Topics

A Southeast Asian city narratives by a photographer turn artist

It’s All About the Story, Past, Present, Future is a solo exhibition by Rob Pearce, held in Galeri Kertas, Depok. think archipelago is a proud media partner of the exhibition that runs from 1 to 31 May 2019. To visit their official site, go to http://www.studiohanafi.com, or @galerikertas_art

During the 1000 days of mourning for his parents passing years ago, a common social behavior in parts of Asia, 57 year-old Robert Pearce, residing in Indonesia, drowned himself into period of contemplation.

Then, in frenzy collage, he glued pieces of cut photos of his parents, words from the books he read, leaves from plants on his lush yard, pasted it on the wall and had it photographed.

More than a visual object, it became a shrine where he left flowers as if he was in the cemetary, visiting his memories with them.

His intricate works are also composed of advertising posters he ripped on the streets and underpasses of Jakarta he had noticed during one of his his photography projects.

It took months to execute all the pieces together, and who knows how long to muster the idea. Judging from the finished objects, craft knife and paint are presumably tools he often uses.

Douglas Ramage, an avid collector of Hanafi’s works which he first came to know some 20 years back, said that in those time he would not have seriously thought about buying a photograph that he deemed of no artistic value. But Rob Pearce, whom he first met when he was a photographer, changed that notion.

“Rob loves to tell stories of his photos. I believe he can’t create something without telling the story,” Doug said in fluent Indonesian during the public discussion. His favorite is the medium format 2×1 photowork containing fragments of Jakarta, and interestingly, after a much closer look, the artist’s late mother.

He added that Rob tried to put his mother inside the frames, hidden in a rich selection of colors 

Hanafi is also notable for his preference to colors, the collector said.

“There is depth in Hanafi’s colors,” he said.

Hanafi said that within Rob is a soul that will never stop delving into the torned pieces, looking for each of the memory kept inside.

“Jakarta made me a better person, more tolerant, more patient,” Rob said, while adding that he hates the portrayal of Jakarta as another exotic Asian cosmopolitan city. Among his notable portfolio about Jakarta were Marunda Water (1999-2000), and Ripped Faces, 8008km (2001-2003).

The youth Rob came for the first time to Jakarta in 1970, before settling since the 1990 as an English teacher. His return in the 2000s after taking bachelor degree in Documentary Photography, University of Wales, Newport, began the journey that turned him from a photographer to a widely-recognized artist, a move he described as self-learning and mind-liberating.

Asked about the motivation behind the move, the artist who also obtained bachelor degree in Southeast Asian Studies, University of Kent, Canterbury, in 1983, said being a photographer is driven by his view of both romanticism and machoism, that of having oneself in a new place, investigating one case to another.

The downside is that the job is an instructed routine that can be mind-numbing. He wanted to tell more stories in creative ways and possibilities of his own making.

Looking into his works, the trace of photography are commonplace, but they have become less of an art photography and more of a mixed media art, uniquely shaped by the artist’s fragments of past memory, the current “Asian” state of being, and the way he visualizes the country he lives in.

Lembaran Kelengkapan. Rob Pearce. Joss paper, book pages, acrylic paint, acrylicink on aluminium composite. 2019.

Nevertheless, he said that the intuition shaped in the years of “tukang foto” still persist. He just feels lucky and seems grateful enough to be able to make narratives the way he wants to now.        

He credited Jakarta as his aesthetic teacher, saying, “My artworks came to be owing to Jakarta. They are inspired by the raucous noise, dust, and smoke around the city streets and flyovers.”

Lontar Foundation founder John H. McGlynn, on the opening day filled with lively ceremony and the line-up of musicians such as Oppie Andaresta, explained that Rob exhibit what used to be simple photoworks he had taken decades before they transformed into complex, impassioned artworks. Hence he suggested that each piece has an enriching story to be understood, learned by the audience.

It‘s All About the Story, Past, Present, Future by Rob Pearce is Galeri Kertas first exhibition of this year. On this occasion they simultaneously introduce their 2019 tagline: Let’s fill this town with artists.

As what has been the usual agenda of Galeri Kertas, Rob Pearce art exhibition precedes a workshop by the artist for selected young, aspiring artists, a public discussion, and the eventual workshop exhibition.

Curator Heru Joni Putra said the main source of material of Rob’s artwork is the books he read. Moreover, the torned pages he attached to joss “ghost” papers in Chinese ritual, for instance, showed Rob’s perseverance on exploring the paper-based artwork material, and how it conforms to Galeri Kertas mission to light up the exploration and promote the particular medium.

Asked why the displayed works are not signed with date of completion, it is revealed that Rob has phobia with his own signature, which explained why he decided to put it at the back of the frame.

For a supposedly dyslexic person, Rob left a somewhat articulate note on the wall to tell the visitors about the journey from his suburb home-garden in Cipayung to Hanafi’s art studio in Parung Bingung.

There was no eureka moment just the drip drip drip of learning. Observing that which can lead you in the direction of partial understanding. Of looking for opportunities and celebrating mistakes, as it is here that can lead to something new. The joy of randomness and the pleasure in work can come together, meshing and weaving intertwined threads with the aim of producing a piece that pleases the eye and tweaks the intellect.

Relevansi kepemimpinan K3 dalam peran memajukan keselamatan publik

Artikel ini merupakan bagian ketiga dan terakhir (3/3) dari makalah berjudul Dampak Kepemimpinan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Organisasi Terhadap Budaya Keselamatan Masyarakat, Business and Management Publication, Archipelago Strategic and Partners Indonesia, Jakarta, April 2019. Hak cipta dilindungi Undang-Undang.


Seiring modernisasi, di mana terjadi kompleksitas karakteristik lingkungan kerja, pendekatan ilmu keselamatan juga dituntut untuk memperluas cakupannya dari tempat kerja konvensional menuju tempat kerja skala mikro yang dinamis, informal, dan terfokus pada komunitas.

Arief Zulkarnain dalam bukunya Safety Leadership, 2016 menjabarkan faktor-faktor yang mempengaruhi sejauh mana kemampuan kepemimpinan K3 dapat membuat individu lain bergerak dan berubah untuk berperilaku aman:

  1. Individual behavior: faktor kepribadian instrinsik seorang pemimpin yang memiliki kebiasaan berperilaku aman sebagai tanggung jawab dan cara hidupnya (way of life).
    1. Nilai perorangan: norma yang melekat terkait konsep sikap dan pemikiran safety. Pemimpin yang menjadi panutan, sehingga dapat menggerakkan individu secara fisik untuk berperilaku aman.
    2. Karakter perorangan, yang dibentuk oleh pendidikan (education) dan pengalaman (trauma) seorang pemimpin. Karakteristik seorang pemimpin sangat mempengaruhi maturity suatu budaya organisasi, termasuk budaya K3.
    3. Kebiasaan terkait peran dan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap safety sebagai bagian dari kepemimpinannya. Pemimpin dituntut mampu melakukan transformasi safety sebagai nilai keseharian kepada semua level pegawai. 
  2. Perilaku sistem: lingkungan luar yang mempengaruhi karakter kepemimpinan.
    1. Perilaku organisasi, yaitu budaya atau norma perusahaan yang mempengaruhi interaksi antar individu atau kelompok kerja untuk mencapai tujuan perusahaan, lingkungan dan budaya kerja aman yang telah terbentuk, sehingga memudahkan seorang pemimpin menyampaikan visi perusahaan ke semua level pegawai.
    2. Sistem dan regulasi, acuan peraturan, prosedur, memo, atau bentuk konsensus lainnya.
    3. Komitmen, tidak hanya hadir dalam meeting investigasi kecelakaan, misalnya, tetapi bertanggung jawab terlibat dalam identifikasi root cause. Fokus berkolaborasi demi tujuan yang akan dicapai dan menetapkan indikator pencapaian sebagai parameter. 

Dalam kumpulan jurnal Safety Science tahun 2003, hambatan dan tantangan di keselamatan dan kesehatan kerja di UKM terletak pada kurangnya investasi pada sumber daya pendukungnya, sehingga UKM tidak mampu mempekerjakan ahli untuk mengelola aspek-aspek spesifik bisnis yang mereka geluti.

Konsekuensinya para manajer senior kerap diandalkan untuk mengambil alih berbagai fungsi manajemen, termasuk K3, yang mana mereka tidak dibekali oleh pengalaman yang cukup atau pelatihan formal.

Tint dan Jarvis (2009) mengungkapkan tidak jarang seorang manajer mengemban sejumlah tanggung jawab, seperti tanggap darurat kebakaran, keamanan, dan penanggulangan isu-isu lingkungan

Champoux and Brun, (2003) mengatakan pada kelompok UKM terkecil yang memiliki jumlah pekerja di bawah 50, pemilik wirausaha sekaligus manajer cenderung mengambil alih tanggung jawab K3 perusahaan, dan tidak mendelegasikannya ke manajer lain.

Swuste (2008) memandang para manager cenderung gagal untuk meningkatkan pengetahuan mereka dengan informasi yang memadai karena mereka terkendala waktu, cara, dan inisiatif.

Kepemimpinan K3 Spesifik Usaha Kecil Menengah (UKM)

Reason (1997)  berpendapat bahwa budaya keselamatan sebuah organisasi tercermin dari kebijakan, proses, dan penerapan K3 yang ditentukan oleh kepemimpinan manajerial dalam mengelola risiko. Sehingga, pengambilan keputusan di level manajer senior terkait pengendalian risiko merupakan faktor penentu terciptanya budaya keselamatan di dalam sebuah organisasi. 

Walter (2004) berargumen bahwa isu-isu terkait K3 di usaha kecil dan menengah lebih disebabkan oleh manajemen risiko yang buruk dibandingkan tingkat keparahan risiko yang ada di kategori usaha tersebut.

Ia melanjutkan bahwa tolok ukur pengaruh K3 dalam keputusan manajemen senior sehari-hari dapat dilihat dari keseimbangan antara prioritas K3 melawan target-target organisasi, misalnya produktivitas. 

Vassie et al (2000) berpendapat bahwa faktor pendorong utama terciptanya budaya keselamatan di UKM terlihat pada dijalankannya komitmen para manajer, mengingat tanggung jawab terhadap K3 kerap diemban oleh manajer paling senior.

Persepsi K3 di antara manajer senior di UKM juga berperan penting dalam menentukan persepsi K3 di antara para pegawai. Namun kurangnya waktu dan keahlian di bidang keselamatan dan kesehatan membuat para manajer mengambil pendekatan informal hingga lepas tangan dalam pengelolaan K3. Namun riset oleh Zohar (2002) menunjukkan gaya kepemimpinan pasif dan penuh kelonggaran (laissez faire) berdampak buruk terhadap iklim K3 dan berujung pada meningkatnya kecelakaan kerja.

Sebaliknya penelitian dari Flin (2003) memperlihatkan bahwa sikap senior manajer dalam melihat K3 penting bagi upaya memahami jenis-jenis kegiatan K3 yang didukung organisasi.

Barret et al (2005) menambahkan persepsi para pimpinan organisasi terhadap K3 menentukan tingkat keberhasilan dari intervensi K3.

Komitmen K3 Pemimpin Organisasi

Rundmo and Hale (2003) mempelajari sikap para direktur, wakil direktur, dan manajer senior dalam melihat K3 di salah satu perusahaan minyak di Norwegia. Hasilnya, persepsi mereka terhadap K3 terkait erat dengan kecenderungan dan kebiasaan mereka dalam beraktivitas secara aman, termasuk komunikasi K3, memotivasi pekerja, dan meningkatkan pengendalian bahaya terhadap K3.

Sikap yang paling signifikan antara lain komitmen manajemen yang tinggi, prioritas kepada keselamatan dan kesehatan pekerja, kesadaran risiko yang tinggi, dan pencapaian angka fatalitas yang sangat rendah.

Mearns et al. (2010), menyebutkan aspek-aspek kepemimpinan otentik yang berhubungan erat dengan budaya K3 di industri kilang minyak lepas pantai (offshore) di Norwegia, yaitu:

  1. Kesadaran diri untuk mengemban peran aktif sebagai pemimpin (self-awareness
  2. Pembinaan hubungan secara transparan
  3. Perspektif moral
  4. Keberimbangan dalam mempertimbangkan banyak aspek saat pengambilan keputusan
Sosialisasi persyaratan Contractor Safety Management System PT Waskita Karya kepada para subkontraktor di Jakarta merupakan upaya penekanan sekaligus standarisasi K3 konstruksi semua pihak terkait di lingkup pekerjaan Waskita

Studi lanjutan oleh Kelloway, Mullen, dan Francis (2006) menemukan bahwa kepemimpinan pasif, di mana pemimpin mengambil tindakan setelah terjadi insiden dan gagal melakukan intervensi hingga sebuah sebuah potensi bahaya menjadi serius, berdampak tidak langsung terhadap kejadian-kejadian bahaya dan kecelakaan kerja. Hal ini disebabkan oleh pengaruh negatif yang mereka tularkan kepada persepsi para pekerja terhadap kesadaran mereka yang rendah akan kondisi kerja aman.

Champoux and Brun (2003) meyakini bahwa kepemimpinan K3 yang pasif bukan berarti hanya berimbas pada tiadanya peningkatan K3, melainkan mengakibatkan peningkatan jumlah kecelakaan kerja. Selalu ada kecenderungan para manajer untuk memprioritaskan produksi dibandingkan K3.

Kelloway et al (2006) berargumen bahwa para manajer tidak menghitung dampak merusak yang disebabkan oleh terabainya upaya meningkatkan kesadaran K3 dan menggalakkan budaya K3.  Dampak negatif ini secara langsung mengakibatkan kecelakaan kerja.

Kepemimpinan K3 Dalam Keadaan Darurat Bencana  

Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh, dapat menjadi studi kasus kepemimpinan K3 organisasi saat terjadi pasca tsunami tahun 2004. Direktur utama PT Angkasa Pura II Edie Haryoto dalam bukunya Transportasi Pro Rakyat, 2013, pada masa itu menanggapi keadaan darurat dengan memfungsikan area bandara sebagai pos komando sukarelawan, prasarana bantuan logistik udara dari dalam negeri maupun luar negeri, dan tempat penampungan korban bencana alam.

Tindakan awal yang dilakukan manajemen adalah konsolidasi sumber daya yang amat terbatas untuk menangani tugas berat. Di bawah dapat dilihat bahwa peran sumber daya manusia menempati posisi teratas dalam penanggulangan keadaan darurat bencana alam.

  1. Tenaga kerja: detasering pegawai dari kantor pusat dan bandara lainnya hingga sebanyak 400 orang untuk menangani kekurangan jumlah personel Bandara SIM yang juga berada dalam keadaan tertekan akibat kekhawatiran terhadap keluarga yang terdampak bencana.
  2. Infrastruktur dan peralatan yang tidak mencukupi, seperti peralatan komunikasi navigasi dan komunikasi umum harus didatangkan sekaligus teknisinya, karena praktis semua jaringan komunikasi di Aceh tidak berfungsi. Membuka jaringan komunikasi melalui VHF dengan nomor-nomor telepon Jakarta dan Medan sehingga telepon ini bisa digunakan tanpa henti untuk keperluan dinas bandara, sukarelawan asing, instansi, dan sebagainya.
  3. Sterilisasi halaman Bandara SIM karena alasan keamanan bandara, meski di tengah banyaknya tenda sukarelawan dan peralatan.
  4. Fasilitas pendukung operasional bandara seperti bahan bakar untuk generator, tenda, makanan dan tambahan perusahaan ground handling untuk menangani bongkar muat pasca bencana.

Tidak luput dari proses evaluasi, Edie menulis bahwa prosedur manajemen operasional bandara dalam kondisi pasca bencana perlu disusun dan ditetapkan sebagai upaya antisipasi setelah mengoreksi beberapa poin dari pengalaman di saat pasca tsunami:

  1. Bantuan yang diberikan terarah dan tidak asal bawa dan sesuai kebutuhan daerah bencana. Dalam hal ini pemerintah perlu mengumumkan dengan jelas kepada masyarakat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tentang jenis bantuan yang amat diperlukan di daerah bencana dan informasi kondisi medan yang akan dihadapi sukarelawan.
  2. Organisasi pengirim bantuan hendaknya selektif dalam mengirim para sukarelawan yang siap menghadapi kondisi bencana.

Perubahan Kepemimpinan K3

Kepemimpinan K3 memberikan dampak penting pada hasil K3. Semakin banyak riset yang terfokus pada manfaat-manfaat dari berbagai bentuk perubahan kepemimpinan yang spesifik, yang bisa diasosiasikan dengan peningkatan kesadaran K3 di antara pegawai dan penurunan angkat kecelakaan kerja.

Gaya kepemimpinan ini memiliki karakteristik memberikan dukungan dan insentif bagi pekerja yang berperilaku selamat, mendengarkan masalah-masalah pekerja, mendorong partisipasi pekerja dalam pengembangan manajemen K3, dan memberikan teladan melalui komitmen.

Conchie dan Donald (2009) mengangkat isu perubahan kepemimpinan dan dampaknya terhadap kepercayaan pekerja terhadap para manajer dari sudut pandang K3. Mereka menemukan bahwa kepercayaan K3 yang diperoleh para manajer dari para pekerja akan berdampak pada kualitas hubungan dan partisipasi sumber daya manusia di dalam organisasi.

Perilaku selamat para pekerja dipengaruhi oleh perubahan kepemimpinan K3. Agar dapat berjalan efektif dan dipercaya, kepemimpinan K3 harus dijalankan. Hubungan sosial yang erat berpotensi menciptakan kepercayaan terhadap para pemimpin.

Clarke dan Ward (2006) menyimpulkan strategi pemimpin melakukan pendekatan rasional (menggunakan logika argumen dan memaparkan bukti), berkoalisi (menggunakan kolega untuk memberikan tekanan agar pekerja patuh), dan konsultasi (melibatkan pekerja dalam proses pengambilan keputusan) berhubungan dengan terciptanya partisipasi K3 dalam organisasi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa bermacam-macam perilaku pemimpin berdampak pada persepsi pekerja dan masyakarat terhadap kemajuan budaya K3 dan keselamatan masyarakat.

Perkembangan budaya keselamatan publik

Artikel ini merupakan bagian kedua (2/3) dari makalah berjudul Dampak Kepemimpinan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Organisasi Terhadap Budaya Keselamatan Masyarakat, Business and Management Publication, Archipelago Strategic and Partners Indonesia, Jakarta, April 2019. Hak cipta dilindungi Undang-Undang.


Budaya Keselamatan Masyarakat

Dalam kumpulan jurnal ilmiah Occupational Safety and Health, Public Health in the 21st Century, 2014,  Kavouras dan Chalbot berargumen bahwa cakupan tujuan dari penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak hanya terbatas pada perlindungan kepada keselamatan dan kesehatan seorang pekerja saat bekerja di tempat kerja, namun juga individu yang berhubungan dengan pekerja tersebut, seperti keluarga, kolega, dan komunitas seperti pelanggan, pemasok, dan semua yang menjadi subyek pengaruh karakteristik K3 di tempat kerjanya.

Arief Zulkarnain dalam bukunya Safety Behavior, 2018, berargumen kita perlu membuat safety sebagai norma, karena dengan demikian masyarakat memiliki keyakinan dan disiplin untuk mencapai tujuan yang sama. Layanan jasa yang menurutnya kerap berkaitan dengan nilai safety antara lain transportasi, perbaikan kendaraan, hotel.

Ia menambahkan, ada tiga alasan yang mendasari kecenderungan perilaku (human tendency) terhadap isu keselamatan dapat berubah:

  1. Dampak: individu cenderung mengabaikan norma keselamatan jika dampaknya tidak secara langsung dirasakan.
  2. Lingkungan: jika individu mengabaikan aturan dalam sistem berarti telah melanggar norma komunitasnya. Sebaliknya, individu cenderung taat pada suatu lingkungan yang tersistem.
  3. Waktu: desakan waktu semakin mempengaruhi individu untuk mengabaikan keselamatan. Contoh: pelanggaran rambu lalu lintas karena mengejar waktu. 

Dalam teori behavior based safety (BBS), perilaku selamat dapat terbentuk melalui penanaman framing mengenai nilai keselamatan dan aktivitas sehari-hari. Framing perilaku selamat yang dimaksud adalah:

  1. Nilai dan kebutuhan (value and need) saat ini yang mengarah kepada nurani individu untuk beraktivitas secara aman yang dilandasi oleh nilai yang sudah pernah diterima sehingga diyakini sebagai sebuah kebutuhan untuk menjamin keselamatan diri.
  2. Nilai dan kebutuhan di masa depan, yaitu rasa cinta individu untuk tetap berarti bagi orang-orang terdekat yang dikasihi, sehingga mendorongnya untuk tetap berhati-hati dalam beraktivitas

Tanggung jawab individu untuk berperilaku mengutamakan keselamatan agar tidak membahayakan dirinya maupun lingkungan sekitar otomatis menciptakan kondisi aman. Zulkarnain menyimpulkan bahwa struktur pembentukan budaya safety berawal dari perilaku aman individual, kemudian group safe behavior, dan public safe behavior.

Konteks Budaya Organisasi Modern

Dalam buku Organizational Behavior oleh Robert Kreitner dan Angelo Kinicki, 2014, budaya organisasi (organizational culture) adalah perangkat asumsi yang dibagi secara implisit begitu saja serta dipegang oleh satu kelompok yang menetukan bagaimana hal itu dirasakan, dipikirkan, dan bereaksi terhadap lingkungan yang beragam.

Terdapat tiga unsur penting pada budaya organisasi:

  1. Budaya yang diberikan kepada para pegawai baru melalui proses sosialisasi.
  2. Budaya organisasi mempengaruhi perilaku pekerja saat bekerja.
  3. Budaya organisasi yang beroperasi pada level umum (lingkungan sekitar) yang berbeda melalui sosialisasi dan mentoring.

Menurut Kreitner dan Kinicki, tiga unsur budaya organisasi di atas diciptakan oleh empat karakteristik kunci:

  1. Nilai-nilai pendiri
  2. Lingkungan industri dan bisnis
  3. Kebudayaan nasional
  4. Visi dan sikap pemimpin senior

Southwest Airlines, salah satu maskapai terbesar d Amerika Serikat, berada dalam 5 besar perusahaan di Amerika Serikat untuk kategori Best Companies to Work For versi majalah Fortune dari 1997 hingga 2000, dan perusahaan paling diidamkan ke-12 di AS tahun 2008 karena kebudayaan yang kuat dan berbeda.

Empat fungsi budaya organisasi di Southwest antara lain:

  1. Memberikan para anggota sebuah identitas organisasi. CEO Southwest Airlines mengakui bahwa orang-orang kami merupakan kekuatan terbesar satu-satunya milik kami dan keuntungan bersaing jangka panjang kami yang paling penting.
  2. Memfasilitasi komitmen bersama terhadap misi: dedikasi terhadap kualitas tertinggi layanan pelanggan.
  3. Mempromosikan stabilitas sistem sosial melalui lingkungan kerja yang positif dan sejahtera.
  4. Membentuk perilaku dengan membantu para anggota memahami lingkungan sekitar mereka.
Penumpang domestik menunggu keberangkatan di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali. Membudayakan perilaku tertib dan selamat di masyarakat di fasilitas umum berguna bagi terjaganya keselamatan bersama.

Contoh studi kasus di Indonesia, pada tahun 2012 angkutan lebaran mencatat angka kecelakaan terbesar dari pemudik sepeda motor akibat kondisi mudik yang semrawut, seperti yang tercatat di dalam buku Transportasi Pro Rakyat, Edie Haryoto, 2013.

Ditambah lagi data dari Kementerian Perhubungan di masa itu menunjukkan bahwa peningkatan 7,6% kapasitas pesawat tidak dapat mengejar peningkatan permintaan dari jumlah pemudik sebesar 10%.

2,4% penumpang yang tidak tertampung oleh kapasitas angkutan udara kemungkinan besar akan menggunakan bus atau kendaraan pribadi, bukan kereta api, karena kapasitas kereta api sangat tidak mencukupi, terutama setelah kebijakan mengangkut sesuai jumlah tempat duduk. Kebijakan ini disertai dengan kemudahan memesan tiket, serta penggunaan boarding pass, membuat pelayanan menjadi lebih baik, nyaman, dan tertib.

Tapi di sisi lain hal ini menambah kepadatan jalan raya serta risiko kecelakaan, mengingat sebagian besar pengguna jalan raya adalah pemudik sepeda motor yang rentan mengalami kecelakaan.

Pemudik kereta api yang tidak mendapatkan tiket tidak akan membatalkan rencana mudik setahun sekali. Walaupun pemerintah menghimbau untuk tidak menggunakan sepeda motor, merencanakan angkutan lebaran yang bertumpu pada jalan raya otomatis menggiring pemudik untuk menggunakan sepeda motor.

Kondisi ini diperburuk oleh tiadanya penambahan panjang jalan sebab Kementerian Pekerjaan Rakyat hanya menyiapkan beberapa jalur alternatif dan beberapa perbaikan jalan.

Masyarakat menggunakan layanan kereta api komuter di Stasiun Bogor. Kesadaran untuk menjaga keselamatan diri masing-masing akan menciptakan keselamatan bersama.

Selain upaya meningkatkan kesadaran berperilaku selamat di masyarakat, secara holistik diperlukan penambahan kapasitas transportasi publik disertai pembatasan penjualan motor, serta insentif pemudik yang mudik setelah lebaran dengan menetapkan tarif murah.

Dengan kebijakan-kebijakan tersebut tampak bahwa budaya K3 di perusahaan angkutan massal darat dan udara seperti PT Kereta Api Indonesia dan PT Angkasa Pura II telah secara langsung berdampak pada keselamatan masyarakat.

Keselamatan publik abad 21

Artikel ini merupakan bagian pertama (1/3) dari makalah berjudul Dampak Kepemimpinan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Organisasi Terhadap Budaya Keselamatan Masyarakat, Business and Management Publication, Archipelago Strategic and Partners Indonesia, Jakarta, April 2019. Hak cipta dilindungi Undang-Undang.


Upaya pemerintah untuk membudayakan perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Indonesia mendapat penekanan penting sejak diterbitkannya Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yang hingga kini tetap menjadi acuan pembuatan regulasi-regulasi turunannya.

Sama halnya dengan kecenderungan tatanan ekonomi negara-negara berkembang menjelang abad ke-21 yang ditandai dengan industrialisasi berbasis tenaga kerja, regulasi demi regulasi di bidang ketenagakerjaan di Indonesia, khususnya perlindungan terhadap kecelakaan kerja, telah berdampak pada tingkat kepatuhan hukum di bidang keselamatan kerja.

Sejalan dengan penegakan peraturan dan mekanisme pengawasan, baik dari pihak berwenang maupun sukarela di tingkat organisasi, budaya keselamatan dan kesehatan kerja merupakan faktor pendorong untuk mewujudkan dunia kerja yang aman dan selamat.

Di antara sekian banyak variabel pengukur penerapan budaya selamat di tempat kerja, kepemimpinan semakin menjadi perhatian penting, sedemikian pentingnya sehingga badan standarisasi dunia seperti International Organization for Standardization (ISO), misalnya, mensyaratkan kepemimpinan dalam standar sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di versi tahun 2018, dan juga standar sistem manajemen lainnya yang telah mereka seragamkan melalui istilah high level structure

Hal ini beranjak dari pemahaman bahwa para pimpinan dalam sebuah organisasi berperan langsung dalam menentukan seberapa jauh organisasi tersebut menaati peraturan yang berlaku serta membudayakan perilaku K3 di tempat kerja dan pada akhirnya menjadi kebiasaan di kehidupan selepas jam kerja yang juga akan mempengaruhi persepsi tentang keselamatan masyarakat sekitar.

Keselamatan Berkendara

Data kecelakaan lalu lintas nasional pada 2017 mencatat 577 korban luka berat dan 222 kematian akibat perilaku berkendara tidak aman, yaitu kelebihan batas kecepatan. Di tahun berikutnya perilaku yang sama menyebabkan 337 korban luka berat dan 276 kematian.

Dalam acara Konstruksi Indonesia 2018 di Jakarta, penulis mengikuti seminar dan workshop Membangun Budaya Keselamatan pada Industri Konstruksi Berdaya Saing Tinggi di Indonesia. Salah satu panelis dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat memaparkan rendahnya angka kecelakaan fatal di pembangunan jalan setahun terakhir, sebelum ditanggapi oleh salah satu peserta seminar mengenai nilai sesungguhnya dari pencapaian tersebut apabila mempertimbangkan angka kecelakaan pengguna jalan yang tetap tinggi.

Pengendara berhenti di persimpangan Jl. Medan Merdeka, Jakarta Pusat

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi DKI Jakarta menunjukkan jumlah kecelakaan lalu lintas jalan tol tahun 2014 sebanyak 1164, dengan jumlah kematian 82 orang. Sebab kecelakaan terbesar berasal dari pengemudi, dengan 977 kasus, kendaraan 178 kasus, dan faktor lingkungan (3 kasus).    

Data Kepolisian Republik Indonesia tahun 2017 menunjukkan 61% kecelakaan lalu lintas di Indonesia disebabkan kemampuan dan karakter pengemudi, 30% faktor prasarana dan lingkungan, dan 9% faktor kelayakan kendaraan. 

Perilaku berkendara aman di masyarakat Indonesia dalam 5 tahun terakhir tetap berada di tingkat memprihatinkan dengan tetap menyandang status utama penyebab kecelakaan fatal. Di samping itu, faktor kelayakan prasarana dan lingkungan turut mengancam keselamatan masyarakat di perjalanan.

Keselamatan Moda Transportasi Massal

Jusman Syafii Djamal, Menteri Perhubungan Kabinet Indonesia Bersatu Pertama 2007-2009, dalam kata pengantarnya di buku Transportasi Pro Rakyat, 2013, mencatat, Edie Haryoto sebagai direktur utama PT Kereta Api Indonesia mengundurkan diri di tahun 2000 setelah peristiwa tabrakan dekat Pos Rawabuntu, Tangerang, Banten, yang memakan 4 korban jiwa.

Badar Zaenie juga mundur dari jabatannya sebagai direktur utama terkait tewasnya 30 orang setelah tabrakan kereta di Stasiun Ketanggunan Barat, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Desember 2001.

Menurut Jusman, Edie Haryoto telah dengan sukarela memberikan contoh teladan kepada masyarakat tentang arti tanggung jawab moral ketika diberi amanah menjadi pemimpin sebuah BUMN yang berorientasi pada pelayanan publik.

Bandar Udara Internasional Kualanamu, Medan

Dalam buku yang berisi kumpulan catatan Edie Haryoto tersebut, diceritakan saat menjabat sebagai direktur utama PT Angkasa Pura II tahun 2002-2010, Edie dengan aktif mendukung program Roadmap to Zero Accident melalui berbagai langkah korporasi pada tahun 2007, saat membangun Bandar Udara Internasional Kualanamu, Medan, bandara pertama di Indonesia yang memiliki akses jalur kereta api dan city checkin terminal, di antaranya fokus pada pemberantasan pungutan liar di layanan taksi bandara.

Selanjutnya, atas masukan Jusman tentang kaitan antara toilet yang kotor dan dampaknya terhadap program roadmap to zero accident, Edie secara konsisten merombak semua sistem pembuangan kotoran dan mengganti semua peralatan di dalamnya, seperti keran air, dinding kumuh, dan sebagainya, demi memberikan layanan terbaik bagi pekerja dan pelanggan.

Ia menulis bahwa setiap elemen kecil di bandara perlu dicermati karena pasti ada kaitannya dengan peningkatan keselamatan dan keamanan penerbangan. Di dalam ketidakteraturan, ketidakbersihan, dan ruang yang tidak steril, ancaman pada keamanan bandara dan penerbangan bisa muncul tanpa diduga.

Contohnya seorang pilot atau pramugari terpeleset di toilet, kepalanya terbentur, dan ia tetap menjalankan tugasnya. Skenario kecelakaan kerja seperti ini tentu akan membuatnya tidak mampu berkonsentrasi membawa pesawat terbang dengan nyaman dan aman sampai tujuan.

Pesawat penumpang saat taxiing di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Wiraswasta

Pada sebuah makalah berjudul Developments Regarding the Integration of the Occupational Safety and Health with Quality and Environment Management System oleh Gilberto Santos, Manuel Rebelo, Barros et al, yang dimuat dalam jurnal ilmiah Occupational Safety and Health, Public Health in the 21st Century, 2014, terangkum hasil penelitian tentang perkembangan usaha kecil dan menengan (UKM) di negara para peneliti, Portugal, menuju sertifikasi sistem manajemen K3, sistem manajemen mutu, maupun integrasi kedua sistem manajemen tersebut.

Mengacu pada standar sistem manajemen mutu ISO 9001 dan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja OHSAS 18001, sebanyak 300 kuesioner dibagikan kepada 300 UKM.

Mereka berpendapat tempat kerja di masa depan akan disesaki oleh usaha-usaha mikro yang fleksibel dan tahan banting.

Bahkan sejak 1980-an, para peneliti mengatakan bahwa tren peran penting UKM yang sedang mengalami tren peningkatan mengindikasikan awal baru era industrialisasi dan manufaktur yang semakin manusiawi dibandingkan generasi buruh massal jaman dulu.

Toko makanan ringan di Pasar Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat

Kesimpulan penelitian mereka adalah aset terbesar organisasi di wilayah atau negara mana pun adalah manusia yang memiliki kompetensi. Sumber daya manusia adalah sumber daya yang paling berharga di organisasi mana pun, di negara mana pun, tapi sayangnya belum disadari oleh sebagian pemimpin.

Menurut European Agency for Safety and Health at Work (2002), isu-isu perubahan tatanan dunia kerja atau Changing Work World  memiliki karakteristik berikut:

  1. Bentuk organisasi kerja baru
  2. Hubungan kontrak model baru antar pihak terkait
  3. Waktu kerja baru
  4. Teknologi baru
  5. Perubahan pada tenaga kerja
  6. Perubahan pada keselamatan dan kesehatan kerja.

Dalam makalah terpisah berjudul Occupational Safety in Finland and South Korea, Salminen dan Seo menemukan bahwa berdasarkan data dari negara-negara yang tergabung di OECD tahun 2012, porsi wiraswasta (self-employed) lebih tinggi di Korea Selatan (28,8%) dibandingkan Finlandia (13.5%).

Masalahnya adalah para wirausahawan di Finlandia menghadapi jumlah kecelakaan kerja 40% lebih tinggi dibandingkan kelompok pekerja di Finlandia.

Di Amerika Serikat, pekerja mandiri 2,7 kali lebih sering menjadi korban kecelakaan kerja fatal dibandingkan pegawai perusahaan. Sementara data perbandingan ini tidak tersedia di Korea Selatan.

Old banyan temple upholds new green policy

Liu Rong TempleLiu Rong Temple, with over 1500 years of history dated back from Song Dynasty, is a tranquil scenic spot for both Buddhist worshippers, scholars, and tourists, surrounded by ancient banyan trees seemingly hidden in the concrete jungle of Guangzhou, one of the largest cities in China.

The renovation in the 90s has introduced two modern symbols of the temple, the Gong De Tang praying center, and the learning hall center.

Before it underwent major and costly renovation in the 90s, Gong De Tang was in its antiquated shape. hence the growing community and visitors alike called for a restoration which, after its completion, was followed by a new policy “the modern civilization prayer service”, encouraged in part by the central government.

In the face of environmental issues, the temple prohibits visitors from carrying incense to perform their ritual in the temple, instead providing a limited number of 3 earth-friendly incense sticks per person for free.

There will be no more sight of excessive ashes from burned joss papers as in old rituals.

Another modern facility in the complex is the conference center to hold traditional, cultural, and art learning, taught by Buddhist scholars from colleges across China.

In the first half of 2018, over 12 seminars were held, attended by around 5000 guests, domestic and foreign alike.

Liu Rong Temple

Paralaks Fiksi challenges the norms in today’s art exhibitions

Paralaks FiksiParalaks Fiksi is a paper painting exhibition and other art installation by Cecil Mariani, held in Galeri Kertas, Depok. think archipelago is a proud media partner of the solo exhibition that runs from 8 December 2018 to 7 January 2019, among other agenda. To visit their official site, go to http://www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.


Graphic designer Cecil Mariani’s solo exhibition Paralaks Fiksi was opened by Ugeng T. Moetidjo, Hanafi and Heru Joni Putra, and a repertoir by young composer Gema Swaratyagita with Laring Project.

Ugeng spoke of Paralaks Fiksi as an exhibiton of three main layers: the conventional paper art, a new discourse on artist space to study, or a studio, and art paper workshop.

Studio Hanafi Person in Charge Heru Joni Putra said that the concept of Paralaks Fiksi is drawn upon a consensus that everything is engineered, or at least what it intends to show, concerning not the artworks themselves, but also the work space activity that some described as a lab or studio, and the exhibition space, or a storefront.

Geger Riyanto described Cecil’s works in this exhibition in one word, Grotesque, in what he saw as an awkward forms and movements of human body to an extent that human features no longer exist.

Cecil herself described her anxiety to challenge the predisposed idea of what an art exhibition has become, the pretext of social issues that have a tendency to justify it, its norms, intentions, hence work on some possible alternate versions than a mere urban commodity.

The exhibition precedes discussion presenting speaker Geger Riyanto and moderator Agung Hujatnikajenong, as well as the workshop Paralaksis Institut, where the artist work with a bunch of aspiring your artists, part of the agenda of Galeri Kertas’ exhibition program, on experimental paper painting methods involving design, art, and technology.

After graduated from Visual Communication Design, Pelita Harapan University, Cecil Mariani took master’s degree of Fine Arts in the School of Visual Arts, New York.

Cecil is a teacher at Institut Kesenian Jakarta graduate program, and a researcher at Purusha Research Cooperative.

Some of her works have been featured in 2017 OK Video-OKPangan, Warung Kolektif & Bank Kolektif, 2016 Frankfurt Book Fair, 2015 Orde Baru, Indonesia National Galery, while her first exhibition was in 2001 Philip Morris Indonesian Art Award Finalist, Galeri Nasional, Jakarta.

Cecil Mariani

Cecil Mariani’s paper-medium artwork in Paralaks Fiksi, Galeri Kertas, 8 December 2018 to 7 January 2019

Reanimating cultural polemic in the National Theater Week 2018

undangan depanNational Theater Week 2018 is an annual theater event initiated by the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia, and Jakarta Arts Council, since 2017. think archipelago is a proud media partner of the week-long event which runs from 6-14 October, Graha Bhakti Budaya, Jakarta.


DSC_7356

Theatrical piece SIDE B 47:17 [speech, noise and effect] by Teater Ghanta, Graha Bhakti Budaya, Jakarta, 9 October 2018

Compared with the first event last year held in Gedung Societed Komplek Taman Budaya Yogyakarta, and participated by 10 group of theaters from 10 provinces of Indonesia, Pekan Teater Nasional or the National Theater Week 2018 involves 16 groups across 15 cities, categorized into three types of city, community, and campus theaters.

Among the lineups are Teater Language (Sumenep-Madura), Sandiwara Pettapuang (Makassar), Teater Sakata (Padangpanjang), Komunitas Polelea (Sigi, Sulawesi Tengah), Teater Ghanta (Jakarta), Teater Selembayung (Pekanbaru), Teater Bel (Bandung), Teater Akar (Tegal), Teater Yupa (Samarinda), Teater Sirat (Surakarta), Akarpohon (Mataram), Teater Rumahmata (Medan), Nara Teater (Lewolema, East Flores), Teater Tobong (Surabaya).

Jakarta Arts Council Theater Committee Head Afrizal Malna stressed out public participation in the country’s modern theater, serving the purpose of education and performer regeneration.

Besides daily performances throughout the week, twice a day at 16:00 and 20:00, the event also exhibits archival collection, performing arts education timeline, forums, and the 16 director profiles hung in the main hall.

The opening day was marked with a ceremony awarding Teater Koma’s director Nano Riantiarno for his 53 years of dedication, and as pointed by curator Seno Joko Suyono, Teater Koma is the only group that has successfully built followers of three generation since 70s. At 69 years old, he showed little hint of slowing down when Teater Koma has just performed Gemintang, the 159rd work of 2018.

Director General of Culture, Ministry of Education and Culture Hilmar Farid said that although Indonesian theater as an industry is still underdeveloped compared to Broadway performances that have generated tourism revenues, Riantiarno’s relentless works could pave a way for such a business model.

DSC_7361

Teater Ghanta performs at National Theater Week 2018, Graha Bhakti Budaya, Jakarta, 9 October 2018.

Head of Jakarta Arts Council Irawan Karseno said that theater groups in their quest for increasing prominence can no longer count on themselves, but also the public, and the municipal support.

Such is Teater Ghanta, founded in 1995 at Universitas Nasional, Jakarta, and in 2014 decided to become an independent community theater, collaborating broadly with artists and institutions across discipline in response to social issues.

SIDE B 47:17 [speech, noise and effect] is a performance-presentation of the audio recording of a 1970 lecture by Sutan Takdir Alisjahbana in Jakarta Arts Council, entitled the history of the cultural development of the world community, and identifying Indonesia’s position in it. It attempts to revisit the lost polemic about Indonesian culture.

Studio Hanafi mix of art and social work in VidaFest 2018

img562

VidaFest 2018 is a cultural festival held by Vida Bekasi in cooperation with Studio Hanafi. think archipelago is a proud media partner of the festival which runs from 27 until 29 September 2018 in Bumi Pala Vida Bekasi, Narogong Raya. To visit Studio Hanafi official site, go to www.studiohanafi.com, or their instagram @galerikertas_art, and @studiohanafi.


Real estate company PT Gunas Land collaborated with Depok-based art community Studio Hanafi to hold this year’s Vidafest in Vida Bekasi, Narogong Raya, 27-29 September 2018.

Held annually since 2015 with differing themes from such as organic farming, coffee workshop, architecture seminar, et cetera, VidaFest 2018 contributed to the pioneering effort for the creation of art ecosystem in Bekasi, while specifically for the joy of the people of Vida Bekasi and the surrounding area of Bantar Gebang.

Vida Bekasi 2018  exhibited musical perfromance, dance, theater, and visual art based on ethno-social preliminary studies in early 2018, thus proposed the theme “Berbeda Hulu, Satu Muara” in reference to Bekasi river, the cradle of life for the inhabitants.

In his consistency to present community-centered events, Vida Bekasi Director Edward Kusuma said Vidafest 2018 is a presedence to make Vida Bekasi, a 130-hectares in total of housing and business development area, a new cultural hub in Bekasi.

Meanwhile, Studio Hanafi remained committed in their social movement to develop art through socio-cultural and ecological studies, social movement “VidaFest 2018 is an effort to mix art work and social work,” said Studio Hanafi writer Heru Joni Putra. Art Programme Director Adinda Luthvianti added that it is a medium to express gratitude to Bekasi in a variety of artistic potentials.

The festival provide the opportunity to express the high spirit of the people, bringing local communities together, from the children and youth of Vida community dance and theater groups, Teater Artery Performa, Teater SD Dinamika of Bantar Gebang, Teater Korek of Universitas Islam 45 Bekasi, Hartati dance group, Sanggar Matahari, angklung ensemble of Bunyi Sunya, and many more.

A number of artists were involved as directors of each groups, namely Lawe Samagaha as musical director of Bunyi Sunya, Hartati as choreographer, Dendi Madiya and Adinda Luthvianti as theater directors for their respective works, and artist Hanafi leading the on-site live painting among local painters Ridwan Rau-Rau, Galang Monsart, and Guntur Priahadi.

The trend continues to see property industry carry out their marketing campaign by bringing in art scene to their turf. Similar to Vida Bekasi, the international hotel management of Tauzia, on the promotion of its budget hotel brand Yello Hotels opening in Hayam Wuruk, Jakarta, involved a number of grafitti artists and street performers.

gunungan bantar gebang

Dendi Madiya’s Gunungan Bantar Gebang by Teater Artery at Vidafest 2018. Photography by Igra Aghrari, courtesy of Studio Hanafi

 

Traces of cross gender in Indonesian traditional dance

SIPFest 2018 is a performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in conjunction with the art center’s tenth anniversary. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 4 August 2018 onwards until early September. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2018 banner found in think archipelago website.


Didik Nini Thowok

Didik Nini Thowok in SIPFest 2018, Jakarta, 7 August. Photograph by Witjak Widhi Cahya, courtesy of Komunitas Salihara

It is likely to spark controversy whenever such an issue is brought up amid the majority religious people at the present Indonesia, but cross gender has been a part of the traditional performances across the archipelago which now become the sovereignty of the country.

Dancer cum choreographer Didik Nini Thowok, a 1982 graduate of Indonesian Art Institute (ISI) in Yogyakarta, whose birth name Didik Hadiprayitno, and who has carved a name on the short list of a patron of cross gender dance remains unshaken by the prevailing sentiment.

He is adamant at preserving cross gender dances in many of his works. One of them was presented in a lecture-performance in SIPFest 2018, Jakarta.

Moderated by Joned Suryatmoko, Didik’s unabated traditional dances and his ability to embody the female character dazzled the audience. All the more precious was his extensive research on cross gender traditional dance shared to public in one occassion. It revealed that the issue is not a new, abhorrent influence. It has thrived in the society before long.

He listed references to cross gender cultural and historical presence in a number of Javanese masked dances, Ludruk, Ronggeng, Balinese theatrical dance, Tari Gandrung, Buginese ritual, and in current times, the cabaret-styled Oyot Godhong in Yogyakarta, whose performers are mostly ISI students.

The routinely-held grass-root entertainment often involves  comedy show and lypsincing, savoring popular songs local and foreign-alike.

In comparison to European classic piece Swan Lake, the humorous Trockadero Ballet,  the Indian Stree Vesham where men perform as women similar to Japanese Kabuki, or the opposite movement of Takarazuka where women perform as men like the Chinese Yueju Opera, and mask dances in many Asian countries, Indonesia has a variety of cross-gender performance of its own, apparent across social groups, from grass root level to the royal castes, from entertainment to rituals, as follow:

  1. Langendriyan, a Javanese Opera performed in the palaces of Yogyakarta sultanate as well as in Surakarta. The opera played in both kingdoms differ in the gender. While the opera group in Yogyakarta consisted of men, the Langendriyan in Mangkunegaran Surakarta was performed by all women dancers.
  2. Wayang Wong, an epic Mahabarata-inspired theatrical dance which reached its zenith in 20th century, also performed before the sultanates of Yogyakarta and Surakarta
  3. Tari Golek, performed following Wayang Kulit
  4. Tari Topeng Cirebon, a female-led mask dance impersonating male character originating from the west coast of Java, such as in Palimanan and Indramayu
  5. The folk performing arts of Wari Lais, whose history can be traced in Cirebon, Cilacap, and Lasem
  6. The popular Ronggeng in Banyumas, which was later called Lengger Banyumas, where female dancer staged Tari Baladewan of male character to accompany local peasant ritual
  7. Lengger Wonosobo, whose origin dated back to Hindu era, performed by male dancers impersonating female eroticism
  8. A play and mask dance of Malang, called Tari Beskalan Putri Malangan, derived from folk tale Panji and played by male impersonators, to accompany ritual ceremony
  9. Ludruk Tutik Bintang Timur from Surabaya, a famous Ludruk group in 1950s, famous for the play Sarip Tambakyoso, a tale of indigenous heroism during the Dutch colonization
  10. Tari Gandrung Banyuwangi, documenting male dancers with female costumes holding drum and violin
  11. Drama Gambuh of Bali, influenced by cross-gender performances of predominantly-Hindu India. It is common to see such type of dance in Hindu society, where one of the goddess Shiva is depicted half male and half female. In Bali, other dances of similar fashion are , Legong Muani, Nandir, Trunajaya, Panji Semirang, Wiranata, Margapati, and so on, making it a land of opportunity for artists to thrive freely, such as dance group Sekaa Gong Kebyar Wanita, Topeng Wanita, Kecak Wanita, Gambuh Muani, and Arja Muani. (Muani means male).
  12. Folk theatrical dance Randai, whose origin can be traced in Padang, West Sumatra. Randai dance required a night-long performance, which explained why dancers are all males replacing the female dancers who are supposed to play their characters by nature due to the local customs of deriding women seen outside homes at night. Ronggeng is an acculturation of Javanese and Sumatran culture, hence the resemblance of Ronggeng and Randai.
  13. The sacred ritual Bissu in South Sulawesi, a tradition of Buginese as written in epic La Galigo. Performed with violent content by male monks, Bissu involve feverish dance and sing to the state of possessed-like and result in self-inflicted stabbing to limbs.

Jim Lim’s old tale of contemporary theater

SIPFest 2018 is a performing arts bienalle held by Komunitas Salihara in conjunction with the art center’s tenth anniversary. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 4 August 2018 onwards until early September. To see more of their programs, please click all the SIPFest 2018 banner found in think archipelago website.


Indonesia’s theater legendary Jim Adhi Limas, also known as Jim Lim, delivered a lecture on the early development of contemporary theater in the late 50s, and a performance with Wawan Sofwan and Joind Bayuwinanda in SIPFest 2018.

Dubbed as the founder of Indonesian contemporary theater, Jim Lim was credited for being one of seven founders of Studiklub Teater Bandung (STB), 1958, besides university colleagues Suyatna Anirun, Thio Tjong Gie, Tin Srikartini, Sutardjo A., Wiramihardja, Adrian Kahar, and a journalist Soeharmono Tjitrosuwarno.

Led by Jim and Suyatna, the country’s oldest modern theater club had a mission to promote the not so popular subculture at the time. Jim directed their debut performance Jayaprana, playing Raja Buleleng Anak Agung Gde Jelantik, and Suyatna as I Gusti Ketut Putus. Some of the archives were presented in the lecture program Omongobrolan in Komunitas Salihara.

The former headed for France in 1967 on scholarship program, and decided to stay there ever since, leaving Suyatna to lead the band alone, and had continuously made prolific works in decades that follow, such as Karto Loewak, the adaptation of Ben Jhonson’s Volvone (1973), and Kavia Sang Natha from Shakespeare’s King Lear (2009).

Not only performing foreign scripts by Goethe, Chekov, Moliere, Schiller, H Von Kliest, or Tennesee Williams, STB had popularized local scripts by Ajip Rosidi, Utuy T. Sontani, Misbach J Biran, Kirjomulyo, Saini KM, and Bakdi Sumanto.

Jim’s constant presence in French filmography also made him continuously appear since 1973 until recent time, where he was known for Diva (1981), Gwendoline (1984), the Bitter Moon (1992), un Amour de Sorcière (1997). His latest act was in 2017 sci-fi movie Les aventures de Spirou et Fantasio. 

In his homecoming interview in early 2018, the 80 year-old Jim said that having started in theater made him easier to adapt in film industry, but might not be vice versa.

Wawan Sofwan were among aspiring actors in Bandung who joined the theater club. He then founded Main Teater.

The birth of many modern theater groups in Bandung similar to Wawan’s Main Teater is claimed to have its partial origin in STB, namely Actor’s Unlimited (AUL), Laskar Panggung Bandung (LPB), Bandoengmooi, Teater Re-Publik, or the 25 years existence of Teater Bell.

Just like Nano Riantiarno’s Teater Koma, or the late W.S. Rendra’s Teater Bengkel, Jim’s and Suyatna’s STB shares the status as celebrated Indonesia’s modern theaters.

Omongobrolan at SIPFest 2018, Jakarta

From left: Joind Bayuwinanda, Wawan Sofwan, and Jim Adhi Limas, in a performance in SIPFest 2018, Komunitas Salihara, Jakarta, 12 August 2018