Galleries

Konsinyering pengawasan norma K3

Menurut data Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, terdapat 3173 kasus fatalitas di tempat kerja se-Indonesia sepanjang tahun 2018, naik dari 2347 kasus di 2017, dengan penyebab terbesar berasal dari lalu lintas pulang pergi tempat kerja, diikuti oleh jatuh.

Direktur Binwasnaker Herman Prakoso lebih lanjut mengatakan bahwa jumlah kecelakaan kerja naik seiring dengan kebijakan pembangunan era Joko Widodo yang menitikberatkan penggunaan APBN pada infrastruktur, mulai dari bandara, proyek-proyek revitalisasi infrastruktur ekonomi, jalan tol, hingga jalan desa.

Untuk itu Herman mengingatkan perlunya bersinergi dan menyingkirkan ego sektoral antar kementerian. “Kompetensi boleh dijalankan kementerian masing-masing, namun kewenangan K3 konstruksi tetap berada di Kementerian Ketanagakerjaan,” tegasnya.

Selain soal kewenangan yang melemahkan pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), Indonesia dihadapkan pada persoalan 4000 peraturan menteri yang tumpang tindih lintas sektor.

ASPI lead auditor Purnadi Phan, B.Ed, CSE, yang tergabung dalam Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (A2K4) Dewan Pengurus Wilayah DKI Jakarta, terlibat dalam penyusunan draf peraturan perundang-undangan bidang K3 konstruksi bangunan dalam konsinyering pengawasan norma K3 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, 11-12 Maret 2019.

Dance film performance in the streets of south Jakarta

webbanner-2017-mei-helatari-think archipelagoHelatari Salihara 2017 is Komunitas Salihara’s regular dance event held in Teater Salihara, Jakarta. think archipelago is a proud media partner of the event which runs from 8 until 18 June 2017. To see more of their schedule, please click the Jazz Buzz Salihara 2017 banner found in think archipelago website.


This slideshow requires JavaScript.

The interaction between dancers, people on the streets, cinematographer, and a technology-savvy all in real time presents an art-technology work of the choreographer Yola Yulfianti in a dance film performance, a bold idea that poses challenges in not only the unfamiliarity of the new medium, but also in the country’s current mobile data infrastructure.

Angkot is the Melting Pot uses live streaming to highlight the city transportation in Jakarta. For Yola, the Jakarta’s ubiquitous public minivan (angkot) suggests the physical closeness of the passengers crammed inside, but in the awkwardness of a heterogeneous society.

She also tempted to raise the impact of app-based transportation to the drivers that eats up a huge share of customers this traditional public transportation is so dependent on.

The two dancers in a public minivan started performing all the way from Pasar Minggu to Galeri Salihara, where it hosted the Helatari Salihara 2017. While several times being dangerous to perform in the boisterous afternoon streets, they intuitively responded to the circumstances, the angkot, the shops, the intersection, the city itself.

Technology makes possible

The 30 minutes street dance performance was captured by the camera phone, transmitted to the gallery and projected live at Galeri Salihara.

Despite lagging due to low quality mobile data connection, the audio visual artist Patrick Hartono said it was expected that he was half satisfied with the first trial at D-1.

DSC_7519
Choreographer Yola Yulfianti and Cinematographer Purbo Wahyono talks to the press during rehearsal at Galeri Salihara, 17 June 2017

He admitted that the case would have been different in a more developed parts of the world, but he clinged to another view that art should not be affected by the perfect result, but more importantly, the clear evidence of the process.

Yola said that she had encountered the streets of Jakarta such as Kampung Melayu or Kwitang ever since 2009, and collected the observations in numerous places for the future basis of her subsequent works.

She added that the medium to implement her idea depends much on the technological possibility. Harnessing it would bring her works to the scope of audience an ordinary show cannot possibly reach, that is the people on the streets where the dance takes place, the audience sitting in the art venue, and the internet users stumbling across video sites such as youtube while browsing.

The purpose of this work is to explore the complexity of the city, about how to read the city and then write the city into a work and bring humanitarian interaction. The process of artistic research does not focus on mainstream art products and terminology.

Dance in social environment

Not a product of a work of dance or a film product but about experience in the realities of urban life. The ability of the body as a medium of expression relates to other mediums, producing work that grows organically born just as the process of extracting ideas.

As for the expression it becomes a total expression, the sensitivity of being a dancer through the digging of the media of digital technology revealing the symptoms of the city’s social environment.

Angkot is the Melting Pot is inspired by daily experiences when riding on Jakarta’s urban public transport, or angkot. Inside the public minivan, the distance between bodies seems negligible and yet so foreign.

About Yuli Yulfianti

Yola Yulfianti is a dancer and choreographer who graduated from Jakarta Institute of Arts. She received the Pearl Award at Dance Film International in Berlin in 2009. She also received Hibah Cipta Perempuan from Yayasan Kelola in 2014. Previous creations include Salma: A Little Escape (2013), Update Status (2013) dan I Think. . .Tonk (2014).

Coretan para pemanggul keramik

Di balik beban dan coretan.
Raut wajah seorang buruh menyiratkan beban seberat keramik yang dipanggul di punggungnya.

Di balik koridor yang menjebak udara dingin, para buruh harian berhadapan dengan beban yang terus menanti untuk dipikul setiap hari. Ini bukan saja pekerjaan berat, tapi merusak tubuh.

Bahaya biomekanis yang mendera di setiap keramik berukuran setidaknya 60 meter persegi yang mereka angkat tidak menciutkan air mukanya. Justru yang tampak dari raut wajah mereka saat melangkah dengan memanggul beban berat di punggung itu adalah mata yang terpaku pada sebuah harapan di luar dinding koridor yang dingin tersebut.

Inilah beban hidup di dunia kerja yang sempit, dan dapat disandingkan sebagai analogi dari perjuangan berat untuk bertahan hidup di luar sana.

Sekitar 20 pekerja, sebagian berasal dari sekitar Serang, Banten, mengeroyok proyek konstruksi di sana yang sudah berlangsung selama satu tahun, dan kini dalam tahap penataan lantai.

Fisik gedung berlantai 4 tersebut sudah terlihat rampung dari luar. Tampak dari jalanan sebuah gedung kantor di sebuah lokasi industri modern yang mewakili wajah pembangunan pesat di salah satu daerah padat penduduk dan kaya akan potensi ekonomi.

Daerah ini terik, gersang, bertanah merah dengan frekuensi hujan panas yang akan menyebabkan tanah segera menjadi lumpur begitu hujan mengguyur sepanjang siang. Di sekitarnya bertebaran wilayah penambangan pasir di perbukitan.

Industri bata hebel yang kini kian populer digunakan oleh warga desa-kota di Jawa berkembang di sini beberapa tahun terakhir, dan mencakup skala industri mulai dari rumahan hingga pabrik besar.

Truk pengangkut pasir meninggalkan jejak jalan rusak di banyak titik di antara pintu tol Balaraja dan Ciujung. Ini adalah sentra industri mengalirkan arus ekonomi dari basis produksi di Serang hingga ke Jakarta atau Pelabuhan Merak di barat.

Produktivitas tinggi, namun tidak demikian halnya dengan kualitas tenaga kerja secara umum.

Buruh harian menapaki tangga sambil memikul sebidang keramik.
Seorang buruh harian menapaki tangga sambil memikul sebidang keramik, sebuah pekerjaan yang berbahaya, apalagi tanpa alat pengaman diri yang cukup.

Meski volume kendaraan tersendat akibat kepadatan dan jalan berlubang, serta terik karena konstruksi yang marak sehingga memangkas kerindangan, para pekerja harian di balik salah satu proyek di sepanjang jalan tersebut tidak tersiksa.

Otot tangan mereka kencang, sendi-sendi mereka kokoh diselimuti kelembapan interior bangunan yang masih telanjang dengan warna semen serta tanpa instalasi lampu kecuali sinar yang merambah ke dalam melalui kedua ujung koridor di lantai dua dan tiga.

Kompetensi pekerja

Mungkin mereka tidak menggubris rendahnya nilai rata-rata kompetensi pekerja di Indonesia selain berapa akumulasi pendapatan saat pembagian gaji di akhir pekan. Tidak pernah terlintas di benak mereka soal menapak jenjang karir, kecuali asa untuk menapak anak tangga sambil kedua tangannya menopang bidang keramik yang ujungnya tajam itu.

Tidak ada yang tahu di dalam gedung yang sedang dalam tahap penyelesaian tersebut bahwa Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sedang membagi-bagikan sertifikasi melalui serangkaian program pelatihan kepada seribuan pekerja konstruksi dalam sebuah acara simbolik di beberapa kota untuk mengurangi kekhawatiran pemerintah akan rendahnya daya saing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Itu pun hanya sebagian dari 25% pekerja konstruksi Indonesia yang bersertifikat. Tidak ada yang pernah menjalani uji kompetensi, kecuali ujian kerelaan menerima pekerjaan yang memakan raga, serta ujian ketabahan hidup yang rentan terhadap ancaman kemiskinan dan ketidakpastian kerja setelah proyek ini selesai.

Mencoret dinding

Tidak ada dari buruh harian ini yang meratapi status mereka yang tidak termasuk dalam 7 juta pekerja konstruksi di Indonesia. Mereka hanya menuangkan status hati di atas dinginnya dinding semen telanjang, dicoret dengan kapur tulis di balik koridor dan di pojok ruangan-ruangan setengah jadi.

Coretan tersebut di antaranya memuat pesan penantian hari pembagian gaji yang kian menyiksa, ungkapan cinta dan harapan di tengah ketidakberdayaan keuangan, pernyataan bokek.

Menarik dilihat bahwa ada beberapa buruh yang gemar menuangkan perasaannya di beberapa tempat tanpa lupa meninggalkan jejak identitas, baik dalam aksara maupun simbol.

Alias bertuliskan Tokid Mimpi, misalnya, atau guratan berbentuk hati yang setidaknya di salah satu coretannya melambangkan cinta.

Ada pula di antara mereka yang menggambar sebuah jam dinding berbentuk lingkaran yang nyaris sempurna.

Di sela-sela langkah yang berat, para pemanggul keramik menyikapi hari demi hari yang menganiaya dengan humor vernakular. Ini sebuah cara untuk mengurangi tekanan sosial dengan berbagi ungkapan spontan kepada sesama rekan kerja yang dirasa senasib.

Namun tampaknya tiada coretan yang menarik seseorang untuk menoleh sejenak, kecuali penciptanya sendiri. Tampaknya mereka adalah penikmat sesaat bagi graffitti masing-masing.

dsc_1505
Seorang buruh harian dengan wajah tertutup kain menyapu lantai semen di sore hari.

This slideshow requires JavaScript.