Topics

Common money mindset

Agus Chang has more than 11 years of experience in the business, technology and methodology aspects of various financial institutions. Not only widening his perspective in financial knowledge, but the journey has also inspired him to be more deeply committed to share and raise up the awareness of the society on how fundamental and essential financial knowledge is in achieving life fulfillment.

Topik ini mengangkat pola pikir dasar dari manusia mengenai keuangan yang selama ini populer dianut, sehingga diyakini benar.

Semakin besar penghasilan, semakin besar uang yang dapat saya tabung/investasikan

Ada 2 poin yang perlu ditekankan dalam mindset ini. Pertama, menabung atau bahkan berinvestasi adalah mengenai disiplin dan komitmen, bukan perkara jumlah. Perlu dipahami bahwa menabung dapat dilakukan bahkan dengan hanya menyisihkan Rp 100 setiap hari dan untuk melakukan investasi pun di instrumen keuangan sudah dapat dimulai di nominal yang cukup terjangkau yaitu Rp 100.000.

Kuncinya adalah membangun mentalitas mengelolah uang sejak dini. Formula umum berlaku untuk ini yaitu rutinitas membangun kebiasaan dan akhirnya kebiasaan akan membangun karakter kita sebagai individu.

Kedua, yang menjamin besar uang yang dialokasikan untuk menabung adalah gaya hidup, bukan besarnya uang yang Anda terima. Banyak di antara kita ketika mendapatkan kenaikan penghasilan, yang pertama ditonjolkan adalah gaya hidup, sehingga akhirnya uang yang dapat disisihkan sebelum dan setelah pendapatan kita naik, sama, atau malah berkurang. Betul atau betul?

Apa pun yang saya miliki adalah aset saya

Masyarakat umum meyakini aset sebagai apa pun yang sudah kita miliki setelah kita mengeluarkan uang untuk mendapatkannya. Rumah adalah salah satu contoh yang diyakini oleh mayoritas sebagai aset. Mungkinkah rumah bisa menjadi beban? Jawabannya adalah tergantung. Bisa jadi rumah menjadi aset dan bisa juga masuk kategori beban.

Untuk menjelaskan secara sederhana apa asset dan apa liability, saya ingin mengutip definisinya sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Robert Kiyosaki.

Asset adalah apa pun yang menambah uang ke kantong Anda dan liability adalah apa pun yang membuat Anda mengeluarkan uang lebih banyak dari kantong Anda. Perjelas klasifikasi keduanya jika Anda juga sependapat dengan hal ini, dan mulailah fokus mengumpulkan aset yang sebenarnya.

Bersenang-senang dahulu selagi muda

Secara statistik, tingkat kesejahteraan masyarakat makin meningkat dari tahun ke tahun. Tingkat usia produktif masyarakat juga mencapai puncaknya dalam rentang tahun 2020 – 2030 atau yang kerap disebut bonus demografis.

Promosi terarah, kebiasaan konsumsi dan kemudahan akses berhasil dibangun oleh market place maupun fintech sekarang ini untuk mendukung terjadinya trading secara masif dan konsisten.

Dalam perencanaan keuangan, salah satu yang terpenting adalah melakukan selebrasi. Hal ini penting karena disiplin membutuhkan penghargaan agar dapat konsisten. Salah satu disiplin yang harus dilakukan adalah membangun aset.

Ungkapan yang tepat untuk membuka pikiran kita lebih jauh adalah semakin muda kita berhasil mengumpulkan aset, semakin panjang periode kita menikmati hasil dari aset kita. Apabila kita gagal ketika masih muda, kesempatan dan waktu masih panjang untuk kita memulai kembali.

Spend dahulu, tabung sisanya

Salah satu trik sederhana untuk menunjukkan relevansi dari komitmen dalam melakukan menabung adalah tabung dulu lalu belanjakan sisanya. Untuk itu, pertama-tama perlu dilakukan pencatatan pengeluaran selama sebulan. Dari sana kita bisa mengetahui pos-pos pengeluaran mana yang dapat ditekan dan mulai membuat target menabung/investasi.

Kebutuhan untuk terlihat kaya

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan untuk diakui oleh orang lain. Setiap dari kita memiliki hasrat untuk diakui. Kaitannya dengan mindset keuangan adalah dewasa ini, pengakuan biasa diwujudkan dengan publikasi melalui media sosial.

Untuk mencoba memenuhi ini, singkatnya dibutuhkan ‘modal’. Tren ini disambut positif dan didukung oleh platform teknologi, sederhananya berupa like dan ungkapan kekaguman.

Apakah artinya manusia tidak boleh mempublikasi kesuksesan mereka? Sangat boleh. Publikasi bisa bermakna positif jika memberikan inspirasi. Mindset yang perlu untuk dibentuk adalah pihak yang melihat publikasi tersebut.

Dengan mengetahui bahwa ada proses untuk mendapatkan hasil dan personifikasi dengan hanya mencontoh hasil saja tidak memberi efek pengakuan yang konsisten namun malah akan membebani kondisi keuangan.

Spekulasi dari balik tembok: 3000 jam jalan kaki setelah karya

Heru Joni Putra is the curator of Galerikertas Studiohanafi. He is an alumnus of Cultural Studies Universitas Indonesia and the author of Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa (2017). Alihan is an art program held in Galerikertas Studiohanafi featuring a solo exhibition by Indonesian artist Hanura Hosea in conjunction with a series of related events. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 2 until 17 November 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

“Berpikir secara seni adalah tindakan politik.”

Hanura Hosea

Apa yang disebut sebagai tindakan politik adalah sebuah jalan penuh simpang. Salah satu, pada tataran paling sederhana, tindakan politis bisa berkembang dari keyakinan bahwa realitas adalah sesuatu yang tidak apa adanya, realitas tidaklah persis sebagaimana kita menginderainya.

Apa yang terlihat oleh mata bukanlah realitas yang sudah selesai. Begitu juga yang terdengar oleh telinga, terhidu oleh hidung, tercecap oleh lidah, teraba oleh kulit, terasa oleh hati, dan seterusnya. Indera kita memang menjadi instrumen paling lumrah untuk mengidentifikasi realitas tetapi indera-indera itu tidak dapat berfungsi sebagai alat untuk “memastikan” realitas secara keseluruhan. Indera kita barangkali hanya bisa mencapai bagian-bagian dari realitas.

Dengan begitu, kesadaran bahwa realitas yang kita indrai bukanlah realitas yang selesai, apa adanya, emang begitu dari sononya dst adalah sebuah kesadaran yang politis dalam memahami realitas. Dalam hal inilah, sebagaimana diucapkan juga oleh Hanura Hosea, berpikir secara seni adalah tindakan politik.

Sebab, berpikir seni adalah sebuah tindakan yang tidak melihat realitas secara lumrah belaka. Karya seni tidak sebatas pengeras suara dari fenomena kasat mata saja. Seni bahkan mempunyai beban yang lebih dari itu, yaitu menunjukkan realitas yang tak sepenuhnya terjangkau oleh indra manusia.

Gambar yang ditampilkan di samping ini merupakan salah satu karya Hanura Hosea yang dipamerkan dalam pameran Alihan di Galerikertas. Figur-figur yang ditampilkan di dalamnya, secara umum, dapat dengan mudah kita kenali dengan baik, sekalipun pada beberapa bagian kita menemukan berbagai pemiuhan bentuk—sehingga menunjukkan karakteristik sureal. Kita tahu, dalam gambar itu ada tiga figur manusia. Lalu ada satu figur surealis yang bersamaan dengan salah satu figur manusia.

Dari segi ruang, ketiga figur tersebut berada di tiga ruang yang berbeda. Tapi, dari segi waktu, menjadi rujukan dasar untuk menunjukkan apakah mereka di waktu yang sama atau tidak. Tapi, kita masih bisa mencari penanda waktu yang terselubung melalui jenis aktivitas yang dilakukan ketiga figur manusia itu: tidur, berenang, dan aktivitas perapian.

Sederhananya, tiga penanda waktu tersebut bisa kita bawa ke pengertian waktu keseharian, rutinitas, dan berkala. Namun begitu, sebagai konsekuensi dari peleburan ruang, gambar tersebut juga menyiratkan peleburan waktu.

Dengan demikian, bicara soal waktu, kita tak bisa lagi sepenuhnya bicara perihal waktu yang sudah tertata secara sosio-kultural. Gambar tersebut cenderung menyiratkan waktu sebagai sesuatu yang berlapis, berhimpitan, tidak kronologis, dan seterusnya.

Dengan demikian, gambar tersebut bukanlah proyeksi dari realitas yang bisa diidentifikasi dengan panca indera. Proyeksi yang dimunculkan gambar tersebut tidaklah suatu komposisi keseharian realitas kita sekalipun elemen-elemen gambarnya sangat akrab dengan kita. Meskipun demikian, itu bukan berarti bahwa gambar tersebut tidak ada hubungannya dengan realitas itu sendiri. Dengan cara serupa itu, gambar tersebut menunjukkan kepada kita suatu realitas yang lain, tapi sama “nyata”-nya dengan apa yang bisa kita inderai.

Apa benar ada realitas lain selain realitas yang dapat kita inderai? Di manakah realitas lain itu terjadi? Apakah kita berada di luar realitas lain itu atau justru tidak sadar ada di dalamnya?

Ada banyak jawaban yang bisa muncul, tapi kita tentu tidak akan lebih jauh menjawab pertanyaan tersebut. Yang jelas, pertanyaan serupa itu adalah pertanyaan yang sangat mungkin muncul melalui karya seni. Dan karena dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan serupa itulah kemudian karya seni tanpa dapat dihindari senantiasa menjadi “politis”.

Menjadi “politis” tentu tidak sama artinya dengan menjadi bagian “politik praktis”. Kita sering terjebak, ketika menyebut “politis” maka yang terbayangkan adalah politik pemerintahan yang kotor dan seterusnya. Menunjukkan apa yang tak tertunjukkan adalah salah satu dari apa yang disebut sebagai “menjadi politis”.

Bagi sebagian orang, gambar Hanura Hosea tersebut bisa saja menunjukkan realitas psikologis manusia di kondisi tertentu. Katakanlah seseorang yang merasakan hidup tak lagi punya jeda, bahkan apa yang semestinya terjadi secara berurutan justru berarsiran.

Dalam hidupnya, apa yang sedang dibayangkannya lebih nyata daripada apa yang sedang dilakukannya di saat yang sama. Ketika ia secara fisik sangat jelas melakukan aktivitas A, tapi yang sedang ada dalam pikiran dan perasaannya sedang melalukan B, C, dan seterusnya.

Mengapa realitas yang seperti itu bisa disebut politis? Karena banyak yang memandang bahwa realitas sebenarnya hanyalah realitas yang dapat diinderai.

Orang-orang hanya percaya pada apa yang bisa dilihatnya saja, segala yang bisa didengarnya saja, semua yang bisa dicecapnya saja dan seterusnya. Sehingga risikonya, sebagaimana contoh yang kita buat tadi, mereka lupa bahwa realitas juga bekerja di dalam wilayah psikologi. Padahal, realitas psikologi sama “nyata”-nya dengan realitas indrawi.

Karya seni tertentu, terutama non-realis, seringkali membuat kita menggerakkan kaki untuk bergelimang dengan realitas yang lain tersebut. Dengan begitu, tentu tidak salah lagi, bila kemudian ada yang berkata, “Betapa arogannya orang-orang yang hanya percaya pada apa yang bisa dilihatnya saja, pada apa yang hanya bisa didengarnya saja, pada apa yang bisa disentuhnya saja, dan seterusnya…”

Dari penjabaran di atas, kita sebenarnya belum bicara banyak. Kita baru mencoba melakukan pemaknaan kembali atas trinitas manusia, ruang, dan waktu pada tataran paling sederhana.

Selain soal itu, dari karya-karya Hanura Hosea, kita juga melihat suatu kecenderungan untuk memilih warna hitam-putih, sekalipun itu bukan hal aneh dalam drawing. Namun, sebagaimana di realitas itu sendiri, di dalam seni pun tidak ada yang “kebetulan” begitu saja, selalu ada sebab, bahkan selalu ada “yang politis” di balik setiap kejadian, baik disadari ataupun tidak (political unconsciousness).

Pembukaan pameran tunggal Hanura Hosea, Alihan, Galerikertas Studiohanafi, 2 November 2019

“Hitam-putih adalah pilihan selera.”

Hanura Hosea

Dan untuk suatu selera warna pun selalu terkandung “yang politis”. Sebagai contoh, kita bisa memulainya dengan pertanyaan seperti ini: sejak kapan warna pink menjadi warna perempuan? Mengapa orang akan tertawa ketika laki-laki menggunakan kaos pink? Kita tidak bisa melepaskan pertanyaan tersebut dari persoalan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan yang selalu ditekankan sebagai kelembutan, ketenangan, kesabaran, dan seterusnya tentu akan mudah dikaitkan dengan pemaknaan kita terhadap warna pink. Begitu juga sebaliknya, laki-laki yang selalu ditekankan sebagai keperkasaan, kekuasaan, kekuatan, dan seterusnya, dikesankan tampak mencolok atau tidak cocok dengan makna dari warna pink.

Kultur warna kita, dengan demikian, mengandung bias gender yang sangat kentara. Dalam contoh di atas, warna pink telah melegitimasi karakter standar untuk perempuan sekaligus melanggengkan karakter standar untuk laki-laki.

Dalam konteks kultur warna dan politik dibaliknya, para perupa seringkali, sengaja atau tidak, menghancurkan kebekuan-kebekuan warna seperti itu. Di tangan para perupa, setiap warna seringkali mendapatkan makna baru. Seringkali, warna yang sebelumnya kentara oleh bias gender, bias etnis, bias ideologi, dan seterusnya kemudian menjadi terbatas dari beban-beban serupa itu.

Dalam kasus gambar Hanura Hosea, warna hitam-putih bisa menjadi salah satu cara paling menarik untuk meminimalisasi muslihat warna, bias dalam warna. Warna semerbak, pada sisi lainnya, mempunyai watak untuk memanipulasi. Dalam contoh lainnya, pewarnaan di dalam desain komunikasi visual adalah salah satu strategi “manipulasi” seperti strategi menarik perhatian, dan seterusnya.

Dalam konteks ini, warna hitam-putih bisa digunakan untuk memberi penekanan pada gambar itu sendiri, sehingga kita tidak larut pada permainan atau komposisi warna dan warni. Dengan meminimalisir bias-bias warna lain, warna hitam-putih pun terus mengarahkan fokus kita bahkan sampai pada komponen gambar itu sendiri: kapasitas garis.

Mengapa Hanura Hosea membuat trinitas manusia-ruang-waktu dalam formasi tidak teratur dan kemudian memilih menggunakan warna hitam-putih—sebagaimana contoh gambar di atas tadi? Kalau tadi kita menyebut “realitas psikologis”, maka bagaimana perbedaannya bila realitas itu digambar dengan warna-warni dan hanya dengan hitam-putih saja? Bagaimana dinamika pemaknaan yang bisa kita temukan berdasarkan hubungan-hubungan antar indikator bentuk dan isi tersebut?

Itulah pertanyaan berikut yang dapat kita eksplorasi. Bagaimanapun juga, sekeping karya seni tak akan pernah habis kita bahas. Tulisan ini hanya sebuah pembuka kata untuk karya-karya Hanura lainnya. Selebihnya, para pengunjung pameranlah yang akan berkontemplasi sendiri dalam merespons karya Hanura Hosea.

Pertanyaan-pertanyaan terakhir tadi sengaja saya tinggalkan tanpa tawaran jawaban. Semoga dapat menjadi pantikan untuk melihat karya-karya Hanura lebih dalam dan dengan sudut pandang lainnya. Apa spekulasimu?

Alihan dalam kertas dan gambar

Alihan is an art program held in Studio Hanafi featuring a solo exhibition by Indonesian artist Hanura Hosea in conjunction with a series of related events. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 2 until 17 November 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

Galerikertas studiohanafi menghadirkan pameran tunggal Hanura Hosea berjuluk “Alihan”. Pameran yang akan berlangsung sepanjang 2 November-2 Desember 2019 ini merupakan pameran tunggal penutup untuk program galerikertas studiohanafi di tahun 2019.

Hanura Hosea merupakan perupa kelahiran Wates, Jawa Tengah, 1966. Setelah aktif berkarya di Yogyakarta dan berpameran di dalam dan luar negeri, ia saat ini menetap di Jerman.

Pada pameran “Alihan”, Hanura akan membawa gambar-gambar kertas sejumlah 245 buah. Kertas-kertas yang bercakap melalui garis dan kertas tersebut menghasilkan bidang gambar yang terbagi dalam tiga ruang: Museum, pabrik dan ruang pamer (Galeri).


Kertas-kertas bersaksi, “gambar-gambar telah tumbuh di bidangku”, ungkap Hanura. Lebih lanjut, ia menjelaskan dalam catatan pamerannya, “Gambar adalah alihan yang menawarkan jeda. Ia lengkap tapi bergembira dibubuhi dimensi.

Gambar adalah dilempari batu dan ludah. Gambar adalah penjaja pundi-pundi. Gambar adalah berkulit tipis. Gambar adalah tegangan. Gambar adalah ….”

Pembukaan pameran “Alihan” akan berlangsung pada Sabtu, 2 November 2019, pukul 19.00 WIB-selesai. Pameran akan dibuka oleh Hanafi selaku penggagas galerikertas studiohanafi dan Ugeng T. Moetidjo, perupa dan penulis.

Selain itu, pameran turut diramaikan oleh penampilan musik dari Deugalih, musisi multi-instrumen dan multi-genre yang telah melahirkan empat album indie. Saat ini menetap di Yogyakarta.

Menurut Ugeng, karya Hanura Hosea, tetap dengan watak gambar tuturnya, atau gambar dalam watak bertuturnya. Namun yang terang, padanya, bidang gambar merupakan ruang untuk pengisahan moral sosial—kali ini, dengan menjaga jarak dari politik, untuk jadi lebih domestik.

“Karyanya pada masa ini berumpun dengan pola representasi bertutur politik yang begitu menggejala pada segolongan perupa menjelang dan pasca lindapnya kekuatan otoritarian Orde Baru, seakan merayakan datangnya kebebasan kreatifitas” tutur Ugeng.

Berbicara tentang teknik penciptaan, Heru Joni Putra, kurator in house Galerikertas menitikberatkan cara berpikir Hanura pada karya-karyanya. Sebagaimana diucapkan juga oleh Hanura Hosea, berpikir secara seni adalah tindakan politik.

Sebab, berpikir seni adalah sebuah tindakan yang tidak melihat realitas secara lumrah belaka. Karya seni tidak sebatas pengeras suara dari fenomena kasat mata saja.

Seni bahkan mempunyai beban yang lebih dari itu, yaitu menunjukkan realitas yang tak sepenuhnya terjangkau oleh indra manusia.

“Kita baru mencoba melakukan pemaknaan kembali atas trinitas manusia, ruang, dan waktu pada tataran paling sederhana. Selain soal itu, dari karya-karya Hanura Hosea, kita juga melihat suatu kecenderungan untuk memilih warna hitam-putih, sekalipun itu bukan hal aneh dalam drawing.

Namun, sebagaimana di realitas itu sendiri, di dalam seni pun tidak ada yang “kebetulan” begitu saja, selalu ada sebab, bahkan selalu ada “yang politis” di balik setiap kejadian, baik disadari ataupun tidak (political unconsciousness)” tutur Heru.

Sepanjang pameran, Hanura bersama galerikertas Studiohanafi melangsungkan dua agenda pameran lainnya yang berlangsung sepanjang November 2019 di antaranya: Diskusi dan Presentasi Karya Perupa Muda bersama Hanura Hosea pada Minggu, 3 November 2019 dan Workshop Kertas Perupa Muda bersama Hanura Hosea pada 12-17 November 2019.

Mengenal peraturan perlindungan pekerja di tempat kerja

Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, program jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua, dan jaminan pensiun BPJS Ketenagakerjaan memastikan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi seluruh pekerja di Indonesia.

Peraturan lainnya meliputi UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, dan UU No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan serta mencermati hasil investigasi beberapa peristiwa kecelakaan kerja fatal yang terjadi, di antaranya kebakaran pabrik petasan di Tangerang pada 26 Oktober 2017 dan kebakaran pabrik korek api di Binjai, Sumatra Utara, 21 Juni 2019, diketahui bahwa kecelakaan kerja terjadi karena tidak dipatuhinya Undang-Undang tersebut dan sederet peraturan pelaksanaannya, menyebabkan gagalnya upaya pencegahan kecelakaan kerja.

Di samping itu, tidak semua pekerja yang menjadi korban terlindungi program BPJS Ketenagakerjaan. Akibatnya, hak-hak normatif sebagian pekerja tidak tersalurkan.

Menurut Direktur Pengawasan Norma Kerja dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan Bernawan Sinaga, sesuai Pasal 17 Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 2015, pemberi kerja yang belum mengikutsertakan pekerjanya dalam program BPJS Ketenagakerjaan wajib membayar hak pekerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku jika terjadi kecelakaan yang menimpa dirinya.

Kompensasi mencakup antara lain santunan meninggal yang dibayarkan sekaligus sebesar 48 kali upah, biaya perawatan atau pengobatan tanpa batasan sesuai indikasi medis, beasiswa bagi anak pekerja, serta jaminan hari tua dan pensiun.

Pemberi kerja perlu melaporkan upah sesuai upah yang sebenarnya diterima pekerja, serta tidak menunggak pembayaran iuran BPJS Ketenagakerjaan.    

Pelanggaran terhadap peraturan K3 dan jaminan sosial ketenagakerjaan dapat dikenakan sanksi hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan atau denda setinggi-tingginya Rp 100.000 sesuai UU No. 1 tahun 1970 yang kemudian berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung No. 2 tahun 2012 dan yurisprudensi Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dikonversi menjadi Rp 100 juta.

Ketidakpatuhan terhadap pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan dan laporan upah yang akurat dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis, denda, dan penghentian pelayanan publik tertentu sesuai PP No. 86 tahun 2013, bahkan pidana penjara paling lama 8 tahun atau denda paling banyak Rp 1 milyar sesuai pasal 55 UU No. 24 tahun 2011 tentang BPJS.

Archipelago Strategic & Partners Indonesia adalah konsultan bisnis dan manajemen yang meliputi pengembangan dan audit sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Informasi mengenai penerapan K3 dapat melalui dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan setempat. Sedangkan informasi pendaftaran kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dapat menghubungi kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan terdekat atau dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan setempat.

Henryette Louise: Spiritcuil (pertemuan benda-benda)

Henryette Louise merupakan peraih Gold Award Emerging artist UOB Painting of The Year 2016. Seorang lulusan desain grafis di STSI Bandung dan seni murni di ISBI Bandung. Beberapa kali melakukan pameran tunggal dan pameran bersama. Ia juga merupakan salah satu perupa muda di galerikertas pilihan Ugo Untoro. Kini sehari-harinya ia bekerja sebagai ilustrator, seniman konseptor, dan lain-lain.

Memahami proses keseimbangan antara laku dan pahatan pikiran, tema yang diperoleh dari perjalanan hidup dan kehidupan. Bagiamana memilih material? Bagaimana waktu dapat menghentikan ingatan-ingatan terhadap benda-benda usang yang hadir di sekitar kita?

Setiap detik kita telah dipertemukan dengan benda-benda yang datang sebagai fungsi sebelumnya atau bahkan memang usang terbuang begitu saja, dapatkah mereka “benda-benda” meruntuhkan ingatan kita akan sesuatu hal atau kejadian lampau?

Seperti halnya pertemuan, kolaborasi ini cukup lebar membuka celah untuk siapa pun  dengan latar dan profesi beragam. Begitu juga tools atau bahkan cara mengolah kebendaan terdekat mereka sangat berbeda-beda. 

Pertemuan “benda-benda” dalam lingkaran dengan berbagai kisah , moment tersebut dapat mengingatkan akan tempat-tempat atau peristiwa yang pernah kita lalui,seperti hajatan atau gotong royong. Saya tertarik dengan percakapan Mbak Ami dan Mbak Siti ketika memilin kertas bersama-sama, terasa seperti akan punya hajatan bersama, katanya. Hajatan bersama tanggal 24 Oktober. 

Terus terang, saya cenderung mengabaikan nilai “gagasan hias “seperti mendekor atau membentuk yang indah yang harusnya ada di mata umum masyarakat. Namun, saya lebih menekankan makna dan nilai-nilai memungut benda-benda tersebut oleh pemungutnya sebagai pengalaman yang sangat pribadi.  

Benda-benda yang menarik untuk dipungut sangat rapuh, dapat dikatakan tidak permanen, dapat menjadi celah peringatan pribadi akan kekuatan tertentu yang tak terduga. Sementara itu ragam hias berorientasi pada benefit. Saya menekankan pada spirit. 

Makna “Spiritcuil” mengacu pada ingatan dan segala hal remeh temeh seperti sampah yang ketika ditata, dipilah, ditempatkan dapat mendapatkan tempatnya sendiri, mendapatkan bahasa yang berbeda. Seni hanya mengingatkan hal tersebut dan kehadiranku hanya sebagai pemantik. Bagaimana orang-orang mau datang dan berproses dalam workshop dan pameran proses ini.

Saya merasakan kehadiran kertas menjadi lebih tajam, sehari-hari kita selalu menemukan kertas namun cenderung abai dan kita menemukan kembali spiritnya saat menjadi intim dengan kertas. 

Seperti ketika teman-teman menggunakan kertas koran, mereka akhirnya membaca kembali berita-berita yang sering diabaikan. Gladys mengatakan koran yang dibacanya selalu berbicara ekonomi dan iklan apartemen, berbeda dengan koran di daerahnya yang berisi berita kejahatan dan kriminal. Ternyata kami menyadari, koran selalu mencatat letak geografis.

“Dan tak seorang pun ingin terganggu, namun mereka memaklumi karyanya (kadang) mengganggu” 

Mengalami pertemuan dengan benda-benda membuat mereka menyadari atau memaklumi keberadaan sampah.  Mereka berproses dan berkumpul memilin sampah kertas – mungkin ia akan menjadi hujan?!  

Mereka membentuknya,  sampah menjadi suatu mukjizat dan keberuntungan ketika sebuah galeri dapat memamerkannya, meskipun pada akhirnya sampah itu dikembalikan pada TPS (Tempat Pembuangan Sampah), pada tempat semestinya dan mereka yang mampu mengolahnya – secuil sejarah kertas fana bersama.

 

Pahatan watak dan pikiran Henryette Louise di Spiritcuil

Spiritcuil is a solo exhibition by Indonesian artist Henryette Louise held in Studio Hanafi. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 7 until 24 October 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

Seniman Henryette Louise membuka kesempatan kolaborasi dengan seniman lintas disiplin. “Konsepnya Open Studio,” kata Lousie. Selama lebih kurang sebulan ia membuat Galeri Kertas Studio Hanafi menjadi layaknya studio kerja. Di studio tersebut ia akan menerima partisipan yang berminat untuk berproses bersama, merangkum ide bersama, dan membuat suatu karya bersama-sama.

“Jadi, konsepnya terbuka, setiap partisipan bisa datang dan pergi selama durasi workshop. Orang-orang juga boleh datang untuk melihat kami berproses,” ujar Louise.

Kurator Galerikertas, Heru Joni Putra, mengatakan bahwa program “Open Studio/Full Time Artist” ini menggabungkan proses dan pameran.

“Semua partisipan berproses sekaligus berpameran di saat yang sama. Mereka memamerkan proses sekaligus seiring berjalan waktu memamerkan karya-karya yang muncul dari proses tersebut.”

Bagi partisipan yang tidak mempunyai latar belakang seni, setidaknya, program ini menjadi ruang untuk mempelajari bagaimana seniman bekerja melalui metode yang dijalanan Henryette Louise. Dan bagi partisipan yang berasal dari latar belakang seni, setidaknya, program ini bisa menjadi ruang dialog dan uji coba kerja-kerja kolaborasi.

Henryette Louise dikenal sebagai seniman yang gemar memanfaatkan benda tak terpakai. Dalam konteks kerja penciptaannya, sebuah benda loak tidak hanya sebatas mendapatkan bentuk baru, tetapi juga fungsi dan makna baru.

Louise menyebut modus penciptaannya sebagai “re-use” atawa penggunaan kembali. Ia tidak menggunakan kata “re-cycle” atau daur-ulang. Ada perbedaan mendasar antara “re-use” dan “re-cycle” dalam konteks ini.

Dalam daur ulang, material bisa saja kehilangan sejarahnya. Ketika sebuah benda didaur ulang hingga menjadi material mentah, maka cenderung saat itu makna-makna sosio-kultural dari benda tersebut lenyap, kehilangan “nyawa” awalnya.

Lain halnya bila yang dilakukan adalah “re-use”. Sebuah benda yang digunakan kembali, dengan fungsi dan makna baru, tak akan hilang “nyawa” benda tersebut sepenuhnya. Selama benda tersebut masih mengandung bentuk awalnya, maka selama itu masih terikat dengan sejarah serta nilai sosial-kulturalnya.

Dengan kata lain, kerja “re-use” adalah kerja untuk “bermain-main” dengan bentuk awal serta makna lumrah pada sebuah benda, untuk kemudian diperluas, dikembangkan, atau dibenturkan dengan makna-makna baru.

Henryette Louise merupakan seniman asal Blitar dan menetap di Bandung. Ia pernah belajar seni rupa di SMSR Surabaya dan Seni Rupa STSI Bandung. Ia telah melakukan puluhan pameran bersama sejak tahun 2002 dan empat kali pameran tunggal sejak 2009. Dua pameran tunggal terakhirnya adalah Lokositato Makhluk (2014) dan Intro Lokos #1 (2015).

Tahun 2019 ini ia menyelenggarakan pameran tunggal-berdua berjudul Simbol dan Alegori di Museum dan Tanah Liat, Jogjakarta. Ia pernah beroleh beberapa penghargaan seperti Top 10 Asian Fotografi Analog Emerging Artist (1997), Pemenangan Kompetisi Instalasi Bebegig Nasional (2005), Peraih Hibah Seni dan Lingkungan (2014), dan Gold Award Emerging Artist UoB Painting of the Year (2016).

Sehari-hari ia berkomunitas-bekerja di Invalinder Urban sebagai artistik konseptor dan di Hellmate Circle sebagai freelance ilustrator. Bila ditanya soal pernyataan berkeseniannya, ia selalu menjawab, “Seni adalah kejanggalan yang memiliki tempat terpahatnya watak dan pikiranku.”

Paradigma dan tujuan kredit pemilikan rumah

Agus Chang has more than 11 years of experience in the business, technology and methodology aspects of various financial institutions. Not only widening his perspective in financial knowledge, but the journey has also inspired him to be more deeply committed to share and raise up the awareness of the society on how fundamental and essential financial knowledge is in achieving life fulfillment.

Seperti halnya pengambilan keputusan penting dalam perjalanan hidup kita, keputusan mengajukan kredit untuk kepemilikan rumah harus diawali dengan tujuan yang jelas.

Secara garis besar, tujuan seseorang mengambil KPR dapat dirangkum menjadi tiga, yaitu profit taking, investasi dan untuk kepemilikan pribadi. Singkatnya berikut adalah definisi untuk ketiganya.

Profit taking adalah tujuan yang ditetapkan seseorang terkait akuisisi properti untuk mengambil keuntungan dalam tempo sesingkatnya.

Investasi adalah sebuah tujuan di mana seorang investor mengakuisisi properti kemudian memanfaatkan properti tersebut untuk menciptakan pemasukan melalui kegiatan sewa. Investor juga dapat melakukan penjualan properti pada akhir periode setelah disewakan.

Kepemilikan pribadi adalah sebuah tujuan berupa akuisisi properti untuk memenuhi kebutuhan pribadi, misalnya sebagai tempat tinggal atau sebagai tempat usaha.

Setelah tujuan ditetapkan, analisis dilanjutkan dengan penyiapan data dan survei untuk menunjang keputusan tersebut. Data-data yang penting untuk diperoleh antara lain siklus properti untuk menentukan waktu akuisisi yang tepat, market value, market dan analisis keuangan pribadi untuk tujuan kepemilikan pribadi, sampai pembuatan simulasi perhitungan untuk menentukan apakah profit bisa diperoleh untuk tujuan profit taking dan investasi.

Rangkuman analisis akan menjawab secara rinci dan faktual apakah keputusan mengambil KPR dapat dieksekusi atau masih perlu dikaji ulang.

ASPI Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM, during his KPR presentation at API investor gathering, Jakarta, 6 October 2019

Paradigma terkait tujuan dari KPR ini dibahas pada event investor gathering yang diadakan oleh Abdi Properti Indonesia, Jakarta, 6 Oktober 2019, bersama Financial Advisor Archipelago Strategic & Partners Indonesia Agus Chang, B.Sc, MPM, yang dipaparkan secara detail hingga analisis perhitungan perbandingan menggunakan data yang sudah diriset dengan kondisi market terkini.

Investor gathering ini bertujuan memberikan edukasi dan bantuan kepada para investor properti dalam pengambilan keputusan.

Di event tersebut Agus menyimpulkan bahwa tujuan perlu ditetapkan di awal, dan untuk menanggulangi kesalahan pengambilan keputusan diperlukan perolehan data yang akurat dan analisis mendetil agar keputusan investor logis dan tidak semata berdasarkan faktor emosional.