebelum dan setelah pendapatan kita naik, sama, atau malah berkurang. Betul atau betul?

Apa pun yang saya miliki adalah aset saya

Masyarakat umum meyakini aset sebagai apa pun yang sudah kita miliki setelah kita mengeluarkan uang untuk mendapatkannya. Rumah adalah salah satu contoh yang diyakini oleh mayoritas sebagai aset. Mungkinkah rumah bisa menjadi beban? Jawabannya adalah tergantung. Bisa jadi rumah menjadi aset dan bisa juga masuk kategori beban.

Untuk menjelaskan secara sederhana apa asset dan apa liability, saya ingin mengutip definisinya sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Robert Kiyosaki.

Asset adalah apa pun yang menambah uang ke kantong Anda dan liability adalah apa pun yang membuat Anda mengeluarkan uang lebih banyak dari kantong Anda. Perjelas klasifikasi keduanya jika Anda juga sependapat dengan hal ini, dan mulailah fokus mengumpulkan aset yang sebenarnya.

Bersenang-senang dahulu selagi muda

Secara statistik, tingkat kesejahteraan masyarakat makin meningkat dari tahun ke tahun. Tingkat usia produktif masyarakat juga mencapai puncaknya dalam rentang tahun 2020 – 2030 atau yang kerap disebut bonus demografis.

Promosi terarah, kebiasaan konsumsi dan kemudahan akses berhasil dibangun oleh market place maupun fintech sekarang ini untuk mendukung terjadinya trading secara masif dan konsisten.

Dalam perencanaan keuangan, salah satu yang terpenting adalah melakukan selebrasi. Hal ini penting karena disiplin membutuhkan penghargaan agar dapat konsisten. Salah satu disiplin yang harus dilakukan adalah membangun aset.

Ungkapan yang tepat untuk membuka pikiran kita lebih jauh adalah semakin muda kita berhasil mengumpulkan aset, semakin panjang periode kita menikmati hasil dari aset kita. Apabila kita gagal ketika masih muda, kesempatan dan waktu masih panjang untuk kita memulai kembali.

Spend dahulu, tabung sisanya

Salah satu trik sederhana untuk menunjukkan relevansi dari komitmen dalam melakukan menabung adalah tabung dulu lalu belanjakan sisanya. Untuk itu, pertama-tama perlu dilakukan pencatatan pengeluaran selama sebulan. Dari sana kita bisa mengetahui pos-pos pengeluaran mana yang dapat ditekan dan mulai membuat target menabung/investasi.

Dengan terlihat kaya, saya bisa memperoleh pengakuan

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan untuk diakui oleh orang lain. Setiap dari kita memiliki hasrat untuk diakui. Kaitannya dengan mindset keuangan adalah kebutuhan pengakuan dapat diwujudkan antara lain dengan publikasi melalui media sosial. Untuk itu dibutuhkan ‘modal’. Tren ini disambut positif dan didukung oleh platform teknologi, berupa like dan ungkapan kekaguman.

Apakah artinya manusia tidak boleh mempublikasi kesuksesan mereka? Sangat boleh. Publikasi bisa bermakna positif jika memberikan inspirasi. Mindset yang perlu untuk dibentuk adalah pihak yang melihat publikasi tersebut. Dengan mengetahui bahwa ada proses untuk mendapatkan hasil dan personifikasi dengan hanya mencontoh hasil saja tidak memberi efek pengakuan yang konsisten namun malah akan membebani kondisi keuangan.