Topics

Eksistensi Singo Barong di Taiwan

Selvi Agnesia, born in Bandung, 30th of November, 1986, took Master Degree in Anthropology, University of Indonesia. She lives in Jakarta, working as art manager of production in Studiohanafi, besides cultural and art critic. Between 2009 – 2016 she worked as cultural and art journalist, while taking part in performing arts management of several Indonesian theater groups and art institutions, such as in Festival Tokyo 2012, 2013, and Imagine Festival Basel-Switzerland, activist of New Zealand Cultures in 2015. She is currently taking trans/voice project Indonesia-Taiwan residence program.


Photo by Sima Ting Kuan Wu, courtesy of think archipelago

Ruang Hall Gungguan Elementary School, Pingtung County padat oleh ratusan pekerja migran Indonesia dari berbagai pelosok Taiwan. Selain orkes dangdut Om Ramesta yang cukup popular di kalangan PMI, kehadiran Paguyuban Singo Barong Taiwan menjadi bintang utama dalam rangkaian acara silaturahmi organisasi Densus 87 Pingtung dan Putra Katong pada 21 Juli 2019 silam.

“Kami membawa satu rombongan lebih 30 orang,” ungkap Heri Budi Santoso, Ketua Paguyuban Singo Barong Taiwan, saat ditemui sebelum pementasan penutup Singo Barong di Pingtung, Taiwan Selatan. Tidak sia-sia, besarnya pengabdian sebuah loyalitas pada seni tradisional Reog Ponorogo yang dibawa oleh teman-teman Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang merangkap sebagai seniman tersebut mendapatkan apresiasi besar di negeri Formosa.

Menjelang penutupan acara silaturahmi tersebut, pertunjukan Reog Ponorogo yang dinanti beraksi. Dimulai dari para penari jatilan yang bergerak gemulai mengikuti alunan musik dan nyanyian yang dibawakan para pengrawit. Gemulai gerak tarian yang dibawakan Lorena, Puput, Dinda, Anis dan lain-lain lambat tapi pasti semakin menarik para penonton bergeser ke depan hingga akhirnya terlihat beberapa pemuda menemani mereka menari, lembar demi lembar 100 dolar Taiwan diberikan sebagai saweran.

Tidak lama kemudian, giliran Tari Patih yang dibawakan dua orang penari laki-laki yang berperan sebagai panglima Singo Barong. Keduanya bergantian menari diselingi atraksi akrobat dan gerak gesture yang menghibur. Seusai tari jatilan dan tari patih, akhirnya dua sosok Singa berkepala burung merak yang ditunggu mulai beraksi.

Kedua sosok singa berkepala burung merak berdiri saling berhadapan, mereka mulai dengan mengibaskan kepalanya, kemudian satu sama lain bergerak bergantian. Alunan musik kendang, terompet, gong dan angklung membuat ritme gerak kedua Singo Barong semakin kencang.

Photo by Sima Ting Kuan Wu, courtesy of think archipelago

Penonton dibuat terpukau sekaligus khawatir. Terutama penonton paling depan yang khawatir terkena kibasan. Ratusan layar handphone terlihat merekam aksi mereka. Tetapi amukan Singo Barong yang ditunggu ini tidak berlangsung lama. Sebab, tentu saja bukan perkara mudah bagi Rudi dan Hendrik, dua pemain di balik sosok Singo barong untuk membawa beban lebih dari 50 kilogram. Permainan mereka secara fisik mengandalkan kekuatan leher dan gigi.

Banyak pula yang mengira bahwa atraksi Reog Ponorogo melibatkan hal-hal mistis. Namun pada realitanya, para pemain Singo Barong berlatih hingga mampu mengendalikan dan memainkan Singo Barong dengan seimbang.

“Yang penting ada kesungguhan dan giginya gak ompong. Kalau giginya sudah ompong yah gak bisa soalnya memainkan harus digigit. Walaupun orangnya kecil, kalau mau belajar sungguh-sunggu dan tahu tekniknya pasti bisa,” ungkap Heri diselingi canda.

Demi Warisan Budaya

Satu bulan sebelum Singo Barong Taiwan pentas di Pingtung, pada akhir Juni 2019, para personil berlatih di Toko Indo Cen Cen daerah Zhongli, Taiwan dalam rangka silaturahmi Singo Barong yang akan berlangsung di Taman Zhongli.

Di lantai paling atas Toko Indo Cen Cen, sembari menunggu hujan reda, para personil terlihat duduk melingkar dan asik berbincang dalam bahasa Jawa. Sedangkan yang lain, Lorena dan Dinda, dua penari jatilan sedang asik berdandan dan bersiap memakai kostum.

“Kami sudah lama menyewa tempat ini buat kumpul dan simpan kostum, tapi kalau untuk latihan biasanya di taman saat minggu ketiga di setiap bulannya” ungkap Heri.

Photo by Sima Ting Kuan Wu, courtesy of think archipelago

Dua topeng kepala Singo Barong berhias bulu merak terlihat gagah menghiasi dinding ruangan tersebut. Tidak mudah membawa kedua topeng ke Taiwan. Topeng pertama didatangkan pada tahun 2014 ketika tahun pertama Paguyuban Singo berdiri. Tope kedua menyusul didatangkan pada tahun 2018. Dibutuhkan biaya hingga 1 juta dolar Taiwan atau sekitar Rp 500 juta untuk mendatangkan topeng tersebut. Heri dengan tegas mengungkapkan, biaya tersebut murni berasal dari bantuan teman-teman Pekerja Migran Indonesia.

Saya sempat berpikir. tentu saja tujuan teman-teman PMI ke Taiwan tentu saja untuk bekerja dan mencari uang, namun mengapa mereka tetap loyal dalam memberikan bantuan bagi eksistensi paguyuban Singo Barong.

Memasuki generasi ketiga dan tahun kelima berdirinya Singo Barong Taiwan, paguyuban ini telah pentas keliling di beberapa kota seperti Hsinchu dan berkali-kali di Taipei. Kehadiran mereka selalu dinanti teman-teman PMI dan animo masyarakat berupa undangan pemerintah Taiwan juga cukup besar.

Namun, hingga saat ini, kendala yang dialami kelompok berada pada soal dana dan regenerasi pemain. “Yang nonton kita banyak. Yang main susah.”

Kesibukan bekerja para PMI yang sebagian besar bekerja di lingkup domestik cukup menjadi kendala untuk mengumpulkan orang untuk ikut serta bermain. Tidak hanya mengandalkan talenta-talenta orang Ponorogo asli, mereka turut membuka siapapun orang awam yang bersungguh-sungguh untuk berlatih. Selesai masa kontrak di Taiwan, para anggota dan regenerasi juga tentunya akan berganti, maka pembinaan dalam kelompok tetap harus terus dijalankan.

Situasi tersebut sangat berbeda dengan keberlangsungan Reog Ponorogo di tempat kelahirannya Ponorogo, Jawa Timur. Setiap tahunnya, terutama bertepatan 1 Muharam, seni pertunjukan yang berlangsung dari cerita rakyat ini dihelat secara nasional dalam Festival Reog Ponorogo dari berbagai kelompok se-Indonesia. Reog Ponorogo pun sudah masuk sebagai kurikulum pelajaran kesenian dan diberlakukan di setiap desa. Peran pemerintah begitu aktif, berbeda dengan kondisi yang dialami Singo Barong Taiwan.

“Bagaimanapun yang terpenting ini adalah warisan budaya” tegas Heri. Ia dan komunitasnya berharap semoga Reog Ponorogo dapat dikenal oleh marayarakat Taiwan, selain mempertahankan keberlangsungan seni pertunjukan Reog Ponorogo ke depannya agar masyarakat tetap bisa mengetahui bahwa ada Singo Barong di Taiwan.

Singo Barong menjadi sebuah organisasi yang menjadi wadah berkumpul semua Pekerja Migran Indonesia tanpa memandang ras, suku dan agama.

(a)part penutup 7 tarian kontemporer Helatari 2019

Helatari Salihara 2019 adalah agenda tari Komunitas Salihara yang diselenggarakan rutin di Teater Salihara, Jakarta. think archipelago adalah mitra media di pagelaran bergengsi ini yang berlangsung mulai dari 15 Juni hingga 6 Juli. Untuk informasi jadwal pertunjukan, silakan klik banner Helatari Salihara 2019 yang terdapat di website think archipelago.

Komunitas Salihara, pusat kesenian multidisiplin swasta pertama di Indonesia yang didirikan sastrawan dan mantan pemimpin redaksi Majalah Tempo Goenawan Mohamad, untuk ketiga kalinya sejak 2015 menghelat Helatari Salihara untuk pecinta tarian kontemporer tanah air dan internasional.

Rangkaian 7 tarian unik dalam program rutin Komunitas Salihara kali ini menyajikan wacana segar kepada publik untuk memaknai substansi teater yang dipentaskan melalui estetika gerakan para penari maupun suguhan tata panggung yang bernuansa kehidupan sehari-hari.

Dengan mematok harga tiket masuk Rp 65.000 untuk umum dan Rp 35.000 untuk pelajar, para penikmat tari gaya baru akan terpuaskan dengan pilihan pertunjukan berbobot yang telah dikurasi secara seksama.

(a)part

Keunikan tarian penutup Helateater Salihara 2019 ini terdapat pada upayanya menceritakan kehidupan masyarakat urban yang tinggal di apartemen dan rumah susun. Karya ini melibatkan delapan penari dan menggabungkan bentuk tari dan teater tubuh.

(a)part juga dipadukan dengan seni instalasi abstrak yang terbuat dari pipa PVC yang dibagi menjadi sembilan bagian, sebagai metafora kamar-kamar yang ada di dalam gedung apartemen dan rumah susun. Karya ini dikemas dengan pemetaan multimedia, efek lampu ultraviolet dan cat fosfor untuk lukisan badan (body painting).

Pementasan (a)part di Helatari Salihara 2019: Panggung Tari Baru. Photo by Witjak Widhi Cahya, courtesy of Komunitas Salihara.

The Seen and Unseen

Tarian ini terinspirasi dari film karya Kamila Andini berjudul sama menyabet predikat film terbaik pada Berlin Film Festival (Berlinale) 2018.

Pertunjukan ini menggabungkan seni tari, musik langsung, skor elektronik dan menciptakan perpaduan gerakan tari tradisional Bali dengan pendekatan kontemporer ke arah teater.

The Seen and Unseen berangkat dari filosofi masyarakat Bali “Sekala Niskala” yang berarti keseimbangan antara realita dan spiritual. Karya ini melibatkan Ida Ayu Wayan Arya Satyani sebagai koreografer dan sejumlah seniman dari Indonesia, Jepang dan Australia.

Sedangkan ada 3 tiga koreografer yang tampil pada Helatari 2019 adalah koreografer/kelompok tari terpilih undangan terbuka yang di adakan pada 2018 dengan nama diantaranya Anis Harliani Kencana Eka Putri, Ayu Permata Sari dan Eyi Lesar. Mereka inilah menciptakan tari Holy Body , X dan Ad Interim atau disebut dengan “Panggung Tari Baru”.

Holy Body

Menurut hasil dari pengamatan koreografer, ada ukuran-ukuran ideal yang harus dimiliki oleh penari perempuan untuk bisa menerima pesanan tari (komersial). Holy Body menawarkan konsep tari dokumenter yang berangkat dari riset tersebut dan mempertanyakan adakah tubuh yang ideal dalam estetika tari?

Anis Harliani adalah koreografer yang pernah berkolaborasi untuk pertunjukan Us/Not Us (2018) produksi Bandung Performing Arts Forum di Asian Dramaturg Network.  Beliau pernah mengikuti program Koreografer Muda Potensial di Indonesia Dance Festival 2018.

X

Karya ini adalah pengembangan motif “samber melayang”, salah satu motif dalam tari Sigeh Penguten (Siger Penguntin), sebuah tarian kreasi dari Lampung. Tarian ini mulanya adalah tari persembahan atau penyambutan untuk orang-orang terhormat, tetapi kali ini akan dilakukan tanpa musik, menggunakan kostum keseharian yang sederhana.

Ayu Permata Sari pernah berkolaborasi dengan koreografer luar negeri seperti Eisa Jocson (Filipina), Bethani (Amerika Serikat), Edgar Freire (Ekuador) dan Anne Maria (Jerman). Ia memperoleh penghargaan penghargaan “Jasa Bakti” di Festival Teknologi dan Seni ASIA di Johor Malaysia 2018.

Ad Interim

Ad Interim mengangkat tema perbedaan dan sifat bertolak belakang di masyarakat yang seharusnya dapat menjalin harmoni dan keseimbangan hidup. Seorang penari tunggal akan berkolaborasi dengan musisi yang menggunakan teknologi sensor gerak.

Ekspresi yang dihasilkan merupakan perpaduan antara gerak, musik dan tata cahaya. Eyi Lesar pernah beroleh Hibah Seni Inovatif dari Yayasan Kelola untuk karya Who Are You di tahun 2018. Ia pernah mengikuti showcase tari di SIPFest 2018.

Three Airs & The Two Doors

Pementasan Three Airs karya Park Na Hoon. Photo courtesy of think archipelago.

Park Na Hoon akan membawakan dua karya pentingnya. Three Airs membangun cerita tentang kehidupan manusia melalui tiga orang penari yang berlaku sebagai “organisme” udara. The Two Doors mengungkapkan makna dan rahasia penari melalui pernyataan-pernyataan saling bertentangan yang dilontarkan si penari.

Na Hoon Park adalah koreografer yang pernah terpilih sebagai seniman baru berbakat dari Dewan Kesenian Korea Selatan pada 2003. Karya Three Airs memperoleh penghargaan dalam 3rd Performing Arts Market (PAMS) di Seoul, Korea Selatan.

Ia telah tampil di sejumlah negara, mengikuti program kerja sama budaya serta pernah menjadi seniman mukiman antara lain di Jerman, Italia, dan Amerika Serikat.

Program seniman mukiman

Komunitas Salihara menyelenggarakan program seniman mukiman (artist-in-residence) untuk seniman dalam maupun luar negeri secara berkala. Kali ini bekerja sama dengan STRUT Dance Australia, Komunitas Salihara menerima Natalie Allen dan Samuel Harnett-Welk, dua koreografer dari Australia selama Helatari Salihara 2019.

Karya yang mereka bawakan dalam showcase Helatari Salihara 2019 adalah karya hasil selama menjalani program seniman mukiman.

Park Na Hoon staged award-winning Three Airs at Helatari Salihara 2019

Helatari Salihara 2019 is Komunitas Salihara’s regular dance event held in Teater Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 15 June until 6 July. To see more of their schedule, please click the Helatari Salihara 2019 banner found in think archipelago website.

4 years after he was titled the 2003 best newcomer artist by Arts Council Korea (ARCO), Park Na Hoon won the 3rd Performing Arts Market (PAMS) in Seoul with choreography work Three Airs.

It had been staged in 2015 San Fransisco International Art Festival and 2017 EiMa Festival, Spain.

His latest tour to Indonesia as an artistic director cum choreographer is to stage Three Airs and the Two Doors with fellow dancers Park Sang Jun, Moon Hyung Soo, and Kim Kyu Won in Helatari Salihara 2019.

The Two Doors had been staged in Acker Stadt Palast, Berlin, 2015, and Projekktheater, Dresden, 2016.

Park took part in a number of artist-in-residence program, such as the Korean-Finnish cultural exchange program in Helsinki, 2012, and the similar program in Denmark, German, Italy, and the United States.

Recently he was involved in Ari Project: Performing Arts Korean Contemporary Dance Performance, and the ever expanding Asian performance tours.

In Komunitas Salihara, Jakarta, Park Na Hoon showcased two of his important works. Three Airs is a narrative surrounding the lives of three people who represent organism in the air, whereas the Two Doors tells about how the choreographer discloses his secrets by repeatedly making contradictory self-inquiries.

According to the choreographer, the unrealistic movements of the organism feels more tangible. He perceives eccentric, foolish, and fictitious things that may seem unreal, yet heart-moving.

Moreover, the yes-no questions that remained unanswered were ultimately shared to the audience for the sake of sharing the particular frustration of oneself. Park views answers to these questions could might have revealed the conflicting truth about human existentialism against the world.

 

Nouveau center stage at Helatari 2019

Helatari Salihara 2019 is Komunitas Salihara’s regular dance event held in Teater Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 15 June until 6 July. To see more of their schedule, please click the Helatari Salihara 2019 banner found in think archipelago website.

Helatari Salihara had presented well-known choreographers and dance groups of local and international twice in 2015 and 2017. This year Helatari takes a different view on their curation by inviting public participation.

The program which began last year came to fruition as three aspiring entities were selected to showcase their latest works. They are Anis Harliani (Bandung) with her concept of documentary dance of Holy Body, Ayu Permata Dance Company (Yogyakarta) which synthesizes a traditional dance of her hometown, Lampung , and Eyi Lesar (Jakarta), laden with light show in Ad Interim.

Holy Body comes to be following the choregrapher’s observation of the accepted physical shapes of commercial dancers in her hometown, Bandung, West Java. It is a documentary work based on Harliani’s experience, and also dancers who come under the pressure of the esthetical view of dance.

X by Lampung dancer Ayu Permata Sari recreates Samber Melayang pattern typicaly found in Sigeh Penguten dance of nobility. It allows close distance between dancers and audience under minimum light and without music.

After performing in Salihara International Performing Arts Festival (SIPFest) 2018, Eyi Lesar showcases Ad Interim which highlight social conflicts and diversity that can lead to balance and harmony.

Ida Ayu Wayan Arya Satyani performs a work by script writer and movie director Kamila Andini in the Seen and Unseen which took inspiration from the award-winning movie of the same name for Kplus International Jury category of Berlin Film Festival (Berlinale) 2018.

The contemporary dance incorporates cross-cultural collaboration from Japan (composer Yasuhiro Morigana), Australia (designer Eugyeene Teh, lighting designer Jenny Hector, Adena Jacobs), and Indonesia (dancers of Komunitas Bumi Bajra, and the Balinese choreographer), demonstrating the spirituality of Balinese Sekala Niskala, of equally valuing the abstract and concrete elements of this world.

There are also Korean choreographers Park Na Hoon performing Three Airs & the Two Doors, and the young choreographer Maharani Pane from Tangerang.

To close the Helatari 2019, Komunitas Salihara will present Strut Dance Australia by Natalie Allen and Samuel Harnett-Welk as part of the artist-in-residence program with the National Choreographic Centre of Western Australia, showcasing works during their stay in Indonesia.

Kamila Andini dan Ida Ayu Wayan Arya Satyani: 
Sabtu, 15 Juni 2019, 20:00 WIB
Minggu, 16 Juni 2019, 15:00 WIB

Anis Harliani, Ayu Permata Dance Company, Eyi Lesar: 
Sabtu, 22 Juni 2019, 20:00 WIB
Minggu, 23 Juni 2019, 16:00 WIB

Diskusi Tubuh dan Permainan: 
Sabtu 22 Juni 2019, 16:00 WIB

Park Na Hoon:
Sabtu, 29 Juni 2019, 20:00 WIB

Showcase Natalie Allen & Samuel Harnett-Welk:
Sabtu, 06 Juli 2019, 16:00 WIB

Maharani Pane:
Sabtu, 06 Juli 2019, 20:00 WIB

Joged Idul Fitri dan kebebasan beragama di Taiwan

Selvi Agnesia, born in Bandung, 30th of November, 1986, took Master Degree in Anthropology, University of Indonesia. She lives in Jakarta, working as art manager of production in Studiohanafi, besides cultural and art critic. Between 2009 – 2016 she worked as cultural and art journalist, while taking part in performing arts management of several Indonesian theater groups and art institutions, such as in Festival Tokyo 2012, 2013, and Imagine Festival Basel-Switzerland, activist of New Zealand Cultures in 2015. She is currently taking trans/voice project Indonesia-Taiwan residence program.


Pukul 05.00 pagi, Rabu, 5 Juni 2019, alunan suara takbir dan tahmid meraung di halaman Taman Taipei Travel Plaza- Taipei Main Station. Umat muslim laki-laki dengan sarung dan kopiah, serta perempuan berhijab datang berbondong-bondong. Kebanyakan dari mereka berstatus pekerja migran Indonesia (PMI).

Tercatat sebanyak lebih dari 50.000 umat muslim datang dari berbagai penjuru Taiwan dengan kereta, bus, dan sebagian lainnya terlihat kompak menggowes sepeda bersama-sama dengan wajah yang sumringah. Ada juga yang datang sambil mendorong kursi roda para ama dan akong, menempatkan pemberi kerjanya tersebut disampingnya, sebab pelaksanaan Idul Fitri 1440 H tahun ini bertepatan dengan hari kerja.

Dua lansia menunggu pekerja migran menjalankan ibadah di hari raya Idul Fitri, 2019, Taiwan. Photo by Sima Wu Ting Kuan, courtesy of think archipelago.

Sebenarnya, sebagian pekerja dapat melampirkan surat izin kepada atasan yang dikeluarkan oleh pihak Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI), namun sebagian PMI sulit untuk melepaskan tanggung jawab pekerjaanya, terutama jika merawat lansia.

Menjelang pukul 06.30 pagi suara takbir bercampur aduk dengan suara obrolan berbahasa Indonesia, Jawa, Sunda dan himbauan petugas dari mikrofon yang sibuk mengatur para umat, “Tolong segera dirapikan barisannya, yang belum dapat tempat jangan khawatir, shalat idul fitri masih ada gelombang selanjutnya.”

Sebagian lainnya terlihat sibuk beraktivitas dengan ponsel masing-masing untuk bervideo call dengan keluarga, berswafoto dan siaran langsung di media sosial. Suara keriuhan itu akhirnya senyap seketika ketika imam mengumandangkan, “Allahhu akbar.” Di antara megahnya gedung-gedung, di bawah langsung atap langit, mereka khusyuk bersujud pada pencipta.

Usai shalat, mereka saling bersalaman. Terlihat haru yang tak dapat disembunyikan. Setidaknya, meskipun mereka jauh dari orang tua, suami, istri dan anak, terdapat rasa syukur dapat merayakan idul fitri bersama-sama teman keluarga setanah air. Pelaksanaan shalat idul fitri di Taipei Main Station terbagi dalam tiga gelombang sejak pukul 06.30 hingga 09.00 waktu setempat. Setiap gelombang dipandu bilal, imam salat, dan khatib yang keseluruhannya berkewarganegaraan Indonesia.

Tradisi perayaan Idul Fitri di kalangan pekerja migran

Dari Plaza Taipei Main Station, saya berkunjung ke kota Keelung, 30 menit dari Taipei dengan menggunakan bus. Keelung merupakan salah satu kota pelabuhan sejarah terpenting di Taiwan. Di depan pelabuhan sudah berdiri panggung megah dan deretan bazaar kuliner. Dari pagi hingga menjelang sore, panggung diisi oleh hiburan musik dangdut, pop dan tarian-tarian daerah.

Mayoritas pekerja migran Indonesia di Keelung bekerja sebagai anak buah kapal dan pekerja domestik yang mengurus lansia dan keluarga. Di tengah kegembiraan bernyanyi dan berjoged, seorang pekerja mengungkapkan, bahwa ini merupakan hiburan yang ampuh untuk pelipur sepi dari rasa rindu pada keluarga.

Ada tradisi yang berbeda antara lebaran di Indonesia dan di kalangan PMI di Taiwan. Usai shalat idul fitri, tak ada saling kunjung antar keluarga dekat. Yang terlihat justru perayaan bersama teman-teman seperantauan dan halal bihalal dengan hiburan musik dan tarian.

Seluruh pengisi acara yang berasal dari PMI heboh bernyanyi dan berjoged bersama, menyajikan sebuah pemandangan yang langka untuk ditemukan di tanah air, berbeda dengan penampakan mereka yang kerap berkaraoke bersama di warung Indonesia atau tempat karaoke khusus sambil membawakan lagu dangdut ala pantura, Banyuwangi dan musik dangdut yang sedang populer.  

Hal lain yang berbeda dari lebaran di tanah air adalah langkanya ketupat di Taiwan, sebab daun kelapa untuk bahan ketupat memang jarang dijual. Sebagai pengganti digunakan lontong dengan daun pisang atau plastik, sedangkan yang terlihat di tenda-tenda bazaar makanan di antaranya bakso, siomay, opor dan berbagai minuman dingin yang dijual oleh PMI.

Kebebasan beragama di Taiwan

Muslim women in hijab perform Idul Fitri mass prayer in Taiwan, 5 June 2019. Photo by Sima Wu Ting Kuan, courtesy of think archipelago.

Shalat Idul Fitri di Taipei terselenggara berkat kerja sama berbagai pihak. Misalnya di Taipei Main Station, Administratur Taipei memberikan fasilitas tempat, sedangkan Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) mendukung pendanaan penyelenggaraannya dengan melibatkan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Taiwan, Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah, sejumlah organisasi kemasyarakatan lainnya, BUMN Indonesia dan perusahaan swasta di Taiwan. Wali Kota Taipei Ke Wen Zhe turut hadir dalam kegiatan tersebut dan memberikan sambutan bersama KDEI di Taipei, Didi Sumedi, menyampaikan ucapan selamat hari raya Idul Fitri kepada para umat.

Umat muslim di Taiwan berjumlah kurang dari 1% dari populasi, namun Taiwan yang berlandaskan demokrasi terlihat nyata turut melindungi kebebasan beragama. Hal tersebut tampak dari pelaksanaan shalat Idul Fitri yang tersebar di berbagai kota di Taiwan, beberapa di antaranya Taoyuan, Nankan, Penghu, Taitung, Changhua, Kaohsiung, Hualien, Keelung, Dolio, Donggang, Taichung, dan Yilan.

Tersebarnya ruang ibadah di sederet kota tersebut memberikan kesempatan bagi lebih dari 200.000 pekerja migran Indonesia dan berbagai masyarakat muslim dari negara lainnya untuk menjalankan kebebasan beragama selain menjadi ruang interaksi sosial. Ekspresi kebebasan spiritual lewat seni terasa lebih dekat saat Idul Fitri di Taiwan.

Begitulah cara mereka merayakan di negeri formosa yang katanya sesyahdu musik dangdut.

A Southeast Asian city narratives by photographer turn artist

It’s All About the Story, Past, Present, Future is a solo exhibition by mixed-media artist Robert Pearce, held in Galeri Kertas, Depok. think archipelago is a proud media partner of the exhibition that runs from 1 to 31 May 2019. To visit their official site, go to http://www.studiohanafi.com, or @galerikertas_art

Rob Pearce performs on the opening site of his solo exhibition at Galeri Kertas, 1 May 2019. Photo by Arhan, courtesy of Studio Hanafi.

During the 1000 days of mourning for his parents passing years ago, a common social behavior in parts of Asia, 57 year-old Robert Pearce, residing in Indonesia, drowned himself into period of contemplation.

Then, in frenzy collage, he glued pieces of cut photos of his parents, words from the books he read, leaves from plants on his lush yard, pasted it on the wall and had it photographed.

More than a visual object, it became a shrine where he left flowers as if he was in the cemetary, visiting his memories with them.

His intricate works are also composed of advertising posters he ripped on the streets and underpasses of Jakarta he had noticed during one of his his photography projects.

It took months to execute all the pieces together, and who knows how long to muster the idea. Judging from the finished objects, craft knife and paint are presumably tools he often uses.

Douglas Ramage, an avid collector of Hanafi’s works which he first came to know some 20 years back, said that in those time he would not have seriously thought about buying a photograph that he deemed of no artistic value. But Rob Pearce, whom he first met when he was a photographer, changed that notion.

“Rob loves to tell stories of his photos. I believe he can’t create something without telling the story,” Doug said in fluent Indonesian during the public discussion. His favorite is the medium format 2×1 photowork containing fragments of Jakarta, and interestingly, after a much closer look, the artist’s late mother.

He added that Rob tried to put his mother inside the frames, hidden in a rich selection of colors 

Hanafi is also notable for his preference to colors, the collector said.

“There is depth in Hanafi’s colors,” he said.

Hanafi said that within Rob is a soul that will never stop delving into the torned pieces, looking for each of the memory kept inside.

“Jakarta made me a better person, more tolerant, more patient,” Rob said, while adding that he hates the portrayal of Jakarta as another exotic Asian cosmopolitan city. Among his notable portfolio about Jakarta were Marunda Water (1999-2000), and Ripped Faces, 8008km (2001-2003).

The youth Rob came for the first time to Jakarta in 1970, before settling since the 1990 as an English teacher. His return in the 2000s after taking bachelor degree in Documentary Photography, University of Wales, Newport, began the journey that turned him from a photographer to a widely-recognized artist, a move he described as self-learning and mind-liberating.

Asked about the motivation behind the move, the artist who also obtained bachelor degree in Southeast Asian Studies, University of Kent, Canterbury, in 1983, said being a photographer is driven by his view of both romanticism and machoism, that of having oneself in a new place, investigating one case to another.

The downside is that the job is an instructed routine that can be mind-numbing. He wanted to tell more stories in creative ways and possibilities of his own making.

Looking into his works, the trace of photography are commonplace, but they have become less of an art photography and more of a mixed media art, uniquely shaped by the artist’s fragments of past memory, the current “Asian” state of being, and the way he visualizes the country he lives in.

Lembaran Kelengkapan. Rob Pearce. Joss paper, book pages, acrylic paint, acrylicink on aluminium composite. 2019.

Nevertheless, he said that the intuition shaped in the years of “tukang foto” still persist. He just feels lucky and seems grateful enough to be able to make narratives the way he wants to now.        

He credited Jakarta as his aesthetic teacher, saying, “My artworks came to be owing to Jakarta. They are inspired by the raucous noise, dust, and smoke around the city streets and flyovers.”

Lontar Foundation founder John H. McGlynn, on the opening day filled with lively ceremony and the line-up of musicians such as Oppie Andaresta, explained that Rob exhibit what used to be simple photoworks he had taken decades before they transformed into complex, impassioned artworks. Hence he suggested that each piece has an enriching story to be understood, learned by the audience.

It‘s All About the Story, Past, Present, Future by Rob Pearce is Galeri Kertas first exhibition of this year. On this occasion they simultaneously introduce their 2019 tagline: Let’s fill this town with artists.

As what has been the usual agenda of Galeri Kertas, Rob Pearce art exhibition precedes a workshop by the artist for selected young, aspiring artists, a public discussion, and the eventual workshop exhibition.

Curator Heru Joni Putra said the main source of material of Rob’s artwork is the books he read. Moreover, the torned pages he attached to joss “ghost” papers in Chinese ritual, for instance, showed Rob’s perseverance on exploring the paper-based artwork material, and how it conforms to Galeri Kertas mission to light up the exploration and promote the particular medium.

Asked why the displayed works are not signed with date of completion, it is revealed that Rob has phobia with his own signature, which explained why he decided to put it at the back of the frame.

For a supposedly dyslexic person, Rob left a somewhat articulate note on the wall to tell the visitors about the journey from his suburb home-garden in Cipayung to Hanafi’s art studio in Parung Bingung.

There was no eureka moment just the drip drip drip of learning. Observing that which can lead you in the direction of partial understanding. Of looking for opportunities and celebrating mistakes, as it is here that can lead to something new. The joy of randomness and the pleasure in work can come together, meshing and weaving intertwined threads with the aim of producing a piece that pleases the eye and tweaks the intellect.

Relevansi kepemimpinan K3 dalam peran memajukan keselamatan publik

Artikel ini merupakan bagian ketiga dan terakhir (3/3) dari makalah berjudul Dampak Kepemimpinan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Organisasi Terhadap Budaya Keselamatan Masyarakat, Business and Management Publication, Archipelago Strategic and Partners Indonesia, Jakarta, April 2019. Hak cipta dilindungi Undang-Undang.


Seiring modernisasi, di mana terjadi kompleksitas karakteristik lingkungan kerja, pendekatan ilmu keselamatan juga dituntut untuk memperluas cakupannya dari tempat kerja konvensional menuju tempat kerja skala mikro yang dinamis, informal, dan terfokus pada komunitas.

Arief Zulkarnain dalam bukunya Safety Leadership, 2016 menjabarkan faktor-faktor yang mempengaruhi sejauh mana kemampuan kepemimpinan K3 dapat membuat individu lain bergerak dan berubah untuk berperilaku aman:

  1. Individual behavior: faktor kepribadian instrinsik seorang pemimpin yang memiliki kebiasaan berperilaku aman sebagai tanggung jawab dan cara hidupnya (way of life).
    1. Nilai perorangan: norma yang melekat terkait konsep sikap dan pemikiran safety. Pemimpin yang menjadi panutan, sehingga dapat menggerakkan individu secara fisik untuk berperilaku aman.
    2. Karakter perorangan, yang dibentuk oleh pendidikan (education) dan pengalaman (trauma) seorang pemimpin. Karakteristik seorang pemimpin sangat mempengaruhi maturity suatu budaya organisasi, termasuk budaya K3.
    3. Kebiasaan terkait peran dan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap safety sebagai bagian dari kepemimpinannya. Pemimpin dituntut mampu melakukan transformasi safety sebagai nilai keseharian kepada semua level pegawai. 
  2. Perilaku sistem: lingkungan luar yang mempengaruhi karakter kepemimpinan.
    1. Perilaku organisasi, yaitu budaya atau norma perusahaan yang mempengaruhi interaksi antar individu atau kelompok kerja untuk mencapai tujuan perusahaan, lingkungan dan budaya kerja aman yang telah terbentuk, sehingga memudahkan seorang pemimpin menyampaikan visi perusahaan ke semua level pegawai.
    2. Sistem dan regulasi, acuan peraturan, prosedur, memo, atau bentuk konsensus lainnya.
    3. Komitmen, tidak hanya hadir dalam meeting investigasi kecelakaan, misalnya, tetapi bertanggung jawab terlibat dalam identifikasi root cause. Fokus berkolaborasi demi tujuan yang akan dicapai dan menetapkan indikator pencapaian sebagai parameter. 

Dalam kumpulan jurnal Safety Science tahun 2003, hambatan dan tantangan di keselamatan dan kesehatan kerja di UKM terletak pada kurangnya investasi pada sumber daya pendukungnya, sehingga UKM tidak mampu mempekerjakan ahli untuk mengelola aspek-aspek spesifik bisnis yang mereka geluti.

Konsekuensinya para manajer senior kerap diandalkan untuk mengambil alih berbagai fungsi manajemen, termasuk K3, yang mana mereka tidak dibekali oleh pengalaman yang cukup atau pelatihan formal.

Tint dan Jarvis (2009) mengungkapkan tidak jarang seorang manajer mengemban sejumlah tanggung jawab, seperti tanggap darurat kebakaran, keamanan, dan penanggulangan isu-isu lingkungan

Champoux and Brun, (2003) mengatakan pada kelompok UKM terkecil yang memiliki jumlah pekerja di bawah 50, pemilik wirausaha sekaligus manajer cenderung mengambil alih tanggung jawab K3 perusahaan, dan tidak mendelegasikannya ke manajer lain.

Swuste (2008) memandang para manager cenderung gagal untuk meningkatkan pengetahuan mereka dengan informasi yang memadai karena mereka terkendala waktu, cara, dan inisiatif.

Kepemimpinan K3 Spesifik Usaha Kecil Menengah (UKM)

Reason (1997)  berpendapat bahwa budaya keselamatan sebuah organisasi tercermin dari kebijakan, proses, dan penerapan K3 yang ditentukan oleh kepemimpinan manajerial dalam mengelola risiko. Sehingga, pengambilan keputusan di level manajer senior terkait pengendalian risiko merupakan faktor penentu terciptanya budaya keselamatan di dalam sebuah organisasi. 

Walter (2004) berargumen bahwa isu-isu terkait K3 di usaha kecil dan menengah lebih disebabkan oleh manajemen risiko yang buruk dibandingkan tingkat keparahan risiko yang ada di kategori usaha tersebut.

Ia melanjutkan bahwa tolok ukur pengaruh K3 dalam keputusan manajemen senior sehari-hari dapat dilihat dari keseimbangan antara prioritas K3 melawan target-target organisasi, misalnya produktivitas. 

Vassie et al (2000) berpendapat bahwa faktor pendorong utama terciptanya budaya keselamatan di UKM terlihat pada dijalankannya komitmen para manajer, mengingat tanggung jawab terhadap K3 kerap diemban oleh manajer paling senior.

Persepsi K3 di antara manajer senior di UKM juga berperan penting dalam menentukan persepsi K3 di antara para pegawai. Namun kurangnya waktu dan keahlian di bidang keselamatan dan kesehatan membuat para manajer mengambil pendekatan informal hingga lepas tangan dalam pengelolaan K3. Namun riset oleh Zohar (2002) menunjukkan gaya kepemimpinan pasif dan penuh kelonggaran (laissez faire) berdampak buruk terhadap iklim K3 dan berujung pada meningkatnya kecelakaan kerja.

Sebaliknya penelitian dari Flin (2003) memperlihatkan bahwa sikap senior manajer dalam melihat K3 penting bagi upaya memahami jenis-jenis kegiatan K3 yang didukung organisasi.

Barret et al (2005) menambahkan persepsi para pimpinan organisasi terhadap K3 menentukan tingkat keberhasilan dari intervensi K3.

Komitmen K3 Pemimpin Organisasi

Rundmo and Hale (2003) mempelajari sikap para direktur, wakil direktur, dan manajer senior dalam melihat K3 di salah satu perusahaan minyak di Norwegia. Hasilnya, persepsi mereka terhadap K3 terkait erat dengan kecenderungan dan kebiasaan mereka dalam beraktivitas secara aman, termasuk komunikasi K3, memotivasi pekerja, dan meningkatkan pengendalian bahaya terhadap K3.

Sikap yang paling signifikan antara lain komitmen manajemen yang tinggi, prioritas kepada keselamatan dan kesehatan pekerja, kesadaran risiko yang tinggi, dan pencapaian angka fatalitas yang sangat rendah.

Mearns et al. (2010), menyebutkan aspek-aspek kepemimpinan otentik yang berhubungan erat dengan budaya K3 di industri kilang minyak lepas pantai (offshore) di Norwegia, yaitu:

  1. Kesadaran diri untuk mengemban peran aktif sebagai pemimpin (self-awareness
  2. Pembinaan hubungan secara transparan
  3. Perspektif moral
  4. Keberimbangan dalam mempertimbangkan banyak aspek saat pengambilan keputusan
Sosialisasi persyaratan Contractor Safety Management System PT Waskita Karya kepada para subkontraktor di Jakarta merupakan upaya penekanan sekaligus standarisasi K3 konstruksi semua pihak terkait di lingkup pekerjaan Waskita

Studi lanjutan oleh Kelloway, Mullen, dan Francis (2006) menemukan bahwa kepemimpinan pasif, di mana pemimpin mengambil tindakan setelah terjadi insiden dan gagal melakukan intervensi hingga sebuah sebuah potensi bahaya menjadi serius, berdampak tidak langsung terhadap kejadian-kejadian bahaya dan kecelakaan kerja. Hal ini disebabkan oleh pengaruh negatif yang mereka tularkan kepada persepsi para pekerja terhadap kesadaran mereka yang rendah akan kondisi kerja aman.

Champoux and Brun (2003) meyakini bahwa kepemimpinan K3 yang pasif bukan berarti hanya berimbas pada tiadanya peningkatan K3, melainkan mengakibatkan peningkatan jumlah kecelakaan kerja. Selalu ada kecenderungan para manajer untuk memprioritaskan produksi dibandingkan K3.

Kelloway et al (2006) berargumen bahwa para manajer tidak menghitung dampak merusak yang disebabkan oleh terabainya upaya meningkatkan kesadaran K3 dan menggalakkan budaya K3.  Dampak negatif ini secara langsung mengakibatkan kecelakaan kerja.

Kepemimpinan K3 Dalam Keadaan Darurat Bencana  

Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh, dapat menjadi studi kasus kepemimpinan K3 organisasi saat terjadi pasca tsunami tahun 2004. Direktur utama PT Angkasa Pura II Edie Haryoto dalam bukunya Transportasi Pro Rakyat, 2013, pada masa itu menanggapi keadaan darurat dengan memfungsikan area bandara sebagai pos komando sukarelawan, prasarana bantuan logistik udara dari dalam negeri maupun luar negeri, dan tempat penampungan korban bencana alam.

Tindakan awal yang dilakukan manajemen adalah konsolidasi sumber daya yang amat terbatas untuk menangani tugas berat. Di bawah dapat dilihat bahwa peran sumber daya manusia menempati posisi teratas dalam penanggulangan keadaan darurat bencana alam.

  1. Tenaga kerja: detasering pegawai dari kantor pusat dan bandara lainnya hingga sebanyak 400 orang untuk menangani kekurangan jumlah personel Bandara SIM yang juga berada dalam keadaan tertekan akibat kekhawatiran terhadap keluarga yang terdampak bencana.
  2. Infrastruktur dan peralatan yang tidak mencukupi, seperti peralatan komunikasi navigasi dan komunikasi umum harus didatangkan sekaligus teknisinya, karena praktis semua jaringan komunikasi di Aceh tidak berfungsi. Membuka jaringan komunikasi melalui VHF dengan nomor-nomor telepon Jakarta dan Medan sehingga telepon ini bisa digunakan tanpa henti untuk keperluan dinas bandara, sukarelawan asing, instansi, dan sebagainya.
  3. Sterilisasi halaman Bandara SIM karena alasan keamanan bandara, meski di tengah banyaknya tenda sukarelawan dan peralatan.
  4. Fasilitas pendukung operasional bandara seperti bahan bakar untuk generator, tenda, makanan dan tambahan perusahaan ground handling untuk menangani bongkar muat pasca bencana.

Tidak luput dari proses evaluasi, Edie menulis bahwa prosedur manajemen operasional bandara dalam kondisi pasca bencana perlu disusun dan ditetapkan sebagai upaya antisipasi setelah mengoreksi beberapa poin dari pengalaman di saat pasca tsunami:

  1. Bantuan yang diberikan terarah dan tidak asal bawa dan sesuai kebutuhan daerah bencana. Dalam hal ini pemerintah perlu mengumumkan dengan jelas kepada masyarakat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tentang jenis bantuan yang amat diperlukan di daerah bencana dan informasi kondisi medan yang akan dihadapi sukarelawan.
  2. Organisasi pengirim bantuan hendaknya selektif dalam mengirim para sukarelawan yang siap menghadapi kondisi bencana.

Perubahan Kepemimpinan K3

Kepemimpinan K3 memberikan dampak penting pada hasil K3. Semakin banyak riset yang terfokus pada manfaat-manfaat dari berbagai bentuk perubahan kepemimpinan yang spesifik, yang bisa diasosiasikan dengan peningkatan kesadaran K3 di antara pegawai dan penurunan angkat kecelakaan kerja.

Gaya kepemimpinan ini memiliki karakteristik memberikan dukungan dan insentif bagi pekerja yang berperilaku selamat, mendengarkan masalah-masalah pekerja, mendorong partisipasi pekerja dalam pengembangan manajemen K3, dan memberikan teladan melalui komitmen.

Conchie dan Donald (2009) mengangkat isu perubahan kepemimpinan dan dampaknya terhadap kepercayaan pekerja terhadap para manajer dari sudut pandang K3. Mereka menemukan bahwa kepercayaan K3 yang diperoleh para manajer dari para pekerja akan berdampak pada kualitas hubungan dan partisipasi sumber daya manusia di dalam organisasi.

Perilaku selamat para pekerja dipengaruhi oleh perubahan kepemimpinan K3. Agar dapat berjalan efektif dan dipercaya, kepemimpinan K3 harus dijalankan. Hubungan sosial yang erat berpotensi menciptakan kepercayaan terhadap para pemimpin.

Clarke dan Ward (2006) menyimpulkan strategi pemimpin melakukan pendekatan rasional (menggunakan logika argumen dan memaparkan bukti), berkoalisi (menggunakan kolega untuk memberikan tekanan agar pekerja patuh), dan konsultasi (melibatkan pekerja dalam proses pengambilan keputusan) berhubungan dengan terciptanya partisipasi K3 dalam organisasi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa bermacam-macam perilaku pemimpin berdampak pada persepsi pekerja dan masyakarat terhadap kemajuan budaya K3 dan keselamatan masyarakat.