Topics

Pentingnya pengetahuan mengelola keuangan

Agus Chang, B.Sc, MPM, has more than 11 years of experience in the business, technology and methodology aspects of various financial institutions. Not only widening his perspective in financial knowledge, but the journey has also inspired him to be more deeply committed to share and raise awareness on how fundamental and essential financial knowledge is in achieving life fulfillment.

Masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 19 tahun untuk menyelesaikan pendidikan formal dari pendidikan anak usia dini hingga bangku kuliah. Jika ditanyakan ke orangtua atau diri sendiri, apa sebenarnya tujuan akhir 19 tahun masa pendidikan yang telah ditempuh tersebut? Mayoritas akan menjawab demi mendapatkan pekerjaan sehingga dapat menghasilkan uang.

Hal ini membawa kita ke pertanyaan selanjutnya, berapa banyak porsi yang kita dapatkan selama pendidikan formal tersebut yang mengajarkan cara mengatur keuangan yang benar? Riset menunjukkan hampir tidak ada.

Kita tidak diajarkan bagaimana cara mengelola, hanya cara menghasilkan. Ini yang menjadi salah satu alasan seseorang yang berpenghasilan besar bisa terjerumus pada hutang tidak produktif sehingga akhirnya bangkrut. Tidak ada pendidikan yang menopangnya!

Kita tidak diajarkan bagaimana cara mengelola, hanya cara menghasilkan.

Agus Chang, B.Sc, MPM

Mantan gubernur bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve Alan Greenspan mengungkapkan bahwa problem utama pada generasi dan ekonomi sekarang ini adalah tidak adanya literasi keuangan.

Robert T. Kiyosaki menyuarakan kekhawatiran yang sama di mana, “Sekolah telah melupakan pendidikan keuangan dan fokus pada kualifikasi akademis, padahal keduanya sama pentingnya.”

Mengelola keuangan seharusnya menjadi pengetahuan dasar, sama halnya dengan membaca dan berhitung. Mengetahui cara mengelola keuangan membuat Anda memiliki pengetahuan tentang pola pikir yang tepat, target dan tujuan keuangan, dan langkah-langkah konkrit mengenai apa yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut.

Sebagai bagian dari rangkaian program rutin pelatihan bisnis dan manajemen bersertifikat, Archipelago Strategic & Partners Indonesia (ASPI) bersama Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM mengajak masyarakat Indonesia untuk mulai mencari tahu cara mengelola keuangan yang benar, karena ini adalah fondasi penting yang harus dipahami demi membangun kesejahteraan dan kebebasan finansial.

Pendaftaran batch 2 seminar Financial Strategy tahun 2020 oleh Financial Advisor Agus Chang, B.Sc, MPM telah dibuka dengan mengakses link berikut:

 

Cara berinvestasi terbaik di tahun baru

Agus Chang, B.Sc, MPM, has more than 11 years of experience in the business, technology and methodology aspects of various financial institutions. Not only widening his perspective in financial knowledge, but the journey has also inspired him to be more deeply committed to share and raise awareness on how fundamental and essential financial knowledge is in achieving life fulfillment.

Kita mengawali tahun 2020 dengan meningkatkan kesadaran bahwa investasi merupakan sesuatu yang wajib. Di artikel Relevansi menabung di Era 4.0 telah dikupas bagaimana pergeseran dari budaya menabung secara konvensional harus bergeser – jika tidak sudah bergeser – ke berinvestasi.

Pertanyaan yang muncul akibat pergeseran ini, apakah berarti mempraktikkan menabung secara konvensional (disingkat sebagai menabung) dengan menabung jaman now (diartikan sebagai berinvestasi) ini dapat dilakukan secara instan?

Jawabannya dimulai dari mengidentifikasi perbedaan fundamental antara menabung dan berinvestasi, yaitu risiko.

Menabung dapat disebut berisiko rendah, meski bukan berarti tidak ada. Apa risiko menabung?

Produktivitas

Proteksi

Risiko menabung terdiri dari 2P yaitu produktivitas & proteksi. Paparan risiko produktivitas pertama datang dari inflasi, di mana rata-rata inflasi per tahun lebih besar dari bunga bank per tahun.

Lalu ada faktor biaya di mana untuk mengimbangi biaya administrasi bulanan kita harus memiliki sejumlah dana yang menghasilkan bunga demi setidaknya menutup biaya tersebut, ironis mengingat pendekatannya jadi bertolak belakang dengan poin inflasi.

Kemudian ada faktor pajak di mana sebagai perbandingan untuk obligasi hanya dikenakan pajak 15% sedangkan tabungan 20% untuk setiap keuntungan yang diperoleh.

Yang kedua, proteksi. Penempatan Rp 2 miliar ke atas tidak sepenuhnya lagi dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) apabila bank di mana uang tersebut ditempatkan bermasalah. Ini adalah risiko yang sebenarnya kecil namun perlu diketahui.

Lalu bagaimana dengan menabung zaman now atau disingkat berinvestasi? Risiko dari instrumen investasi yang digunakan akan mengecil seiring bertambahnya pengetahuan kita terhadap instrumen tersebut. Hal inilah yang membawa kita ke poin mengenai investasi awal yang harus kita jalankan, yaitu pengetahuan.

Mengutip Warren Buffett, “Risiko datang dari ketidaktahuan kita tentang apa yang kita lakukan”. Jadi, suka maupun tidak suka, pergeseran ini menuntut kita untuk belajar. Karena keefektifan menabung, bahkan penempatan deposito sebagai instrumen investasi sudah lama menjadi hal yang usang.

Banyak yang menggeluti berbagai instrumen investasi seperti obligasi, saham, reksa dana sampai ke properti, terjebak dan mengalami kerugian akibat kurangnya pengetahuan terhadap instrumen-instrumen tersebut.

Jadi, investasi pertama yang terbaik yang kita bisa lakukan adalah pengetahuan akan investasi itu sendiri. Pelajari melalui buku, seminar, lakukan penelitian kecil, maka kita siap memulai untuk investasi yang sebenarnya.

Investasi pertama yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah pengetahuan.

Agus Chang, B.Sc, MPM

Seorang Warren Buffett pun memulai berinvestasi dalam pengetahuan sebelum benar-benar mendedikasikan dirinya di dunia investasi sampai akhirnya menjadi figur investor yang kita kenal sekarang. Beliau sebelumnya berguru pada Benjamin Graham yang dikenal sebagai pelopor dari value investing.

Pengetahuan adalah kunci berinvestasi. Memang betul, dengan memiliki pengetahuan tidak serta merta kita dapat menekan risiko sampai nol persen. Namun niscaya pengetahuan memperbesar keberhasilan kita dalam berinvestasi.

Urgensi dan faktor waktu dalam menabung/berinvestasi

Agus Chang, B.Sc, MPM, has more than 11 years of experience in the business, technology and methodology aspects of various financial institutions. Not only widening his perspective in financial knowledge, but the journey has also inspired him to be more deeply committed to share and raise awareness on how fundamental and essential financial knowledge is in achieving life fulfillment.

Faktor penting pertimbangan menabung/berinvestasi adalah membentuk pola pikir, kemudian membangun hasil. Hasil yang dimaksud ada 2. Pertama, pengembangan diri dengan terbentuknya pola pikir. Kedua, pengembangan uang yang ditabung. Pembentukan pola pikir sebelumnya sudah dibahas di artikel Relevansi Menabung di Era 4.0. Pokok bahasan ini berfokus pada bagaimana memaksimalkan pengembangan uang yang ditabung.

Sumber daya paling berharga yang dapat dimiliki oleh seseorang adalah waktu. Dan waktu pula yang bisa melipatgandakan serta memaksimalkan investasi terhadap aset. Definisi waktu dalam kaitannya dengan menabung/investasi adalah sejak kapan kita memulai. Semakin muda kita memulai, semakin panjang durasi yang kita punya untuk mengakumulasikannya. Konsep ini sering disebut dengan bunga berbunga (compound interest).

Melalui compound interest kita akan mengetahui mengenai “keajaiban” angka dan menggarisbawahi dengan nyata dan logis – karena berupa perhitungan – akan pentingnya segera memulai. Ungkapan yang bisa menggambarkan hal ini adalah “Dia yang pertama memulai mendapat lebih banyak”.

Berikut ilustrasinya. Amir berkomitmen mulai menabung/investasi sejak usia 20 tahun sampai usia 40 tahun dan Badu baru memulai menabung/investasi sejak usia 35 tahun sampai usia 65 tahun. Akumulasi uang yang ditabung Amir selama rentang waktu 20 tahun, sejak usia 20 hingga 40 adalah Rp 1.353.389.026. Sementara akumulasi uang yang ditabung Badu selama rentang 30 tahun, sejak usia 35 hingga 65 adalah Rp 3.295.103.460.

Uang ini singkat kata diakumulasikan dengan konsep bunga berbunga sampai usia keduanya 65 tahun. Perlu diperjelas bahwa Amir, sejak tahun di mana dia akan menginjak usia 41 tahun, sudah tidak menambah lagi uang yang ditabung sampai mencapai usia 65 tahun, dan uangnya tetap diakumulasikan dengan konsep bunga berbunga. Dan Badu sejak usia 20 sampai 34 tahun diumpamakan tidak menabung sepeser pun.

Hasil ilustrasi di atas adalah, pada saat berusia 65 tahun dengan memperhitungkan imbal hasil per tahun 6%, tanpa memperhitungkan pajak, Amir akan mengumpulkan uang sebesar Rp 8.365.849.700. Sementara Badu akan mengumpulkan Rp 9.447.423.870. Secara nominal memang Badu lebih besar, namun dilihat dari perbandingan antara dana yang harus dikeluarkan dengan hasil yang didapatkan, maka Amir berhasil melipatgandakan uangnya sebesar 6,18 kali lebih banyak, sedangkan Badu hanya 2,867 kali.

Dari ilustrasi di atas, tidak tepat bila berpikir, “Usia saya sudah tidak muda lagi, berarti sudah terlambat untuk memulai.” Yang harus Anda lakukan justru segeralah memulai. Di usia berapa pun Anda berada sekarang, tidak ada yang patut disesali. Segeralah bertindak!

Burudiri, catatan Hanura Hosea

Hanura Hosea, perupa kelahiran Wates, Jawa Tengah, yang kini menetap di Jerman, telah menampilkan 220 karya di pameran tunggalnya Alihan di Galerikertas Studiohanafi sejak November 2019, sebelum bertindak sebagai fasilitator di workshop Burudiri bersama 4 perupa muda pilihan. Karya-karyanya telah muncul di berbagai pameran, antara lain di Artipoli Art Gallery, dan Art Stage Singapore. Ia kerap membawakan isu sosial politik Indonesia.

Judul ini muncul sesudah saya tenggelam dalam pusaran pertanyaan-pertanyaan di acara presentasi karya. Ada tujuh orang, semua cowok, yang menyodorkan karya-karya mereka. Sementara beberapa hadir untuk mengukuhkan acara ini.

Karya-karya ditaruh paralel dalam pembuatnya. Mereka berbaring minta dibedah, siap berbahagia disayat-sayat. Seorang teman, Ugeng, datang menawarkan diri untuk memeriahkan obrolan.

Acara pun jadi meletup. Penuh semangat. Udara Jakarta panas lembab lengket-lengket di kulit, warna abu-abu berjuntai di langit. Ketujuh cowok ini mengusung hal yang sama, yaitu mau. Ada mau atau bukan-mau pada diri mereka dan itu banyak sekali, berserakan di lantai galeri, mengapung di atas ubun-ubun dan berhamburan di udara.

Berapa banyaknya, saya tidak tahu. Tetapi untuk sementara beberapa mau itu bisa dijumlahkan. Mau membuat karya, itu penjumlahan sementaranya. Mau itu tenaga. Buru diri merupakan usaha khayal bahwa diri dijadikan obyek ataupun obyek-obyek. Khayalan lain tentang buru diri adalah membelah-belah subyek jadi banyak.

Peristiwa perburuan akan terjadi bila ada yang memburu dan yang diburu. Dalam konteks ini antara subyek dan obyek akan bertukar peran. Dengan demikian diri punya kapasitas untuk bermain dengan dan dalam coba-coba. Jika membuat karya seni rupa dianggap sebuah eksperimen, maka salah satu kiat kerjanya adalah karya sebelumnya/lainnya diletakkan sebagai acuhan. Begitu harapannya.

Buru diri bisa menemukan jalannya lewat karya. Karya akan berargumen terhadap pembaca, sedangkan pembaca akan memutuskan selera (sebuah kemampuan sosial), untuk suka atau tidak terhadap karya, semisal. Proses-proses ini mencoba meletakkan buru diri tidak untuk menjinakkan tetapi justru meliarkan kembali diri.

Kami memulai dengan membaca bersama-sama karya-karya yang mereka presentasikan. Lewat karya-karya ini dicoba untuk membuat karya baru. Gagasan awal yang mereka bawa dijadikan dasar eksperimen untuk membuat karya-karya berikutnya.

Empat perupa dapat kesempatan untuk bermain-main dengan eksperimen ini. Ivan dengan gagasan dusunnya yang tergusur untuk pembangunan jalan layang rel kereta api. Dimas mencoba membenturkan diri pada komunikasi personal dengan ayahnya. Edy memakai kamera sebagai alat penoreh. Abul mencoba menari dengan percepatan logika digital. Itu sekelumit gagasan-gagasan dari hasil workshop Burudiri.

Sebagaimana sebuah eksperimen, hasil merupakan janji yang samar. Hasil yang mungkin pasti adalah tersesat dalam pertikaian gagasan-gagasan. Dalam persiapan memamerkan hasil workshop ini tentu banyak hal harus dilampaui. Setiap individu punya usungan batasan-batasan sendiri-sendiri.

Mungkin yang mirip pada empat perupa ini adalah waktu terbatas, fisik diri terbatas, anggaran terbatas. Kompromi juga bagian dari usaha buru diri. Lewat kompromi ini kita jadi punya ketegasan batasan diri yang harus diterima.

Dari batasan hal-hal di atas, paling tidak diri punya kepastian pegangan untuk bernegosiasi dalam buru diri. Mungkin juga tidak. Kita nikmati saja berita tubuh mereka dalam pameran ini. Karya (mungkin) berubah, sedangkan manusia (konon menurut sejarahnya) tidak pernah.

Relevansi menabung di era 4.0

Agus Chang, B.Sc, MPM, has more than 11 years of experience in the business, technology and methodology aspects of various financial institutions. Not only widening his perspective in financial knowledge, but the journey has also inspired him to be more deeply committed to share and raise awareness on how fundamental and essential financial knowledge is in achieving life fulfillment.

Bagaimana prinsip menabung yang benar di era 4.0 sekarang? Apakah masih tepat untuk menabung atau langsung berinvestasi? Semoga dengan tulisan sederhana ini Anda bisa mendapatkan gambarannya. Selamat membaca.

Tujuan Menabung

Mari kita mulai dengan tujuan menabung. Mayoritas berpendapat menabung untuk mengumpulkan uang dan mendapatkan bunga sehingga uangnya akan bertambah. Awal mula pendapat ini diteruskan oleh generasi baby boomers kepada anak-anaknya, di mana pandangan persiapan pensiun yang terbentuk di generasi inilah yang mendorong menabung menjadi penting untuk mereka.

Namun tujuan yang lebih fundamental adalah menabung sebagai bagian dari pembentukan mindset dan disiplin sejak dini dengan menyisihkan sebagian pendapatan kita. Begitu sederhana, namun sangat berpengaruh ke depannya.

Oleh karenanya sangat penting untuk dipahami bahwa menabung sama sekali tidak ada kaitannya dengan berapa jumlah uang yang dapat disisihkan. Mempertimbangkan besarnya jumlah uang akan menggiring pada pemikiran ‘saya baru akan menabung ketika pendapatan saya besar. Menabung sekarang tidak terasa juga manfaatnya’. Akhirnya pemikiran inilah yang mencegah kita untuk mulai menabung.

Instrumen menabung

Tabungan bukanlah instrumen menabung, melainkan instrumen penyimpanan uang.

Agus Chang, b.sc, mpm

Menabung masih identik dilakukan dengan menempatkan uang pada rekening tabungan. Kedua kata ini kerap disalahartikan, salah satunya karena kata menabung sendiri memiliki kedekatan kosa kata dengan tabungan. Hal serupa juga terjadi di dalam Bahasa Inggris (bisa dibilang lebih menyimpang), antara saving (menabung) dengan saving account (tabungan). Mengapa menyimpang? Kaitannya adalah dengan tujuan membuat uang bertumbuh yang dipengaruhi oleh 2 faktor.

Pertama adalah imbal hasil atau bunga. Perlu diketahui bunga yang diberikan untuk instrumen tabungan, mengacu pada suku bunga bank besar di Indonesia periode Desember 2019, adalah di bawah 1% per tahun untuk saldo di bawah Rp 500 juta. Ilustrasinya dengan bunga 1% pun, Anda perlu punya uang 23 juta rupiah untuk mendapat bunga kurang lebih 18,900 rupiah per bulan.

Faktor kedua adalah biaya. Biaya dasar yang dikenakan untuk instrumen tabungan adalah administrasi bulanan yang berkisar dari Rp 10.000 hingga Rp 20.000, dan 20% potongan pajak dari bunga yang diberikan, yang mana artinya dari bunga Rp 18.900 di atas, akan dipotong lagi pajak sebesar Rp 3.700. Melalui ilustrasi di atas dapat disimpulkan tabungan bukanlah instrumen menabung, melainkan instrumen penyimpanan uang.

Lalu instrumen menabung sendiri baiknya apa? Di era 4.0 ini pergeseran sudah terjadi, bahkan sudah dimulai sejak era 3.0, di mana instrumen investasilah yang harus digunakan untuk menabung. Instrumen investasi paling umum adalah deposito sampai ke level lebih spesifik yang membutuhkan pengalaman dan pengetahuan sebelum memulai, contohnya saham.

Dengan kata lain, dalam kaitannya dengan menabung, kita perlu berpikir mengenai berinvestasi.

Burudiri dalam eksperimen 4 perupa muda

Burudiri is a joint exhibition of 4 selected aspiring artists, having participated in Hanura Hosea art workshop held by Galerikertas Studiohanafi. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 14 until 28 December 2019. Visit www.studiohanafi.com, or instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

Galerikertas Studiohanafi menyelenggarakan pameran bersama karya empat perupa muda hasil workshop kertas bersama perupa berpengalaman Hanura Hosea. Pameran ini menjadi penutup program galerikertas studiohanafi tahun ini.

4 perupa muda yang berasal dari Bandung, Jakarta dan Depok tersebut adalah Dimas Ismail M., Faris Abulkhair, Ivan Oktavian, dan Susilo Nofriadi.

Burudiri berangkat dari ide untuk memburu diri sendiri atau mengenali potensi masing-masing perupa dalam berkarya.

“Kami memulai dengan membaca bersama-sama karya-karya yang mereka presentasikan,“ tutur Hanura Hosea selaku fasilitator workshop. ”Lewat karya-karya ini dicoba untuk membuat karya baru. Gagasan awal yang mereka bawa dijadikan dasar eksperimen untuk membuat karya-karya berikutnya.”

Keempat perupa berkesempatan untuk bermain-main dengan eksperimen ini. Ivan dengan gagasan dusunnya yang tergusur untuk pembangunan jalan layang rel kereta api. Dimas mencoba membenturkan diri pada komunikasi personal dengan ayahnya. Edy memakai kamera sebagai alat penoreh. Abul mencoba menari dengan percepatan logika digital.

Pembukaan pameran “burudiri” akan berlangsung pada Sabtu, 14 Desember 2019, pukul 19.00 WIB-selesai. Pameran dibuka oleh Hanafi selaku penggagas galerikertas studiohanafi, dan Ugeng T. Moetidjo, perupa dan penulis.

Pameran turut diramaikan oleh penampilan musik dari Michael Felisianvs, musisi asal Jakarta yang baru saja memulai projek solo dengan mengambil tema #pulang.. Mike akan menyuguhkan musik bernuansa akustik dengan balutan tropical hawaiian folk dan blues, mencoba untuk berbagi kebahagiaan dan cerita-cerita kecil tentang kehidupan.

Selain pameran, galerikertas Studiohanafi melangsungkan Diskusi karya 4 perupa muda pilihan Hanura Hosea pada Minggu, 15 Desember 2019 pukul 16.00 WIB.

Dikutip dari penyelenggara pameran, pameran Burudiri diharapkan dapat menemukan jalannya lewat karya. Karya akan berargumen terhadap pembaca, sedangkan pembaca dengan kemampuan sosialnya akan berupaya memutuskan seleranya masing-masing untuk suka atau tidak terhadap karya. Proses-proses ini mencoba meletakkan buru diri tidak untuk menjinakkan tetapi justru meliarkan kembali diri.

Common money mindset part 2

Agus Chang, B.Sc, MPM, has more than 11 years of experience in the business, technology and methodology aspects of various financial institutions. Not only widening his perspective in financial knowledge, but the journey has also inspired him to be more deeply committed to share and raise awareness on how fundamental and essential financial knowledge is in achieving life fulfillment.

Topik ini meninjau ulang pola pikir dasar dari manusia mengenai keuangan yang selama ini populer dianut, sehingga diyakini benar.

Apa/siapa yang bisa membuat saya dapat uang cepat dan mudah?

Poin cepat dan mudah sudah dijelaskan sebelumnya pada poin nomor 5 di artikel pertama di mana segala hal yang konsisten membutuhkan proses. Kini banyak dijumpai analisis instrumen investasi disertai otomatisasi untuk melakukan transaksi, misalnya saham.

Tidak ada yang salah dari pemanfaatan teknologi dan otomatisasi untuk efisiensi. Namun hilangnya nilai edukasi dapat mengarah ke pembentukan mindset yang keliru. Spesifiknya bisa mengarahkan kepada pemikiran bahwa investasi adalah tanggung jawab orang lain atau tool yang ditawarkan. Perlu digarisbawahi bahwa keuangan Anda adalah tanggung jawab Anda. 

Pastikan dalam berinvestasi apa pun, Anda mengetahui cara kerja dan risiko instrumen yang Anda danai, di samping itu sadar bahwa Anda yang membuat keputusan investasi. Sehingga ketika profit Anda tidak hanya senang, namun yang terpenting Anda memberikan penghargaan ke diri sendiri. Hal yang sama berlaku ketika Anda menderita kerugian, Anda tidak menyalahkan orang atau tool, melainkan Anda memperoleh pelajaran berharga dan tumbuh dari sana.

Yang terpenting dalam investasi adalah tahu caranya

Penggunaan metodologi dan pilihan instrumen memegang faktor penting, namun ada aspek lain yang banyak dilupakan yaitu pengelolahan risiko dan faktor psikologis. Tidak ada metodologi atau tool yang menjamin investasi selalu menguntungkan. Saran maupun terms and condition sebuah tool pasti di dalamnya mencakup disclaimer. Hal ini tidak lepas karena ada faktor yang sulit untuk dijadikan tolok ukur, yaitu faktor psikologis.

Meminimalisir kerugian karena faktor psikologis dapat dilakukan dengan melakukan pengelolaan risiko, yang sederhananya dan secara umum tanpa melihat apa instrumen investasinya berupa diversifikasi dan melakukan riset pasar untuk menentukan target beli/jual dan/atau berapa lama.

Dia kaya karena hoki

Bila kita beranggapan memiliki banyak uang adalah karena faktor keberuntungan, bahkan diperkuat lagi bahwa kita bukan orang yang beruntung, maka selamanya kita tidak akan bisa meraihnya. Referensi hoki adalah hal yang tidak pasti dan terjadi tanpa sebab jelas. Mempercayai hal seperti ini mematikan upaya untuk bertumbuh dan sebenarnya hanya sebagai pembenaran seseorang untuk berhenti berusaha.

Lalu bagaimana dengan orang yang menang lotre? Faktanya orang yang memenangkan lotre lebih banyak yang kembali ke keadaan semula atau bahkan lebih parah dari sebelum memenangkan lotre. Hidup tidak dirancang untuk memberikan apa yang kita perlukan atau inginkan, melainkan apa yang pantas kita dapatkan.

Saya ingin kaya agar tak perlu bekerja lagi

Tidak ada yang salah dengan mindset di atas, yang mana umum diutarakan sebagai alasan ingin menjadi orang kaya. Pandangan ini membawa tingkat keberhasilan kita mencapai kekayaan menjadi nol persen.

Mengapa? Selain kaitannya dengan kepantasan, dilihat dari prosesnya, mindset tersebut menyiratkan kemalasan. Pada era di mana perubahan cepat terjadi dan ketatnya kompetisi seperti sekarang, kita dituntut secara konsisten bekerja menempa diri dan tidak berpuas diri. Jika pada hasil di awal (menjadi kaya) dengan tujuannya (tidak bekerja lagi) sudah tidak merefleksikan semangat yang harus dimiliki untuk mencapai hasil yang diinginkan, maka hampir mustahil untuk bisa mencapainya. Kecuali mungkin dengan menang lotre…

Saya ingin punya lebih banyak uang  

Jika seseorang menjawab demikian ketika ditanya “Apa yang Anda inginkan?” mungkin orang yang bijak atau yang cakap berkata-kata akan merespon, “Oke, ini uang 100 rupiah, apa yang Anda inginkan sudah terpenuhi, silahkan pergi.”

Kejelasan mengandung kekuatan. Penentuan tujuan sejelas mungkin dibutuhkan untuk mencapai hasil yang maksimal. Dalam tujuan finansial, kejelasan dapat berupa nominal uang yang ingin Anda peroleh, dan yang tidak kalah penting, target kapan Anda dapat mencapainya. Evaluasi dan bandingkan dengan keadaan saat ini, seringkali akan terlihat mustahil. Namun di situlah Anda sadar bahwa Anda harus mengembangkan diri dan memantaskan diri.

Common money mindset part 1

Agus Chang, B.Sc, MPM, has more than 11 years of experience in the business, technology and methodology aspects of various financial institutions. Not only widening his perspective in financial knowledge, but the journey has also inspired him to be more deeply committed to share and raise awareness on how fundamental and essential financial knowledge is in achieving life fulfillment.

Topik ini meninjau ulang pola pikir dasar dari manusia mengenai keuangan yang selama ini populer dianut, sehingga diyakini benar.

Semakin besar penghasilan, semakin besar uang yang dapat saya tabung/investasikan

Ada 2 poin yang perlu ditekankan dalam mindset ini. Pertama, menabung atau bahkan berinvestasi adalah mengenai disiplin dan komitmen, bukan perkara jumlah. Perlu dipahami bahwa menabung dapat dilakukan bahkan dengan hanya menyisihkan Rp 100 setiap hari dan untuk melakukan investasi pun di instrumen keuangan sudah dapat dimulai di nominal yang cukup terjangkau yaitu Rp 100.000.

Kuncinya adalah membangun mentalitas mengelola uang sejak dini, bukan besarnya jumlah uang. Formula umum berlaku yaitu rutinitas membangun kebiasaan dan akhirnya kebiasaan akan membangun karakter kita sebagai individu.

Kedua, yang menjamin besar uang yang dialokasikan untuk menabung adalah gaya hidup, bukan besarnya uang yang Anda terima. Banyak di antara kita ketika mendapatkan kenaikan penghasilan, yang pertama ditonjolkan adalah gaya hidup, sehingga akhirnya uang yang dapat disisihkan sebelum dan setelah pendapatan kita naik, sama, atau malah berkurang. Betul atau betul?

Apa pun yang saya miliki adalah aset saya

Masyarakat umum meyakini aset sebagai apa pun yang sudah kita miliki setelah kita mengeluarkan uang untuk mendapatkannya. Rumah adalah salah satu contoh yang diyakini oleh mayoritas sebagai aset. Mungkinkah rumah bisa menjadi beban? Jawabannya adalah tergantung. Bisa jadi rumah menjadi aset dan bisa juga masuk kategori beban.

Untuk menjelaskan secara sederhana apa asset dan apa liability, saya ingin mengutip definisinya sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Robert Kiyosaki.

Asset adalah apa pun yang menambah uang ke kantong Anda dan liability adalah apa pun yang membuat Anda mengeluarkan uang lebih banyak dari kantong Anda. Perjelas klasifikasi keduanya jika Anda juga sependapat dengan hal ini, dan mulailah fokus mengumpulkan aset yang sebenarnya.

Bersenang-senang dahulu selagi muda

Secara statistik, tingkat kesejahteraan masyarakat makin meningkat dari tahun ke tahun. Tingkat usia produktif masyarakat juga mencapai puncaknya dalam rentang tahun 2020 – 2030 atau yang kerap disebut bonus demografis.

Promosi terarah, kebiasaan konsumsi dan kemudahan akses berhasil dibangun oleh market place maupun fintech sekarang ini untuk mendukung terjadinya trading secara masif dan konsisten.

Dalam perencanaan keuangan, salah satu yang terpenting adalah melakukan selebrasi. Hal ini penting karena disiplin membutuhkan penghargaan agar dapat konsisten. Salah satu disiplin yang harus dilakukan adalah membangun aset.

Ungkapan yang tepat untuk membuka pikiran kita lebih jauh adalah semakin muda kita berhasil mengumpulkan aset, semakin panjang periode kita menikmati hasil dari aset kita. Apabila kita gagal ketika masih muda, kesempatan dan waktu masih panjang untuk kita memulai kembali.

Spend dahulu, tabung sisanya

Salah satu trik sederhana untuk menunjukkan relevansi dari komitmen dalam melakukan menabung adalah tabung dulu lalu belanjakan sisanya. Untuk itu, pertama-tama perlu dilakukan pencatatan pengeluaran selama sebulan. Dari sana kita bisa mengetahui pos-pos pengeluaran mana yang dapat ditekan dan mulai membuat target menabung/investasi.

Dengan terlihat kaya, saya bisa memperoleh pengakuan

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan untuk diakui oleh orang lain. Setiap dari kita memiliki hasrat untuk diakui. Kaitannya dengan mindset keuangan adalah kebutuhan pengakuan dapat diwujudkan antara lain dengan publikasi melalui media sosial. Untuk itu dibutuhkan ‘modal’. Tren ini disambut positif dan didukung oleh platform teknologi, berupa like dan ungkapan kekaguman.

Apakah artinya manusia tidak boleh mempublikasi kesuksesan mereka? Sangat boleh. Publikasi bisa bermakna positif jika memberikan inspirasi. Mindset yang perlu untuk dibentuk adalah pihak yang melihat publikasi tersebut. Dengan mengetahui bahwa ada proses untuk mendapatkan hasil dan personifikasi dengan hanya mencontoh hasil saja tidak memberi efek pengakuan yang konsisten namun malah akan membebani kondisi keuangan.

Spekulasi dari balik tembok: 3000 jam jalan kaki setelah karya

Heru Joni Putra is the curator of Galerikertas Studiohanafi. He is an alumnus of Cultural Studies Universitas Indonesia and the author of Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa (2017). Alihan is an art program held in Galerikertas Studiohanafi featuring a solo exhibition by Indonesian artist Hanura Hosea in conjunction with a series of related events. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 2 until 17 November 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

“Berpikir secara seni adalah tindakan politik.”

Hanura Hosea

Apa yang disebut sebagai tindakan politik adalah sebuah jalan penuh simpang. Salah satu, pada tataran paling sederhana, tindakan politis bisa berkembang dari keyakinan bahwa realitas adalah sesuatu yang tidak apa adanya, realitas tidaklah persis sebagaimana kita menginderainya.

Apa yang terlihat oleh mata bukanlah realitas yang sudah selesai. Begitu juga yang terdengar oleh telinga, terhidu oleh hidung, tercecap oleh lidah, teraba oleh kulit, terasa oleh hati, dan seterusnya. Indera kita memang menjadi instrumen paling lumrah untuk mengidentifikasi realitas tetapi indera-indera itu tidak dapat berfungsi sebagai alat untuk “memastikan” realitas secara keseluruhan. Indera kita barangkali hanya bisa mencapai bagian-bagian dari realitas.

Dengan begitu, kesadaran bahwa realitas yang kita indrai bukanlah realitas yang selesai, apa adanya, emang begitu dari sononya dst adalah sebuah kesadaran yang politis dalam memahami realitas. Dalam hal inilah, sebagaimana diucapkan juga oleh Hanura Hosea, berpikir secara seni adalah tindakan politik.

Sebab, berpikir seni adalah sebuah tindakan yang tidak melihat realitas secara lumrah belaka. Karya seni tidak sebatas pengeras suara dari fenomena kasat mata saja. Seni bahkan mempunyai beban yang lebih dari itu, yaitu menunjukkan realitas yang tak sepenuhnya terjangkau oleh indra manusia.

Gambar yang ditampilkan di samping ini merupakan salah satu karya Hanura Hosea yang dipamerkan dalam pameran Alihan di Galerikertas. Figur-figur yang ditampilkan di dalamnya, secara umum, dapat dengan mudah kita kenali dengan baik, sekalipun pada beberapa bagian kita menemukan berbagai pemiuhan bentuk—sehingga menunjukkan karakteristik sureal. Kita tahu, dalam gambar itu ada tiga figur manusia. Lalu ada satu figur surealis yang bersamaan dengan salah satu figur manusia.

Dari segi ruang, ketiga figur tersebut berada di tiga ruang yang berbeda. Tapi, dari segi waktu, menjadi rujukan dasar untuk menunjukkan apakah mereka di waktu yang sama atau tidak. Tapi, kita masih bisa mencari penanda waktu yang terselubung melalui jenis aktivitas yang dilakukan ketiga figur manusia itu: tidur, berenang, dan aktivitas perapian.

Sederhananya, tiga penanda waktu tersebut bisa kita bawa ke pengertian waktu keseharian, rutinitas, dan berkala. Namun begitu, sebagai konsekuensi dari peleburan ruang, gambar tersebut juga menyiratkan peleburan waktu.

Dengan demikian, bicara soal waktu, kita tak bisa lagi sepenuhnya bicara perihal waktu yang sudah tertata secara sosio-kultural. Gambar tersebut cenderung menyiratkan waktu sebagai sesuatu yang berlapis, berhimpitan, tidak kronologis, dan seterusnya.

Dengan demikian, gambar tersebut bukanlah proyeksi dari realitas yang bisa diidentifikasi dengan panca indera. Proyeksi yang dimunculkan gambar tersebut tidaklah suatu komposisi keseharian realitas kita sekalipun elemen-elemen gambarnya sangat akrab dengan kita. Meskipun demikian, itu bukan berarti bahwa gambar tersebut tidak ada hubungannya dengan realitas itu sendiri. Dengan cara serupa itu, gambar tersebut menunjukkan kepada kita suatu realitas yang lain, tapi sama “nyata”-nya dengan apa yang bisa kita inderai.

Apa benar ada realitas lain selain realitas yang dapat kita inderai? Di manakah realitas lain itu terjadi? Apakah kita berada di luar realitas lain itu atau justru tidak sadar ada di dalamnya?

Ada banyak jawaban yang bisa muncul, tapi kita tentu tidak akan lebih jauh menjawab pertanyaan tersebut. Yang jelas, pertanyaan serupa itu adalah pertanyaan yang sangat mungkin muncul melalui karya seni. Dan karena dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan serupa itulah kemudian karya seni tanpa dapat dihindari senantiasa menjadi “politis”.

Menjadi “politis” tentu tidak sama artinya dengan menjadi bagian “politik praktis”. Kita sering terjebak, ketika menyebut “politis” maka yang terbayangkan adalah politik pemerintahan yang kotor dan seterusnya. Menunjukkan apa yang tak tertunjukkan adalah salah satu dari apa yang disebut sebagai “menjadi politis”.

Bagi sebagian orang, gambar Hanura Hosea tersebut bisa saja menunjukkan realitas psikologis manusia di kondisi tertentu. Katakanlah seseorang yang merasakan hidup tak lagi punya jeda, bahkan apa yang semestinya terjadi secara berurutan justru berarsiran.

Dalam hidupnya, apa yang sedang dibayangkannya lebih nyata daripada apa yang sedang dilakukannya di saat yang sama. Ketika ia secara fisik sangat jelas melakukan aktivitas A, tapi yang sedang ada dalam pikiran dan perasaannya sedang melalukan B, C, dan seterusnya.

Mengapa realitas yang seperti itu bisa disebut politis? Karena banyak yang memandang bahwa realitas sebenarnya hanyalah realitas yang dapat diinderai.

Orang-orang hanya percaya pada apa yang bisa dilihatnya saja, segala yang bisa didengarnya saja, semua yang bisa dicecapnya saja dan seterusnya. Sehingga risikonya, sebagaimana contoh yang kita buat tadi, mereka lupa bahwa realitas juga bekerja di dalam wilayah psikologi. Padahal, realitas psikologi sama “nyata”-nya dengan realitas indrawi.

Karya seni tertentu, terutama non-realis, seringkali membuat kita menggerakkan kaki untuk bergelimang dengan realitas yang lain tersebut. Dengan begitu, tentu tidak salah lagi, bila kemudian ada yang berkata, “Betapa arogannya orang-orang yang hanya percaya pada apa yang bisa dilihatnya saja, pada apa yang hanya bisa didengarnya saja, pada apa yang bisa disentuhnya saja, dan seterusnya…”

Dari penjabaran di atas, kita sebenarnya belum bicara banyak. Kita baru mencoba melakukan pemaknaan kembali atas trinitas manusia, ruang, dan waktu pada tataran paling sederhana.

Selain soal itu, dari karya-karya Hanura Hosea, kita juga melihat suatu kecenderungan untuk memilih warna hitam-putih, sekalipun itu bukan hal aneh dalam drawing. Namun, sebagaimana di realitas itu sendiri, di dalam seni pun tidak ada yang “kebetulan” begitu saja, selalu ada sebab, bahkan selalu ada “yang politis” di balik setiap kejadian, baik disadari ataupun tidak (political unconsciousness).

Pembukaan pameran tunggal Hanura Hosea, Alihan, Galerikertas Studiohanafi, 2 November 2019

“Hitam-putih adalah pilihan selera.”

Hanura Hosea

Dan untuk suatu selera warna pun selalu terkandung “yang politis”. Sebagai contoh, kita bisa memulainya dengan pertanyaan seperti ini: sejak kapan warna pink menjadi warna perempuan? Mengapa orang akan tertawa ketika laki-laki menggunakan kaos pink? Kita tidak bisa melepaskan pertanyaan tersebut dari persoalan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan yang selalu ditekankan sebagai kelembutan, ketenangan, kesabaran, dan seterusnya tentu akan mudah dikaitkan dengan pemaknaan kita terhadap warna pink. Begitu juga sebaliknya, laki-laki yang selalu ditekankan sebagai keperkasaan, kekuasaan, kekuatan, dan seterusnya, dikesankan tampak mencolok atau tidak cocok dengan makna dari warna pink.

Kultur warna kita, dengan demikian, mengandung bias gender yang sangat kentara. Dalam contoh di atas, warna pink telah melegitimasi karakter standar untuk perempuan sekaligus melanggengkan karakter standar untuk laki-laki.

Dalam konteks kultur warna dan politik dibaliknya, para perupa seringkali, sengaja atau tidak, menghancurkan kebekuan-kebekuan warna seperti itu. Di tangan para perupa, setiap warna seringkali mendapatkan makna baru. Seringkali, warna yang sebelumnya kentara oleh bias gender, bias etnis, bias ideologi, dan seterusnya kemudian menjadi terbatas dari beban-beban serupa itu.

Dalam kasus gambar Hanura Hosea, warna hitam-putih bisa menjadi salah satu cara paling menarik untuk meminimalisasi muslihat warna, bias dalam warna. Warna semerbak, pada sisi lainnya, mempunyai watak untuk memanipulasi. Dalam contoh lainnya, pewarnaan di dalam desain komunikasi visual adalah salah satu strategi “manipulasi” seperti strategi menarik perhatian, dan seterusnya.

Dalam konteks ini, warna hitam-putih bisa digunakan untuk memberi penekanan pada gambar itu sendiri, sehingga kita tidak larut pada permainan atau komposisi warna dan warni. Dengan meminimalisir bias-bias warna lain, warna hitam-putih pun terus mengarahkan fokus kita bahkan sampai pada komponen gambar itu sendiri: kapasitas garis.

Mengapa Hanura Hosea membuat trinitas manusia-ruang-waktu dalam formasi tidak teratur dan kemudian memilih menggunakan warna hitam-putih—sebagaimana contoh gambar di atas tadi? Kalau tadi kita menyebut “realitas psikologis”, maka bagaimana perbedaannya bila realitas itu digambar dengan warna-warni dan hanya dengan hitam-putih saja? Bagaimana dinamika pemaknaan yang bisa kita temukan berdasarkan hubungan-hubungan antar indikator bentuk dan isi tersebut?

Itulah pertanyaan berikut yang dapat kita eksplorasi. Bagaimanapun juga, sekeping karya seni tak akan pernah habis kita bahas. Tulisan ini hanya sebuah pembuka kata untuk karya-karya Hanura lainnya. Selebihnya, para pengunjung pameranlah yang akan berkontemplasi sendiri dalam merespons karya Hanura Hosea.

Pertanyaan-pertanyaan terakhir tadi sengaja saya tinggalkan tanpa tawaran jawaban. Semoga dapat menjadi pantikan untuk melihat karya-karya Hanura lebih dalam dan dengan sudut pandang lainnya. Apa spekulasimu?

Alihan dalam kertas dan gambar

Alihan is an art program held in Studio Hanafi featuring a solo exhibition by Indonesian artist Hanura Hosea in conjunction with a series of related events. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 2 until 17 November 2019. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.

Galerikertas studiohanafi menghadirkan pameran tunggal Hanura Hosea berjuluk “Alihan”. Pameran yang akan berlangsung sepanjang 2 November-2 Desember 2019 ini merupakan pameran tunggal penutup untuk program galerikertas studiohanafi di tahun 2019.

Hanura Hosea merupakan perupa kelahiran Wates, Jawa Tengah, 1966. Setelah aktif berkarya di Yogyakarta dan berpameran di dalam dan luar negeri, ia saat ini menetap di Jerman.

Pada pameran “Alihan”, Hanura akan membawa gambar-gambar kertas sejumlah 245 buah. Kertas-kertas yang bercakap melalui garis dan kertas tersebut menghasilkan bidang gambar yang terbagi dalam tiga ruang: Museum, pabrik dan ruang pamer (Galeri).


Kertas-kertas bersaksi, “gambar-gambar telah tumbuh di bidangku”, ungkap Hanura. Lebih lanjut, ia menjelaskan dalam catatan pamerannya, “Gambar adalah alihan yang menawarkan jeda. Ia lengkap tapi bergembira dibubuhi dimensi.

Gambar adalah dilempari batu dan ludah. Gambar adalah penjaja pundi-pundi. Gambar adalah berkulit tipis. Gambar adalah tegangan. Gambar adalah ….”

Pembukaan pameran “Alihan” akan berlangsung pada Sabtu, 2 November 2019, pukul 19.00 WIB-selesai. Pameran akan dibuka oleh Hanafi selaku penggagas galerikertas studiohanafi dan Ugeng T. Moetidjo, perupa dan penulis.

Selain itu, pameran turut diramaikan oleh penampilan musik dari Deugalih, musisi multi-instrumen dan multi-genre yang telah melahirkan empat album indie. Saat ini menetap di Yogyakarta.

Menurut Ugeng, karya Hanura Hosea, tetap dengan watak gambar tuturnya, atau gambar dalam watak bertuturnya. Namun yang terang, padanya, bidang gambar merupakan ruang untuk pengisahan moral sosial—kali ini, dengan menjaga jarak dari politik, untuk jadi lebih domestik.

“Karyanya pada masa ini berumpun dengan pola representasi bertutur politik yang begitu menggejala pada segolongan perupa menjelang dan pasca lindapnya kekuatan otoritarian Orde Baru, seakan merayakan datangnya kebebasan kreatifitas” tutur Ugeng.

Berbicara tentang teknik penciptaan, Heru Joni Putra, kurator in house Galerikertas menitikberatkan cara berpikir Hanura pada karya-karyanya. Sebagaimana diucapkan juga oleh Hanura Hosea, berpikir secara seni adalah tindakan politik.

Sebab, berpikir seni adalah sebuah tindakan yang tidak melihat realitas secara lumrah belaka. Karya seni tidak sebatas pengeras suara dari fenomena kasat mata saja.

Seni bahkan mempunyai beban yang lebih dari itu, yaitu menunjukkan realitas yang tak sepenuhnya terjangkau oleh indra manusia.

“Kita baru mencoba melakukan pemaknaan kembali atas trinitas manusia, ruang, dan waktu pada tataran paling sederhana. Selain soal itu, dari karya-karya Hanura Hosea, kita juga melihat suatu kecenderungan untuk memilih warna hitam-putih, sekalipun itu bukan hal aneh dalam drawing.

Namun, sebagaimana di realitas itu sendiri, di dalam seni pun tidak ada yang “kebetulan” begitu saja, selalu ada sebab, bahkan selalu ada “yang politis” di balik setiap kejadian, baik disadari ataupun tidak (political unconsciousness)” tutur Heru.

Sepanjang pameran, Hanura bersama galerikertas Studiohanafi melangsungkan dua agenda pameran lainnya yang berlangsung sepanjang November 2019 di antaranya: Diskusi dan Presentasi Karya Perupa Muda bersama Hanura Hosea pada Minggu, 3 November 2019 dan Workshop Kertas Perupa Muda bersama Hanura Hosea pada 12-17 November 2019.